
" Jadi kisanak ini adalah Senopati Brastha Abipraya yg sangat terkenal itu, " ucap Bekel Pedukuhan Randu Alas itu.
Sedangkan Raka Senggani sang Senopati Sandi Demak itu diam saja, hanya menatap orang orang yg berada di situ.
" Ahhh, mana mungkin ia seorang Senopati dari Pajang , " celetuk seseorang yg berada di pintu.
" Benar Ki Bekel, mungkin aki salah melihatnya , coba lihat dengan baik, " ucap seorang yg lain.
" Apakah kalian kenal dengan , Senopati Brastha Abipraya, ?" tanya Sari Kemuning.
Istri Senopati Sandi Demak ini ingin menguji pengenalan mereka atas suaminya.
Semua yg ada di tempat itu kembali terdiam, mereka memang tidak kenal dengan orang yg bernama Senopati Brastha Abipraya itu, hanya nama saja yg mereka kenal sebagai salah seorang senopati terbaik Pajang yg mampu mengalahkan penguasa alam Jin yg ada di gunung Tidar, mereka menyebutkan bahwa ia adalah orang kedua yg mampu mengalahkan nya , setelah sebelum nya , pemilik tombak kyai sepanjang yg bernama Shaikh Subakir yg telah berhasil mengalahkan nya.
Berkat keberhasilan nya mengatasi beberapa kejadian yg pernah terjadi di tlatah Pajang dan Demak, maka gaung nama Senopati Brastha Abipraya cukup menggema.
Meskipun kebanyakan orang tidak mengenal rupanya , hanya nama nya saja.
Dan begitu ada pertanyaan , apakah mereka mengenal nya , tentu mereka hanya bisa menjawab dengan kata , Tidak.
Karena mereka memang tidak mengenal sang Senopati. Akhirnya Ki Bekel Randu Alas menyuruh para pengawal pedukuhan itu untuk melepaskan kedua orang itu.
" Cepat lepaskan mereka, "
Suruh Bekel Randu Alas itu , ia pun menyalakan lampu dlupak nya, perlahan lahan tempat itu terang dengan nyala lampu dlupak tersebut.
Bekel Randu Alas ini memperhatikan kembali lencana keprajuritan Pajang yg masih berada di tangan nya. Dan kali ini ia perhatikan dengan secara teltitl.
Hehhmm, ini memang lencana asli milik Kadipaten Pajang , berarti memang orang ini adalah Senopati Pajang yg bernama Brastha Abipraya, sungguh beruntung kami jika memang ia ini adalah Senopati Brastha Abipraya, berkata dalam hati Bekel Randu Alas itu.
Ia Kemudian menyerahkan lencana itu kepada Raka Senggani seraya meminta maaf atas kesalah pahaman itu, walaupun ada satu dua orang yg belum mempercayai bahwa dua orang yg mereka tahan itu , salah satunya adalah seorang yg berpangkat senopati d kadipaten Pajang , bahkan sangat dekat dengan sang Kanjeng Gusti Adipati sendiri.
Padahal saat ini, Senopati Pajang itu telah menjadi orang dekat dengan Kanjeng Gusti Sultan Demak sendiri.
" Begini, Anakmas Senopati Brastha Abipraya, kami memang saat ini dalam kesulitan besar mengahadapi para kawanan rampok yg lagi lagi menggila di pedukuhan kami ini, jumlah mereka sangat banyak, mereka hampir tiap malam melakukan aksi tersebut, sehingga kami, harus setiap malam untuk berjaga jaga, " jelas Ki Bekel Randu Alas.
Kali ini ada kesempatan untuk mengadukan suatu masalah yg tepat pada orang nya, sehingga tidak perlu sungkan lagi.Walaupun sebelumnya mereka telah salah bersikap, namun semuanya itu dapat di maklumi karena mereka memang tidak mengenal sang Senopati.
" Jadi maksud Ki Bekel bagaimana,..?" tanya Raka Senggani.
" Kami sangat berharap kepada Senopati Brastha Abipraya untuk dapat meringkus Kawanan rampok yg di pimpin oleh Gagak Gangsu itu, sehingga pedukuhan dapat kembali aman seperti sedia kala,." jelas Ki Bekel Randu Alas.
