Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 18 Hati yang Terluka. bag ke dua.


__ADS_3

Di saat Matahari yg semakin condong ke arah barat,..ekor pasukan Pajang itu di hujani oleh anak -anak panah,..yg di lepaskan dari balik gerumbul semak belukar yg berada di tepian Kali Opak.


Semakin lama ,..semakin banyak, bahkan kali ini diikuti dengan lemparan tombak ,..bandil dan beberapa Senjata rahasia berupa paser -paser kecil yg beracun.


Keadaaan ekor pasukan Pajang itu benar -benar terdesak hebat,. walaupun mereka telah membentuk formasi tameng untuk mengatasi masalah itu,. akan tetapi serangan yg terus menerus di lancarkan oleh kawanan begal alas Mentaok itu memang sangat menyulitkan.


Selain karena mereka lebih memahami medan,..kawanan begal itu di pimpin oleh seorang yg memiliki kepandaian yg sangat tinggi,..dialah murid utama dari Padepokan Merapi yg di pimpin Mpu Loh Brangsang.


Dialah Adya Buntala,.. pemilik ajian Lebur Saketi dan puncak ilmu ajian Lebur Waja itu dengan sangat berani menghantam ekor pasukan Pajang itu dengan seorang diri.


Sementara itu sebahagian besar induk pasukan Pajang itu telah berhasil menyebrang,..namun begitu mereka telah tiba di seberang,..pasukan itu pun mendapatkan serangan serupa dengan ekor pasukan nya.


Sebahagian besar lagi dari Pasukan Pajang itu tengah berada di dalam kali Opak yg lumayan deras airnya. Walaupun saat itu tidak dalam keadaan banjir.


Sangat di sayangkan tindakan dari Tumenggung Jalawisesa. ,..ia kurang memahami keadaan medan ,..sehingga memaksa terus pasukan nya untuk dapat terus naik ke seberang.


Sedangkan pasukan yg tertinggal di ekornya menjadi semakin kacau,.. karena para prajurit Pajang yg masih baru itu,.sangat terkejut dengan serangan itu,.padahal kalau sebenarnya mereka dapat berkoordinasi dengan baik tentu dapat menahan serangan tersebut,.. tetapi kebanyakan mereka menjadi gugup, sehingga harus di bayar sangat mahal lah kegugupan mereka itu,..dengan nyawa yg harus mereka tebus.


Satu persatu prajurit Pajang itu jatuh berguguran menemui ajalnya.


Dua orang perwira yg menjadi Senopati nya yaitu Rangga Chakradaya dan Rangga Indra Sena ,..tidak henti -henti nya meneriakan perintah untuk tetap dalam formasi yg utuh jangan terpecah -pecah,..tetapi dasar nya para prajurit itu sudah merasa gugup,..teriakan dari pemimpin nya tidak mereka dengar.


Terpaksalah Rangga Chakradaya meminta seorang prajurit penghubung untuk meminta para prajurit Pajang yg tengah berada di dalam air itu naik untuk membantu mereka.


Walhasil ,..pasukan yg di pimpin oleh Tumenggung Jalawisesa itu terpecah menjadi dua bagian,..bagian ekornya ,..yg di pimpin oleh Rangga Chakradaya dan Rangga Indra Sena harus menghadapi gerombolan begal Alas Mentaok yg di pimpin oleh Adya Buntala.


Jumlah kawanan begal itu memang tidak terlalu banyak jika di bandingkan dengan para Prajurit Pajang itu,..tetapi karena kemampuan mereka yg diatas rata -rata dan penempatan posisi yg sangat baik,..menjadikan kedudukan meraka menjadi unggul di bandingkan dengan pasukan Pajang itu.


Bahkan ketika malam pun telah tiba,.. tekanan yg di berikan oleh kawanan begal itu semakin meningkat,..membuat jumlah korban dari pihak Pasukan Pajang itu menjadi sangat banyak.


Baru kali ini ,. Rangga Chakradaya dan Rangga Indra Sena merasa tidak mampu mengendalikan keadaan pasukan nya selama memimpin suatu pasukan.


Terjadi kecendrungan di dalam pasukan itu untuk berperang sendiri -sendiri tidak mengindahkan tata gelar suatu pasukan yg benar.


Kedua Senopati Pajang itu harus mengambil keputusan yg tepat agar pasukan nya tumpas secara sia -sia.


Melihat gelagat pasukan Pajang itu akan menarik mundur prajurit nya,..Adya Buntala dengan di temani oleh dua orang Kepercayaan nya mendekati kedua perwira Pajang itu.


