Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 12 Tantangan bag ke sebelas.


__ADS_3

Adya Buntala terus melesakkan Ajian Lebur Saketi milk nya demikian pula dengan Raka Senggani.


Tetapi satu hal yg tidak di sadari oleh Adya Buntala, Senopati Brastha Abipraya tidak mengerahkan seluruh tenaga dalam nya, ia telah dapat mengukur kemampuan Ajian Lebur Saketi milik Adya Buntala itu.


Hingga murid dari Mpu Loh Brangsang itu melompat mundur, ia segera menyatukan kembali kedua tangan nya di depan dada, mulutnya terlihat komat -kamit membaca mantera.


Ia kemudian membuka kedua tangan nya dengan terbuka sambil berteriak,


" Aji Lebuuuur, Wajaaa, heaaahh,"


Dua larik cahaya segera mengarah ke tubuh Senopati Pajang itu.


" Dhumbbh,"


" Kraaakkk,"


" Bummphh,"


Sebuah batang pohon yg cukup besar terkena hantaman dari ajian yg di lepaskan oleh Adya Buntala itu langsung tumbang, sementara itu Raka Senggani berhasil menghindari serangan tersebut.


Gila, mengapa ilmunya dapat sangat cepat meningkat nya,pikirnya dalam hati,


Namun ia pun segera mengerahkan Ajian Wajra Geni pada tingkat tertinggi dengan tenaga dalam penuh.


Saat terdengar teriakan dari Adya Buntala di balas teriakan pula dengan Raka Senggani.


" Ajian Lebur Wajaaaa, heaahh,"


" Aji Wajra Geniiii, hiaaaahhh,"


" Dhummmbbh,"


" Bletaaaaarrrr"


" Bleghuaaarrrr,"


Terdengar tiga kali ledakan akibat benturan kedua ajian tersebut, dan keduanya pun terlempar ke belakang beberapa batang tombak.


Tetapi Raka Senggani segera bangkit , setelah sebelumnya ia terjatuh meski masih dapat mengalasinya dengan ajian peringan tubuhnya.


Berbeda dengan Adya Buntala, murid Mpu Loh Brangsang itu dalam keadaan terkapar pingsan.


Perlahan Raka Senggani mendekati tempat dimana Adya Buntala itu terlempar.


Belum pun ia jauh datang melangkah tiba -tiba,


" Diam di tempat mu, Senggani atau nyawa perempuan ini akan melayang,"ucap seseorang.


Raka Senggani terperanjat karena dilihatnya seorang laki -laki sedang memalangkan sebuah pedang di leher seorang gadis dan yg membuat nya lebih terkejut, perempuan itu sangat di kenal nya,


" Ndayuuuu, Pinarak," gumam nya.


" Ya , aku memang Arya Pinarak, dan tentunya kau kenal dengan gadis ini bukan, dan jika nyawa nya ingin selamat, menyerahlah,..." ucap Arya Pinarak.


Murid Mpu Phedet Pundirangan itu masih dalam keadaan memalangkan pedang nya di leher Tara Rindayu.


Sementara Raka Senggani diam mematung, apa yg harus kulakukan, katanya dalam hati.


Ia cemas memikirkan akan nasib Putri Juragan Tarya tersebut, tetapi untuk menyerah pun rasanya keberatan.


Kemudian di dengar nya lagi teriakan dari Murid Mpu Phedet Pundirangan itu,


" Cepat,.... menyerahlah, atau kau memang ingin melihat gadis ini jadi mayat,!!!"


Sementara Tara rindayu diam saja, ia sedikit pun terlihat tidak takut sama sekali.


" Baiklah ,. jika kau memang akan melihat nya , ******, " teriak Arya Pinarak.


Lelaki itu mengangkat pedangnya ingin menebas,


" Tungguuuu,.... baik aku menyerah," ucap Raka Senggani..


Senopati Pajang itu mengangkat tangannya, tanda menyerah meski di hatinya sebenarnya menolak tetapi mau apalagi , nyawa Tara Rindayu menjadi taruhan nya.


" Kuda Wira, cepat ikat Raka Senggani itu,..." teriak Arya Pinarak.


Sesorang anak muda keluar dari semak -semak dan langsung menuju ke tempat Raka Senggani.


Dengan sebuah tali tambang ditangannya, pemuda itu pun langsung mengikat tubuh senopati Pajang itu.


" Lekas totok jalan darahnya, agar ia tidak menyusahkan lagi," seru Arya Pinarak lagi.


Kuda Wira pun mengikuti perintah dari Arya Pinarak itu. Ia menotok tubuh senopati Pajang itu hingga tidak dapat berbuat apa-apa.


