
Sang Senopati sampai pagi berada di pategalan itu, ia menunggu sampai Ki Lamiran datang ke situ.
Sedangkan Ki Lamiran sendiri terlihat kebingungan karena tidak mendapati Raka Senggani berada di amben bambu.
Ia pun langsung berangkat ke pategalan karena hari itu belum hari pasaran sehingga seperti biasa ia langsung menuju ke pategalan setelah terang tanah.
Di pategalan barulah di temukan nya Raka Senggani yg sedang berlatih walaupun kali ini latihan nya tidak seperti biasa , pemuda itu hanya duduk saja sambil tangan nya bersedekap di depan dada.
Ia terus menajamkan ilmu yg baru di dapat nya itu, dan dengan kehadiran dari Ki Lamiran, Senopati Pajang itu barulah menghentikan nya.
" Aki sudah merasa bahwa Angger Senggani pastilah tengah melakukan sebuah laku untuk mendapatkan aji panglimunan itu," seru nya.
" Benar Ki, tadi malam Senggani tidak dapat tidur, sehingga melakukan yg aki katakan itu, dan alhamdulillah, Senggani telah mampu menguasainya ," jawab Raka Senggani.
" Syukur lah, namun Angger pun punya tanggung jawab terhadap empat murid utama itu, jadi jangan larut hanya pada diri sendiri saja Ngger," ungkap Ki Lamiran.
" Ahh , mereka baru hari ini melakukan sebuah laku, masih ada dua hari lagi kesempatan untuk melatih ilmu ini, Ki,". jawabnya lagi.
" Lalu bagaimana dengan para pemuda desa Kenanga ini, mereka pun harus Angger latih supaya semakin dapat menjadi Pengawal yg baik untuk tanah ini," jelas Ki Lamiran lagi.
" Seperti biasa, tiap malam Senggani akan hadir di banjar desa untuk memberi arahan pada mereka, agar dapat meningkatkan kemampuan nya," ungkap Raka Senggani.
Ki Lamiran tidak berkata lagi, kali ini pacul nya yg berkata , ia mulai mencangkul tanah pategalan.
Raka Senggani pun turut membantu, ia ikut mencangkul dan membersihkan semak -semak yg telah merambat menutup tanaman itu.
Saat Matahari menggatalkan kulit barulah mereka berdua beristrahat sejenak sambil memakan beberapa singkong rebus yg di bawa Ki Lamiran dari rumah.
Kemudian mereka melanjutkan lagi pekerjaan itu, terlihat keringat mengucur dari dahi sang Senopati Pajang.
Ia memang sudah agak lama tidak memegang gagang pacul tersebut, sehingga tanpa terasa telapak tangan nya terasa panas.
" Ngger jangan terlalu di paksakan jika telah lelah berhenti saja, jangan terlalu mengumbar tenaga mu apalagi sampai mengeluarkan tenaga dalam mu itu," seloroh Ki Lamiran.
Ia berkata sedemikian karena melihat Raka Senggani yg tampak terlalu bersemangat , hingga mentari tepat diatas kepala pun ia masih melakukan nya sementara Ki lamiran tengah mengaso sambil mengipasi tubuhnya dengan sebuah caping yg lebar.
Raka Senggani masih terus bekerja, baru setelah matahari mulai condong ia berhenti, dan berangkat ke sendang guna membersihkan tubuh nya.
Selepas itu langsung melaksanakan perintah yg Maha kuasa dan setelah nya ia duduk dekat ki Lamiran yg tengah melinting rokok daun jagung nya.
Orang tua itu melihat bahwa pategalan itu telah siap untuk ditanami.
Karena nya besok ia akan memulai memotong batang singkong itu.
Sementara itu. di rumah Juragan Tarya , para pengawal nya tengah berbicara mengenai Raka Senggani.
Ki Ragawana yg paling bersemangat ingin menjajal kemampuan dari Senopati Pajang itu. Namun masih di cegah kakak seperguruan nya Ki Kranjan, karena memang mereka itu belum layak untuk melawan Senopati Brastha Abipraya itu.
Sedangkan yg perempuan mengatakan bahwa akan ada kejutan buat Senopati Pajang itu dari Guru mereka.