Adya Buntala dengan sangat berani nya melewati para prajurit Pajang sambil melepaskan ajian nya yg sangat ngegrisi itu,.yg menjadikan nya seperti momok yg sangat menakutkan bagi para Prajurit Pajang itu.


Sedangkan di induk pasukan,..yg di pimpin langsung oleh Tumenggung Jala Wisesa dan dibantu oleh dua orang Rangga yg lain,..harus berhadapan dengan kawanan begal yg di pimpin oleh Arya Pinarak.


Keadaan induk pasukan itu pun tidak terlalu jauh berbeda dengan ekor nya,..hanya saja Arya Pinarak lebih mengutamakan keunggulan medan yg mereka kuasai sehingga ,.pasukan itu merasakan sangat sulit untuk maju lebih dalam lagi menuju Alas Mentaok itu.


Mereka tertahan di tepian Kali Opak itu. Itulah yg dimanfaatkan oleh Arya Pinarak untuk memukul pasukan itu dengan perlahan,.dari balik semak,..dari atas pepohonan,..bahkan sulur-sulur pun mereka manfaatkan untuk mendesak pasukan Pajang yg sangat besar dalam hal jumlahnya itu.


Bahkan kelebihan kawanan begal itu dalam bertarung satu lawan satu menjadi keunggulan tersendiri,..sedangkan pasukan Pajang tidak dapat membuat gelar yg sempurna,.menjadikan pasukan itu semakin terdesak.


Kali Opak menjadi merah akibat darah yg telah keluar dari tubuh -tubuh para prajurit Pajang itu,. mereka bertumbangan menemui ajalnya.


Bahkan salah seorang Rangga pengapit Tumenggung Jala Wisesa mengatakan kepada Senopati nya itu untuk menarik kembali mundur ke Prambanan.


Akan tetapi Tumenggung Jala Wisesa menolaknya,..ia masih berkeyakinan dapat memenangkan peperangan itu atau setidaknya dapat mendeaak kawanan begal itu.


Tetapi kenyataan nya jauh dari yg diharapkan,..malah pasukan itu semakin terdesak,..apalagi malam telah menyelubungi Alas Mentaok itu.

__ADS_1


Adalah Rangga Suralaya yg jadi pengapit Tumenggung Jala Wisesa yg merasa sedih,..jika pasukan nya akan tumpas,..hanya karena keinginan sepihak dari sang Tumenggung itu.


Hehh,..apakah Tumenggung Jala Wisesa tidak dapat melihat kenyataan nya,..bahwa pasukan mereka bukan nya makin maju mendesak,..justru mereka semakin mundur dan mundur terus.


Serangan -serangan dari dalam kegelapan malam itu semakin menggila,.para kawanan begal yg tidak memiliki paugeran dengan segala kemampuan yg punyai menggilas Pasukan Pajang yg sebenarnya belum terlatih bertarung dalam keadaan seperti itu,.. walaupun mereka memang sempat di berikan arahan untuk dapat berperang di dalam air,.karena pasukan itu memang akan di bawa ke medan perang diatas samudra itu.


Beberapa prajurit yg memang tidak ingin nyawa mereka melayang dengan sia -sia setelah melihat kenyataan,..mereka menceburkan tubuhnya ke dalam Kali iru,.dan hanyut terbawa arus.


Tumenggung Jala Wisesa sendiri segera terikat perang tanding dengan Arya Pinarak sebagai pemimpin para kawanan rampok itu.


Murid dari Mpu Phedet Pundirangan itu sesungguhnya memiliki kemampuan setingkat dengan Adya Buntala,. akan tetapi ia lebih menang pengalaman ,. karena sudah sering melakukan pencegatan dan perampokan terhadap orang -orang yg lewat dari Alas Mentaok itu.


Sehingga pedang dari murid Mpu Phedet Pundirangan itu sangat mudahnya menebas leher-leher para prajurit Pajang itu.


Dan hal itulah yg membuat Tumenggung Jala Wisesa tergerak untuk menghentikannya.


" Hehh,..kau segeralah menyerah,..atas nama Kanjeng Adipati,..dirimu harus di tangkap,.." seru Tumenggung Jala Wisesa.


Sambil mengacungkan senjata nya yg berupa tombak itu.


" Apakah dirimu tidak merasa bersalah dengan mengatakan itu kepada ku,.. seharusnya dirimu lah yg harus pulang ke Pajang,..atau memang dirimu ingin mengqntarkan nyawa kemari.." balas Arya Pinarak.


