
" Kang,..tampaknya orang tua ini ingin unjuk kebolehannya di hadapan kita,.." bisik Dewi Rasani Mayang.
" Benar,.. tampaknya ia ingin menakut-nakuti kita,..namun ada perlu apa dengan dirinya dengan si Senggani itu,..?" tanya Raden Kuda Wira.
Pemuda tersebut merasa penasaran dengan pertanyaan orang tua yg ada di hadapan nya.
Sedangkan orangtua tersebut masih saja memainkan kayu kecil yg ada di tangannya tersebut.
Bahkan kali ini putaran nya semakin cepat laksana baling -baling.
" Baiklah ,. jika kalian berdua tidak mau mengakui tentang hubungan kalian berdua dengan Senopati Brastha Abipraya...aku akan memaksa kalian,.." seru orang tua tersebut.
Dan langsung di balas oleh Raden Kuda Wira dengan mengatakan bahwa mereka tidak takut akan gertak sambal itu.
Malah murid Mpu Loh Brangsang itu dengan senang hati akan menerimanya.
" Hehh, memang benar kalian ini murid si Brangsang,..baiklah aku akan sedikit memberi pelajaran agar kalian dapat sedikit berunggah ungguh terhadap orang yg lebih tua ,.." serunya lagi.
Ia tampak maju selangkah mendekati kedua anak muda itu,. sambil tetap memainkan kayu kecil yg ada di tangan nya itu.
" Aku akan mulai,. jika dalam sepuluh jurus saja aku tidak dapat menjatuhkan kalian ,.. kalian berdua boleh pergi dari hadapanku,.." ucap orang tua itu.
Terlihat ia telah membuka kakinya siap untuk melakukan serangan.
" Terserah,..akan tetapi jangan salahkan kami jika dirimu akan segera mangkat dari hadapan kami,..". sahut Raden Kuda Wira.
Pemuda itu telah bersiap dengan segala kemungkinan yg akan terjadi.
Karena di lihatnya orang tua yg ada di hadapan nya tersebut siap melancarkan serangan.
" Baik ,..bersiaplah ,...terima ini,..heahh,.."
" Whuuussshhh,.."
Serangkum angin yg cukup kencang menerjang tubuh murid Mpu Loh Brangsang tersebut.
Raden Kuda Wira yg menerima angin serangan tersebut tidak kuasa menahan kekuatan angin tersebut yg mendorong tubuh nya hingga menjauh beberapa langkah dari tempat nya semula.
Gila,..tenaga orang tua ini,..aku sampai mundur cukup jauh dari tempatku semula,..berkata dalam hati Raden Kuda Wira.
Beruntung , Dewi Rasani Mayang tidak terpengaruh atas serangan orang tua tersebut.
" Bagaimana ,..kalian tidak mau mengakui tentang hubungan kalian berdua dengan Senopati Brastha Abipraya itu,..?". tanya Orang tua tersebut.
Dengan tangan kanannya yg masih saja memainkan sebatang kayu kecil tersebut.
Mengetahui bahwa lawan yg di hadapi memiliki ilmu yg sangat tinggi,..Pemuda itu harus memeras kemampuan nya agar tidak kalah .
" Hehh, orang tua,..jangan terlalu merasa jumawa , dengan kehebatan ilmu mu itu, kau harus di beri pelajaran dengan ajian Ku ini," teriak Raden Kuda Wira.
Pemuda itu segera memusatkan nalar budinya, ia tampaknya akan mengeluarkan ajian kebanggaannya, aji Lebur Saketi.
Selesai mulutnya komat -kamit, Pemuda itu bersedekap dan kemudian membuka kedua tangan nya lalu berteriak,..
" Aji Lebur Saketi ,.. Hiyaahhhhh,.."
" Dheummmbhh,"
Selarik cahaya yg terang menghantam ke arah tubuh orang tua itu.
Dan sebelum serangan tersebut mengenai orang tua tersebut,.. nampak sesosok tubuh itu mencelat ke udara dan ia luput dari serangan Raden Kuda Wira,..dan sesaat masih berada di udara orang tua itu berteriak,..
" Heaahhhh,."
" Whusshhhh,.."
Kembali serangkum angin yg sangat kuat menghantam tubuh murid Mpu Loh Brangsang itu .
Murid padepokan Merapi tersebut tidak mengira serangan balasan yg sangat cepat dan ia tidak mampu menghindari serangan tersebut.
