Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 10 Bertarung di alam lain.


__ADS_3

Biksu Mandrayana langsung meletakkan saudara seperguruan nya itu di sebuah batu yg cukup besar dan mencabut Senjata milik dari Resi Yaramala itu.


" Amitabha,....Mengapa kakang Maha Gelang harus mati sampyuh seperti ini, seharusnya tadi kakang Maha Gelang lebih waspada akan sifat licik dari Yaramala itu." terdengar keluhan yg tertahan keluar dari mulut Biksu Mandrayana.


Ia amat menyesali kejadian itu, yg menyebabkan Biksu Maha Gelang harus tewas di tangan dari Resi Yaramala itu.


Tetapi apa mau dikata ,semua telah terjadi dan memang Biksu Maha Gelang harus tewas di puncak Gunung Tidar itu.


Sementara Ki Gede Mantyasih segera mmerintahkan para pengawal tanah Perdikan Mantyasih untuk segera menguburkan para korban yg tewas.


" Untuk mereka para pengikut dari Resi Yaramala itu lebih baik di kuburkan disini saja namun jangan berdekatan dengan kuburan Syaikh Subakir ini, agak jauh dari sini, agar kelak orang akan mengenang nya sebagai kejadian yg tidak patut untuk di tiru, karena akan menumpahkan darah saja," jelas Ki Gede Mantyasih.


" Bagaimana dengan korban yg dari pihak kita , kita Ki Gede, dimana mereka akan di kuburkan,?" tanya Ki Jagabaya tanah perdikan Mantyasih.


" Sebaiknya kita bawa turun ke Mnatyasih, di sanalah mereka d kuburkan," jawab Ki Gede Mantyasih lagi.


" Bagaimana dengan Wiku Maha Gelang,. Ki Gede,?" tanya Ki Jagabaya lagi.


" Maaf , Wiku Mandrayana, apakah kiranya bersedia memakamkan Wiku Maha Gelang di tanah perdikan Mantyasih,?" tanya Ki Gede Mantyasih kepada Biksu Mandrayana.


" Sebenarnya , mayat kakang Maha Gelang ini ingin ku Bawa ke tempat ku namun berhubung Ki Gede mau menerima mayat kakak seperguruan ku ini disini, biarlah ia di kuburkan di Mantyasih ini,!" jawab Biksu Mandrayana.


" Yeahh, Sang Wiku Maha Gelang ini merupakan perlambang perlawanan terhadap semua kebathilan, karena beliau bersedia datang jauh -jauh kemari hanya untuk membasmi ke angkaramurkaan yg telah di timbulkan oleh Resi Yaramala itu, kami sangat-sangat berterima kasih kepada Wiku berdua terutama nya kepada Wiku Maha Gelang ini,". terang Ki Gede Mantyasih.


" Sama -sama Ki Gede, kami pun mengucapkan banyak terima kasih atas penyambutan Ki Gede terhadap kami,". jawab Biksu Mandrayana.


Setelah kekalahan Resi Yaramala dan Resi Brangah, akhirnya hampir seluruh pengikut dari Resi Yaramala itu pun tewas hanya sebahagian kecil saja yg mau menyerah termasuk Ki Rajungan.


" Ki Gede Mantyasih apakah melihat Angger Senopati Pajang,?". tanya Biksu Mandrayana.


" Hehh, kemana pergi nya Angger Senopati itu,?". tanya Ki Gede Mantyasih.


" Sepertinya , senopati Raka Senggani sedang bertarung dengan Raja Jin itu tetapi tiba -tiba menghilang, Romo," jawab Rasala.


" Selanjutnya kemana perginya angger Senopati itu,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Apa mungkin, Angger Senopati itu tengah bertarung dengan penguasa Gunung Tidar di alam Jin," ucap Biksu Mandrayana itu.


" Hahhh, di alam Jin,"


Seru orang -orang yg ada di tempat itu, termasuk Tumenggung Wangsa Rana.


" Tunggu sebentar, aku akan melihat dulu, dimana keberadaan dari Angger Senopati itu," ucap Biksu Mandrayana.


Biksu Mandrayana langsung duduk bersila dan memusatkan seluruh akal pikirannya untuk mengetahui keberadaan nya dari Raka Senggani.


Sambil mulutnya komat kamit membaca mantera, dengan kedua tangannya di depan dada.


Biksu Mandrayana mulai nampak bergerak kepalanya seolah sedang menyaksikan sajian yg sangat menegangkan.


Setelah agak lama barulah , Biksu Mandrayana menghentikan semedi nya.