Keduanya tengah berhadapan satu sama yg lainnya dengan senjata terhunus.


" Dirimu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa,..aku Tumenggung Jala Wisesa yg mendapatkan perintah untuk membasmi kalian semua dari bumi Pajang ini,..jika kalian memang tidak mau menyerah ,..tombak ku inilah yg akan berbicara,.." sebut Tumenggung Jala Wisesa.


Tombak yg berada di tangan nya itu di putarnya dengan cepat siap untuk menyerang.


" Dasar mata mu telah buta,..heh,.. Tumenggung gendeng,..lihatlah para prajurit mu itu..telah banyak nyawa yg melayang akibat ulah mu itu,..dan tampaknya dirimu memang harus di beri pelajaran,.." jawab Arya Pinarak.


Pedang nya sudah terangkat ,..murid Mpu Phedet Pundirangan pun langsung melesat menyerang Tumenggung Jala Wisesa.


Pedangnya yg lurus mematuk dada Tumenggung Jala Wisesa,.dalam kegelapan malam itu,. pertarungan keduanya berjalan sangat cepat.


Tombak di tangan Tumenggung Jala Wisesa berputar menangkis dan menusuk balik ke arah Arya Pinarak.


Tetapi memang kemampuan dari Arya Pinarak saat kini sudah sangat tinggi apalagi setelah dirinya dan Adya Buntala serta Sentanu menerima puncak ilmu dari perguruan mereka yaitu Aji Lebur Waja,..membuat dirinya dapat mendesak Tumenggung Jala Wisesa.


Hingga suatu ketika sebuah serangan yg mengarah kaki dari Tumenggung Pajang itu masih mampu di tangkis oleh Tumenggung Jala Wisesa,.. kemudian satu tendangan mendarat telak di dada Tumenggung Jala Wisesa,.membuat tubuh Tumenggung itu goyah ,.Arya Pinarak tidak menyia -nyiakan kesempatan ia meneruskan serangan pedangnya yg tadi tertunda.


Satu sabetan pedang nya segera melukai tangan Tumenggung Jala Wisesa.


" Aaakkhh,.."


" Kanjeng Tumenggung,.."


Sebuah teriakan tertahan yg keluar dari mulut Tumenggung Jala Wisesa itu,..dan itu di lihat oleh Rangga Suralaya.


Ia pun mendekati Tumenggung Jala Wisesa itu dan segera menangkis serangan dari Arya Pinarak yg memang berniat untuk mengakhiri perlawanan Tumenggung Pajang itu.


" Trannnggg,.."


Benturan yg terjadi antara pedang Arya Pinarak dengan pedang Rangga Suralaya,.dan menimbulkan percikan kembang api.


Tubuh Rangga Suralaya terdorong dan tangan nya sangat panas ketika harus memapasi serangan dari Arya Pinarak itu.

__ADS_1


Sementara darah mengucur dari luka Tumenggung Jala Wisesa,..bahkan tubuhnya pun harus di topang oleh Rangga Suralaya agar tidak terjatuh.


Arya Pinarak tidak langsung menyerang lagi,..ia hanya memperhatikan kedua orang pemimpin pasukan Pajang itu,..lantas berseru,..


" Segeralah enyah dari alas Mentaok ini,..sebelum batas kesabaran ku habis,.."


Teriakan yg sangat keras keluar dari mulut murid Mpu Phedet Pundirangan itu dan tetap dengan pedangnya yg teracung.


Baik Tumenggung Jala Wisesa maupun Rangga Suralaya terdiam mendengar ucapan dari Arya Pinarak itu.


Kedua orang itu merasa tertantang dengan ucapan pemimpin rampok Alas Mentaok itu. Apalagi di hati Tumenggung Jala Wisesa yg telah berjanji untuk dapat menumpas kawanan begal yg cukup meresahkan di wilayah Pajang itu. Tetapi saat ini mereka melihat kenyataan bahwa pasukan yg cukup besar itu ternyata tidak mampu memenangkan peperangan ,untuk mendesak kawanan rampok itu pun tidak.


Benar yg telah di ucapkan oleh kakang Wangsa Rana itu,..kata Tumenggung Jala Wisesa dalam hati.


Memang sebelum mereka berangkat ,.. Tumenggung Wangsa Rana telah memperingatkan mereka dengan kehebatan para kawanan rampok yg berasal dari Alas Mentaok,..padahal saat itu,.kawanan rampok itu masih di pimpin oleh Macan Baleman,..belum ada murid dari padepokan gunung Merapi sebelah dalamnya.


