Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 21 BIMA SAKTI. bag ke sembilan.


__ADS_3

Di kediaman Tumenggung Bahu Reksa, senopati Bima sakti beristrahat . Ia terlihat menghabiskan waktu bersama keluarga besar dari orang kepercayaan dari sang Sultan. Banyak yg di dapatnya pelajaran dari orang tua angkatnya tersebut.


Hal bagaimana untuk menempatkan diri dalam tata keprajuritan Demak. Terlebih dalam keprajuritan sandi. Mereka harus dapat bekerja sama dengan baik agar usaha dapat untuk di maksimalkan.


Dalam pada itu di dalam tugas nya kali ini, Raka Senggani menyebutkan bahwa diantara prajurit sandi ada yg telah berkhianat dalam upaya nya untuk menjaga keselamatan keluarga nya.


Apakah orang tersebut masih dapat di pertahankan sebagai prajurit., tanya Raka Senggani kepada Tumenggung Bahu Reksa.


" Kalau masalah itu biarlah nanti Kanjeng Gusti Sultan Demak sendiri yg memutuskan nya, dan jika Paman bertanya kepada mu selaku pemimpin mereka , keputusan apa yg pantas untuk di jatuhkan kepadanya,..?" tanya Tumennggung Bahu Reksa.


" Kalau menurut Senggani, sebaiknya memang Orang itu harus di keluarkan dari kesatuan karena dengan sikap nya tersebut dapat membahayakan yg lain, meskipun ia telah membantu penyembuhanku, namun asal kesulitan yg Senggani dapatkan adalah darinya,.yg tidak berlaku jujur," jelas Raka Senggani.


Dari ucapan senopati sandi Demak ini tidak mengandung unsur balas dendam hanya untuk menjaga kewibawaan dari pasukan yg di pimpinnya. Terlebih kesatuan itu terpisah - pisah mencakup keseluruhan wilayah Kerajaan Demak yg cukup luas, jadi akan sangat sulit menggerakkannya dalam waktu bersamaan dengan waktu singkat, jadi keutuhan dan kesatuan dari para Prajurit nya harus baik.


Tumenggung Bahu Reksa meminta kepada Raka Senggani , agar memberikan jawaban itu kepada Kanjeng Sinuwun jika ia menanyakan nya nanti.


Oleh Senopati Bima Sakti ini di jawab dengan anggukkan kepala. Karena besok ia akan langsung menghadap ke dalem bangsal kasatriaan pada pagi harinya. Karena selama di Kotaraja Demak ia di tempatkan dengan para bangsawan, putra para pangeran ataupun putra Kanjeng Sultan Demak sendiri.


Dalam pesan nya, Tumenggung Bahu Reksa meminta kepada Raka Senggani untuk dapat beristrahat , agar ia dapat melangsungkan pernikahan nya, jika ia meminta sendiri tentu Kanjeng Sultan akan memberikan nya. Di sebabkan ia telah berhasil menjalankan tugas pertama nya sebagai salah seorang pemimpin pasukan prajurit sandi yg tangguh dan bertanggung jawab.


Semua pesan yg diterima oleh Raka Senggani di ingatnya , agar ia dapat mengatakan nya kepada Kanjeng Gusti Sinuwun sendiri.


Pada keesokan harinya, Setelah terang tanah dengan agak tergesa-gesa Senopati Bima Sakti keluar dari kediaman Tumenggung Bahu Reksa menuju bangsal kasatriaan.


Tidak terlalu lama tibalah ia disana dengan para pangeran , putra Sultan Demak , diantaranya ada Raden Arya Wangsa, Raden Abdullah Wangsa dan Raden Surya Diwangsa.


Ketiganya terlihat sangat senang melihat kehadiran dari Senopati Bima Sakti ini.


Namun pada hari itu , tidak disangka oleh Raka Senggani , ia mendapatkan permintaan dari salah seorang pangeran yg masih sangat remaja,..ia adalah Putra Pangeran Trenggana yg bernama raden Mukmin.


Pangeran itu mengatakan ingin sekali berlatih ilmu silat dengan nya, karena hampir seluruh prajurit di demak ini menceritakan sepak terjang dari orang yg bernama Raka Senggani ini, baik ia prajurit bawahan maupun ia adalah seorang perwira, bahkan sampai yg berpangkat Tumenggung.