" Baiklah Ki Bekel , Aku dan istri ku ini berjanji akan membantu kalian guna menumpas gerombolan rampok Gagak Gangsu itu." jawab Raka Senggani.
Memang Senopati Sandi Demak ini berkewajiban untuk melindungi kawula Demak , agar merasakan rasa aman dan.tenteram tanpa gangguan pihak lain.
Dan malam pun semakin larut, ketika terdengar kentongan bernada dara muluk, sebagai penanda telah tengah malam.
Orang orang yg berada di rumah Ki Bekel itu , kemudian berpencar kembali guna menjaga keamanan pedukuhan itu.
Dan belum terlalu lama orang orang tersebut pergi terdengar suara kentongan bernada titir, yg sahut sahutan.
Mendengar bunyi suara kentongan titir tersebut , Bekel Randu Alas mengajak Senopati Brastha Abipraya dan istrinya yg untuk mendatangi tempat mula kemtongan itu berbunyi.
" Silahkan Ki Bekel pergi telebih dahulu kami akan segera menyusul,." ucap Raka Senggani.
Ia kemudian mendekati istrinya Sari Kemuning dan kemudian memeluknya, dan tanpa seorang pun yg tahu keduanya seakan lenyap di telan bumi begitu saja entah pergi kemana.
Senopati Sandi Demak ini mengetrapkan aji panglimunannya dan bergerak cepat ke arah sumber suara kentongan tadi.
Sehingga dalam waktu yg sekejap saja mereka telah tiba di tempat kejadian.
Keduanya masih sempat melihat ada seseorang kawanan rampok yg ingin membakar rumah itu.
__ADS_1
" Tunggu,..!" seru Raka Senggani.
Orang itu tidak jadi melakukan nya ia berhenti dan tetap memegang obor nya
" Untuk apa kalian membakar rumah ini, apa salah nya kepada kalian, !" teriak Raka Senggani lagi.
Kali ini suara itu mengandung ajian segara macan sehingga, sepuluh orang rampok itu hanya berdiiri mematung tidak mampu berbuat apa-apa, jantung mereka seolah hendak copot di buatnya .
Setelah berhasil mencegah kawanan rampok itu , maka Raka Senggani menyuruh istrinya Sari Kemuning untuk mengambil obor yg ada di tangan orang itu.
Tidak menunggu lama , istri Senopati Sandi Demak ini melesat cepat dan segera mengambil obor yg ada di tangan orang tersebut.
Ia segera memadamkan nya.
Sehingga penerangan hanya mengandalkan cahaya rembulan saja.
Bagai tersadar dari sihir ,salah seorang kawanan rampok itu segera berseru,..
" Cepaaaat, bunuh kedua orang itu, " teriak nya.
Maka kawanan rampok itu berlompatan dan langsung menyerang Senopati Sandi Demak ini dan istrinya.
Hehh, aku tidak perlu mengkhawatirkan , Kemuning , karena ia masih menggunakan cincin pemberian Kanjeng Sultan Demak, berkata dalam hati Raka Senggani.
Pemuda itu bergerak bagai terbang, ia segera mengirimkan tendangan beruntun terhadap lima orang pengeroyoknya itu.
Tanpa dapat menghindari serangan yg sangat cepat itu , kelima nya langsung tersungkur, dan sulit untuk bangkit.
Sedangkan para pengeroyok Sari Kemuning, pun nampaknya sedang mengalami kesulitan serupa, istri Senopati Sandi Demak ini dengan trengginas membuat kelima pengeroyok nya kelabakan, bahkan ketika mereka mengeluarkan senjatanya, semuanya itu tidak berarti apa -apa, Sari Kemuning dengan leluasa mengirimkan serangan nya tanpa takut terluka oleh senjata lawannya itu.
Dan hasilnya , kelima nya pun harus mengakui kehebatan Perempuan itu.
Mereka terjungkal jatuh dan sulit untuk bangkit,.
Bersamaan itu pula , Bekel Randu Alas dan para pengawalnya tiba di tempat tersebut. Dan mereka amat terkejut melihat semua kawanan rampok itu telah berhasil di lumpuhkan oleh sepasang suami istri itu.
Para pengawal pedukuhan tersebut segera melaksanakan perintah Ki Bekel tersebut.
