
Raka Senggani terlihat diam, bagaimana pun juga ia masih punya sisi kemanusiaan atas apa yang telah menimpa saudara seperguruan dari Dewi Rasani Mayang ini. Namun di lain pihak hatinya masih membenci terhadap pemuda yang telah membunuh Paman nya itu.
" Ayolah Kakang Senggani, Mayang berharap sekali dirimu mau membantu Kakang Kuda Wira dari keadaan saat ini, setidaknya kakang Senggani dapat memberikan bantuan guna mengurangi rasa sakitnya itu,!" sebut Dewi Rasani Mayang lagi.
Perasaan senopati Brastha Abipraya ini menjadi campur aduk, ada rasa senang tatkala ia mengetahui orang yang telah membokong nya itu mendapatkan balasan seperti saat ini, akan tetapi ketika ia telah ingat akan pesan gurunya untuk tidak mendendam terhadap orang yang telah memusuhinya , maka ia pun mendesah,.
" Hehh,..!"
" Baiklah Mayang , kakang akan mencoba membantunya, Ki Lurah apakah ingin ikut,..?" tanya kepada Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.
" Ahh sebaiknya diriku segera kembali Senopati, silahkan ,..!" ucap Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.
Ki Lurah Lintang Panjer Suruf lantas meninggalkan tempat itu , dan kini hanya Raka Senggani dan Dewi Rasani Mayang sajalah yang tinggal.
" Mari Mayang, dimana dirimu sembunyikan kakak seperguruan mu itu,..?" tanya nya kepada Dewi Rasani Mayang.
" Ada di sebelah sana, Kakang Senggani,..!" jawab Dewi Rasani Mayang.
Keduanya mendekati tempat tersebut, dan tidak terlalu lama akhirnya mereka tiba di situ.
Raka Senggani melihat murid utama dari Mpu Loh Brangsang ini tengah bertarung dengan maut akibat racun yg telah menyerang nya.
Sekujur tubuh nya telah terlihat kehitam- hitaman, sungguh pemandangan yg tidak enak untuk di lihat.
Sungguh , warangan dalam senjata rahasia nya itu sangat kuat dan mengandung racun yg mematikan , ucap Raka Senggani dalam hati.
Sesaat ia berjongkok, kemudian ia berkata,.
" Mayang , sebaiknya kita bawa tubuhnya ke tempat yang lebih baik,.!" ucap Raka Senggani.
" Kemana, Kakang Senggani,.?" tanya Dewi Rasani Mayang.
" Kita bawa Raden Kuda Wira ini ke penginapan yang berada di desa Lopait,.!" jelas Raka Senggani.
" Baiklah, terserah Kakang Senggani saja,.!" sahut Dewi Rasani Mayang.
Segera saja Raka Senggani mengangkat tubuh Raden Kuda Wira ini dan meninggalkan tempat tersebut diikuti oleh Dewi Rasani Mayang.
Dalam pada itu, Raka Yantra dengan di temani oleh Tara Rindayu membawa mayat gurunya ke puncak gunung Merapi.
Ia memang merasa bertanggungjawab mengembalikan mayat Mpu Loh Brangsang ini ke tempat kediaman nya yg ada di puncak Gunung Merapi.
Keduanya berlari sangat cepat menuju ke Gunung Merapi.
" Cepatlah Rindayu, kita harus segera sampai di Gunung Merapi,.!" ucap Raka Yantra.
" Tetapi diriku cukup lelah Kakang Yantra setelah seharian berlari, sebaiknya kita beristirahat terlebih dahulu,..!" sahut Tara Rindayu.
Memang saat itu senja telah turun, dan cahaya lembayung telah menampakkan ujudnya dari ufuk sebelah barat.
Akhirnya Raka Yantra pun berhenti berlari, ia menurunkan tubuh Mpu Loh Brangsang dari pondongan nya.
Tubuh itu telah mengeluarkan aroma yang kurang sedap akibat dari tubuh yang sudah rusak seperti kena bakar .
Raka Yantra lantas berusaha untuk mencari air dan dedaunan untuk menutupi tubuh gurunya ini.
Sementara di sebuah bilik penginapan di desa Lopait, Raka Senggani tengah berusaha untuk mengobati tubuh dari Raden Kuda Wira yg terkena senjata rahasia yg mengandung racun mematikan miliknya sendiri.
