
Orang tua itu menanyakan kepada Raka Yantra,..
" Apakah dirimu mempunyai seorang saudara ,..?" tanya Ki Branang.
" Ada Ki,..seorang ,.." jawab Raka Yantra.
Hehh,.. apakah anak ini memang saudara dari Senopati Pajang itu,..bertanya dslam hati Ki Branang.
Ada rasa kecewa di dalam hati orang tua itu,..akan tetapi , ia memang tanpa sengaja telah menemukan pemuda itu ketika tergeletak di pinggir jalan di hutan kecil itu. Jadi rasa kemanusaiannya pun tergugah untuk menolongnya. Jadi bukan suatu ketersengajaan jika memang orang itu adalah saudara dari orang yg di bencinya itu.
Hehh.,memang dunia terasa sempit , ingin rasanya tidak mengenang orang tersebut ,.malah disini bertemu dengan orang yg sangat mirip sekali dengannya.
Orang tua yg bernama Ki Branang itu kemudian membersihkan tempat tersebut dari bekas -bekas makan dan minum, sehingga akhirnya gubuk itu menjadi bersih.
Ia turun ke depan gubuk dan menambahkan kayu bakar agar api unggun itu menyala dengan cukup besar sehingga rasa dingin di tempat itu jadi berkurang dengan adanya api unggun.
Sembari mengusir nyamuk yg cukup banyak yg ada disitu, Ki Branang masih saja di depan gubuk itu ketika malam pun telah turun dan gelap memyelimuti tempat tersebut.
Dalam hati orang tua itu timbul niat akan membalas dendam terhadap Senopati Brastha Abipraya melalui diri pemuda itu.
Akan tetapi ia merasa jika hal itu dilakukannya adalah suatu tindakan yg pengecut, Karena mempergunakan orang lain untuk melampiaskan dendam nya.
Hehh,..aku serba salah jadinya, di satu sisi aku harus menolong pemuda itu dan di sisi lain , dia adalah saudara dari Senopati Pajang tersebut.
Cukup lama Ki Branang memikirkan hal tersebut, ada rasa ingin meminggalkan tempat itu dan membiarkan saja pemuda yg bernama Raka Yantra, ahh apa peduliku bukankah ia telah sembuh ,..tidak ada kewajibanku lagi untuk menolongnya lagi, begitulah pikir orang tua itu.
Namun ketika ia teringat, jika ada Binatang buas yg datang ke tempat itu, dan memangsa nya, adalah suatu kesalahanku , katanya lagi dalam hati.
Setslah lama berada di luar gubuk, kemudian Ki Branang masuk ke dalam dan duduk dekat Raka Yantra, di lihatnya pemuda itu sudah tertidur dengan pulasnya, ia memandangi wajah pemuda itu , sungguh mirip memang , katanya lagi.
Dan sesaat malam telah berganti pagi,..Tubuh Raka Yantra tersentak bangun setelah matahari terlihat memancarkan cahaya nya.
Cahaya yg hangat itu masuk dari sela-sela rimbun nya dedaunan yg ada di tempat itu.
Pemuda itu berusaha bangkit dari pembaringan nya, memang tubuhnya terasa lebih ringan, dan luka yg ada di lengan kanannya itu sudah tidak terlelu nyeri lagi, darah nya pun sudah mampat.
Tampaknya ramuan yg di racik oleh Ki Branang itu cukup mujarab , sehingga dirinya segera keluar dari dalam gubuk itu guna menghirup udara segar.
" Haahhhh,..hhh,"
Raka Yantra menghirup segar nya udara pagi sambil merentangkan tangannya, seolah ingin melepaskan seluruh sakit yg telah di deritanya.
Pemuda itu kemudian mencari Ki Branang , ia tidak menemukan orang tua itu,..seolah dirinya memang telah bertemu dengan sebangsa lelembut saja di dalam hutan itu.
Agak jeri juga rasa hati pemuda itu, jika memang ia malam tadi telah bertemu dengan salah makhluk halus yg telah menolongnya.
Ahhh,..jika memang ia adalah sebangsa jin, bukankah ia telah bebuat baik terhadapku, jadi mengapa aku harus takut, kata Raka Yantra dalam hati.
