Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 21 BIMA SAKTI. bag ke delapan.


__ADS_3

Raka Senggani kemudian menanyakan kepada Ki Lintang Gubuk Penceng bagaimana dengan nasib dari Tumenggung Waturangga.


Apakah dirinya itu masih hidup atau telah mati, karena sampai saat ini ia belum mengetahuinya.


Dan oleh Ki Lintang Gubuk Penceng di jawab bahwa Tumenggung Waturangga telah tewas dalam perang tanding itu.


Ia tewas dengan tubuh hancur menjadi debu.


Syukurlah, kata Senopati Bima Sakti dalam hati, bahwa usaha nya tidak menjadi sia sia.


Dan Senopati Bima Sakti juga menanyakan keadaan yg ada di gumuk itu,..karena sebelum nya banyak orang yg berada disana. Apakah mereka tidak melakukan apa apa.


Ki lintang Gubuk Penceng menceritakan mengenai kejadian yg ada diatas Gumuk teraebut.


Diawali dengan kedatangan seluruh prajurit sandi Demak ke gubuk tersebut, sekitar lima belas orang, dengan sepuluh adalah prajurit sandi yg berasal dari Demak ditambah lima orang lagi dari prajurit yg ada di trowulan ini.


Ketika mendengar bahwa ternyata tempat itu telah terkepung, para prajurit sandi Demak ini dengan di pimpin oleh Ki Lintang Gubuk Penceng, Ki Lintang Sapi Gumarang, dan Ki Lintang Pedati Suwung mendekati satu persatu orang -orang yg mengepung tempat tersebut.


Karena jumlah lawan yg tidak terlalu banyak maka Ki Lintang Gubuk Penceng dengan isyarat sandi kemudian mmeberikan perintah agar membunuh mereka satu lawan satu, dengan keyakinan bahwa para prajurit sandi Demak mampu melakukan nya.


Laksana Malaikat pencabut nyawa, sepuluh prajurit sandi Demak itu mampu menewaskan dengan cepat para pembantu Tumenggung Waturangga ini, walaupun mereka memang memliki kemampuan yg cukup tinggi akan tetapi kedatangan yg tiba -tiba dari para prajurit sandi Demak yg tidak mereka ketahui membuat mereka dengan mudah di habisi termasuk dengan dua orang yg datang bersama dengan Tumenggung Waturangga dan sempat meminta izin kepada sang Tumenggung untuk berhadapan dengan Senopati Bima Sakti namun di larang oleh Tumenggung Waturangga, mereka berdua kemudian bertugas untuk menyelamatkan Ki Tambi dan Watang Anom.


Oleh Ki Lintang Gubuk Penceng , kedua orang tersebut kemudian d kuntir terus kemana perginya mereka membawa tubuh Ki Tambi dan Watang Anom.


Empat orang yg mengikuti adalah Ki Lintang Gubuk Penceng, Ki Lintang Sapi Gumarang, Ki Lintang Pedati Suwung dan Gajah Arak.


Dan begitu kedua orang tersebut menurunkan tubuh dari Ki Tambi dan Watang Anom. Maka keempat orang itu segera menyerang kedua orang kepercayaan dari Tumenggung Waturangga itu.


Di saat yg sama Senopati Bima Sakti sedang bertarung diatas gumuk dengan Tumenggung Waturangga.


Dan kami berempat berhasil menewaskan kedua nya , selanjutnya berusaha untuk membangunkan Ki Tambi dari pingsan nya, sementara itu , karena tidak ada pertolongan terhadap Watang Anom , orang itu menghembuskan nafasnya di tempat itu.


" Begitulah ceritanya Senopati Bima Sakti , dan selanjutnya sudah Senopati ketahui sendiri, bahwa Ki Tambi kami bawa langsung ke trowulan ini, karena ia mengatakan sesuatu tentang dirimu, sehingga kami tidak jadi membunuhnya setelah ia mengakui semua pengkhianatan nya terhadap Demak , bukan begitu Ki Tambi,..?" tanya Ki Lintang Gubuk Penceng kepada Ki Tambi.


Dan kepala Ki Tambi mengangguk mengiyakan ucapan dari Ki Lintang Gubuk Penceng.


Ia juga menambahkan bahwa ternyata para prajurit sandi Demak juga telah berhasil menyelamatkan keluarganya yg telah di tahan oleh Tumenggung Waturangga di alas purwa , daerah blambangan.