Sebenarnya totokan ini dapat kulepaskan, tetapi biarlah , aku tidak dapat melihat Tara Rindayu yg akan jadi korban, kata Raka Senggani dalam hati.

__ADS_1


Setelah berhasil mengikat dan menotok tubuh senopati Pajang itu, atas perintah Arya Pinarak untuk membawa nya ke puncak gunung Merapi.


Masih menurut Arya Pinarak, biarlah Mpu Loh Brangsang saja yg akan menjatuhkan hukuman atas dirinya.


Dengan cepat Kuda Wira membawa tubuh Raka Senggani itu menuju Merapi, sedangkan Arya Pinarak segera melepaskan Tara Rindayu, ia segera memeriksa keadaan dari Adya Buntala.


Ternyata luka yg di derita Murid Mpu Loh Brangsang itu cukup parah beruntung ia masih selamat.


Arya Pinarak segera membopong tubuh Adya Buntala dan segera meninggalkan tempat itu di ikuti oleh Tara Rindayu dan seorang perempuan lain yaitu Dewi Rasani Mayang, saat pertarungan terjadi ia bersembunyi dengan kuda Wira.


Setelah kepergian para murid dari gunung Merapi itu, bukit Klangon itu kembali sunyi, walaupun bulan masih mengambang diatas awan.


Dan tidak terlalu lama, terdengar derap langkah kaki kuda yg menuju tempat itu.


Dan mereka terdengar berhenti di kaki bukit itu.


" Bagaimana Wira Dipa, apakah kita akan langsung naik,?" tanya Rangga Aryo Seno.


Rupanya yg datang itu adalah rombongan para prajurit Pajang yg di perintahkan oleh Tumenggung Wangsa Rana untuk mengikuti Raka Senggani.


" Sebaiknya demikianlah, Aryo Seno, kita secepatnya naik ke atas bukit inj, dan dua orang berjaga disini," kata Rangga Wira Dipa.


Tiga orang perwira Pajang itu naik ke atas bukit yg tidak terlalu tinggi itu.


Ketiganya mendapati tempat itu telah sepi tidak ada seorang pun yg berada di sana, hanya bekas -bekas pertarungan saja yg masih terlihat dengan adanya pepohonan yg roboh dan tanah terlihat berlobang -lobang.


" Kemana perginya mereka , Aryo Seno,?" tanya Rangga Wira Dipa.


Rangga Aryo Seno tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya karena ia sendiri pun tidak tahu.


Kemudian ketiganya memeriksa tempat itu, tetapi mereka tidak menemukan kemana kiranya pergi dari orang -orang itu.


Apakah Senopati Brastha Abipraya itu tewas, tanya mereka dalam hati, dan tidak berani mengucapkannya. Jauh di lubuk hatinya kedua Rangga kepercayaan dari Tumenggung Wangsa Rana itu masih meyakini kemampuan dari Sang Senopati.


Setelah agak lama mereka berada di atas bukit itu , kemudian ketiganya turun kembali menemui kedua rekan nya.


" Bagaimana Kj Rangga apakah Senopati Brastha Abipraya di temukan,?" tanya Salah seorang Lurah prajurit Pajang.


Ketiganya menggelengkan kepalanya.


Namun seorang lagi segera berkata,


" Ki Rangga , aku menemukan kuda Senopati Brastha Abipraya ada di dekat sebuah umbul agak ke selatan," kata yg seorang lagi.


Benar saja Si Jangu tengah berdiri di tempat itu dan terlihat sedikit gelisah.


" Bagaimana Aryo Seno kalau kita lepaskan kuda Senopati Brastha Abipraya ini, barangkali ia dapat menunjukkan kemana perginya tuannya itu," ungkap Rangga Wira Dipa.


Rangga Aryo Seno pun setuju kemudian mereka melepaskan si Jangu,


Sontak saja hewan tunggangan dari Raka Senggani itu berlari menuju ke arah utara tepatnya ke Gunung Merapi, setelah di lepaskan.


Kelima orang itu segera berlompatan ke punggung kudanya masing -masing dan segera mengejar si Jangu yg telah terlebih dahulu lari.


Kelima nya segera sampai di kaki gunung Merapi itu.


Dan tampaknya Si Jangu tidak berusaha bergerak untuk naik meski ia berputar -putar di tempat itu.


" Hehh, apakah Senopati Brastha Abipraya itu di bawa naik ke atas puncak gunung Merapi ini,?" tanya Rangga Wira Dipa.