Jadi mereka bertiga tidak boleh mengatakan mereka itu murid dari Merapi, apalagi terhadap Senopati Pajang tersebut.
" Apakah Juragan Tarya tahu bahwa guru akan melakukan sesuatu terhadap calon mantunya itu, Wani,?" tanya Ki Kranjan.
" Ya tidak, kakang, ini masih rahasia kita bertiga saja, dan aku sendiri pun tidak tahu apa yg akan di lakukan oleh guru terhadap nya," ucap Wani.
" Jadi sekali lagi, kita tidak boleh merusak rencana guru dengan keinginan kita untuk menjajalnya," kata Wani lagi.
" Hanya adi Ragawana saja yg ingin menguji kemampuan dari Senopati Brastha Abipraya itu, kalau kakang tidak , Kakang telah melihat kemampuan nya yg sangat ngegrisi saat mengalahkan dua Paman Guru waktu itu," jelas Ki Kranjan.
Ki Ragawana terdiam, ia merasa salah tingkah ketika kakak seperguruan nya itu berkata demikian.
Sari Kemuning dan Japra Witangsa telah malakukan puasa pada hari itu, walaupun ada niatan gadis Putri Ki Jagabaya untuk mengantarkan makanan kepada Raka Senggani namun niatnya itu di urungkan nya, agar ia dapat memusatkan pikirannya pada laku yg sedang dijalani nya.
Begitu pula yg terjadi di rumah Bekel Kenanga, kedua anaknya pun telah menjalankan perintah dari Raka Senggani untuk berpuasa selama dua hari. Dan Kedua nya pun tidak keluar rumah selama dua hari itu.
Pada malam itu, Raka Senggani masih memberikan arahan kepada para pemuda desa Kenanga, saat tengah malam ia kembali dan terus melatih ilmu yg baru di dapatnya itu.
Sampai lah saat penurunan ilmu Wajra Geni kepada empat orang putra dan putrinya Ki Bekel dan Ki Jagabaya.
Saat setelah mereka telah berbuka saat maghrib tiba, keempatnya langsung menuju pategalan si Mbok Rondo.
__ADS_1
Meski masih terlihat lemah namun semangat keempat orang itu tidak surut untuk mendapatkan ajian Wajra Geni itu.
Di Pategalan sendiri Raka Senggani telah menunggu ke empatnya.
Raka Senggani memerintahkan ke empatnya duduk bersila dan kembali memusatkan nalar budinya dan memberikan beberapa mantera agar diucapkan keempatnya.
Mereka di perintahkan oleh Raka Senggani untuk memusatkan tenaga dalam nya pada kedua telapak tangan nya, dan mulai lah disuruh melakukan yg telah diajarkan oleh Senopati Pajang itu.
Yg pertama kali melakukan nya adalah Jati Andara, atas perintah dari Raka Senggani untuk melepaskan pukulan ke arah sebuah batu yg ada di dekat sendang .
" Wajra Geni,. Hiyyahh," teriak Jati andara
" Dhumbhh,"
Selarik cahaya berwarna kemerahan meluncur ke arah batu kali tersebut.
Dan hasilnya, batu itu hanya bergoyang saja.
Raka Senggani menghampiri batu tersebut dan memeriksa nya, meski sangat-sangat gelap ia melihat ada garis retakan di pemurkaan yg terkena oleh pukulan Wajra Geni yg di lepaskan oleh Jati andara.
Kemudian Senopati Pajang tersebut meminta kepada Japra Witangsa untuk melakukan nya.
Dan hasilnya tetap sama , hanya menambah pada retakan permukaan batu yg cukup besar itu.
Berturut -turut, Sari Kemuning dan yg terakhir adalah Dewi Dwarani, dengan hasil yg sama tidak mampu menghancurkan batu tersebut.
Keempatnya merasa belum berhasil dalam melepaskan Ajian Wajra Geni itu, tetapi berbeda dengan Raka Senggani, dia berkata bahwa mereka telah mampu mengungkapkan Ajian itu dengan baik meski tidak mampu menghancurkan batu tersebut, itu artinya mereka berempat telah mampu untuk mengeluarkan nya tinggal hanya menambah lagi kekuatan nya dengan menjalani laku yg lebih berat lagi dan pengungkapan tenaga dalam yg lebih tinggi lagi.