" Mayang, tolong bantu untuk mendudukkan tubuh kakak mu ini, dan nanti Senggani minta mayang menyiapkan air ,..!" ujar Raka Senggani.
" Baik Kakang Senggani,..!" sahut Dewi Rasani Mayang..
Ia pun membantu menegakkan tubuh Raden Kuda Wira agar dapat untuk duduk, selanjutnya ia menahan nya dengan kedua tangannya agar tubuh itu tidak jatuh.
Dan dari arah belakang , Raka Senggani segera menyalurkan tenaga dalamnya dengan menempelkan kedua tangan nya pada punggung dari murid Mpu Loh Brangsang ini.
" Bismillahirrahmanirrahim, hufhh,..!"
Senopati Brastha Abipraya ini segera mengeluarkan tenaga murni nya guna mengeluarkan racun yg telah sempat menjalar di seluruh tubuh Raden Kuda Wira ini.Beruntung memang Mpu Loh Brangsang beehasil menotok jala darah pemuda itu sehingga racun tidak sampai menyerang jantungnya.
__ADS_1
Cukup lama Raka Senggani menyalurkan hawa murni guna mengeluarkan racun yg ada di tubuhnya ,.hingga,..
" Hoekkkkhh,..!"
Raden Kuda Wira memuntahkan darah hitam dan sangat kental, Raka Senggani merasa bahwa upaya nya ini cukup berhasil sehingga ia terus saja menyalurkan hawa murni nya.
Hingga muntahan dari Raden Kuda Wira ini mulai berubah , warna darah yg ia keluarkan telah berwarna merah, Raka Senggani pun menyelesaikan usaha penyaluran hawa murni nya.
Tubuh Raden Kuda Wira kemudian ia baringkan lagi ,.
" Mayang tolong carikan air,.!" pinta Raka Senggani.
" Baik Kakang,..!"
Gadis ini keluar dari dalam biliknya guna mencari air, dan sebentar kemudian ia telah kembali membawakan apa yg di minta oleh Raka Senggani.
Senopati Brastha Abipraya sendiri sedang bersemadi guna memulihkan tenaga nya.
Setelah melihat Dewi Rasani Mayang kembali , ia pun meminta kepada gadis itu untuk mencelupkan cincin nya ke dalam air yg di bawanya tersebut.
" Mayang, tolong rendamkan cincin ku ini, !" pinta Raka Senggani.
Dewi Rasani Mayang langsung menerima nya dan melakukan apa yang di minta oleh Raka Senggani.
Sesudah beberapa saat, Raka Senggani meminta kembali cincin nya dan menyuruh kepada Dewi Rasani Mayang untuk meminumkan air rendaman cincinnya ini.
" Minumkanlah air itu kepadanya, Mayang,.!" perinrah Raka Senggani.
Dewi Rasani Mayang hanya menuruti nya, ia melihat tubuh kakak seperguruan nya ini sudah berubah , kini ia terlihat tidak terlalu menghitam. Dan nafasnya pun telah mulai teratur tidak seperti sebelumnya, yg sangat sulit untuk bernafas, seperti orang yang sedang tersengal-sengal.
Tiga kali Dewi Rasani Mayang meminumkan air tersebut ke mulut Raden Kuda Wira yg mulai tampak tenang , tidak seperti sebelumnya yg sangat gelisah ,bergerak kesana kemari , merasakan sakit yg teramat sangat, kali ini tubuhnya mampu meminum air yg di berikan adik seperguruannya ini.
" Kakang Senggani, terima kasih atas pertolongan mu ini, Mayang berhutang budi seumur hidup atas bantuan mu ini, Kakang,.!" ucap Dewi Rasani Mayang .
" Ahh, jangan terlalu di pikirkan Mayang, kakang hanya berharap Raden Kuda Wira ini dapat selamat meskipun tidak seperti sedia kala, akan tetapi setidaknya ia masih selamat,..!" jawab Raka Senggani.
Sambil menganggukkan kepalanya Raka Senggani segera memberitahukan , bahwa racun yang menyerang Raden Kuda Wira ini sempat melumpuhkan kedua tangan dan kakinya.
" Maaf sebelumnya Mayang, pertolongan yg di berikan kepada nya memang agak terlambat sehingga kelumpuhan itu tidak dapat di hindarkan, namun kita masih wajib bersyukur , nyawa masih bisa selamat, setelah beberapa waktu tidak mendapatkan pertolongan,.!" jelas Raka Senggani.