Semuanya memuji kelebihan salah seorang Senopati Demak terbaik yg di miliki saat ini.


Sebenarnya Raka Senggani sangat senang dan menyambut baik permintaan dari Raden Mukmin ini, tetapi tiba tiba saja dua orang prajurit jaga masuk dan menyampaikan berita kepadanya agar segera menghadap Kanjeng Gusti Sultan Demak di dalam istana.


" Baiklah raden Mukmin, nanti kita cari waktu yg tepat untuk berlatih,.." terang Raka Senggani.


Dan pangeran itu mengangguk sambil agak menggerutu tidak jelas, ia kesal dengan sikap Paman nya, yaitu Sultan Demak sendiri, yg telah meminta datang Raka Senggani ke dalam istananya.


Sehingga rencana nya tidak jad untuk di laksanakan , berlatih bersama dengan sang Senopati Bima Sakti.


Sedang Raka Senggani sendiri langsung menuju ke istana untuk menghadap Kanjeng Gusti Sultan Demak.


Ia tidak menuju balairung istananya melainkan langsung menuju bilik dari Kanjeng Gusti Sultan Demak.


Disana telah telah ada Pangeran sabrang Lor yg kini telah menjadi Sultan pengganti dari Raden Fatah yg telah mangkat.


Kanjeng Gusti Sultan Demak duduk di sebuah kursi yg terbuat dari kayu Jati yg berukir sangat indah.


Senopati Bima Sakti langsung menghadap dan duduk di hadapan sang Sultan.


" Hamba menghaturkan sembah, Kanjeng Gusti Sultan,.." ucap Raka Senggani.


Sambil merangkap kan kedua tangannya di depan kepala dan kemudian turun ke dada.

__ADS_1


" Sembah mu , aku terima, bagaimana mengenai tugas Senopati Bima Sakti , apakah telah berhasil menunaikan tugas,..?" tanya Sultan Demak itu.


" Sendika Dalem , Kanjeng Gusti Sultan, hamba telah melaksanakan tugas, dan hasilnya pun cukup baik,.." jawab Raka Senggani.


Senopati sandi Demak ini kemudian menceritakan apa yg telah terjadi di wilayah bang Wetan saat ia masih bertugas tidak ada yg terlewat, dari awal sampai akhir.


Selain itu Senopati Bima Sakti juga menambahkan , bahwa dengan tewasnya Tumenggung Waturangga tidak dapat menyurutkan niatan para Adipati bawahan yg ada disana.


Hanya saja dengan tewasnya Tumenggung Waturangga akan membuat rencana yg telah mereka susun akan berhenti sejenak . Tetapi pada akhirnya mereka tetap saja akan memberontak,.jelas Raka Senggani.


Kemudian Kanjeng Gusti Sultan Demak menanyakan kepada Senopati Bima Sakti, darimana ia mendapatkan berita tersebut, apakah hal tersebut dapat di percaya atau tidak, tanya nya kepada sang Senopati.


Senopati sandi Demak ini kemudian menjelaskan, bahwa hal tersebut ia dengar langsung dari para Prajurit kadipaten Surabaya sendiri.


Dan tampaknya, hal itu menjadi semakin di perburuk dengan sikap dari Tumenggung Waturangga.


Hasilnya , para penguasa di sana menjadi dapat bersatu untuk berkhianat , bahkan mereka akan berniat menyerang Kotaraja disaat Demak akan berangkat ke Lor.


Beruntung nya , Tumenggung Waturangga telah berhasil di kalahkan dan akhirnya ia telah terbunuh. Tetapi pengaruhnya tetap saja masih ada .


Mendengarnya, kemudian Kanjeng Sultan Demak ini sangat berterima kasih atas keberhasilan dari Senopati Bima Sakti yg di beri gelar oleh Kanjeng Sinuwun itu dengan nama Raden Hidayat.


Tidak lupa juga ia menanyakan kepada Sang Senopati mengenai hukuman yg akan di timpakan kepada salah satu prajurit sandi Demak yg telah berkhianat dan bernama ki Tambi. Persoalan ini agar semakin jelas mengingat saat inj ia adalah pemimpin dari pasukan yg menjadi motor penggerak pasukan utama dari Kerajaan ini, sebab semua pergerakan dari pasukan harus menurut dari berita atau acuan dari para sandi yuda Demak sendiri.