Walhasil tubuhnya pun terhantam dengan sangat keras oleh serangan lawan.
Tubuh Raden Kuda sampai jauh terlempar dan jatuh di atas tanah.
" Kakaaaang,."
Terdengar teriakan dari Dewi Rasani Mayang. Buru -buru gadis tersebut mendatangi Raden Kuda Wira yg sedang berusaha bangkit, ia sambil memegangi dada nya.
" Aakhh,"
Keluhan tertahan keluar dari mulut pemuda itu, ia dengan di topang oleh Dewi Rasani Mayang berhasil duduk .
Serasa dadanya sakit, ia berusaha menyalurkan hawa murni nya agar nafasnya tidak terlalu sesak lagi.
Sambil matanya tetap memandangi wajah dari orang tua yg ada di hadapannya tersebut.
" He, he, he, sudah ku katakan , kalian bukan lawanku, andai guru kalian datang kemari belum tentu ia akan sanggup mengahadapi ku,.."
__ADS_1
Orang tua itu berkata sambil tertawa, ia merasa puas setelah melihat pemuda itu berhasil ia jatuhkan.
" Kang ,..kita hadapi berdua saja orang ini agar mulutnya tidak swmakin sesumbar,.." bisik Dewi Rasani Mayang.
Gadis itu merasa telah dihinakan oleh orang tua yg tidak jelas juntrungan nya itu.
Entah darimana , tiba -tiba saja ia menyerang mereka berdua.
Setelah Raden Kuda Wira berhasil bangkit, ia setuju dengan apa yg telah di ucapkan oleh adik seperguruan nya itu.
" Baik ,..Mayang ,..kita hadapi bersama orang ini,..". balas nya .
Sedangkan orang tua itu tetap saja senyam senyum melihat tingkah kedua anak muda itu.
" Hehh, kalian berdua,..apakah tidak dapat melihat tinggi nya gunung,..majulah jika kalian memang ingin merasakan pendidikan dari ku,.." seru Orang tua Itu.
Dengan isyarat tangan kirinya ia seolah menantang keduanya.
Kedua murid padepokan Merapi itu merasa tersengar hatinya atas sikap orang tua itu,. walaupun mereka tahu kemampuan dirinya itu sangat tinggi.
" Kami tahu memang dirimu itu memiliki ilmu yg sangat tinggi ,tetapi kami belum menyerah , bersiap lah,.." ucap Raden Kuda Wira.
" Hehh,.itu tahu,..mengapa kalian berdua tidak mau mengatakan apa yg ku tanyakan tadi,. malah ingin kembali bertarung,..aneh,.." seru orang tua itu.
Ia sampai geleng -geleng kepala tidak mengerti jalan pikiran murid Mpu Loh Brangsang itu.
" Kau yang aneh, aki tua,.." sergah Dewi Rasani Mayang.
Ucapannya dengan nada yg kasar membuat perasaan orang tua itu menjadi jengkel.
" Majulah ,..jika kalian masih ingin mendapatkan pelajaran dariku," ucap Orang tua itu.
Dengan tangan nya tetap saja memainkan tongkat kayu kecil yg ada di tangan nya.
" Hiyyahhh ,.."
" Heahhhh,.."
Tidak menunggu lama, Raden Kuda Wira dan Dewi Rasani Mayang segera berlompatan menyerang orang tua itu dengan garangnya.
Yang di serang , malah tampak tenang-tenang saja, ia berlompatan kesana kemari menghindari serangan sepasang muda mudi itu.
Ketika , tendangan dari Raden Kuda Wira mengarah perut nya,..orang tua itu menarik sedikit kaki nya dan terhindarlah ia dari serangan Raden Kuda Wira, namun dari arah belakang belakang ia mendaptakan serangan yg mengarah kepalanya, dengan mudahnya orang tua itu mengelakkan serangan itu dengan menundukkan kepalanya.
Namun memang serangan terus mengalir dari keduanya,.kali ini Raden Kuda Wira yg mengarahkan serangan nya pada kaki orang tua itu.
Terpaksalah ia melompat guna menghindari serangan itu sambil berjumpalitan di udara .
Gadis cantik itu hampir saja berhasil memasukkan pukulan nya, tetapi kembali orang tua itu menunjukkan kelas dengan kembali menggenjot tubuhnya agar terbebas dari serangan itu.