Rangga Aryo Seno pun sependapat bahwa kemungkinan nya, Senopati Pajang itu berada di puncak Gunung itu.


Akhirnya di putuskan untuk naik keatas puncak Gunung Merapi.


Sementara itu di puncak Gunung Merapi sendiri, terlihat Raka Senggani tengah terikat pada sebuah tiang di depan padepokan itu.


Sengaja tampaknya Raka Senggani diikat di tempat itu.


Ketika matahari pagi telah menyinari tempat itu, Raka Senggani mulai tersadar dan ia merasakan bahwa totokan pada tubuh nya sangat kuat berbeda dengan yg di lakukan oleh Kuda Wira.


" Hehh, mengapa totokan ini sangat sulit untuk ku lepaskan dan dimana ini, apakah ini di Gunung Merapi, " berkata di dalam hati nya Raka Senggani.


" He, he, he, kau memang tengah berada di tempat ku, di padepokan Merapi, selamat datang disini," ucap seorang tua .


Yang tiada lain adalah Mpu Loh Brangsang, penguasa Gunung itu.


Dengan enteng nya ia datang mendekati tubuh Raka Senggani yg tengah terikat itu.


Dari sorot matanya terpancar cahaya kebencian nya pada Senopati Pajang itu.


Aura dendam terlihat sekali di matanya. Memang Mpu Loh Brangsang itu sangat mendendam atas kematian dua orang adik seperguruan nya itu, Mpu Phedet Pundirangan dan Mpu Yasa Pasirangan.


" Hehh, Senggani, bagaimana rasanya tidak berdaya seperti kali ini, apakah dirimu yakin akan mampu lepas dari tanganku," ucap Mpu Loh Brangsang.


Pemimpin padepokan Merapi itu berjalan berkeliling di sekitar tempat Raka Senggani terikat itu.

__ADS_1


Dan ia diam saja dengan ucapan dari Mpu Loh Brangsang itu. Memang kali ini, mulutnya pun sangat sulit untuk di gerakkan , dan sulit untuk berbicara.


Yakin lah Raka Senggani bahwa orang tua yg di dekatnya itu yg telah melakukan nya.


" Tampaknya hari ini adalah hari terakhir mu untuk melihat matahari, pandanglah sepuasnya, karena nanti di alam kuburmu tidak akan ada lagi matahari yg hangat sperti ini," ucap Mpu Loh Brangsang lagi.


Raka Senggani berhasil melepaskan totokan yg ada pada dirinya yaitu pada mulutnya, ia pun segera menjawab,


" Apakah Mpu Loh Brangsang tidak malu jika harus membunuhku dalam keadaan tidak berdaya seperti ini, apakah memang nama Loh Brangsang itu hanya omong kosaong belaka,?" ucap nya.


Memang Mpu Loh Brangsang agak kaget juga dengan kemampuan dari Senopati Pajang itu, dapat melepaskan totokan nya itu, tetapi ia tidak khawatir akan Senopati itu berhasil untuk kabur dari tempat itu.


" Hahh, malu, untuk apa malu, toh di tempat ini tidak ada yg tahu, jika aku akan menjatuhkan tanganku kepadamu, tidak ada seorang pun yg tahu, saat ini dirimu berada di tanganku, " jawab Mpu Loh Brangsang.


" Sungguh ternyata seorang Mpu Loh Brangsang itu adalah seorang yg pengecut , hanya berani kepada orang yg tidak berdaya, jika memang nama Loh Brangsang memang sakti , lepaskan aku , kita adakan perang tanding," ucap Raka Senggani.


" Perang Tanding, untuk apa , toh saat ini dirimu sudah ada di tanganku, tahu kah kau Senopati bahwa memang ini adalah rencana ku untuk menjebakmu, Ha, ha, ha," balas Mpu Loh Brangsang.


Ia menertawakan Raka Senggani.


" Memang dirimu terlalu bodoh anak muda, engkau tidak tahu telah masuk dalam perangkap ku, jadi nikmatilah hari terakhirmu di dunia ini, nanti setelah matahari condong ke Barat , aku akan menuntaskan dendam adi Pundirangan dan Pasirangan," ungkap nya.


Dan sebelum ia meninggalkan tempat itu, Mpu Loh Brangsang masih sempat mengatakan,


" Ingat lah bahwa di dunia ini kita juga harus mempergunakan akal, tidak melulu ilmu kadigjayaan, kau telah kalah Anak muda,"


Ia pun meninggalkan tempat itu.