Kembali Raka Senggani mengatakan agar melakukan lagi untuk mengeluarkan kembali Ajian Wajra Geni itu hingga tiga kali barulah batu kali itu terbelah.
Keempatnya merasa senang sekali melihat hasil yg di dapat nya meaki tubuh keempatnya seperti dilolosi tidak memiliki tulang sama sekali.
Japra Witangsa dan Jati andara masih mampu duduk berbeda dengan Sari Kemuning dan Dewi Dwarani kedua gadis itu terlentang tidak mampu menegakkan tubuhnya lagi.
Raka Senggani mendekati kedua perempuan itu dan ia pun menyalurkan hawa murni nya kepada kedua orang itu.
Setelah mendapatkan tenaga tambahan barulah keduanya dapat duduk kembali.
Karena keempatnya telah mampu mengungkapkan Ajian Wajra Geni meski baru tahap awal.
Ia juga memberikan arahan jika nanti mereka akan melakukan Laku diharapkan tidak semuanya melakukan nya, sebaiknya bergantian, dengan bergantian akan ada yg menjaga mereka jika memang harus jatuh pingsan.
Keempatnya memdengarkan semua petunjuk yg di berikan oleh Raka Senggani, karena mereka memang berniat untuk mendapatkan hasil yg lebih baik lagi.
Japra Witangsa sampai berkeinginan untuk langsung menjalani laku selama empat puluh hari, tetapi di larang oleh Raka Senggani, di khawatirkan dari Senopati Pajang itu, urat nadi dari Putra Ki Jagabaya itu dapat berbalik dan akan membuatnya lumpuh dan dapat juga sampai meninggal.
Raka Senggani menyarankan kepada mereka ojo kesusu, alon asal klakon, demikian lah saran dari sang guru muda itu.
Sampai hampir pagi mereka berada di situ.
Dan ketika terdengar kokok ayam jantan berbunyi barulah mereka kembali ke rumah masing -masing.
Dan sebelum berpisah Raka Senggani masih mengingatkan agar mereka terus berlatih mengungkapkan Ilmu tersebut.
Sehingga pengungkapan nya akan semakin bertambah mudah.
Keempatnya mengiyakannya.
Dan mereka setiba di rumah nya langsung mandi keramas dengan air merang.
Sedangkan Raka Senggani langsung pulang ke rumah Ki Lamiran sementara orang tua itu telah berangkat ke pasar membawa barang dagangan nya.
Senopati Pajang itu menyusul kemudian.
Pasar desa Kenanga terlihat ramai hari itu. Dan banyak yg membeli barang dagangan dari Ki Lamiran, Raka Senggani sampai sibuk sekali melayani para pembeli.
" Ki , mungkin lusa Senggani akan kembali ke Pajang, karena Kanjeng Adipati hanya memberi waktu dua pekan saja kepadaku untuk beristrahat sekembalinya dari Mantyasih, dan saat itu tinggal tiga hari lagi," ucap Raka Senggani.
Ketika kedua orang itu sedbg beristrahat,Ki Lamiran tidak sedang menempa besi dan Raka Senggani tidak sedang melayani para pembeli.
" Apakah masalah dengan den Ayu, Angger telah menemukan jalan keluar nya,?" tanya Ki Lamiran.
__ADS_1
" Mungkin nanti setelah sekembalinya dari Pajang , Senggani akan menemui langsung keluarga Juragan Tarya dan mengatakan yg sejujurnya kepada mereka," jawab Raka Senggani.
" Dan bagaimana dengan Putri Ki Jagabaya, Ngger,?" tanya Ki Lamiran lagi.
Raka Senggani tersenyum mendengar pertanyaan itu, ia pun sedang berusaha memperjelas hubungan nya dengan Sari Kemuning Putri Ki Jagabaya itu.
" Ki , mungkin nanti setelah sekembalinya dari Pajang, aki Lamiran akan Senggani utus untuk melamar Sari Kemuning, bisa kan , Ki,?" ucap Raka Senggani.
" Aki tentu akan selalu siap sedia jika Angger memintanya,he he he," jawab Ki Lamiran sambil tertawa.
