
Keesokan harinya, setelah hari terang tanah Senopati Lintang Bima Sakti, keluar dari rumah kediaman Ki Tambi.
Sekedar untuk berjalan jalan di kota yg dahulunya bernama Hujung Galuh di masa Prabhu Sangrama Wijaya, raja pertama kerajaan Majapahit.
Memang ada niatan di dalam Senopati Bima Sakti ini untuk memberitahukan mengenai pengkhianatan dari Ki Tambi.
Sekaligus ia ingin mengisi perutnya dengan makanan , karena di rumah Ki Tambi tidak ada satu makanan pun.
Ketika melihat ada sebuah warung yg telah buka di pagi hari itu,.maka sang Senopati pun segera singgah.
Hitung -hitung sambil menyelam minum air , berkata dalam hati Senopati Bima Sakti ini.
Karena tugas yg di embannya dari Kanjeng Gusti sinuwun adalah untuk melihat keadaan kota tersebut.
Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam, dan ternyata belum ada pengunjung warung itu.
Para pelayannya pun masih membereskan meja dan tempat duduk, ketika melihat ada yg datang , maka pelayan itu mempersilahkan untuk duduk.
" Silahkan den,..mau makan apa,..?" tanyanya.
Oleh Raka Senggani dijawab ia ingin makan lontong, dan ia pun segera mengambil tempat duduk.
Tidak terlalu lama maka tempat tersebut menjadi ramai dengan datang nya para pengunjung warung tersebut.
Bahkan lincak lincak hampir terisi semua, sepertinya mereka ingin sarapan di situ.
Bahkan ada juga yg berpakaian prajurit, dan duduk tidak jauh dari Raka Senggani.
Dari kedua orang prajurit ini, dengan jelas Senopati Lintang Bima Sakti memdengar sangat jelas atas kesiapan dari Kadipaten Surabaya ini untuk memisahkan diri dengan Demak.
Salah seorang mengatakan, jika pada waktunya tiba, saat armada pasukan Demak berangkat ke Lor, pasukan gabungan yg di bentuk atas usaha dari Tumennggung Waturangga akan bergerak pula menyerang Demak.
Dan masih menurut prajurit tersebut, pengaruh dari sang Tumennggung Waturangga memang sangat besar di wilayah bang Wetan ini.
Sehingga ia dapat menyatukan beberapa kadipaten untuk berniat mmeberontak terhadap kekuasaan Demak.
Apalagi saat ini Demak tidak di perintah langsung dari Trah Prabhu Brawijaya.
Tidak perlu di segani lagi pemangku kekuasaan Demak saat ini, begitulah penuturan mereka.
Keduanya bebas mengobrol karena memang merasa bahwa Kadipaten Surabaya sudah sangat aman dari para prajurit Demak , terutamanya bagian prajurit sandi.
Namun justru saat itu , seorang Senopati Demak tengah duduk di dekat mereka tanpa meninggalkan seluruh obrolan dari kedua prajurit tersebut.
Selesai kedua prajurit tersebut makan, maka Raka Senggani pun keluar dari warung tersebut.
Ia tidak berniat mengikuti kedua prajurit itu. Dirinya mengambil jalan yg berbeda. Sang Senopati ingin menemui Ki Lintang Gubuk Penceng yg ada di Trowulan.
Sebaiknya masalah Ki Tambi harus ku beritahukan dengan Ki Lintang Gubuk Penceng, ujarnya dalam hati.
Sekaigus ia akan melihat daerah hutan yg akan dijadikan perang tanding antara dirinya dengan Tumenggung Waturangga.
Dan dengan sangat cepat ia melangkah kan kakinya meninggalkan kota itu.
Di sebuah tempat yg cukup sunyi, Raka Senggani langsung mengtrapkan ilmu lari cepatnya agar ia dapat kembali lagi sebelum malam ke tempat Ki Tambi.
Dengan gerakan yg ringan ia terus memacu dirinya meninggalkan tempat tersebut, bahkan dengan aji pameling nya, ia menyuruh kepada Ki Lintang Gubuk Penceng untuk bertemu dengan nya di wilayah perbatasan antara surabaya dan mojokerto.
Ki Lintang Gubuk Penceng yg masih berada cukup jauh dari tempat yg di minta oleh Senopati Bima Sakti segera bergerak pula.
