
" Angger Senggani besok ke Madiun nya,?" tanya Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
Setelah ia kembali dari rumah Ki Jagabaya malam itu.
" Tidak Ki, lusa baru Senggani akan berangkat," jawab Raka Senggani.
" Bagus berarti masih ada satu malam angger Senggani berada di sini,!" ucap Ki Lamiran lagi.
" Memang nya ada apa Ki, ada yg aki ingin sampai kan ,?" tanya Raka Senggani.
" Ehhh, ada yg ingin aki sampai kan kepada angger Senggani akan tetapi besok malam saja, karena malam ini sudah sangat larut, kita perlu ber istrahat karena tadi cukup melelah kan juga mengambil singkong pesanan Ki Bekel itu, terutama buat angger yg habis mengada kan per jalanan jauh, jadi sebaik nya lah segera ber istrahat,!" kata Ki Lamiran itu.
" Baik lah Ki, jika memang besok malam, biar lah Senggani menunggu dan malam ini bisa tidur dengan nyenyak," ucap Raka Senggani .
Pemuda langsung tidur tanpa memperduli kan Ki Lamiran lagi, karena memang tubuh nya terasa penat semua oleh sebab itu ia menunda ke berangkatan nya ke Madiun sampai lusa.
Ki Lamiran memandangi wajah putra Rakajaya itu dengan perasaan iba, ia teringat sepuluh tahun yg lalu, ketika Raka Senggani di tinggal mati oleh kedua orang tua nya. Ada rasa kasihan atas nasib anak itu. Ki Lamiran sampai menghela nafas nya beberapa kali.
Waktu ber jalan dengan cepat setelah malam ber ganti pagi dan saat itu, Ki Lamiran berangkat ke pasar untuk menjual barang dagangan nya serta membuat perkakas yg telah di tempa oleh beberapa orang.
Dan Senggani ikut membantu Ki Lamiran ke pasar.
Sambil menunggu orang yg datang Raka Senggani dan Ki Lamiran menempa besi untuk di jadi kan alat -alat seperti pisau dan parang.
" Ki Lamiran mengenal Singo Abra itu,?" tanya Raka Senggani sambil memukul sebuah besi.
" Kenal sih tidak Ngger, akan tetapi kalau nama nya sudah lama aki tahu bahkan sepak terjang ngedab_ ngedabi, banyak tokoh persilatan yg segan ter hadap nya," kata Ki Lamiran.
Sambil Ia mengambil sebuah pisau dari bakaran api dan mencelup kan nya ke dalam air.
" Bagaimana menurut Ki Lamiran, apakah ia ter masuk dari golongan putih atau golongan hitam,?" tanya Raka Senggani.
" Kalau dari Ilmu yg di miliki nya kemungkinan dari golongan hitam, akan tetapi ter kadang ilmu seseorang tidak mencermin kan watak si pemilik nya, bisa jadi Ilmu nya dari golongan putih tetapi di perguna kan untuk sesuatu yg sesat , berarti ilmu itu tidak mencermin kan watak pemilik nya,!" jelas Ki Lamiran.
" Kenapa angger menanya kan hal itu,?" tanya Ki Lamiran heran.
" Karena Senggani telah membunuh Singo Abra, beberapa hari yg lalu di dalam istana Pajang," jawab Raka Senggani.
" Hahh, angger Senggani ber hasil membunuh tokoh tua itu," sergah Ki Lamiran ter kejut.
" Benar, Ki," jawab Raka Senggani pendek.
" Sesuatu yg sangat menggempar kan untuk kalangan per silatan, karena tokoh itu ter masuk dari Lima tokoh tua yg memiliki kesaktian yg sulit di cari banding nya di tlatah Demak ini," jawab Ki Lamiran.
" Benar kah begitu, Ki,,?" tanya Raka Senggani ter kejut.
Ki Lamiran mengangguk kan kepala nya.
" Mungkin sudah saat nya Ngger , aki ber terus terang kepada mu," ucap Ki Lamiran.
" Tentang apa itu, Ki,?" tanya Raka Senggani penasaran.
" Tentang pembunuh kedua orang tua mu itu," jawab Ki Lamiran.
