
Lain hal nya masalah Jati Andara putra Bekel desa Kenanga itu.
Di Daerah Kadipaten Surabaya, Raka Senggani tengah menghadapi masalah yg berbeda. Kali ini , Tumennggung Waturangga ternyata telah berniat memindahkan tempat pertemuan mereka ke suatu tempat yg agak terpencil di selatan kota itu. Dan waktunya pun telah di majukan.
Sehingga Senopati Bima Sakti ini harus memutar otaknya agar Ki Lintang Gubuk Penceng dan para prajurit Sandi Demak yg lainnya dapat menemukan lokasi itu.
Di sebuah tempat , di luar kota Surabaya, ia tengah memusatkan seluruh pikirannya, ia sedang mengetrapkan aji pameling.
Ia berusaha menghubungi Ki Lintang Gubuk Penceng.
Ketika ia telah berhasil menghubungi Lurah prajurit sandi Demak ini,. dengan gamblang ia menjelaskan nya, bahwa pertarungan antara dirinya dengan Tumenggung Waturangga akan berpindah ke sebuah gumuk kecil yg berada di selatan kota itu.
Mendengar hal tersebut maka Ki Lintang Gubuk Penceng segera mengatakan kepada sang Senopati Demak itu agar tidak usah khawatir karenanya. Ia akan selalu siap sedia untuk mengawal dirinya dimana pun itu berada, jelasnya.
Hati Senopati Lintang Bima Sakti menjadi sangat senang,..ia tidak merasa khawatir lagi.
Raka Senggani segera beranjak dari tempat itu,. ia berniat kembali pulang ke rumah Ki Tambi.
Ketika ia akan meninggalkan tempat itu, tiba tiba saja,..
" Siiieeng,.."
" Siiieeng,.."
" Siiieeng,.."
Tiga buah senjata rahasia melesat memburu tubuh dari sang Senopati.
Kontan saja, Ia melompat menghindari serangan gelap tersebut.
Hehh,..siapa orang yg telah berani menyerangku, berkata dalam hati Raka Senggani setelah ia berhasil menghindari serangan tersebut.
Ia mengedarkan mata nya melihat tempat itu , tetapi ia tidak menemukannya ,sehingga Senopati Sandi Demak ini terpaksa menggunakan kemampuannya dengan menggunakan aji panggraitanya.
Ternyata ia berada diatas sebatang pohon dan cukup jauh jaraknya dari sini , betapa tingginya tenaga dalam orang ini, kata Raka Senggani dalam hati.
Setelah mengetahui dimana keberadaan dari orang yg telah menyerangnya tadi.
Raka Senggani berpura pura tidak tahu keberadaan orang tersebut, ia langsung melangkah untuk meminggalkan tempat itu tanpa memperdulikan nya, tetapi kewaspadaan sang Senopati tetap dalam tingkat tinggi ,dirinya bahkan telah meraba senjata kebutan yg di terima nya dari penguasa Alas Siroban.
Ia berjalan dengan perlahan tanpa memperhatikan orang tersebut.
Baru berjalan tiga langkah saja , kembali,..
" Siiing,.."
" Siiing,.."
" Whuuutt,"
" Whussshhhh,.."
" Aaaakh,.."
Begitu dua senjata rahasia melesat mengarah dirinya , Raka Senggani langsung mengibaskan kebutan nya dan hasil nya cukup mengejutkan, tubuh orang yg telah menyerang tersebut terkena senjatanya sendiri yg berbalik menyerang nya.
Orang itu sampai terjatuh dari atas pohon yg cukup tinggi,..dan sebenarnya , Raka Senggani ingin melihat siapa sesungguhnya orang yg telah menyerangnya tersebut.
Tetapi belum pun ia sampai ke tempat jatuh orang itu, kembali langkahnya di hentikan oleh serangan senjata rahasia lagi.
Walau terpaksa harus melepaskan orang yg terjatuh tadi ,karena harus menghindari serangan dan masih sempat melihat bahwa orang yg kedua itu melesat membawa pergi orang telah terjatuh tadi.
Siapakah kedua orang itu, apakah ada hubungannya dengan Tumenggung Waturangga, kata Senopati Sandi Demak dalam hati.
Ia pun tidak mau terlalu lama di tempat tersebut.Dengan mengerahkan ilmu lari cepatnya ia menuju rumah Ki Tambi.
Meski di dalam hatinya masih tersimpan banyak tanya akan serangan yg telah ia terima tadi.
Sementara itu, dua orang yg telah menyerang Raka Senggani telah lari menjauh dari tempat itu, dengan seorang yg terluka di sebabkan senjatanya sendiri.