Ia langsung berkata,


" Sungguh pertarungan yg sangat-sangat luar biasa, ternyata kemampuan Angger Senopati itu sangat tinggi, sulit di csri banding nya," ucap Biksu Mandrayana.


" Apa yg Wiku lihat,?" tanya Tumenggung Wangsa penasaran.


" Telah terjadi pertarungan yg sangat menegangkan yg terjadi di alam Jin itu, dan nampak nya Angger Senopati masih berada di atas angin , entah sudah berapa kali penguasa Gunung Tidar ini harus menerima kenyataan, tubuhnya Beberapa kali mampu di lukai oleh angger Senopati,". jelas Biksu Mandrayana.


" Apakah Wiku Mandrayana tidak bersedia membantu angger Senopati itu,?" tanya Ki Gede Mantyasih.


" Bukan nya tidak bersedia untuk membantu angger Senopati itu tetapi memang sangat sulit untuk menembus alam jin ini, mungkin kalau kakang Maha Gelang, mampu melakukan nya , sayang ia telah sampyuh bersama resi Yaramala itu," sebut Biksu Mandrayana.


" Jadi apa yg harus kami lakukan, Wiku Mandrayana, karena angger Senopati itu adalah masih seorang prajurit Pajang,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Mungkin sebaiknya kita tetap berada disini, sampai besok, jika sampai besok Angger Senopati itu belum juga muncul baru kita akan putuskan lagi, karena hari pun telah menjelang malam,". jawab Biksu Mandrayana.


" Bagaimana dengan yg telah tewas ataupun yg terluka,?" tanya Ki Jagabaya lagi.


" Untuk yg telah tewas dan terluka, segeralah bawa turun ke Mnatyasih dan kuburkan segera bagi yg telah tewas, dan untuk yg masih terluka segeralah rawat, panggil tabib, Ki Ngarani untuk mengobati,". terdengar suara dsri Ki Gede Mantyasih lagi.


" Baik Ki Gede, kami akan segera melaksanakan nya,". jawab Wirya kepala pengawal tanah Perdikan Mantyasih itu.


Kemudian para pengawal tanah Perdikan Mantyasih itu bergegas turun ke Mnatyasih guna menguburkan para Mayat yg telah gugur di pertarungan, puncak Gunung Tidar itu.


Sementara sebahagian lagi yg lain nya segera melaksanakan penguburan secara bersama -sama di satu tempat bagi korban yg telah tewas dari para pengikut Resi Yaramala itu, meski mereka menguburkan nya jauh dari tempat itu namun , para pengawal tanah Perdikan Mantyasih dengan di bantu oleh para prajurit Pajang dengan cepat melakukan nya.


Dan ketika malam telah menjelang di puncak Gunung Tidar itu telah terpasang beberapa buah obor untuk menerangi tempat tersebut.


Saat itu , dua pasang mata tetap mengikuti kejadian yg ada di hadapan mereka itu.

__ADS_1


" Hehh, meski Resi dari Hindustan itu mampu mengangkat benda pusaka Tombak Kyai Sepanjang itu, namun ternyata ia tidak mampu untuk memegang nya, malah bocah ******* itu yg berhasil menguasainya, lebih baik kita tinggalkan tempat ini Bawuk,". ajak Singo Lorok.


" Apa tidak sebaiknya kita menunggu hasil akhir dari pertarungan antara Bocah itu dengan Sang Raja Jin itu, kakang Lorok,?" tanya Ki Bawuk.


" Ahh, apa serunya , kita tidak daoat melihat apapun disini kecuali hanya cahaya obor itu, saja,". tukas Singo Lorok.


" Tetspi setidaknya kita akan mengetahui nasib dari bocah sialan itu, kakang," ucap Ki Bawuk.


" Ahh, apa guna nya, paling-paling ia akan ******," jawab Singo Lorok.


Ki Bawuk terdiam mendengarkan jawaban dari Singo Lorok itu, ia sebenarnya berkeinginan untuk mengetahui hasil akhir dari pertarungan antara Raka Senggani dengan Penguasa Gunung Tidar itu.


" Jadi apa yg harus kita lakukan selanjutnya , kakang Lorok,?". tanya Ki Bawuk.


" Kita tinggalkan tempat ini, kita harus menjauhi nya, karena disini masih banyak orang-orang yg berkepandaian sangat tinggi, jika mereka mengendus keberadaan kita, habislah kita," jawab Singo Lorok.