Ketika matahari telah pada puncaknya, kemudian keduanya bertemu di hutan yg telah mereka sepakati untuk bertemu.
Agak terkejut memang Ki Lintang Gubuk Penceng setelah mendapat perintah bertemu dengan Senopati Bima Sakti.
" Ada apa Senopati Bima Sakti mengajak bertemu di sini,..?" tanya nya.
Ketika mereka telah bertemu, ada yg perasaan yg aneh pada Lurah prajurit sandi Demak ini dengan permintaan yg tidak biasa itu.
__ADS_1
" Maaf sebelumnya , Ki Lintang Gubuk Penceng ,.." jawab Raka Senggani.
Pemuda itu mengetrapkan seluruh panggraita untuk mengetahui apakah tempat itu aman atau tidak.
Namun setelah di rasa aman, barulah ia melanjutkan perkataannya lagi.
" Begini Ki Lintang Gubuk Penceng,..bahwa usaha untuk melenyapkan Tumenggung Waturangga ini ternyata telah di ketahui pihak kadipaten Surabaya, terutamanya adalah Tumenggung Waturangga sendiri,." jelasnya .
" Hehh,..kok bisa,..?"
Tanya Ki Lintang Gubuk Penceng yg tidak percaya dengan ucapan dari pemimpinnya itu. Karena setahunya, usaha yg telah di lakukan oleh Demak sudah sangat rapi tanpa melibatkan pihak -pihak lain, untuk tugasnya pun telah di pilih dari dalam kesatuan prajurit sandi sendiri yaitu sang Senopati Lintang Bima Sakti.
Menjawab keheranan dari Lintang Gubuk Penceng,. kemudian Raka Senggani menjelaskan bahwa salah seorang prajurit sandi telah berkhianat , ungkapnya.
" Siapa orangnya yg mampu melakukan perbuatan yg tidak terpuji itu , Senopati Bima Sakti,..?" tanya Ki Lintang Gubuk Penceng.
Karena selama ini tidak ada yg terlihat dari prajurit sandi Demak yg ada kecendrungan nya untuk bekhianat.
" Ki Tambi lah ,.orang nya,.." jawab Senopati Bima Sakti.
Serasa di sambar petir yg cukup keras, rasa keterkejutan dari Lintang Gubuk Penceng, ia sungguh tidak menyangka dengan apa yg telah di dengarnya sendiri.
" Benarkah hal itu , Senopati, jangan jangan dirimu menerima berita yg salah,.." serunya.
Ia memang tidak mempercayai ucapan dari Senopati Bima Sakti ini, apalagi sang Senopati baru saja diangkat menjadi Senopati sandi yuda Demak.
Tetapi jika mengingat kejadian di alas Mentaok beberapa waktu lalu, tidak mungkin Senopati Bima Sakti yg salah.
Kemudian Senopati Bima Sakti menjelaskan kepada Ki Lintang Gubuk Penceng bahwa dirinya telah melihat sendiri dengan mata kepalanya sendiri saat berada di rumah dari Tumenggung Waturangga. Ia mengikuti orang tersebut dari belakang tanpa di ketahuinya sehingga dengan leluasa dirinya dapat mendengar seluruh pembicaraan antara Ki Tambi dan Tumenggung Waturangga.
Di jelaskannya lagi bahwa perang tanding akan di lakukan oleh Ki Tambi dan Tumenggung Waturangga kira kira tiga hari lagi dan kemungkinan besarnya diadakan di hutan ini.
" Bukankah hutan ini adalah hutan yg merupakan batas wilayah dari Kadipaten Surabaya dan Kadipaten Mojokerto,..?" tanya Raka Senggani.
Oleh Ki Lintang Gubuk Penceng memang benar, hutan ini adalah merupakan batas wilayah antara dua kadipaten.
" Jadi maksud Senopati,. Tumenggung Waturangga telah menyandera keluarga dari Ki Tambi,..begitu,..?" tanya Lintang Gubuk Penceng.
" Sepertinya demikian , Ki Lintang,..dan untuk itulah dirimu Ku ajak bertemu di tempat ini guna memutuskan jalan keluar yg terbaik,.." ungkap Senopati Bima Sakti.
Lintang Gubuk Penceng nampak mengerutkan dahinya, sepertinya ia sedang berpikir keras agar dapat menemukan jalan keluar yg terbaik.