" Kakang Watang Keling harus bertahan,..mudah mudahan Ki Tambi masih berada di rumah Tumenggung Waturangga,.." ucap orang itu.
Ia yg tengah membawa tubuh temannya di atas pundaknya terus saja berlari. Tampaknya orang itu menuju rumah Tumenggung Waturangga.
Dan benar saja, dengan cepat ia melompat masuk rumah yg memiliki pagar yg cukup tinggi dengan mudahnya , karena tampak nya orang tersebut memiliki ilmu peringan tubuh yg cukup tinggi.
__ADS_1
Kalau dari depan , nanti para prajurit jaga akan banyak tanya,..kata orang tersebut dalam hati.
Ia masuk melewati pagar belakang rumah Tumenggung Waturangga. Dan segera meletakkan tubuh temannya begitu saja ketika telah sampai di sana.
Orang itu segera melapor kepada salah seorang pelayan Tumenggung Waturangga.
" Nyi,..apakah Kanjeng Tumenggung ada,..?" tanya nya.
" Ada Ki,.ia sedang berada di pendopo,.memangnya ada apa,.." jawab perempuan paruh baya itu.
" Tidak,..aku ingin menghadap ,.." jawab orang itu.
Ia pun segera menuju pendopo rumah Tumenggung Waturangga.
Disana memang sang pemilik rumah masih duduk dengan para pembantu setianya.
Dengan cepat orang yg baru datang tadi melaporkan kejadian kepada Tumenggung Waturangga.
Sang Tumenggung amat terkejut mendengarnya, karena ia tahu kemampuan dari salah seorang pembantunya yg bernama Watang Keling ini.
" Dimana sekarang ia berada ,..? tanyanya.
" Ada di belakang,.. Kanjeng Tumenggung,.." jawab orang itu.
" Mari kita lihat,..Ki Tambi segera ikut denganku,.." seru Tumenggung Waturangga.
Terjadi kehebohan di rumah Tumenggung Waturangga dengan laporan salah seorang pembantunya.
Bahwa salah satu temannya sedang terluka akibat senjatanya sendiri ketika berusaha menyerang Raka Senggani, sang Senopati Sandi Demak.
Seluruh nya segera menuju belakang rumah Tumenggung Waturangga. Mereka melihat tubuh temannya itu tengah mengahadapi maut akibat keracunan oleh senjata nya sendiri.
Begitu melihat kenyataan ini, berkatlaa Tumenggung Waturangga kepada Ki Tambi.
" Bagaimana Ki ,..apakah masih dapat di selamatkan ,..?" tanya nya kepada Ki Tambi.
Orangtua yg berpakaian serba hitam , segera memriksa keadaan orang yg sedang tergeletak tidak berdaya, bahkan nafas nya nampak terhenti.
Cukup lama Ki Tambi memeriksa nya sambil menggelengkan kepalanya,.bahkan ia menotok beberapa jalan darah orang yg bernama Watang Keling ini.
" Hahhh,.."
Orang yg membawa tubuh Ki Watang Keling ini terlihat sangat kaget mendengar penuturan dari ahli racun yg bernama Ki Tambi itu.
Ia telah mengerahkan seluruh kemampuan nya agar dapat tiba dengan cepat di rumah Tumenggung Waturangga dan dapat menyelamatkan nyawa kakaknya itu.
" Benarkah Ki,.. ucapanmu itu,. nyawa Kakang Watang Keling tidak dapat di selamatkan lagi,..?" tanya nya dengan sangat keras.
Ki Tambi tidak menjawab hanya mengganggukkan kepalanya dengan tetap mengarahkan pandanganya kepada tubuh Ki Watang Keling.
Dan seluruh orang yg berada di tempat itu menyaksikan tubuh dari salah seorang temannya mulai membiru dan perlahan dari mulutnya keluar busa yg agak banyak.
Bersamaan dengan itu pula orang yg membawa tubuh Ki Watang Keling ini segera menubruk tubuh yg sudah kaku dan dingin.
" Kakaaaang,.."
Terdengar teriakan histeris keluar dari mulut orang tersebut sambil menggoyang -goyangkan tubuh nya saudaranya , Ki Watang Keling.
Namun tubuh tersebut tetap diam tanpa ada gerak sedikit pun, ia ternyata telah tewas oleh senjatanya sendiri. Racun yg ada di ujung senjatanya itu sangat cepat bekerja nya membuat ia tidak dapat tertolong lagi.
Adalah Ki Tambi yg kemudian bertanya,..