Sesaat masih dalam kurungan dari kedua anak muda itu, dengan satu kali putaran, ia membumbung ke udara sambil mengirimkan serangan balasan guna membuyarkan serangan itu.
Terpaksalah kedua murid dari Mpu Loh Brangsang itu menjauhi lawannya.
Tampak keduanya berdiri tegak dengan tatapan yg sulit untuk di artikan melihat ke arah orang tua itu.
" Adi Mayang,..apa tidak sebaiknya kita tidak usah melayani nya, kita tinggalkan tempat ini,.." ucap Raden Kuda Wira.
Karena pemuda itu merasa tidak ada gunanya melayani Orang tua itu. Sementara permasalahannya pun tidak jelas.
" Hehh, apakah kakang Kuda Wira sudah menyerah mengahadapi orang tua itu,..?" tanya Dewi Rasani Mayang.
Gadis itu merasa perlu memberikan pelajaran kepada orangtua tersebut.
" Sudah lah kita akhiri saja pertarungan ini, dengan satu syarat,.." seru Orang tua itu.
" Apa itu ,..Ki,..?" tanya Raden Kuda Wira.
" Kalian katakan apa hubungan kalian berdua dengan Senopati Pajang itu, teman atau lawan,..dan dimana ia berada sekarang,..?" tanya nya lagi.
Kali ini pertanyaan yg di lontarkan oleh orang tua itu dengan nada tegas agar kedua orang yg ada dihadapan nya itu mau berterus terang.
Sambil menghela nafasnya, akhirnya Raden Kuda Wira berkata terus terang,..
" Kami berdua adalah musuh dari Raka Senggani itu, dendam kami terhadapnya setinggi langit,..dan ia sekarang berada di desa Kenanga, tempat kelahiranya,.." jawab Raden Kuda Wira.
" Hehh,..jadi kalian berdua ini adalah musuhnya,.mengapa tidak sedari tadi kalian katakan ,..Hehh,.." Ungkap Orang tua itu.
Ia memandang heran atas tingkah kedua orang tersebut,.jika ia tahu bahwa keduanya adalah musuh dari Senopati Pajang itu,.mengapa harus terjadi pertarungan, pikirnya dalam hati.
" Apa maksudmu,.Ki,..?" tanya Raden Kuda Wira heran.
Setelah melihat perubahan yg terjadi pada orang tua itu.
Karena sebelumnya mereka melihat kegarangan pada tingkah Lelaki tua tersebut, namun ketika mereka menyebutkan adalah musuh dari Raka Senggani, sikap yg di tunjukkan nya jadi berbeda.
" Begini,..ngger,.. sebenarnya diriku datang jauh -jauh kemari adalah ingin menantang perang tanding dengan Senopati Brastha Abipraya karena telah mengalahkan muridku dan berhasil merampas senjatanya,.." cerita Orang tua.
__ADS_1
Mendengar penuturan dari Orang tua tersebut, baik Raden Kuda Wira dan Dewi Rasani Mayang saling berpandangan, mereka tidak menyangka bahwa lawan yg mereka hadapi itu adalah musuh dari Raka Senggani, orang yg mereka benci , utama nya Raden Kuda Wira.
" Maafkanlah kesalahpahaman ini,..Ngger,..kalau begitu aku akan segera kesana,.." ucapnya lagi.
" Tunggu dulu,.Ki,.." seru Raden Kuda Wira.
" Ada apa ,..Ngger,..?" tanya orang tua.
" Kalau boleh tahu,..siapakah aki ini dan berasal darimana,..?" tanya Raden Kuda Wira.
" Panggil saja namaku ,..Ki Gedangan,..aku berasal dari Kulon,.." jawab orang tua tersebut.
" Terima kasih,Ki,.." sahut Raden Kuda Wira.
" Selamat tinggal, terima kasih atas petunjuk kalian tadi, sampaikan salamku kepada gurumu, katakan kepadanya, satu waktu aku akan menyambangi nya,.." jawab Ki Gedangan.
Ia pun berjalan meninggalkan kedua orang itu tanpa menoleh lagi.
" Selamat jalan ,..Ki,.." sahut Raden Kuda Wira.
Di desa Kenanga sendiri,.pada saat Matahari muncul dari arah timur, terlihatlah dua orang pemuda tengah tergesa -gesa menuju ke rumah Ki Raka Jang.