Disaat mengenang ucapan dari Tumenggung Wangsa Rana itu,.. Tumenggung Jala Wisesa di kagetkan oleh ucapan Rangga Suralaya.


" Kanjeng Tumenggung,..memang sebaiknya lah kita mundur saja,..sebelum pasukan kita ini benar -benar tumpas ,..habis,.."


" Hehh,..itu tidak boleh terjadi Suralaya,..apa yg akan kita katakan kepada Kanjeng Adipati,..bukankah mereka sudah melarang kita untuk datang kemari,..jadi jika kita kembali ,..tentu akan mendapatkan murka darinya,.." jawab Tumenggung Jala Wisesa.


" Lebih baik mendapatkan murka dari Kanjeng Adipati,. daripada para prajurit kita ini akan melayang nyawanya semua,..tentu akan lebih menyedihkan lagi,.. Tumenggung,..". jelas Rangga Suralaya.


" Tidak,..itu tidak mungkin ku lakukan ,..segera lah bersiap Rangga Suralaya,.kita hadapi orang ini bersama,.biar Rangga Jayadi yg akan membawa pasukan itu kembali,.." jawab Tumenggung Jala Wisesa.


Sesungguhnya ucapan dari Tumenggung Jala Wisesa itu tidak sesuai dengan keinginan dari Rangga Suralaya,.. kenyataan yg tidak selaras dengan keinginan membuat Rangga Suralaya tidak dapat membantah ucapan dari pemimpin nya itu.


Jadilah kedua orang pemimpin pasukan Pajang itu bersiap lagi untuk menghadapi pemimpin rampok Alas Mentaok itu.


" Hehh,..kalian berdua,..apakah mata kalian itu telah buta,..lihatlah sudah banyak prajurit kalian yg menemui ajalnya,.. cepatlah pergi dari sini sebelum diriku habis kesabaran,.." seru Arya Pinarak lagi.


" Tidak ada kata kembali ,..bagi seorang prajurit,..lebih baik berputih tulang daripada berputih mata,.. bersiaplah,.kami tetap akan menangkapmu,.." balas Tumenggung Jala Wisesa.


Tombak yg berada di tangan nya it kembali di acungkan lagi,. ia sudah bertekad untuk mengadu nyawa menghadapi pemimpin rampok alas Mentaok itu.


" Ha,.ha,.ha,.. dasar bodoh,..untuk apa kalian mempertaruhkan nyawa..jika hanya ingin mengusir kami dari tempat kami sendiri,..kecuali kalian memang sudah bosan hidup,. biarlah aku yg akan menjadi lantaran nya,..ha.ha,.ha,."


Terdengar suara tertawa yg keluar dari mulut murid Mpu Phedet Pundirangan itu.


Pedang di tangannya segera di arahkan lagi kepada kedua orang itu. Tampaknya rasa percaya diri terpancar dari wajah Arya Pinarak itu.


Kali ini ia tidak akan memberi hati lagi dan berbelas kasihan kepada kedua orang itu.


" Heaaahhh,.."


Dengan satu teriakan yg keras,..Arya Pinarak melesat dengan cepat menuju ke arah Tumenggung Jala Wisesa dan Rangga Suralaya.


Pedangnya segera bergerak cepat menebas ke arah leher Tumenggung Jala Wisesa. Sedangkan Tumenggung Jala Wisesa segera menghindari dengan melompat ke samping sambil mengirimkan serangan balasan menggunakan tombaknya.


Arya Pinarak tidak meneruskan serangan nya kepada Tumenggung Jala Wisesa,.ia mengarahkan serangan nya kepada Rangga Suralaya,..sambil tetap melayang diudara,.pedang yg ada ditangan nya itu bergerak mencari sasaran nya,..Rangga Suralaya segera memapasi serangan itu dengan senjatanya,..


" Traanggg,.."


Pedang yg ada di tangan Rangga Suralaya itu sampai terlepas,..dan serangan pun masih berlanjut,..Arya Pinarak kembali menusuk senjatanya ke arah dada Rangga Suralaya,.

__ADS_1


Perwira Pajang itu tidak mampu menahan serangan itu dengan senjata nya lagi,. terpaksa ia harus melompat mundur.


Tebasan pedang Arya Pinarak memang tidak menemui sasaran,..tetapi pukulan tangan kirinya bersarang telak di dada Rangga Suralaya itu dan membuat nya jatuh terjerembab di atas tanah.


__ADS_2