" Bagaimana ceritanya , sehingga Ki Watang Keling bisa sampai terluka,..Ki Watang Anom,..dan mengapa dirimu tidak menotok jalan darah nya agar tidak cepat menjalarnya racun itu,..?" tanya nya.
Pertanyaan yg diajukannya kepada saudara orang yg telah meninggal itu.
Dan orang yg bernama Watang Anom segera bangkit dari tubuh saudaranya yg sudah kaku mayat.
Ia kemudian menjelaskan, setelah mendaptakan perintah dari Kanjeng Tumennggung Waturangga untuk menjajal kesaktian dari Senopati Demak, dengan secara diam diam kami mengekorinya dari belakang rumah Ki Tambi, hingga tiba di suatu tempat.
Setelah kami melihatnya sedang duduk bersila seperti sedang mengerahkan Ajian nya, kami pun mendekatinya.
Namun kami belum menyerang nya , sampai ketika ia berniat akan meninggalkan tempat itu barulah kakang Watang Keling melepaskan serangan dengan menggunakan senjata rahasia nya, tetapi dapat di hindari oleh Senopati Demak itu. Kakang Watang Keling segera melepaskan lagi senjatanya ketika orang tersebut akan pergi,.naas nya, serangan kakang Watang Keling dengan senjata rahasia ini berbalik dan menjatuhkan nya dari pohon yg di tempatinya , terang orang yg bernama Ki Watang Anom .
" Mengapa dirimu tidak segera menotoknya, bukankah dirimu tahu bagaimana kuatnya racun yg ada pada senjata kalian itu,..?" tanya Ki Tambi lagi.
__ADS_1
" Aku tidak sempat melakukannya , Ki, karena harus segera menghindari orang Demak itu, ia berusaha untuk melihat kakang Watang Keling yg telah terjatuh itu,.." jawab Ki Watang Anom.
Akhirnya , tindakan mu itu menjadi sia -sia Ki,..karena tidak dapat menyelamatkan nyawa saudaramu,..kata Ki Tambi.
Orangtua itu merasa bahwa tindakan kedua kakak beradik ini terlalu gegabah karena berani menyerang lawan yg tampaknya cukup lemah tanpa merasa bahwa orang tersebut dapat berbalik menyerang mereka berdua.
" Sudahlah Ki, ikhlaskanlah kepergian saudaramu itu,..memang tadi aku sendiri lah yg telah menyuruh kalian berdua untuk menghabisi Senopati Demak ,.. tetapi ternyata , nyawa salah seorang dari pembantuku lah yg harus melayang, namun ini adalah pengorbanan yg tidak sia -sia, berdabarlah,..Ki,..!" ucap Tumenggung Waturangga.
Pejabat wilayah Surabaya ini berusaha menenangkan hati dari salah seorang pembantunya yg tengah bersedih setelah kehilangan saudaranya untuk selamanya.
" Ini tidak dapat di biarkan,. hutang nyawa bayar nyawa,.. Kanjeng Tumenggung..," sahut Ki Watang Anom.
Tampak ia mengepalkan tangan kanannya dan bersuara agak serak , terlihat dari wajah orang yg bernama Watang Anom ini sakit hati atas tewasnya saudara nya itu.
" Ya,.ya,..kita pasti akan membalaskan dendam mu itu,..dan waktunya tidak akan lama lagi, besok malam, kita yg ada disini akan menjadi saksi atas tewas nya Senopati Demak itu,.." ungkap Tumenggung Waturangga.
Ia berusaha memberikan semangat kepada pembantunya yg tengah bersedih setelah kehilangan saudaranya dalam sekejap saja.
" Kanjeng Tumenggung,.. izinkanlah diriku yg akan menjajal kemampuan dari Senopati Demak itu,..aku ingin,. dengan tanganku sendirilah yg akan mencabut nyawanya,.." tukas Ki Watang Anom.
" Aku akan memberimu izin,..Ki,..bahkan jika semua yg hadir disini akan menjajal kemampuan dari Senopati Demak itu,..aku akan mengizinkan nya,.." sahut Tumenggung Waturangga.
Kemudian Pembesar Kadipaten Surabaya ini memerintahkan kepada beberapa orang prajurit nya untuk menguburkan jasad dari Ki Watang Keling.
Dan hari pun menjelang malam saat selesai penguburan jasad dari Ki Watang Keling.
Ki Tambi masih berada di rumah Tumenggung Waturangga sampai malam menjelang, tampaknya mereka akan mematangkan rencana siasat untuk menghabisi nyawa Raka Senggani, Senopati Sandi Demak yg di tugaskan oleh Kanjeng Sinuwun ke Surabaya ini.
