Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 17 Sultan Demak II. bag ke dua.


__ADS_3

Raka Senggani celingukan mencari-cari kemana perginya Tara Rindayu Itu. Ia sampai memanjat sebuah pohon yg ada di dekat pertigaan .


Ia melesat naik ke atas pohon Itu. Dari atas pohon barulah ia melihat Putri Juragan Tarya itu nampak berjalan dengan cepat menuju arah tenggara.


Apakah ia memang berada di Pucatan,..nanti akan ku tanyakan kepada Paman Kicak,.kali ini aku harus kembali ke Kotaraja saja,..kata Raka Senggani dalam hatinya.


Ia pun melompat turun. Dan meninggalkan tempat tersebut tidak jadi mengikuti Tara Rindayu.


Dengan cepat ia kembali ke rumah Tumenggung Bahu Reksa.


Sampai disana Senopati Pajang itu melihat ada dua orang pemuda yg sedang berada di tempat itu.


Hehh,.. Raden Abdullah dan Raden Arya Wangsa,..mengapa mereka datang kemari,..tanya Raka Senggani dalam hati.


" Assalamualaikum,.." ucap Raka Senggani.


" Wa'alaikum salaaaam,.." jawab orang yg ada di situ.


Kemudian Senopati Pajang tersebut mengambil tempat duduk di dekat Tumenggung Bahu Reksa.


Ia kemudian bertanya kepad dua orang pangeran itu,..


" Ada apa raden berdua datang kemari,.?" tanya nya.


" Kami berdua membutuhkan kakang Senopati untuk datang ke kasatriaan,.." jawab Raden Arya Wangsa.


" Kalau hanya ingin memanggil kenapa Raden berdua tidak mengutus prajurit untuk datang kemari,..?" tanya Raka Senggani.


" Begini...kakang,..Ramanda Pangeran berharap agar kakang dapat datang ke kasatriaan secepatnya dan ialah yg memerintahkan kami untuk datang kemari,.." ungkap Raden Abdullah Wangsa.


" Sekarang,.?" tanya Raka Senggani.


" Benar,..kakang Hidayat diharapkan untuk segera datang ada yg ingin di sampaikan beliau kepada kakang,.. dan tampaknya sangat penting,..!" ucap Raden Arya Wangsa.


" Baiklah jika memang demikian,..Senggani akan ikut,..!" sahut Raka Senggani.


" Apakah Angger Senopati akan kembali lagi nanti kemari,..?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Entahlah Paman Tumenggung,.semua tergantung dengan Kanjeng Pangeran sendiri ,.." jawab Raka Senggani.


" Mungkin kakang Senopati akan tinggal di kasatriaan Paman Tumenggung Bahu Reksa.." jelas Raden Abdullah Wangsa.


" Jika memang demikian , nanti sebaiknya Angger Senopati tidak perlu balik lagi, kemari,.." kata Tumenggung Bahu.


" Marilah kakang Senopati,.." ajak Raden Arya Wangsa.


" Senggani pamit Paman Tumenggung,.." ucap Raka Senggani.


" Silahkan ,..Ngger," sahut Tumenggung Bahu Reksa.


Kemudian ketiga orang itu meninggalkan kediaman dari Tumenggung Bahu Reksa tersebut mereka menuju ke kasatriaan.


Tiba di kasatriaan terlihat Kanjeng Pangeran Sabrang Lor masih ada disana. Ia memang sengaja menunggu kehadiran kedua putranya itu.


Setelah melakukan sembah sungkem kepada sang Pangeran ketiganya kemudian mendengar semua perintah dari Pangeran Sabrang Lor itu.


Pangeran Sabrang Lor yg sebentar lagi akan di wisuda sebagai pengganti Sultan DEMAK yg telah mangkat tersebut.


Ia mengatakan kepada putranya untuk terus berlatih dalam hal olah kanuragan dan kadigjayaan. Dan dapat berlatih dengan Raden Hidayat ,.. Senopati Brastha Abipraya yg dari Pajang itu.


Disamping hal tersebut,.. Pangeran Sabrang Lor meminta kepada Raka Senggani untuk dapat mengemban tugas ke kulon guna menyampaikan sebuah pesan kepada Sunan Gunung Jati yg ada di padepokan nya di Gunung Jati tersebut.


Pangeran Sabrang mengatakan agar turut membawa serta Raden Abdullah bersama dengan Senopati Pajang itu.