Raka Senggani yg bergelar Raden Hidayat, agak sulit menentukan langkah -langkah yg diambil atas sikap yg telah di tunjukan oleh salah seorang prajurit sandi yg be khianat.


Ia menyebutkan sebaiknya Ki Tambi ini di keluarkan saja dari tugas nya sebagai prajurit sandi, terserah ia mau di tempatkan dimana, atau pun ia tidak dipakai sama sekali , semuanya ter serah kepada Kanjeng Sinuwun sendiri.


Asalkan ia tidak harus di hukum yg lebih berat lagi, kasihan keluarganya.


Kanjeng Gusti Sultan Demak menanyakan kapan waktu nya , sekira masih agak lama , ia tentu tidak akan dapat memberikan nya, karena ada tugas yg cukup berat lagi yg akan di laksanakan oleh Senopati sandi yuda Demak itu.


Senopati Bima Sakti mengatakan waktunya sesudah lepas panen tahun ini dan hari itu hanya beberapa puranama lagi, mungkin tidak lebih dari tiga purnama lagi.


Kanjeng Gusti Sultan Demak II memberikan kepadanya izin kepada sang Senopati jika waktunya memang masih dalam tahun ini, tetapi jika waktunya lewat pada enam purnama, satu tugas yg cukup berat akan di terima oleh sang Senopati , ia akan di tugaskan ke Lor , melihat dari dekat , pasukan asing yg ada disana.


Raka Senggani mengucapkan terima kasih atas dukungan dari Kanjeng Gusti Sultan Demak itu, ia merasa di dalam hatinya bahwa apa yg di katakan oleh Tumenggung Bahu Reksa, adalah benar adanya, bahwa tampaknya keputusan sang Sultan untuk menyerang ke Lor tidak dapat di tunda lagi.


Setelah semuanya selesai, dan ia telah mendapatkan sebuah lencana tersendiri dari Kanjeng Gusti Sultan Demak, pertanda secara resmi ia lah pemimpin dari seluruh pasukan sandi Demak ini, dan dapat mengambil keputusan sendiri kepada para prajurit nya, termasuk jika kejadian yg telah menimpa Ki Tambi terjadi lagi.


Kanjeng Gusti Sultan Demak II mempercayakan sepenuhnya pasukan sandi Demak ini kepadanya.Kelak jika terjadi benturan dengan bang Wetan, Kanjeng Gusti Sultan Demak akan menyerahkan kepemimpinan nya kepada Senopati Bima Sakti yg bergelar Raden Hidayat ini.


Kemudian Senopati Bima Sakti menghaturkan sembah kepada Kanjeng Gusti Sultan Demak, dan ia pun segera keluar dari bilik pribadi dari penguasa kerajaan Demak itu.


Ia tidak ikut dalam sidang paseban, karena akan langsung kembali ke bangsal kasatriaan.


Setibanya disana , Raden Mukmin langsung menagih janji dari sang Senopati. Ia meminta kepada Raka Senggani untuk menjadi lawannya kali ini dalam latihan.


Dan hal itu di terima oleh Senopati Bima Sakti, Senopati sandi Demak itu bersedia menjadi lawan tanding dari Putra pangeran Trenggana yg masih berusia muda.


Dengan di lihat oleh para pangeran yg lain kemudian , Senopati Bima Sakti melayani permintaan dari Raden Mukmin.


Pangeran ini kemudian langsung saja menyerang Raka Senggani dengan pukulan tangan kosong dalam lompatan yg sangat cepat.


Tata gerak dari raden Mukmin masih terlihat sangat mentah, semua gerak nya masih sangat kaku.dan pelan.

__ADS_1


Raka Senggani hanya melakukan gerak yg tidak terlalu cepat saja dapat menghindari seluruh serangan dari Raden Mukmin.


Sampai penasaran nya , putra pangeran Trenggana ini sampai mengeluarkan senjatanya yg berupa keris.


Ia menusukkan senjatanya tersebut ke arah Raka Senggani dengan sebatnya,.ketika tusukan tusukan semakin gencar dan terlihat cepat, pada satu kesempatan , dalam gerak yg tidak dapat di lihat orang lain, keris tersebut dapat di jepit oleh kedua jari sang Senopati, dan oleh Raden Mukmin berusaha untuk di cabutnya , tetapi ia tidak mampu melakukan nya.