Sementara waktu terus merambat naik, saat setelah matahari pada puncaknya , datanglah seorang perempuan ke tempat Raka Senggani di ikat itu, ia membawakan makanan dan di berikannya kepada Raka Senggani.


" Makan lah, " ucap perempuan itu.


" Mayang bagaimana kau berada disini apakah kau merupakan murid dari si orang tua gila itu, sayang mengapa kalian dapat menganggap nya seorang guru, dirimu tidak pantas berada disini Mayang," ucap Raka Senggani.


" Baiklah , biar kusuapi, " ucap perempuan itu.


Yg tiada lain adalah Dewi Rasani Mayang. Ia tidak memperdulikan ucapan dari Raka Senggani.


" Aku tidak mau, nanti makanan itu telah kalian racuni, tidak, aku tidak mau memakannya,dan untuk apa ia memberikan ku makan, aku tidak butuh makanan nya," teriak Raka Senggani.


Dewi Rasani Mayang sampai ketakutan mendengar teriakan itu, ia agak jeri juga melihat Senopati Pajang yg sedang kalap Itu.


" Hehh, Mayang, tidak dapatkah kau melepaskan ikatan ini,!" pinta nya kepada Rasani Mayang.


Karena ia merasa bahwa gadis itu masih memiliki rasa terima kasih nya terhadap Senopati Pajang setelah pertolongan nya beberapa waktu lalu.


Dan sebenarnya pun Dewi Rasani Mayang tidak setuju dengan perlakuan dari guru nya itu yg dianggap nya bukan tindakan seorang ksatria.


Namun mau apa lagi , ia tidak berani menentang keputusan dari Sang Guru tersebut.


" Aku tidak berani kakang, maafkanlah aku," jawab Dewi Rasani Mayang.


Ia segera berlalu dari tempat itu, ada rasa perih di hatinya, meskipun ia tidak mampu menolong terhadap sesorang yg pernah menolong nya itu.


Setelah kepergian dari Dewi Rasani Mayang itu, kemudian datanglah Mpu Loh Brangsang. Dan kali ini ia diikuti oleh beberapa orang muridnya, termasuk juga Arya Pinarak.


Tampaknya keputusan dari penguasa Merapi itu untuk menghabisi pemuda desa Kenanga itu.telah bulat.


Ia langsung mendekati tubuh Raka Senggani itu, dan berkata,


" Ada pesan yg ingin kau sampaikan, sebagai pesan terakhirmu anak muda,?" tanyanya kepada Raka Senggani.


" Karena saat ini adalah saatnya aku akan menghabisi mu untuk di lenyapkan selama lama nya dari muka bumi ini," katanya lagi.


Raka Senggani diam saja ia tidak menjawab ucapan Mpu Loh Brangsang itu.


Walaupun sebenarnya ia sedang berusaha untuk melepaskan dirinya dari ikatan itu, tetapi rasanya ada sesuatu yg tidak kasat mata turut membelenggunya, sehingga ia kesulitan untuk melepaskan diri.


Ketika Mpu Loh Brangsang itu akan segera melakukan niatnya itu, dari arah belakang datang lah seorang perempuan yg terburu -buru menghampiri penguasa Gunung Merapi itu.


" Guru, murid meminta kepada guru untuk tidak membunuh kakang Senggani, dia adalah lelaki yg murid cintai dari dulu dan selama nya, jika memang guru berniat untuk membunuhnya, bunuh juga lah aku guru," ucap perempuan itu.


Yang tiada lain adalah Tara Rindayu, putri Juragan Tarya.


Raka Senggani terbelalak matanya melihat hal yg terjadi d depan matanya itu.


Ternyata Tara Rindayu ada hubungannya dengan Si keparat ini, berarti saat ia tengah diancam itu adalah termasuk rencana manusia ******* ini , oh tuhan , ternyata ia masuk dalam kelompok yg Salah, kata Raka Senggani dalam hatinya.


" Guru, jika memang tidak mau mengampuni kakang Senggani ini, biarlah Aku bunuh diri saja disini," kata Tara Rindayu lagi.


Ia mencabut sebuah pisau dari balik bajunya dan dengan kedua tangannya menggenggam pisau itu diarahkan tepat ke jantung nya.


" Hehh, apa -apa an kamu ini, nduk, kan sudah eyang katakan bahwa engkau jangan kemari , ayo kembali ke dalam," perintah Mpu Loh Brangsang.


" Tidak guru, sebelum guru berjanji untuk tidak membunuh kakang Senggani, Rindayu tidak akan balik ke dalam, biarlah Rindayu mati disini bersama kakang Senggani," ucap Tara Rindayu lagi.

__ADS_1


__ADS_2