Dua orang putra Pangeran Sabrang Lor yg lain segera bertanya mengapa mereka tidak di perbolehkan ikut.


" Ramanda Pangeran,..apakah kami tidak turut serta dengan kakang Senopati ini,..?" tanya Raden Arya Wangsa.


" Benar Ramanda,..kami pun ingin melihat dunia luar selain di dalam kerston ini,.izinkanlah kami menyertai kepergian dari kakang Senopati ini,..!" pinta Raden Surya diwangsa.


" Bukannya Ramanda tidak mengizinkan Kalian berdua untuk ikut bersama dengan Raden Hidayat ini tetapi,. adalah berbahaya sekali jika kalian bertiga akan pergi bersama,..dan sebentar lagi Ramandamu akan segera di wisuda untuk menggantikan eyang mu menjadi Sultan di Demak ini,..kalian harus tetap berada disini sampai acara itu selesai,.." jelas Pangeran Sabrang Lor.


Sang Adipati anom itu masih mengkhawatirkan keadaan wilayah Demak yg sebenarnya masih belum terlalu baik dalam sisi keamanan nya. Ditambah lagi sejak mangkatnya Sultan Demak itu.


Ada rasa kekhawatiran akan pemberontakan dari beberapa Kadipaten yg kurang senang dengan pengangkatan dirinya sebagai Adipati Anom sekaligus pwngganti dari Sultan Demak tersebut.


Cukuplah Raden Abdullah saja yg akan menyertai Raka Senggani untuk melawat ke Gunung Jati tersebut.


"Sendika Dawuh,..Ramanda ,.." ucap keduanya.


" Dan untuk kalian berdua,.bersiaplah berangkat ke Cirebon,..secepatnya dan bawa sura ini,.." kata Pangeran Sabrang lor.

__ADS_1


" Sendika Dawuh kanjeng Pangeran,..kami siap berangkat,." ucap Raka Senggani.


Senopati Pajang itu menerima segulungan lontar yg di berikan oleh Pangeran Sabrang Lpr tersebut.


" Kapan kiranya kami dapat berangkatnya Ramanda Pangeran,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.


" Besok kalian telah dapat berangkat ,..karena jarak nya yg sangat jauh,.sudah sebaiknya kalian dapat berangkat pada esok hari,.." jawab Pangeran Sabrang Lor lagi.


" Sendika Dawuh kanjeng Pangeran,..kami akan berangkat pada esok hari setelah terang tanah,.." ungkap Raka Senggani.


Senopati Pajang itu merasa senang hati mendapat tugas melawat ke kulon sebagai utusan dari Pangeran Sabrang Lor itu.


Kemudian untuk beberpa saat Menantu dari Raden Fatah itu memberikan beberapa arahan kepada Putra -putranya itu termasuk dengan Raka Senggani.


Dan setelahnya baru ia meninggalkan kasatriaan itu menuju ke dalam biliknya.


Ia sangat berharap banyak atas kepergian dari Senopati Pajang yg bergelar Raden Hidayat itu dengan di temani oleh seorang putranya Raden Abdullah Wangsa.


Sementara Raka Senggani kemudian bermalam di dalam kasatriaan bersama dengan para pangeran putra dari Adipati unus itu.


Dan malam itu ketiganya masih menyempatkan diri untuk sekedar berlatih dengan Raden Hidayat itu.


Bermalam di dalam keraton Demak tepatnya di Istana Kasatriaan membuat sikap dari Raka Senggani agak sungkan padahal bukan kali ini saja ia bermalam di sana. Beruntung ketiga Pangeran putra dari Pangeran Sabrang Lor itu sangat baik Kepadanya dan tidak memasang jarak dengan dirinya.


Sehingga malam yg cuma sebentar itu di lalui nya dengan berlatih bersama ketiganya.


Putra Pangeran Sabrang Lor itu amat menyukai kehadiran Raka Senggani di dalam kasatriaan tersebut.


Mereka merasa cocok dengan Senopati dari Pajang itu.


Dan pada keesokan harinya,.. setelah terang tanah,.. keluarlah dua ekor kuda dari dalam kasatriaan menuju gerbang Kotaraja Demak.


Penunggang nya adalah dua orang pemuda yg berwajah sangat tampan,


Mereka adalah Senopati Pajang ,.. Senopati Brastha Abioraya dan Raden Abdullah Wangsa.


Derap kaki kuda yg meninggalkan Kotaraja Demak itu di pandangi oleh dua orang putra Pangeran Sabrang Lor.