" Begini saja , Senopati,..jika memang rencana kita ini telah di ketahui oleh Tumenggung Waturangga, sebaiknya kita ikuti saja jalan permainan nya, jika nanti Tumenggung Waturangga memang ingin berniat untuk mengalahkan dirimu dengan berbagai cara, termasuk untuk menjebakmu disini, kita pun tidak akan tinggal diam,.." jelas Ki Lintang Gubuk Penceng.
" Maksud Ki Lintang,..?" tanya Raka Senggani.
Kemudian Ki Lintang Gubuk Penceng menjelaskan maksudnya bahwa perang tanding itu harus tetap terjadi , dan upaya untuk melenyapkan Tumenggung Waturangga harus di lakukan , jika mereka berniat untuk mengeroyok Senopati Bima Sakti dengan para pengawal nya yg terkenal cukup banyak dan memiliki kemampuan yg sangat tinggi, barisan prajurit sandi Demak pun tidak akan tinggal diam.
Melalui dirinya, prajurit sandi Demak akan di kumpulkan di tempat ini.
" Bukankah para Lurah prajurit sandi Demak tidak sedang bertugas di bang Wetan ini , Ki, Bagaimana caranya untuk mengumpulkan mereka dalam waktu tiga hari disini,..?" tanya Raka Senggani heran.
Oleh Ki Lintang Gubuk Penceng dijawab,..bahwa memang para Lurah Prajurit sandi Demak itu tidak berada di wilayah bang Wetan, akan tetapi para prajurit sandi yg lain dapat segera di hubungi dan di perintahkan untuk datang kemari, karena dalam kemampuan ilmu, hampir rata-rata dari prajurit sandi Demak ini memiliki ilmu yg cukup tinggi, dan sebagai perbandingan nya adalah Gajah Arak yg telah di temui oleh Senopati Bima Sakti sendiri alas Turanggana beberapa hari yg lalu.
Raka Senggani yg mendengar hal itu menjadi sangat senang jika memang para prajurit sandi Demak akan datang kemari, ke hutan ini yg akan menjadi ajang perang tanding antara dua tokoh dari Demak yg di wakili oleh dirinya berhadapan dengan tokoh dari Wetan ini yg akan di wakili oleh Tumenggung Waturangga.
" Baiklah jika memang demikian, Ki , kita telah sepakat akan hal ini, tetapi ada satu yg masih mengganjal dalam hatiku,." ucap Raka Senggani.
Senoapti sandi Demak yg bergelar Senopati Bima Sakti ini masih merasa ada ganjalan di dalam hatinya.
" Apa itu ,. Senopati Bima Sakti,..?" tanya Ki Lintang Gubuk Penceng .
" Bagaimana dengan keluarga Ki Tambi,..?" tanya nya kepada Ki Lintang Gubuk Penceng.
" Hehhh,.."
Lintang Gubuk Penceng pun seolah baru tersadar setelah mendengarkan ucapan dari Raka Senggani ini.
__ADS_1
Namun kemudian ia mengatakan kepada Senopati Bima Sakti agar tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut,..nanti ia sendiri yg akan menyelidiki nya.
Begitu mendengar kesanggupan dari Lintang Gubuk Penceng untuk mengetahui nasib dari keluarga Ki Tambi, maka Raka Senggani pun telah merasa cukup . Ia pun akan segera kembali masuk ke dalam kota agar Ki Tambi tidak menjadi curiga karena nya.
Keduanya pun sepakat meninggalkan tempat itu kembali ke tempat masing -masing, nanti setelah tiga hari lagi mereka akan bertemu lagi di situ.
Walaupun sebenar nya Raka Senggani sudah berpesan kepada Ki Lintang Gubuk Penceng agar tida terpatok pada tempat itu saja, siapa tahu kelak atas permintaan dari Tumenggung Waturangga bahwa tempat nya akan mereka pindahkan.
Ki Lintang Gubuk Penceng pun mengangguk tanda mengerti.
Matahari telah bergeser cukup jauh menuju ke arah barat tatkala keduanya meninggalkan hutan tersebut.
Dan lagi lagi, Raka Senggani harus mengerahkan seluruh kemampuan nya untuk secepatnya tiba di rumah Ki Tambi agar orang tersebut tidak jadi curiga kepadanya.