Kemudian bekas begal gunung Tidar itu melompat turun dan bergegas meninggalkan tempat itu, ia diikuti oleh Ki Bawuk dari belakang.


Sedangkan Raka Senggani sendiri terus berjuang sekuat tenaga nya untuk mengalahkan sang penguasa alam jin itu.


" Aneh, mengapa disini keadaan nya tidak pernah berubah tetap saja terlihat sama seperti saat pertama kali aku berada disini," bathin pemuda dari desa Kenanga itu.


" Hraaaghhhhh,"


Terdengar suara Raja Jin itu sambil memukul -mukulkan dada nya.


Tidak terlalu lama kemudian kembali muncul keanehan lagi, tubuh penguasa Gunung Tidar ini berubah menjadi banyak, mungkin jumlah nya ratusan.


" Gila, ini benar -benar gila, aku telah terkepung dengan begitu banyak nya , Jin ini, apa yg harus kulakukan mengatasi nya,". kata Raka Senggani lagi dalam hati.


" Hraaaagghhh, aaaaaaakkkkkhhhh, aaaaarghhh,"


Suara bising yg di timbulkan oleh para kembaran dari Raja Jin itu.


Kemudian seluruh nya segera menyesng Sang Senopati Pajang tersebut.


" Hiyyyah, heeiiiit,"


Teriak Raka Senggani sambil melompat tinggi tinggi menghindsri serangan dari kembaran Penguasa Gunung Tidar itu.


" Heaaahh,"


Ternyata selain melompat Raka Senggani melontarkan serangan dengan mengguanakan ajian Wajra Geni nya.


Kontan saja para kembaran Raja Jin itu terpental dan kepungan nya menjadi pecah.


" Hraaaagghhh, aaaaaaakkkkkhhhh,"


" Terima ini, Hiyyah," teriak Raka Senggani lagi.


" Bleghuaaarrrr, dhuaaarrrrr,"


" Aaaakkhh, aaaaaakkhhhh,"


Kembali kembaran dari Penguasa alam jin itu harus tersungkur dan menemui ajal nya, ternyata kembaran nya itu hanya semacam bayangan saja, karena begitu terhantam pukulan Senopati Pajang itu tubuh mereka langsung menghilang.


" Hraaaghhhhh,"


Tinggallah seorang saja , dari sekian banyak nya kembaran Raja Jin tersebut.


" Hehhh, manusia kecil, ternyata dirimu memang hebat, namun kau tidak akan mampu mengalahkan ku, Huwaa, ha, ha, ha," terdengar ucapan dari penguasa Gunung Tidar itu.


" Aahhh, kau hanya makhluk yg terlalu banyak bicara," balas Raka Senggani.


" Baiklah terima,ini, Haaahh,"


Kemudian Raja Jin itu membuka kedua tangan nya dan keluar lah dua buah cahaya keputihan yg berhawa sangat dingin swperti es.


Kedua cahaya itu segera memburu Senopati Pajang tersebut.


" Heaahhh , Wajra Geni," teriak Raka Senggani.


Kembali Raka Senggani menghantamkan ajian nya untuk melawan serangan dar Sang Raja Jin itu.


" Bleghuaaarrrr , Bletaaar, Dhumbbh,"


Suara yg di sebabkan beradu nya dua kekuatan yg berbeda itu.


Nampak Senopati Pajang itu terpental ke udara akibat benturan ilmu itu, namun ketika tubuh nya masih mangangkasa, ia langsung mengarahkan ujung tombak Kyai Sepanjang itu kepada sang Raja Jin itu.


" Heaaahh , Wajra Geni,"

__ADS_1


" Bleghuaaarrrr dhuaaarrrrr,"


Sang Raja Jin itu tidak menyangka bahwa ia akan mendapatkan serangan secepat itu, ia salah memperhitungkan, dikira nya dengan terpental nya tubuh lawannya itu pasti akan segera terjatuh ke tanah dengan keras, tetapi kenyataan nya malah sebaliknya. Justru ia harus mendpatkan serangan lagi , membuat tubuh nya dengan telak menerima pukulan Wajra Geni itu.


" Hraaaghhhhh , aaakkhh,"


Meskipun tubuhnya cukup besar tetapi mendapatkan serangan dari Ujung tombak kyai Sepanjang itu membuat nya jatuh terlentang dengan perut yg berlobang.


Ia berusaha bangkit dan duduk untuk memulihkan tubuh nya, kembali perut yg berlobang itu ditutup nya dengan tangan nya, namun kali ini, tidak semua dapat ditutup nya, sehingga darah hitam tetap saja keluar meski tidak terlalu banyak.