Akhirnya Raden Mukmin menyerah dan melepaskan senjatanya , ia merasa kelelahan dan kehabisan nafas.


Terduduklah ia di atas tanah,.sambil berujar,..


" Kakang Senopati , mengapa tenaga mu sangat kuat, dan terlihat tidak kelelahan,..?" tanya nya.


Sambil nafas nya tersengal sengal, dada nya turun naik tidak beraturan. Keringat nya nampak nya bercucuran sangat derasnya keluar dari tubuhnya pakaian sampai basah.


Kemudian Senopati Bima Sakti duduk di sebelah pangeran yg masih muda itu seraya menyerahkan senjatanya kembali padanya.


" Dirimu harus semakin rajin berlatihnya , raden,..nafas sangat penting dalam setiap gerakan ,.. karena dengan di topang nafas yg baik maka seluruh gerakan dapat di arahkan dengan tepat dan cepat, lebih bertenaga lagi,.." jelas Raka Senggani.


Ia memberikan beberapa arahan kepada pangeran muda itu, karena sebenar nya , bakat nya dalam ilmu silat ini sangat baik, hanya masih harus sering berlatih lagi,.jika perlu mencari lawan tanding yg lebih lagi tinggi ilmunya.


Semua arahan untuk Raden Mukmin di dengar juga oleh para pangeran yg lain yg ada di bangsal kasatriaan itu.


Umumnya mereka menganggap bahwa Senopati Bima Sakti menjadi guru mereka , yg dapat di ambil ilmu darinya.


Sepekan di bangsal kasatriaan, Raka Senggani segera meminta izin untuk kembali ke desa kenanga.


Supaya ia dapat mempersiapkan segala sesuatunya sebelum hari bahagia itu terlaksana.


" Aku memberikan izin kepadamu untuk kembali, nanti jika ada sesuatu yg sangat penting , akan ada seorang penghubung yg akan menghubungi dirimu,.." ucap Kanjeng Gusti Sultan Demak.


Ia juga akan menyempatkan hadir jika hari bahagia itu terlaksana pada waktunya.


Mendengar hal itu hati Senopati sandi Demak menjadi sangat senang sekali.


" Sendika Dalem Kanjeng Gusti Sultan,..hamba akan mendapatkan bintang jatuh jika Kanjeng Sinuwun mau hadir ,. " ucap Raka Senggani.


Tanpa terasa , ia teringat akan desa dimana ia telah di besarkan. Sebuah desa yg masih wilayah di Kadipaten Pajang, banyak kenangan yg tersimpan di sana , baik suka maupun duka.


Terutamanya bagian dukanya, kedua orang tuanya telah tewas disana, di saat ia masih sangat kecil, tanpa terasa ia pun terkenang dengan satu sosok wajah yg selalu setia bersamanya , dia adalah Tara Rindayu.


Memang saat kecil , gadis kecil itu lah sebagai temannya,..kemana ia perginya sekarang, katanya dalam hati.


Ia tidak terlalu lama memgingatinya karena kemudian terdengar suara dari Sultan Demak yg menanyakan, mengapa dirnya terlihat agak bersedih.


Di jawab oleh sang Senopati bahwa ia teringat akan kedua orang tuanya. Yg telah lama meninggalkan nya untuk selamanya.


Tidak terlalu lama setelah bertemu dengan Sultan Demak dan berpamitan untuk kembali, Senopati Bima Sakti kemudian meninggalkan bangsal kasatriaan menuju rumah kediaman Tumenggung Bahu Reksa.


Ia di kediaman Tumenggung Bahu Reksa mengambil kudanya si Jangu.


Dari sana kemudian ia akan bertolak ke desa kenanga, sebenarnya ia akan di temani oleh Lintang Sandika pulang ke desanya , namun berhubung istrinya saat ini dalam keadaan hamil tua, maka diurungknalah niatan nya itu.


Jadilah Senopati Bima Sakti pulang sendiri tidak ada yg menemani.


Langsung saja ia mengebrak si Jangu meninggalkan Kotaraja Demak kembali pulang menuju desa kenanga.

__ADS_1


__ADS_2