Bertepatan saat maghrib sampailah Raka Senggani di rumah Ki Tambi.
Setelah mengucapkan salam beberapa kali, namun tidak ada juga sahutan , Senopati Bima Sakti ini langsung masuk ke dalam.
Hehh, kemana perginya Ki Tambi, sudah hampir malam begini , ia belum berada di rumah, apa yg tengah ia kerjakan.
Suatu pertanyaan yg ada di benak Senopati Bima Sakti, tetapi ia tidak memperdulikan nya,.ia langsung ke pakiwan untuk membersihkan tubuh dan melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang hamba terhadap tuhannya.
Ketika selepas bakda isya , barulah Ki Tambi pulang ke rumah.
Dengan wajah yg lesu dan tidak terlalu bergairah orang itu duduk. Dan ia melihat ke arah Raka Senggani yg masih tengah duduk sambil berzikir, sesekali nampak kepala pemuda itu bergoyang goyang.
Selesai pemuda itu, segera bangkit dari duduknya dan menyapa Ki Tambi.
" Darimana Ki ,.mengapa sudah malam baru kembali ,..?" tanya nya.
Ki Tambi nampak diam saja ia tidak menjawab pertanyaan dari Senopati Bima Sakti ini.
Hanya nafasnya saja yg terdengar keluar dengan nada berat, seolah orang itu tengah menghadapi beban yg sangat berat.
" Memang nya ada persoalan yg sulit untuk di ketemukan jalan keluarnya,..Ki,..?" tanya Raka Senggani lagi.
" Ahhh,..tidak Senopati ,.rasa -rasanya, beban ini telah jauh berkurang dengan kehadiran Senopati di tempat ini,.." jawab Ki Tambi.
" Oh iya Ki,.. bagaimana dengan persoalan Tumenggung Waturangga ini, kapan waktunya kita akan menjalankan nya,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Lagi -lagi Ki Tambi tidak menjawab pertanyaan dari Raka Senggani.
" Begini Ki ,.jika memang dirimu memiliki persoalan dan butuh teman untuk memecahkannya, diriku siap untuk mendengarkannya,.." ucap Raka Senggani lagi.
Pemuda itu berusaha mencari tahu apa penyebab nya sehingga dirinya berkhianat.
Tetapi orang tua yg berpakaian serba hitam tersebut tidak menjawab pertanyaan , ia terlihat agak rikuh atas pertanyaan dari Senopati Bima Sakti.
" Sebenarnya sebagai seorang prajurit sandi, diantara kita tidak boleh ada batas pemisahnya, jika memang Ki Tambi memiliki sesuatu yg harus di bagi , aki dapat membaginya denganku,.." desak Raka Senggani.
Ki Tambi nampak bangkit dari duduk nya dan mengambil air minum dan kemudian ia duduk lagi.
Tanpa menjawab perkataan dari Raka Senggani ia balik bertanya,
" Senopati Bima Sakti, siang tadi kemana,..?" tanyanya.
" Hanya sekedar jalan -jalan di kota ini, untuk melihat dari dekat mengenai pertumbuhan kota Surabaya,..ternyata tidak perlu ada yg di ragukan dengan peningkatan kemajuan nya," jelas Raka Senggani.
" Apakah Senopati Bima Sakti tidak takut bertemu dengan para prajurit disini,..?" tanya Ki Tambi lagi.
" Mengapa harus takut bertemu dengan para prajurit Kadipaten Surabaya ini, belum tentu mereka mengenal diri ku,..Ki,.." ungkap Raka Senggani.
Kepala Ki Tambi mengangguk angguk, padahal dirinya telah mengatakan ciri -ciri dari Senopati Bima Sakti ini kepada Tumenggung Waturangga, dan tentu saja sang Tumenggung telah memberitahukan kepada para bawahannya itu.
Bagaimana nasib ku , jika Senopati Bima Sakti ini tewas di tangan Tumenggung Waturangga,..ahh ,..apa peduli ku,. nyawa anak dan istriku lebih penting lagi untuk di selamatkan, berkata dalam hati Ki Tambi.
Ia memang dalam persimpangan yg cukup rumit dan sulit , tetapi untuk mengatakan yg sebenarnya kepada Senopati Bima Sakti itu tidak mungkin lagi.
__ADS_1