Mereka mengikat para kawanan rampok tersebut dan segera membawa nya ke rumah Ki Bekel Randu Alas.
Adalah Bekel Randu Alas yg cukup heran dengan cepatnya kehadiran dari Senopati Brastha Abipraya di tempat itu. Ia sampai menanykan hal tersebut langsung kepada Raka Senggani.
Namun di jawab oleh sang Senopati, bahwa ia tadi mengambil jalan memotong untuk segera cepat sampai di tempat itu.
Padahal kamilah yg paling tahu jalan mana yg dapat cepat sampaj ke tempat inj, akan tetapi mengapa mereka berdualah yg lebih dahulu tiba, sungguh tidak masuk di akal, berkata Bekel Randu Alas dalam hati.
Namun ia tidak terlalu mempermasalhaknnya, sang Bekel berjalan di belakang para pengawal Pedukuhan yg membawa para tawanan tersebut menuju rumahnya.
Setiba di tempat tersebut, Bekel Randu Alas ini segera menginterogasi para tawanan.
" Cepat sebutkan dimana kalian bertempat, dan berapa jumlah kalian,?" tanya nya kepada salah seorang tawanan.
Namun orang itu diam tidak mau mengatakan apa pun juga. Seperti nya mereka memang memegang erat rahasia mereka.
Setelah berkali kali pertanyaan itu di ajukan oleh Ki Bekel tetapi tetap saja tidak ada jawabannya, Ki Bekel menjadi sangat marah.
" Beri hukuman picis agar mereka mau membuka mulutnya, " teriak Ki Bekel lantang.
Sepuluh orang tawanan itu saling berpandangan satu dengan yg lain nya. Mereka merasa ngeri juga mendenagrkan hukuman yg akan di jatuhkan oleh Pemimpin Pedukuhan Randu Alas itu.
" Baik , Ki Bekel, kita akan segera melaksanakan perintah Ki Bekel itu," sahut Pemimpin pengawal Pedukuhan Randu Alas.
Ia mulai membawa salah seorang tawanan, dan akan di jadikan korban pertama menerima hukuman.
__ADS_1
Orang tersebut segera menjerit dan berteriak,.
" Jangan, jangan lakukan hal itu, aku akan mengatakan nya," teriak nya.
Akhirnya pengawal Pedukuhan tersebut menghentikan langkahnya. Dan membawa masuk kembali orang tersebut.
" Cepatlah katakan, dimana Gagak Gangsu itu bersembunyi, dan berapa jumlah kalian,?" tanya Ki Bekel dengan nada marah.
Tawanan itu kemudian menyebutkan bahwa mereka mmebuat tempat tidak jauh dari Pedukuhan Randu Alas ini, tepatnya di sebuah hutan kecil yg berada di luar Pedukuhan.
Dan jumlah mereka ternyata cukup banyak, hampir lima puluh orang.
Bahkan orang ini mengatakan kepada Ki Bekel sambil bernada ancaman, jika mereka tidak segera di bebaskan Gagak Gangsu akan meratakan Pedukuhan Randu Alas sama dengan tanah.
Karena Pemimpin gerombolan rampok ini,menginginkan Randu alas sebagai landasan perjuangan nya. Ia ingin menjadi raja kecil di tempat tersebut.
" Sudah gila Pemimpin mu itu , jika ia berani melaksanakan niatan nya tersebut tentu Kadipaten Pajang dan Kotaraja Demak tidak ada tinggal diam, Gagak Gangsu itu akan habis di gilas pasukan Pajang ataupun Demak, " ucap Ki Bekel.
Dan setelah ia paham dimana para kawanan rampok tersebut berada , Bekel Randu Alas segera mmerintahkan para pengawal nya untuk mengumpulkan semua penduduk Pedukuhan yg mampu untuk bertarung guna mmeberantas para rampok tersebut.
" Jangan mereka yg datang kemari, biarlah kita yg akan mendatangi mereka, " ucap Ki Bekel lagi.
Akan tetapi rencana dari pemimpin Pedukuhan itu segera di tentang oleh Raka Senggani, selaku seorang pemimpin pasukan baik di Pajang maupun Demak, tentu akan cukup membahayakan membawa banyak orang yg tidak terlatih untuk menyerang kawanan rampok yg berjumlah cukup banyak tersebut. Selain mereka akan lebih paham dengan seluk beluk lokasi yg mereka tempati, dan yg kedua , Pedukuhan itu akan menjadi kosong, Sehingga akan menjadi sasaran empuk buat mereka.