Ia terus berjalan jalan kecil, agar tubuhnya tidak terlalu kaku lagi. Sampai Matahari menggatalkan kulit orang tua yg bernama Ki Branang itu tidak juga muncul.
Hati Raka Yantra menjadi gelisah , keyakinan nya bahwa orang tua itu adalah sebangsa jin semakin menjadi, walaupun saat itu di hari terang.
Sehingga ia berjanji dalam hati, jika tepat tengah hari Orang tua tersebut tidak juga datang dirinya akan meninggalkan tempat itu untuk kembali pulang ke Muncar.
Setelah Raka Yantra duduk di dalam gubuk , Karena sudah agak lama ia berada di luar guna menggerakkan otot-otot nya, kini ia duduk sambil menyantap ayam hutan panggang yg masih tersisa.
Belum habis ayam hutan itu dimakan oleh Raka Yantra, datanglah orang tua yg bernama Ki Branang dengan membawa beberapa pikulan ketela singkong dan ketela rambat.
Ia menurunkan nya di depan gubuk dan lantas menyapa pemuda itu,.
" Sudah makan Ngger,..maaf , aki terlambat, " ucap Ki Branang.
__ADS_1
" Ahh,..Ki Branang ,..Aku sangat berterimakasih atas pertolongan aki ini,.mungkin budi baik ini tidak aka dapat Ku balas meski sampai ajal menjelang,.." ucap Raka Yantra.
" Jangan begitu Ngger,..kita memang harua saling tolong menolong selagi kita mampu melakukannya,.." sahut Ki Branang.
Orang tua itu membersihkan beberapa potong ketela singkong itu dari tanah yg melekat,. dan ketika ia ketela singkong itu bersih , ia mengambil satu ranting kecil dan mulai menggerakkan nya untuk membongkar bara yg ada di tempat bakaran api unggun itu.
Kemudian Orang tua itu memasukkan beberapa potong ketela singkong itu ke dalam nya , ia membakarnya.
Orang tua itu kemudian mengambil bumbung bambu dan meminumnya. Keringat mengalir deras di dahi dan dada orang tua itu.
" Oh iya,..Ki,..aku teringat atas ucapan aki tadi malam,.." ucap Raka Yantra.
Perkataan pemuda itu memulai pembicarannya terhadap orang tua itu.
" Ucapan yg mana,..Ngger,..?" tanya Ki Branang .
Orang tua itu mengingat -ingat ucapan nya tadi malam, tetapi ia tidak tahu ucapan yg mana yg di maksudkan oleh Raka Yantra.
" Itu ,..Ki,..mengenai masalah Ilmu kadigjayaan,..Aku berniat akan mempelajarinya sesuai yg telah Ki Branang ucapkan tad malam,.. apakah Aki mau mangajari ku ,..?" tanya Raka Yantra terus terang.
" Hehhh,.."
Ki Branang terkejut atas permintaan dari Raka Yantra tersebut,.jika malam tadi ia mengatakan hal itu adalah memang ada niatan nya untuk mengangkat pemuda itu sebagai muridnya akan tetapi setelah ia mengetahui bahwa pemuda itu adalah saudara dari Senopati Pajang itu,dirinya mengurungkan niatnya, ia takut bahwa kelak muridnya itu akan menjadi lawannya pula.
" Maaf sebelumnya,..Ngger, diriku tidak dapat mengangkatmu untuk menjadi muridku,.." jawab Ki Branang.
Jawaban orang tua itu sungguh membuat hati Raka Yantra menjadi kecewa, padahal ia memang sangat berharap memiliki kemampuan seperti orang tua yg ada dihadapannya itu, dapat berjalan mengambang tanpa menyentuh tanah.
" Mengapa Ki Branang tidak mau menerimaku sebagai seorang murid,..?" tanya Raka Yantra lagi.
Ki Branang diam tidak menjawab pertanyaan dari Raka Yantra , ia tidak dapat memberikan alasan yg tepat sampai tanpa sengaja ia bertanya,..
Raka Yantra kaget mendengar pertanyaan Ki Branang tadi, bukankah ia mennayakan mengapa diirnya tidak di terima sebagai seorang murid, malah kini ia menanyakan siapa saudara nya.
" Adikku itu bernama Rawuni,..Ki ,.." jawab Raka Yantra begitu saja.
" Hehhh,..apakah adikmu itu seorang Perempuan,..?" tanya Ki Branang lagi.