" Hehhh, kalau begitu , aku harus terus menggunakan tombak Kyai Sepanjang ini untuk dapat mengalahkan nya," bathin Raka Senggani berkata.


Setelah ia berhasil mendarat dengan semourna diatas tanah


Tombak pusaka Kyai Sepanjang yg ada di tangan nya itu kembali beroutar sangat cepat dan kali ini akan melancarkan serangan lagi dengan mengunakan tombsk itu.


" Heaaaahhh, "


Raka Senggani melompat lagi sambil menjulurkan Tombak Kyai Sepanjang yg ada di tangan nya itu dan kali ini yg menjadi incaran nya adalah kedua mata dari sang Raja Jin itu.


" Dhumbhhhh,"


" Aaaaacckhhh,"


Telak pukulan Wajra Geni ini menghantam mata sang Raja Jin dan untuk ke sekian kali nya penguasa Gunung Tidar itu harus terlempar kembali setalah menerima hantaman dari Senopati Pajang itu.


Namun ia masih mampu untuk bangkit dan duduk kembali dengan suara meraung.


" Hraaaagghhh, hraaaagghhh,"


Tangan nya terlihat menggapai -gapai sesuatu, ia mencari senjata nya, yaitu Gada yg cukup besar, sementara salah satu matanya telah tidak terlihat lagi , yg ada darah yg terus - terusan mengalir, walaupun tangan nya sudah berupaya untuk menymbuhkan ternyata tidak berhasil, darah masih saja mengalir.


" Heaaahh, "


"Jleebbbbhh"


Mata tombak Kyai Sepanjang itu kembali berhasil menancap di perut sang Raja Jin itu.


" Aaaaaakkhhhh,_ "


Teriakan yg sangat keras dsri sang penguasa Gunung alam lelembut itu.


Dan kali ia harus terkapar dan tidak berani menyentuh tombak pusaka Kyai Sepanjang itu.


Ia hanya berkelojotan seperti tidak mampu berbuat apa -apa.


Kemudian terdengar lah di telinga Raka Senggani bisikan halus namun sangat jelas terdengar,


" Segera keluarkan ajian Sangga Kalimasada mu itu , muridku, hantamkan ke tubuh Raja Jin itu dengan segenap tenaga dalam mu, mintalah perlindungan dari yg Maha kuasa, tidak ada kebathilan yg akan mampu melawan kebenaran, lakukan lah muridku,"


Demikianlah bunyi bisikan itu, amat sangat jelas di telinga Raka Senggani itu.


" Baik, guru, semua pesan guru akan murid lakukan," gumam Raka Senggani.


Ia Kemudian duduk bersila, dan kemudian membaca beberapa baris yg ada di dalam kitab suci alqur'an.


Kembali terdengar suara nya,


" Bismillahhirohmanirrohiiiiim, la haula wa la Quwwata Illa billah , ' aliyyil'azdhiiimm, Allahu akbaaaar, aji Sangga Kalimasada aaaaa, Heaaaahhh,"


Teriak sang Senopati itu.


Bersamaan keluar lah cahaya kebiruan dari kedua telapak tangan nya itu langsung menghantam tubuh dari sang penguasa alam lelembut yang ada di gunung Tidar itu.


" Dhuuuuuummmbbbhhhh,"


Seketika itu juga tubuh sang Raja jin itu terhantam oleh ajian Sangga Kalimasada dan membuat tubuh besar itu masuk ke dalam tanah bersama -sama dengan tombak pusaka Kyai Sepanjang itu.


" Bleghuaaarrrr, Bletaaar, craaaanngkkk,"


Tubuh sang penguasa alam jin itu hilang lenyap masuk ke dalam tanah bersama -sama dengan tombak pusaka Kyai Sepanjang itu, tanah diatas tempat itu kembali menutup seperti semula nya.


" Alhamdulillah rabbil _' alamiiiin," ucap Raka Senggani.


Ia sampai terduduk lemas. Setelah bertarung cukup lama dengan penguasa alam jin tersebut.


Dan di rasakan nya cahaya mentari telah sangat panas membakar kulitnya , karena saat itu tepat tengah hari dan sang Senopati berada agak ke sebelah barat dari puncak Gunung Tidar itu.


Di tempat itu memang ada sebuah tempat yg agak luas,sehingga mentari bebas masuk ke tempat itu.


" Hehh, dimana mereka, apakah mereka sudah tidak berada lagi disini,?" tanya Raka Senggani dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2