" Sebaiknya kita tunggu saja mereka disini Ki Bekel, amat membahayakan jika kita harus kesana,." ungkap Senopati Sandi Demak itu.
" Akan tetapi jika kita harus menunggu mereka , kita akan tidak sabar menantinya, jika memang mereka dstangnya cepat , jika mereka mengulur waktu tentu akan sangat membosankan," jelas Ki Bekel.
" Tetapi Ki Bekel, jika kita yg menyerang mereka, kita akan memiliki banyak kelemahan, pertama kita tentu kurang paham dengan keadaan disana, dan yg kedua , mereka dapat membagi orang orangnya, sebahagian menanti kita , dan yg sebahagian lagi akan datang kemari, tentu dengan mudahnya mereka akan menguasai pedukuhan ini, " jelas Raka Senggani.
Akhirnya saran dan usul dari Senopati Sandi Demak ini di terima oleh Ki Bekel, mereka akan menanti kedatangan kawanan rampok tersebut ke pedukuhan Randu Alas tersebut.
Dalam pada itu Gagak Gangsu , sang pemimpin gerombolan rampok yg cukup di takuti di seputaran pedukuhan pedukuhan yg berdekatan dengan pedukuhan Randu Alas ini, telah mendapatkan kabar bahwa sepuluh orang anak buahnya tengah di tahan di pedukuhan Randu Alas.
" Apa orang orang Randu Alas itu sudah bosan hidup, Sehingga berani menawan anggota ku, Hehh,.." seru Gagak Gangsu.
Ia berjalan mondar mandir sambil mengetuk ngetukkan senjata tongkat nya di atas tanah.
Tanah bekas ketukan tongkat nya itu sampai berlobang cukup dalam pertanda ia tengah mengerahkan tenaga dalam nya.
" Akan tetapi Ki Lurah, bukan orang orang Randu Alas yg telah melakukan nya,.!" ucap salah seorang pembantu nya.
" Siapa,..siapakah orang nya yg telah bosan hidup dengan menentang Gagak Gangsu, ?" tanya Gagak Gangsu keras.
Orang tadi kemudian menjawabnya,.
" Ada dua orang pengelana yg datang dari kulon, yg satu seorang pemuda dan yg seorang lagi perempuan, mereka berdua inilah yg telah melakukan nya, Ki lurah ," jelas orang itu.
" Apakah kalian tidak tahu siapa mereka itu,..?" tanya Gagak Gangsu marah.
Dan semua yg mendengarkan ucapan nya itu tidak ada yg berani menjawab nya, karena mereka memang tidak mengetahui kedua orang yg telah berhasil menawan teman teman mereka.
" Baiklah kalau kalian tidak tahu, segera kumpulkan seluruh anggota, kita serang pedukuhan Randu Alas kita ratakan dengan tanah pedukuhan itu,, ketika terang tanah, " ucap Gagak Gangsu.
Perintah nya sangat jelas bahwa malam itu juga mereka akan bergerak menuju pedukuhan Randu Alas, untuk menghancurkan pedukuhan tersebut dan membebaskan teman teman mereka yg telah tertawan disana.
Dengan sangat cepat , berkumpullah gerombolan rampok yg di pimpin oleh Gagak Gangsu itu, jumlahnya hampir empat puluh orang, dan di pimpin oleh Gagak Gangsu sendiri.
Mereka meninggalkan sarang mereka dan berjalan sangat cepat menuju Pedukuhan Randu Alas.
Jarak yg memang tidsk terlalu jauh membuat mereka tiba di Randu Alas saat akan terang tanah.
Gagak Gangsu segera berteriak teriak guna menakut nakuti penduduk Pedukuhan Randu Alas itu.
__ADS_1
" Hehh, para penduduk Randu Alas, segeralah lepaskan orang orang kami itu , sebelum batas kesabarnku habis, jangan sampai pedukuhan ini menjadi karang Abang,"
Terdengar suara berat dan serak yg keluar dari pemimpin gerombolan rampok yg bernama Gagak Gangsu itu.