Orang tua itu mengira bahwa nama adik dari Raka Yantra adalah Raka Senggani ternyata bukan , namanya adalah Rawuni.
" Benar Ki,..adiku seorang gadis,..kami tinggal bertiga dengan biyung dj Muncar,.." jelas Raka Yantra.
" Angger Yantra tidak mempunyai saudara yg lain,..?" tanya Ki Branang lagi.
Raka Yantra mengggelengkan kepalanya,.ia memang tidak memiliki saudara yg lain hanya Rawuni sajalah saudaranya, gadis manis yg sangat menjengkelkan menurutnya.
Memang adiknya itu terasa menjelngkelkan jika berada di dekatnya akan tetapi jika jauh seperti ini ada kerinduan terhadap adiknya itu.
Hehh,.. memang Rawuni terasa menjengkelkan , apalagi biyung terlalu memanjakan nya sedari kecil,.. namun jika seperti ini ,.terasa rindu atas sikap bawelnya itu,.berkata dalam hati Raka Yantra.
" Begini ,..Ngger,..jika memang dirimu berniat dan bersungguh sungguh untuk menjadi muridku,.datanglah sepekan lagi kemari,..nanti akan kuputuskan jika memang dirimu pantas menjadi muridku, dan satu hal lagi,.mulai saat ini panggillah aki dengan sebutan eyang,.." ungkap Kj Branang.
" Baik,. eyang,..Raka Yantra akan datang lagi kemari setelah sepekan ,.." seru Raka Yantra.
Ia sampai menciumi tangan Ki Branang itu, walaupun tangan itu kotor oleh tanah setelah sebelum nya membersihkan ketela singkong tadi.
" Sudah , sudah ,.jangan kau lakukan itu, lihat wajah mu menjadi kotor, sana pergi mandi , di sebelah kiri itu ada sendang,..nanti kita akan makan ketela singkong bersama sama,.." ucap Ki Branang.
Raka Yantra segera menuruti perintah dari Ki Branang, ia bergerak dengan cepat meninggalkan tempat itu untuk mandi , karena dirasanya tubuhnya memang sangat kotor setelah kemarin ia belum membersihkan tubuhnya dan terasa kotor sekali.
Setelah kepergian pemuda itu dari sisinya, Ki Branang teringat dengan para murid-muridnya, belum ada yg seperti pemuda itu. Terlihat bersemangat dan menghotmati orang yg lebih tua.
__ADS_1
Kita tinggalkan dahulu kisah kedua orang yg terpaut usia sangat jauh itu, kini kita kembali pada perjalanan dari Senopati Pajang yg telah tiba di Desa Kenanga.
Ia terus membawa Si jangu menuju pategalan, karena saat itu masih saat tengah hari, sang Senopati berkeyakinan Ki Lamiran berada di pategalan milik si Mbok Rondo yg telah di serahkan kepadanya .
" Heaahh,..heaahh,.."
Teriakan dari Raka Senggani yg mengarahkan si Jangu menuju pategalan. Tidak terlalu lama sampailah ia di pategalan tersebut dan melihat Ki Lamiran tengah beristrahat di gubuk si Mbok Rondo.
" Hufhhhh,.."
" Assalamualaikum ,..Ki,.." ucap Raka Senggani.
" Wa' alaikum salaam,..ehh ,. angger Senggani,..apa kabarmu Ngger,..?" sahut Ki Lamiran.
Raka Senggani melangkah dan mendekati Ki Lamiran, pande besi desa Kenanga itu bangkit berdiri dan menyanbut Senopati Pajang itu, mereka berdua berpelukan saling melepaskan rindu.
" Kamu tampak semakin gagah ,.Ngger,.." ucap Ki Lamiran.
Pande besi deaa keman itu menepuk nepuk pundak dari Raka Senggani, ada rasa bangga pada diri nya setelah melihat keberhasilan dari pemuda yg sudah dianggap nya sebagai anak nya itu.
" Ahh, Aki terlalu menyanjungku, bukankah keberhasilan ini semua adalah berkat dirimu juga Ki," jawab Raka Senggani.
" Hehh,..mana ada hubungan nya dengan diriku ,..Ngger,.semua pencapaian mu ini memang atas usaha mu yg gigih dan pantang menyerah itu,..Ngger,..tidak ada hubungan dengan Aki,.." jawab Ki Lamiran.