Dewi Rasani Mayang yg mendengarkan nya menjadi sangat sedih, ketika mengetahui saudara seperguruan nya ini tidak dapat sembuh seperti sedia kala, akan tetapi seperti yang telah di katakan oleh Raka Senggani , ia memang wajib bersyukur saudara nya ini masih selamat.
Malam itu keduanya menunggui Raden Kuda Wira dalam bilik penginapan itu, khusus bagi Raka Senggani, ia terus memulihkan tenaga dalam nya , karena tadi telah ia kerahkan untuk membantu penyembuhan dari Raden Kuda Wira ini.
Setelah pagi menyapa , Raden Kuda Wira mampu membuka matanya dan melihat kedua orang yg berada di samping nya.
" Me,..nga,.pa,.kau,.bera,..da,..di sini,..!" serunya.
Setelah ia melihat Raka Senggani ada di dekatnya, orang yang paling ia benci di muka bumi ini teramat dekat dengan nya.
Dewi Rasani Mayang segera menyahutinya,..
" Tenanglah kakang Kuda Wira, Kakang Senggani inilah yg telah menolongmu !" serunya.
Ia merasa perlu untuk menjelaskan kepada saudara seperguruan nya ini atas pertolongan yg telah di berikan oleh Raka Senggani.
" Tet, Tet ,..tetttidak mungkin, dia adalah musuh kita, Mayang,.!" seru Raden Kuda Wira lagi.
Ia berusaha untuk bangkit dan hendak menyerang Raka Senggani , akan tetapi tangan nya tidak mampu ia gerakkan.
" Hehh,..mengapa tangan ku tidak dapat ku gerakkan,..!" serunya kaget.
Ia tidak menyangka bahwa kini tangan nya tidak bisa ia gerakkan. walaupun ia telah berusaha keras.
" Tenang Kakang Kuda Wira, tenanglah,..!" ucap Dewi Rasani Mayang.
" Aku tidak bisa tenang sebelum orang ini mampus, Mayang,..!" ucap Raden Kuda Wira ketus.
Sambil menatap tajam ke arah Raka Senggani, kelihatan sekali ia amat mendendam kepada Senopati Brastha Abipraya ini.
__ADS_1
" Tidak semestinya Kakang mengatakan itu, karena Kakang Senggani lah yg telah menolong kakang , ia berusaha menyembuhkan mu dengan segala kemampuan nya, hingga Kakang Kuda Wira bisa sadar seperti ini,jadi Kakang tidak dapat berkata begitu,..!" jelas Dewi Rasani Mayang.
" Mustahil, Mayang,.mustahil ia menolongku, bukankah dia adalah musuh,..mana mungkin seorang musuh membantu ,..!" ucap Raden Kuda Wira lagi.
" Namun itulah kenyataan Kakang, kalau tidak ada Kakang Senggani ini, Kakang Kuda Wira telah tewas,..!" jawab Dewi Rasani Mayang.
" Tidak , tidak mungkin,..yg telah menolongku adalah Guru,..!" seru Raden Kuda Wira berang.
Ia tetap tidak terima bahwa Raka Senggani yg telah menolongnya, karena ia tahu selama ini ia dan seluruh padepokan Merapi telah bermusuhan dengan senopati dari Pajang ini.
" Tenangkan lah dahulu dirimu , Kakang, biar Mayang jelaskan,..!" ucap Dewi Rasani Mayang.
Gadis ini kemudian menceritakan semuanya dari awal hingga akhir tidak ada yg ia tutup tutupi termasuk dengan perbuatan kakak seperguruan nya ini yg telah membunuh paman Raka Senggani, Dewi Rasani Mayang pun menyebutkan bahwa Guru mereka telah tewas di tangan Begawan Kakung Turah.
Raden Kuda Wira langsung terdiam, setelah ia mendengar penjelasan dari adik seperguruannya itu, ia kemudian bertanya,.
" Jadi dimana jasad Guru saat ini,.Mayang,..?" tanya nya kepada Dewi Rasani Mayang.
Adik seperguruannya ini terkejut mendengar nya, sebab ia seperti melupakan keadaan gurunya setelah sebelumnya akan bertarung dengan orang yang juga adalah murid dari Mpu Loh Brangsang itu.