" Aki tahu siapa pembunuh kedua orang tua Senggani itu,?" tanya nya lagi.
" Bukan tahu Ngger, akan tetapi sebab apa mereka di bunuh,!" kata Ki Lamiran.
" Sebab apa ,Ki,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Karena orang tua mu ber teman dekat dengan salah seorang dari keturunan Prabhu Brawijaya terakhir dan memiliki sebuah pusaka, dan pusaka itu mereka yakini ada pada orang tua mu,!" jelas Ki Lamiran.
" Pusaka,...., Pusaka apa , Ki ,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Pusaka itu berupa keris, yah, keris Kyai Condong Campur, yg sempat menggeger kan Majapahit waktu itu," jelas Ki Lamiran lagi.
" Oleh sebab itu aki katakan dahulu kepada angger Senggani bahwa pembunuh kedua orang tua mu itu memiliki ilmu yg sangat tinggi, namun karena kemampuan dari angger Senggani pun saat ini telah pada tataran mereka maka aki berani mengata kan nya kepada mu , Ngger," kata Ki Lamiran lagi.
__ADS_1
" Jadi hanya gegara sebuah pusaka saja , nyawa kedua orang tua ku harus mereka renggut, sungguh tidak memiliki perasaan dan pri kemanusia an," ungkap Raka Senggani geram.
" Karena ambisi ingin menguasai pusaka dari Mpu Supa Mandrangi itu, se seorang bisa berubah, bisa menjadi seorang pembunuh, untuk memiliki nya,!" kata Ki Lamiran.
Ketika hari telah sore kedua nya kembali pulang ke rumah Ki Lamiran.
Dan malam itu, Raka Senggani cepat tidur setelah wayah sepi bocah ia langsung ke pembaringan.
Esok pagi nya ketika terang tanah ia pun langsung menggebrak Kuda nya menuju ke arah timur, setelah sebelum nya pamit keoada Ki Lamiran.
Raka Senggani langsung melesat dengan kuda tunggangan nya menuju arah dukuh sepiring, tiba di dukuh sepiring hari telah menjelang sore, ia singgah hanya sekedar untuk mengisi perut serta memberi makan kuda nya si Jangu.
Dukuh sepiring berada di sebelah selatan dari Gunung Lawu.
Setelah itu ia melanjut kan lagi menuju dukuh Kalang, sebelum mendapat kan dukuh Kalang, Raka Senggani harus melintasi sebuah hutan yg tidak ter lalu lebat, di saat malam tiba, namun ia terus memacu kuda nya dan tiba di dukuh Kalang hari telah terang.
Kembali Raka Senggani berhenti di dukuh Kalang ter sebut dan terus melanjut kan lagi per jalanan nya ke kademangan Magetan.
Setiba di kademangan Magetan hari telah malam, ia ber istrahat di sana sambil tinggal di sebuah rumah penginapan.
Besok nya ia melanjut kan perjalanan lagi menuju ke kademangan Maospati, daerah ini ter masuk ramai karena telah dekat dengan kadipaten Madiun dan Ponorogo.
Sampai di Maospati , matahari tepat di atas kepala , selesai melaksana kan sholat zhuhur, dan memberi makan si Jangu, Raka Senggani melanjut kan perjalanan nya lagi menuju Kademangan Kebon Sari yg telah masuk wilayah kadipaten Madiun.
Setiba di kademangan Kebo Sari hari telah malam, sebenar nya ia ber niat langsung menuju kota Madiun , akan tetapi niat itu di urung kan .
Di tengah kademangan Kebon Sari , Raka Senggani melihat cahaya api yg sangat besar, pertanda ada kebakaran yg telah terjadi, langsung si Jangu ber lari ke arah itu.
Ternyata sebuah banjar kademangan tengah di lalap si jago merah.
" Ada apa Kisanak, apa yg telah terjadi,?" tanya Raka Senggani kepada salah seorang penduduk kademangan itu.
" Anu Kisanak, ada seseorang yg sedang mengamuk dan telah membakar banjar kademangan,!" jawab orang itu.
" Siapa,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Ia menyebut diri nya Si Topeng Iblis dan saat ini tengah menuju ke rumah Ki demang dan Sulung setra," jelas orang itu.