" Tentu semua itu berkat Aki Lamiran,.jika tidak karena aki menerima dan membimbingku , belum tentu Senggani akan berada di posisi seperti ini, Senggani tidak akan meluoakan semua jasa aki terhadap Senggani,..dan kali ini pun Senggani akan mengadukan suatu masalah kepada aki,.mudah -mudahan aki dapat membantu Senggani,.." jelas Senopati Brastha Abipraya.
" Tentu,..tentu ,..Ngger,.apa pun yg dapat aki lakukan untuk membantumu tentu akan aki lakukan , apakah permasalahan mu itu,.. Ngger,..?" tanya Ki Lamiran.
Setelah menarik nafas dalam -dalam, kemudian Senopati Pajang itu menceritakan apa yg telah di ucapkan dan di sarankan oleh Tumenggung Wangsa Rana mengenai masalah nya dengan paman nya, Raka Jang.
Ia kemudian meminta pendapat dari Ki Lamiran ,orang tua yg sudah dianggap nya penggant orang tuanya itu.
Pande besi desa Kenanga itu kemudian menceritakan serba sedikit mengenai masalah dari Raka Jang itu, yg saat ini telah hidup sendirian karena telah di tinggalkan anak dan istrinya karena sikapnya itu,.namun sekarang memang paman Raka Senggani itu telah mendaptakan balasannya, jadi untuk saat sekarang ini sudah sewajarnya Senopati Pajang itu melupakan semua kesalahan dan memaafkan nya, selain ia sudah tidak memiliki apapun, dan tampaknya kini ia telah berubah.
Bahkan Ki Lamiran menyebutkan bahwa saat ini Raka Jang tengah sakit -sakitan.
Pande besi desa Kenanga tersebut menyarankan kepada Raka Senggani untuk secepatnya memaafkan semua kesalahan dari Paman nya itu sebelum semuanya terlambat.
" Terlambat,..apa maksud Ki Lamiran,..?" tanya Raka Senggani heran.
" Yahh,.. memang umur,.tidak ada yg tahu kapan akan berkahirnya,..nanti jika sudah tiada kita tentu akan menyesalinya , terlebih ia adalah sebagai pengganti orang tua kita,..ya,.. walaupun di masa lalu ia cukup jahat terhadap kita, tetapi bukankah ia adalah saudara kita,.janganlah kejahatan di balas dengan kejahatan,. kalaupun kita tidak mampu membalasinya dengan kebaikan, setidaknya kita jangan berbuat jahat terhadapnya,.." ucap Ki Lamiran.
Nasehat dari pande besi desa Kenanga sama persis dengan yg telah di katakan oleh Tumenggung Wangsa Rana.
Dan membuat Senopati Brastha Abipraya merenungi atas sikap nya yg sangat sulit untuk memaafkan kesalahan Paman nya itu,.padahal orang itu telah menerima balasan yg di berikan oleh yg Maha Kuasa.
Begitu sulitkah untuk bertindak sebagai seorang ksatria yg mampu memaafkan nya , terlebih ia adalah kerabat yg tertinggal satu satunya dalam kehidupan ini.
" Jika memang dirimu mau memaafkan Ki Raka Jang itu,..aki mau menemani mu , Ngger ,..untuk datang ke rumahnya,.." ungkap Ki Lamiran lagi.
Agak lama Raka Senggani terdiam mendengar ucapan dari Ki Lamiran tersebut, setelah memantapkan hatinya barulah ia berkata,..
" Baiklah Ki,..nanti malam kita ke rumah Paman Raka Jang,.." serunya.
" Syukurlah Ngger,..ternyata memang dirimu seorang ksatria sejati, tidak hanya ilmu kadigjayaan mu yg tinggi, hatimu pun seluas samudra , aki sangat bangga padamu Ngger,.." ujar ki Lamiran .
Ia sampai memeluk tubuh pemuda itu dengan eratnya dan menepuk bahu nya berkali -kali.
Hati orang tua amat gembira mendengar keputusan yg telah di ambil putra Raka jaya.
" Kedua orang tua mu pasti bangga memiliki seorang anak yg sangat baik seperti dirimu ini,..Ngger,.." cetus Ki Lamiran.
__ADS_1