" Guru kalian itu telah di bawa oleh Kakang Raka Yantra, akan tetapi kemana ia membawanya aku tidak tahu,..!" terang Raka Senggani.
Yg sedari tadi diam saja setelah mendengar semua ucapan dari Raden Kuda Wira ini. Memang sebelum ia pergi , Raka Senggani masih sempat melihat Raka Yantra dan Tara Rindayu mendekati jasad Mpu Loh Brangsang itu.
" Kakang Senggani, apakah saudara sepupumu itu membawa jasad guru ke gunung Merapi,.?" tanya Dewi Rasani Mayang kepada Raka Senggani.
" Kakang tidak tahu Mayang,..!" ucap Raka Senggani.
Ia pun kemudian meminta izin untuk meninggalkan mereka berdua, Raka Senggani akan segera kembali ke desa Kenanga .
" Kakang Senggani, walaupun sebenarnya diriku masih ingin kakang berada disini guna membantu Kakang Kuda Wira, namun jika Kakang Senggani akan pergi aku tidak dapat menahan nya, terima kasih atas bantuan nya,. semoga kakang tidak akan mendendam terhadap kami berdua,..!" ujar Dewi Rasani Mayang.
" Mayang, jika Kakang masih mendendam tentu Kakang tidak akan menolong kalian berdua, kalau begitu aku pamit,..!" sahut Raka Senggani.
Ia pun hendak berjalan keluar, namun ketika tiba-tiba, tangan nya ada yg menariknya, langkah senopati Brastha Abipraya ini terhenti,.
" Ada apa,..?" tanyanya.
Setelah melihat tangan Dewi Rasani Mayang menarik tangan nya,.
" Kakang Kuda Wira ingin mengucapkan sesuatu, Kakang Senggani,..!" ucap Dewi Rasani Mayang.
Raka Senggani kemudian membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Raden Kuda Wira.
" Ttt terima kasih atas bantuan mu, Raka Senggani,..Salah ku kepadamu setinggi awan di langit, akan tetapi dirimu masih mau menolong ku,.sekali lagi Aku mohon maaf dan kuucapkan terima kasih atas pertolongan mu ini, memang sudah selayaknya diriku ini mati guna mempertanggungjawabkan semua dosa yang telah ku lakukan,..!" kata Raden Kuda Wira agak terbata bata.
Memang penyesalan nya terasa sangat terlambat, akan tetapi selagi nyawa masih di kandung badan, bertobat adalah jalan yg paling baik yg dapat di tempuh oleh seorang anak manusia seperti Raden Kuda Wira ini.
" Aku telah memaafknamu Kuda Wira, hanya satu pinta ku, janganlah ada dendam diantara kita, dan berhati hatilah dengan kakak sepupuku yang juga adalah saudara seperguruan kalian itu,nampaknya ia menyimpan dendam atas kalian berdua, selamat tinggal,..!" ucap Raka Senggani.
Senopati Brastha Abipraya ini kemudian meninggalkan tempat itu, ia langsung berjalan menyusuri tepian Rawa Pening yg cukup indah ini.
Tinggallah Dewi Rasani Mayang dan Raden Kuda Wira yg menatap kepergian nya dari tempat itu.
Raka Senggani berniat untuk singgah ke tanah Perdikan Mantyasih sebelum ia kembali ke desa Kenanga.
Ada rasa rindu kepada saudara angkatnya Lintang Sandika yg berada di tanah Perdikan itu.
Dengan bergegas, Senopati Brastha Abipraya ini berjalan sangat cepat di saat mentari telah menggatalkan kulit.
Ia segera mengerahkan ilmu lari cepatnya meninggalkan tempat itu.
Dalam perjalanan nya menuju ke tanah Perdikan Mantyasih , Raka Senggani merasa ada yang tengah mengikutinya ketika ia telah berada di luar kawasan Rawa Pening.
Hati Senopati Brastha Abipraya merasa perlu untuk mengetahui siapakah orang yang telah mengikuti nya ini.
Apakah memang ia adalah salah seorang yg di kirim dari Kotaraja Demak guna menangkap nya atau kah hanya orang merasa ingin bertemu dengan nya.
Hingga pada suatu tempat yang cukup sepi, Raka Senggani langsung melesat cepat baru setelahnya ia bersembunyi guna mengetahui siapakah orang yang tengah membuntutinya ini.
__ADS_1