Di lihat oleh Raka Senggani seorang dengan tubuh ter besar tengah di keroyok oleh puluhan orang yg seperti nya merupa kan pengawal kademangan Kebon Sari itu.
Nampak orang itu ter lihat sangat gesit dengan mengguna kan topeng yg terbuat dari kulit kayu, ia telah banyak menjatuh kan para pengeroyok nya.
" Ha, ha, ha, ha, suruh keluar Demang kalian , atau kalian semua akan jadi bebanten nya," teriak orang itu dengan suara parau.
" ******* kau Topeng Iblis, engkau telah banyak membuat ke onaran di Kadipaten Madiun ini, sepak terjang sungguh tidak bisa di maaf kan lagi, kau sudah pantas untuk mati," seru seorang lelaki paruh baya dengan badan yg lumayan besar, ia adalah Jagabaya kademangan Kebon Sari.
" Hehhh, siapa kau , memang nya engkau seorang Raja Demak yg memberi kan maaf kepada kawula nya, dan aku tidak butuh maaf , yg ku butuh kan nyawa mu, terima ini, heaaahh," teriak Si Topeng Iblis.
Lima buah senjata rahasia melesat menuju Jagabaya kademangan Kebon Sari ter sebut.
Tiga buah senjata rahasia ber hasil di hindari Kepala keamanan dari Kademangan Kebon Sari ter sebut akan tetapi dua buah lagi mampir di lengan dan paha sebelah kiri nya.
" Aaakkhh,"
Ter dengar teriakan yang keluar dari mulut Jagabaya ter sebut, ia pun langsung jatuh ter duduk.
" Hua, ha, ha, ha, kau belum mengenal siapa Topeng Iblis, jangan kan seorang Jagabaya kademangan Kebon Sari, Sultan Demak pun belum tentu sanggup menghadapi ku," ucap lelaki ber Topeng itu.
" Cepat suruh keluar Demang kalian itu, atau nyawa kalian jadi taruhan nya," kembali ter dengar teriakan dari Si Topeng Iblis itu.
" Bagaimana Ki, apakah yg harus kita lakukan,?" tanya salah seorang pengawal kademangan Kebon Sari ter sebut.
" Pinta lah kepada Ki Demang untuk memenuhi perintah dari Si Topeng Iblis itu, nanti baru ter serah kepada Ki Demang untuk memutus kan nya," kata Jagabaya kademangan Kebon Sari.
Pengawal itu ber lari menuju rumah Ki Demang yg tidak terlalu jauh dari situ.
" Maaf Ki Demang , Si Topeng Iblis meminta Ki Demang menemui nya kalau tidak ,.." pengawal itu tidak melanjut kan kata-kata nya.
__ADS_1
" Kalau tidak kenapa ,?" tanya Ki Demang Kebon Sari dengan geram.
" Kalau tidak , pengawal kademangan Kebon Sari akan ia bunuh semua," jawab pengawal itu.
" Bukan kah di sana ada Ki Jagabaya dan jumlah pengawal kademangan ini pun cukup banyak, mengapa kalian malah takut semua, heran,.." kata Ki Demang sambil bangkit dari duduk nya.
Sementara pengawal itu ter diam mendengar ucapan dari Demang nya itu.
" Mari Ki Sulung setra, kita sambut Si Topeng Iblis itu," kata Demang Kebon Sari kepada seorang yg sedari tadi duduk ber sama nya.
" Mari Ki Demang,!" jawab orang yg ber nama Sulung setra itu.
Kemudian kedua orang itu melangkah meninggal kan rumah Ki Demang Kebon Sari menuju ke tempat Si Topeng Iblis berada.
Setiba di tempat Si Topeng Iblis itu, Demang Kebon Sari dan Sulung setra langsung ber hadapan dengan orang yg paling di takuti di Madiun itu.
" Heh Topeng Iblis, sebaik nya engkau segera enyah dari Kademangan Kebon Sari, atau kami paksa dengan cara kami sendiri," teriak Demang Kebon Sari itu.