Sedangkan Raka Senggani sendiri telah lama beristrahat di rumah Ki Tambi yg kosong, rumah yg cukup besar itu seperti menjadi sarang para dedemit jika malam telah tiba, karena tidak ada sebuah lampu yg menyala di dslam nya.
Raka Senggani tidak mengerti jalan pikiran salah seorang prajurit sandi Demak yg telah berkhianat itu. Selain memang rumahnya tidak pernah menyala lampu, sepertinya pribadi orang tua ini pun cukup tertutup, beberapa kali ia berusaha mendesak agar ia mau berterus terang kepadanya tentang masalah yg tengah di hadapinya , tetapi ia tetap bersikukuh menutup mulutnya.
Hehh,..memang demikian jiwa seorang prajurit sandi , mereka tidak akan membeberkan masalah nya kepada orang lain meski itu adalah temannya sendiri, ucap Raka Senggani dalam hati.
Dan kali ini, sang senoapti sandi Demak itu tidak lagi berbasa basi tatkala Ki Tambi telah pulang ke rumahnya.
Sang Senopati sibuk dengan zikirnya, agar hatinya dapat tenang, karena ia teringat saat ini di desa Kenanga sedang ada acara yg terjadi, karena hari ini adalah hari pasaran dan merupakan janjinya untuk melamar gadis pujaan hatinya, putri Ki Jagabaya, Sari Kemuning.
Walau di hati pemuda itu merasa bersalah , karena tidak dapat hadir di sana, tetapi ia tetap berharap bahwa semuanya akan berjalan lancar.
Demikian pula pada esok malam , yg telah menjadi rencana yg di sebutkan oleh Ki Tambi, atas pertemuan nya dengan Tumenggung Waturangga, seorang Tumenggung dari bang Wetan ini yg konon memiliki segudang ilmu, bahkan dengan ilmunya itu dapat mempengrauhi orang lain, bahkan penguasa setingkat Adipati dapat ia luluhkan.
Hehmm, sedemikan hebatkah, Tumenggung Waturangga itu, berkata dalam hati Raka Senggani.
Di sebelahnya Ki Tambi tampak sedang meminum air putih, tidak sekalipun Orang tua, prajurit sandi ini membawa makanan ketika ia telah pulang.
Ternyata rumah itu hanya tempat untuk beristrahat saja, makan nya ia berada di luar sana.
Raka Senggani bangkit dari duduk nya dan berjalan mendekati Ki Tambi seraya berkata,..
" Ki,.. sedemikan hebatkah kemampuan dari Tumenggung Waturangga itu,..?" tanya nya.
" Hehhh,.."
Ki Tambi tersentak kaget mendengarkan pertanyaan dari Senopati Demak ini.
" Yahhh,..memang ia memiliki banyak kelebihan, akan tetapi Senopati Lintang Bima Sakti tidak perlu cemas,. karena setiap ilmu pasti memilki kelemahan nya,.." jelas Ki Tambi.
" Jika ia memang memliki ilmu Natradahana,.. apakah kelemahan dari ilmu itu ,..Ki,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Baru Ki Tambi terdiam, karena pertanyaan ini memang agak sulit untuk ia jawab,.apa kelemahan dari ilmu sorot mata yg di miliki oleh Tumenggung Waturangga itu, sudah beberapa orang yg tidak sanggup melawannya , Dan akhirnya harus kalah serta jadi pengikut yg setia dari Tumenggung Waturangga.
Memang dirinya belum pernah merasakan langsung akibat dari ilmu yg cukup ngegrisi tersebut,.kepatuhan nya terhadap orang itu karena terpaksa , akibat Tumenggung Waturangga mencium bahwa dirinya adalah salah seorang prajurit sandi Demak yg tengah memata matainya, dan kemudian menyandera keluarga nya sebagai tanggungan.
" Jadi apa kelemahan ilmu tersebut,..Ki ,?" tanya Raka Senggani sekali lagi.
Ia masih penasaran akan jawaban dari orang tua yg ada dihadapanya.
Merasa tersudutkan atas pertanyaan itu,. kemudian Ki Tambi menjawabnya,.
" Aki tidak tahu,.. Senopati ,.." jawabnya.
Tampaknya Ki Tambi ini sedang berbohong, seharusnya ia tahu titik lemah dari ilmu Tumenggung Waturangga itu, akan tetapi biarlah , mungkin ia masih ingin menyembunyikan nya dariku,..kata Raka Senggani dalam hati.
Ia pun berusaha untuk beristrahat, tanpa memperdulikan Ki Tambi yg sedang merenungi nasibnya sendiri.
__ADS_1