" Sungguh senang hati adi Abdullah dapat berpergian,..ya,..dimas Surya,." kata Raden Arya Wangsa.


" Benar kangmas, sungguh senang dirasakan oleh kangmas Abdullah itu dapat keluar dari Kotaraja Demak ini untuk melihat alam luas yg ada di seantero Demak ini,.. apalagi kali ini ia di temani oleh Kakang Senopati Pajang itu,.." sahut Raden Suryadi Wangsa.


Dan keduanya kembali ke istana Demak,..karena dalem istana sendiri tengah mempersiapkan upacara wisuda penobatan Sultan Demak yg kedua itu.


Adalah Raka Senggani yg melihat putra keduan dari Pangeran Sabrang Lor itu yg memacu kudanya sangat kencang segera berteriak,.


" Jangan terlalu kencang Raden,.. Kudaku si Jangu agak sulit untuk mengimbangi,.."


" Ini belum terlalu kencang kakang Hidayat,.dasar kudamu saja pemalas,..tidak mau berlari,..bukan begitu gagak Kencono,.." teriak Raden Abdullah menjawab ucapan Raka Senggani itu.


Ucap putra Pangeran Sabrang Lor itu kepada kudanya yg besar dan tegar,.dan kudanya itu seperti mengerti ucapan sang tuannya ia semakin cepat berlarinya.


Raka Senggani berusaha mengejar raden Abdullah itu. Bahkan ia mempergunakan ilmu peringan tubuhnya agar beban dari Si Jangu itu jauh berkurang.


Perlahan si Jangu dapat mendekati kuda tunggangan dari Raden Abdullah itu.


Dalam jarak tiga tombak Raka Senggani kemudian berseru,..


" Raden ,..di depan ada sebuah ara -ara.., sebaiknya kita beristrahat disana,..karena mentari telah berada diatas kepala,.." seru Senopati Pajang itu.


" Lebih baik kita melintasi nya saja,.dan nanti di ujung ara -ara itu barulah kita beristrahat,.." teriak Raden Abdullah.


Ia tetap saja memacu kudanya itu dengan cepat,..dan tepat seperti yg di ucapkan oleh Raka Senggani,..mereka mendapati sebuah ara -ara itu.


Dan terus saja putra dari Pangeran Sabrang Lor itu melewati ara -ara yg cukup luas itu..ia tidak berhenti di situ.


Raka Senggani dengan si Jangu ikut berpacu dengan cepat mengimbangi Raden Abdullah Wangsa itu.


Ia tetap membuntuti dari belakang,..dan jarak ara -ara itu cukup jauh,..baru setelah matahari agak condong mereka dapat melintasi padang yg cukup luas itu.


Di ujung dari ara -ara itu adalah sebuah hutan.


" Hufffhh,"


Terdengar teriakan dari Raden Abdullah,..ia memarik tali kekang kudanya.


Demikian pula dengan Raka Senggani,..ia pun segera menghentikan laju kudanya si Jangu.


" Bagaimana Raden,..apakah kita akan berhenti di sini,..?" tanya Raka Senggani.


Sambil ia mengedarkan pandangan matanya melihat di sekeliling tempat itu.

__ADS_1


" Iya,..kakang Senopati ,..sebaiknya kita berhenti disini,.agar tidak kuda -kuda kita dapat mencari rumput disini,.." jelas Raden Abdullah.


" Apakah tidak nanggung Raden,..karena hari telah pun sore,.. apa tidak sebaiknya kita melewsti hutan ini,.." jawab Raka Senggani.


Senopati Pajang itu memandangi hutan yg cukup lebat yg ada di hadapanya itu.


Jika hutan itu pun sangat luas tentu mereka akan tidak dapat melewatinya,..apalagi jika malam telah turun.


" Tidak kakang Senopati,..kalau pun kita harus bermalam sebaiknya kita bermalam disini,.!" seru Raden Abdullah.


" Baiklah kalau begitu,..Aku akan segera melihat apakah ada umbul atau pun sendang yg di dekat sini,.." balas Raka Senggani.


Senopati Pajang itu pun melompat turun dari punggung si Jangu. Setelah mengikat tali kekangnya pada sebatang pohon kecil ia pun berjalan mengitari tempat itu.


Pertama ia mengarah ke selatan baru kemudian Senopati Pajang itu mengarah ke hutan itu.