" Hahh, Buka mata mu lebar -lebar Ki Demang dan pasang telinga mu dengan baik, aku Si Topeng Iblis jangan kan cuma Seorang Demang seperti mu, Pangeran Madiun pun telah Ku kalah kan, bahkan di kota Madiun tidak ada yg sanggup untuk menangkap ku, apalagi kau Ki Demang, sekarang segera kumpul kan seluruh harta kekayaan mu dan para warga mu yg memiliki kekayaan yg sangat banyak, cepat serah kan kepada ku sekarang juga, atau seluruh kademangan ini akan jadi karang abang seperti banjar kademangan itu," teriak Si Topeng Iblis.
" Hahh, mana sudi kami menuruti perintah mu itu Topeng Iblis, engkau sebaik nya enyah dari sini," jawab Demang Kebon Sari dengan geram nya.
" Berarti engkau menantang ku Ki Demang , jangan salah kan aku jika engkau harus mati malam ini," ucap Si Topeng Iblis.
" Kami tidak takut atas gertakan sambal mu Topeng Iblis, Pengawaaaal seraaaang," teriak Ki Demang Kebon Sari.
Puluhan pengawal kademangan Kebon Sari dengan mengguna kan ber bagai macam senjata segera menyerang Si Topeng Iblis.
" Heaaaahhh," ter dengar teriakan dari mulut Si Topeng Iblis itu.
Seluruh pengeroyok nya langsung jatuh ter jerembab semua.
" Huaa, ha, ha, ha, ha, kau menguji kesabaran ku Ki Demang, Ku hitung sampai tiga, jika engkau tidak juga menuruti kemauan ku jangan salah kan jika kalian semua menjadi mayat malam ini," teriak Si Topeng Iblis itu.
" Satu,...., Dua,...Tiii,......" belum habis hitungan dari Si Topeng Iblis itu.
Tiba -tiba Demang Kebon Sari dan teman nya Sulung setra langsung melesat menerjang Si Topeng Iblis itu.
" Heaaah, "
" Ciii aaaat,"
Dua sosok tubuh itu memberi kan pukulan kepada Si Topeng Iblis dengan cepat, sulit di ikuti oleh mata, Si Topeng Iblis itu segera melesat ke udara menghindari serangan dari Demang Kebon Sari dan Sulung setra.
Hampir saja kedua orang itu ber tabrakan, belum sempat habis keter kejutan kedua nya, tiba -tiba Si Topeng Iblis telah datang menyerang ke arah kedua nya secara ber gantian,
" Deshh, Diegh,"
Dua pukulan dengan tangan dan kaki nya segera mendarat pada Ki Demang Kebon Sari dan Sulung setra ter sebut.
Kedua orang itu ter pental dua tombak akibat dari serangan Si Topeng Iblis itu.
Beruntung kedua nya masih mampu menjaga ke seimbang an tubuh nya hingga tidak sampai ter jatuh.
Namun kemudian mereka ber dua kembali menerima kembali serangan dari Si Topeng Iblis.
" Heaaahh," teriak Si Topeng Iblis itu.
Kali ini ia menyasar tubuh Ki Demang Kebon Sari dengan lesatan tubuh yg sangat cepat , Ki Demang tidak sempat untuk ber kelit ketika tendangan dari Si Topeng Iblis itu mampir di lambung nya,
" Duugghh,"
Telapak kaki Si Topeng Iblis itu mendarat dengan telak dan melontar kan Ki Demang cukup jauh, tidak sampai di situ Si Topeng Iblis segera melesat kembali mengarah pada Sulung setra,
" Hiyyyah,"
Sebuah jotosan tangan mengarah kepala dari Sulung setra ter sebut.
__ADS_1
Namun nampak Ki Sulung setra melihat serangan itu dan menangkis nya, akan tetapi benturan dari kedua tangan itu membukti kan Ki Sulung setra masih jauh di bawah dari Si Topeng Iblis, tubuh nya sampai ter dorong lima langkah akibat benturan itu.
Bagi Si Topeng Iblis, ia terus melanjut kan serangan nya dengan mengguna kan kaki nya, dan kembali Ki Sulung setra memapasi serangan itu dengan kaki nya pula, dan akibat yg di timbul kan, Sulung setra harus ter jatuh sebelumnya tubuh nya sampai ber putar beberapa kali.