Ia memang merasa bahwa kedekatan pemuda itu dengan Putri Ki Jagabaya itu harus menjadi jelas, sehingga untuk langkah selanjutnya ia akan lebih mudah bertindak.
Saat hari menjelang sore , keduanya kembali ke rumah Ki Lamiran.
Hari itu cukup melelahkan bagi keduanya, barang dagangan dari pande besi itu hampir semua laku terjual.
Dan setibanya di rumah kedua nya beristrahat sejenak . Sampai malam tiba seperti biasanya Raka Senggani masih datang ke banjar desa guna melihat latihan para pemuda desa Kenanga.
Ia juga singgah di rumah Ki Bekel dan Ki Jagabaya, melihat teman-teman nya yg telah berhasil memiliki ilmu Wajra Geni itu.
Meski terlihat masih sangat lemah namun keempat nya masih menyambut kedatangan sang Senopati.
Sampai larut malam Raka Senggani berada disana, tetapi kali ini ia sendiri karena Ki Lamiran tidak ikut, orang tua itu kelelahan setelah seharian di pasar.
Malam itu saat berjalan pulang, di dingin nya saat itu, Raka Senggani merasa ada perasaan yg berbeda dari malam malam sebelum nya.
Ia agak mempercepat langkahnya supaya cepat sampai di rumah Ki Lamiran.
Begitu mendekati rumah pande besi itu terdengarlah suara ringkikkan si Jangu yg tampak nya sedang gelisah.
" Hehh, tidak biasanya si Jangu seperti itu apakah ada orang yg berada di sekitar sini," katanya dalam hati.
Panggraita langsung bekerja, dan benar saja, begitu tiba di depan pintu, tiba -tiba,
" Tapp,"
Sebuah senjata rahasia meluncur kencang dan berhasil menancap di pintu rumah Ki Lamiran itu.
Raka Senggani langsung mencabutnya, ternyata ada secarik kain putih yg bertuliskan tinta darah di pisau itu.
Jika kau benar -benar seorang lelaki datang lah ke bukit Klangon pada malam purnama ini, datanglah sendiri,
Aku akan menantang mu untuk bertarung sampai mati guna membalaskan dendam guru ku yg telah kau bunuh.
Demikian lah tulisan yg ada di secarik kain putih itu, Raka Senggani lama memandangi ke arah luar, ia sudah tidak merasakan ada orang lagi disana, karena Si Jangu pun tidak terlalu gelisah lagi.
Hehh, siapakah orang yg telah mengirimkan surat Tantangan ini, katanya dalam hati.
Ia memang tidak dapat menebak nya karena sudah banyak yg jadi korban akibat kedua tangannya itu.
Apakah surat ini dari Singo Lorok yg telah berhasil melarikan diri dari tahanan Pajang nya , pikir Raka Senggani lagi.
Namun ia sudah lama tidak mendengar kabar orang itu, boleh jadi bukan dia , tetapi siapa , tanyanya di dalam hati.
Ketika ia masih berdiri mematung di depan pintu, Ki Lamiran keluar dari dalam, ia tadi mendengar ada suara yg membentur pintu nya itu.
Dan alangkah terkejutnya ia mendapati Raka Senggani berdiri mematung dengan memegang secarik kain putih dan sebuah pisau di tangan kirinya.
" Hehh, mengapa angger Senggani tidak masuk dan memanggil aki tadi,?" tanyanya kepada Raka Senggani.
Senopati Pajang itu masih terdiam dan masih menatap keluar ke arah kegelapan malam.
" Ngger, apa yg Angger pegang itu,?" tanya Ki Lamiran lagi.
" Surat Tantangan , Ini Ki , aki baca, siapa kiranya orang yg berani mengirimkan surat Tantangan ini,?" tanya Raka Senggani.
Ia pun menyerah kan kain putih bertuliskan darah itu kepada Ki Lamiran. Dan Pande besi desa Kenanga itu membacanya, sebentar kemudian ia menutup nya.
" Marilah Ngger, kita masuk, kita bicarakan di dalam," ajak Ki Lamiran.
Keduanya masuk ke dalam dan menutup pintu itu kembali.
__ADS_1