" Raden,..sepertinya disini ada sebuah anak sungai yg cukup baik untuk kita beristrahat,.." seru Raka Senggani.


Dari kejauhan ia melambaikan tangan nya memanggil putra Pangeran Sabrang Lor itu.


Ia pun bergerak sambil melepaskan si Jangu dan membawa nya pula.


Keduanya segera membersihkan badan nya di tempat itu,.dari air kali yg sangat jernih airnya.


Baru setelah nya mereka berdua membuka bekalnya disana.


" Apakah raden pernah melewati tempat ini,..?" tanya Raka Senggani.


" Dahulu bersama ramanda Pangeran,..sewaktu diriku masih kecil,..kami pernah singgah di ara -ara ini,.." jawab Raden Abdullah Wangsa.


Sambil melahap bekal yg mereka bawa,.. tampaknya memang mereka sudah sangat kelaparan setelah hampir seharian berkuda.


" Kakang Senopati ,..sebaiknya kita malam ini beristrahat disini saja,.. karena hutan itu sangat luas,..jika kita melanjutkan perjalanan,..besok baru kita akan tiba di daerah Asem Arang," ucap Raden Abdullah.


" Baik,..jika memang demikian menurut Raden,.kita akan beristrahat di sini saja,.." jawab Raka Senggani.


Kemudian keduanya beristrahat dan bermalam di tepi hutan itu,


Ketika hari berganti malam, keduanya menyalakan sebuah api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka.


Terdengar suara binatang -binatang malam dari dalam hutan itu.


Malam itu mereka tidak mengalami gangguan apapun.


Baik dari binatang buas maupun dari orang -orang yg ingin berbuat jahat.


Baru setelah pagi menjelang,. keduanya berangkat menuju ke Asem Arang,..tetspi tidak akan singgah di sana.


Mereka hanya melintasi saja,.. kemudian mereka menuju ke Kademangan Batang.


Saat sore menjelang malam mereka berhenti di sebuah pedukuhan di dekat alas Siroban itu .


Pedukuhan Grinsing,.


Malam di pedukuhan Grinsing itu cukup sepi dan sunyi. Mereka berdua bermalam di sebuah banjar pedukuhan.


Adalah Bekel pedukuhan itu yg menemani kedua orang itu.


" Ki bekel,.kenapa pedukuhan ini terlalu sepi dan sunyi,..?" tanya Raka Senggani.


" Demikian lah keadaan kami disini,..Ngger,..jika malam telah tiba,..rumah -rumah akan cepat tutup pintunya,..mereka lebih baik mendekam di dalam biliknya dari pada harus keluar dari rumah nya,..!" jelas Ki Bekel Grinsing itu.


" Apa sebabnya,..Ki,..?" tanya Raden Abdullah..


Kemudian Ki Bekel dukuh Grinsing itu menceritakan keadaan pedukuhan yg di pimpinya itu.


Bekel pedukuhan itu mengatakan bahwa ada seseorang yg berada di alas Siroban itu yg sering datang dan sering merampok para warga pedukuhan.


" Apakah tidak ada orang yg dapat menangkapnya,?" tanya Raka Senggani.


Senopati Pajang itu agak geram mendengar cerita dari Bekel pedukuhan itu. Rasa penasaran nya segera menggelayut dihatinya bahkan ia sempat berkata dengan setengah berbisik kepada putra Pangeran Sabrang Lor itu.


" Raden,..apakah kita dapat berada di tempat ini sampai mengetahui siapa sebenarnya orang yg telah membuat resah pedukuhan Grinsing ini,.." ucap Raka Senggani.


" Tidak apa -apa,..kakang Senopati,.." jawab Raden Abdullah Wangsa.


" Raden tidak usah menyebut dengan panggilan Senopati,..lebih baik sebut nama saja Raden,.. Senggani saja,.." bisik Raka Senggani lagi.


" Kakang pun tidak usah sebut Raden,..panggil saja Abdul,..atau wangsa ," jelas Raden Abdullah.


" Baik,.kita memang sebaiknya tidak usah terlalu unggah ungguh dalam perjalanan ini,.." ucap Raden Abdullah Wangsa.

__ADS_1


" Baiklah,..adi Wangsa,..agar kita tidak terlalu menjadi pusat perhatian orang -orang yg ada,.." sahut Raka Senggani.


Kemudian Bekel pedukuhan Grinsing itu bertanya lagi kepada kedua orang itu akan kemana tujuan mereka itu.


__ADS_2