Mereka berdua ingin melaporkan kejadian yg telah terjadi di rumah Raka Senggani yg baru selesai di bangun itu.
Diantara kicauan burung dan embun -embun pagi yg masih berada di atas dedaunan, hijau nya hamparan tanah persawahan yg di tumbuhi oleh tanaman padi.
Keduanya langsung melewati jalanan desa menuju ke rumah tersebut. Setelah sampai di sana ,.nampaklah Sang Senopati dan Ki Lamiran yg tengah bersiap untuk meninggalkan gubuk reot itu.
Tetapj mereka berdua sedang menunggu seseorang yg ada di dalam gubuk itu.
" Ehh,..kakang Witangsa dan Kakang Andara,.ada apa datang kemari,..?" tanya Raka Senggani.
Senopati Pajang itu melihat kedua temannya yg nampak sedang terburu -buru datang ke tempat itu.
Setelah dekat , Jati Andara kemudian menjawab pertanyaan dari Senopati Pajang tersebut.
" Kami ingin melaporkan sesuatu ,.adi Senggani,..!" ucap putra Ki Bekel.
Perkataan yg sangat serius membuat hati Senopati Pajang itu menjadi penasaran.
" Apa yg ingin kakang berdua laporkan,.?" tanya nya.
Kemudia Jati Andara menjelaskan keadaan di pategelan pada malam tadi, dari pertemuan mereka dengan dua orang yg tidak di kenal dan terjadi nya pertarungan di tempat itu, sampai pada akhirnya kedua orang tersebut berhasil melarikan diri setelah salah seorang terluka.
Mendengarkan hal tersebut, Senopati Pajang yg sedikit mendapatkan berita tentang kehadiran kedua orang itu dari salah seorang prajurit sandi, memakluminya ,.namun maksud dan tujuan nyalah yg ia tidak pahami.
Apa maksud mereka menyambangi rumah tersebut,.apakah mereka berdua itu memang menyimpan dendam terhadap ku, begitulah yg ada di pikiran Raka Senggani.
" Adi,..apa tidak sebaiknya kita datangi mereka,..?" tanya Japra Witangsa.
" Apakah mungkin mereka masih berada di hutan itu,..?"
Balik sang Senopati bertanya , setelah tahu bahwa salah seorang dari mereka ada yg terluka.
" Ngger,..memang sebaiknya kalian periksa hutan tersebut,.agar nanti , jika kelak Ki Raka Jang pindah kesana ,..tempat itu akan aman,.." sahut Ki Lamiran.
Tidak terlalu lama kemudian keluarlah paman Raka Senggani.
Sambil membawa buntelan yg berisikan pakaian, dan beberapa peralatan dapur yg telah di kumpulkan menjadi satu.
" Ada apa,. Paman,..?"
Ki Raka Jang bertanya kepada Ki Lamiran.
Kemudian pande besi desa Kenanga tersebut mengatakan bahwa tidak ada apa-apa,.hanya kedua orang pemuda itu ingin membantu pindah dirinya dengan membawakan perkakas dapur tersebut.
Dan Keduanya pun mengangguk mengiyakan.
" Ah tidak terlalu banyak , Paman,..mengapa harus merepotkan,." kata Ki Raka Jang.
" Tidak apa -apa..Paman,..karena kami pun tidak sedang ke sawah,.." sahut Jati Andara.
Kemudian ia dan Japra Witangsa mengangkat perkakas yg di miliki oleh paman Raka Senggani.
Kelima orang itu kemudian meninggalkan rumah reot milik dari Ki Raka Jang. Ada perasaan sedih di hati orang tua itu.
Namun dengan menekan perasaan akhirnya ia meninggalkan tempat yg sudah lama di diaminya.
Tidak terlalu lama mereka telah sampai di rumah baru yg telah selesai di bangun itu.
Dan di tempat itu telah ramai di hadiri oleh para warga desa Kenanga, terutama kalangan perempuan.
Dengan cara bergotong royong mereka telah menyiapkan makanan dan minuman.
Karena hari itu adalah pindahnya Paman dari Raka Senggani.
Sehingga dengan guyubnya mereka membantu hal itu.
__ADS_1
Tampak disana ada Sari Kemuning , Dewi Dwarani dan beberapa orang dari kaum ibu.
Dan melihat ramai nya para warga desa Kenanga membuat hati Raka Jang menjadi terharu.