" Mungkin Kanjeng Sinuwun tidak akan memaafkan semua kesalahanaku , akan tetapi biarlah , hanya satu yg menjadi keinginan ku saat ini adalah untuk menyembuhkan dirimu dari pengaruh racun pelumpuh syaraf te sebut,.." ungkap Ki Tambi.


Ki Tambi mengakui kehebatan dari senopati Sandi Demak ini karena masih mampu bertarung dengan sangat baik padahal ia telah mendapatkan racun yg cukup ganas yg di berikannya atas perintah dari Tumenggung Waturangga.


Kalau menurutnya , tidak akan mungkin Senopati Bima Sakti dapat bertarung pada tingkatan tertinggi dari ilmu yg di miliki dari Tumenggung Waturangga sendiri.


Sang Tumenggung pun merasa bahwa ia akan sangat kesulitan setelah mendengar bahwa salah seorang gurunya yg berada di kulon , Senopati Bima Sakti mampu mengalahkan nya, sehingga ia memrintahkan ku untuk meracunmu, mau tidak mau itu harus kulakukan demi keselamatan keluargaku walau kutahu bahwa akan sangat membahayakan dirimu.


Apalagi saat pertemuan dengan Watang Anom, aku berkeyakinan bahwa diri Senopati akan tewas ditangan adik dari Watang Keling ini, meski aku harus berpura pura pingsan agar pengkhianatan ku tidak Senopati Bima Sakti ketahui,,jelas Ki Tambi lagi.


" Mengapa dirimu tidak mau berterus terang ketika kutanyakan saat masih di rumah, Ki ,..?" tanya Raka Senggani pelan.


" Aku tidak dapat berbuat apa-apa , sejak kutahu bahwa nyawa keluarga ku menjadi tanggungan , diriku tidak ingin sesuatu yg buruk terjadi pada mereka , karena kecerobohanku,.." jawab Ki Tambi.


" Padahal sejak aku berada di Surabaya ini, aku telah mengetahui pengkhianatan mu itu , Ki,.." seru Raka Senggani.


" Hahhhh,.."


Ki Tambi sangat terkejut mendengarnya, ia tidak menyangka bahwa dirinya telah lama diketahui berkhianat.


" Dari pemberitahuan Senopati Bima Sakti lah , kami tahu segala perbuatanmu itu, Ki,.. walaupun kami tidak terlalu mempercayainya , tetapi setelah Senopati Bima Sakti mengatakan tidak dapat mengorek apa -apa darimu membuat kami menjadi yakin bahwa dirimu memang telah berkhianat,.." ungkap Ki Lintang Gubuk Penceng.

__ADS_1


Ia ikut menernagkan kepada Ki Tambi, bahwa pengkhianatan nya itu sudah lama di ketahui, walau pun mereka belum dapat mengambil tindakan sampai mengetahui dimana keluarga nya di tahan oleh Tumenggung Waturangga.


Setelah berhasil mengamankan keluarga Ki Tambi barulah mereka akan meminta pertanggungjawaban dari Ki Tambi, setelahnya.


Mengapa dirinya tidak mau berterus terang saja, begitulah penjelasan dari Ki Lintang Gubuk Penceng.


Dan dari ucapan Lurah prajurit sandi Demak ini membuat kepala Ki Tambi sampai tertunduk, serasa ada beban berat yg menghimpit pundak nya.


" Maafkan atas semua kesalahan ku, dan yg terbesar adalah ketidak jujuranku kepada kalian semua,..diriku memang terlalu bodoh atau memang telah kena pengaruh dari Tumenggung Waturangga, jadi sekali lagi diriku minta maaf,.." ucap Ki Tambi.


Ia tidak mampu memandangi wajah wajah yg ada di dekatnya itu, hatinya terasa seperti tengah di hadapan persidangan menunggu keputusan yg akan di jatuhkan kepada nya.


" Kami , termasuk Senopati Bima Sakti tidak akan mengambil keputusan terhadap semua kesalahan mu itu, biarlah Kanjeng Gusti Sultan Demak sajalah yg akan mengambil keputusan , hukuman apa yg pantas di jatuhkan terhadap mu, Ki Tambi,.." terang Ki lintang Gubuk Penceng.


Ia menginginkan agar prajurit sandi Demak ini dapat melakukan pengobatan kepada Raka Senggani, Senopati Sandi Demak ini.


Karena Bagaimana pun juga , ia yg mengerti tentang racun pelumpuh syaraf yg telah mengenai Senopati Bima Sakti tersebut.


Malam itu , Ki Tambi memulai melakukan pengobatan terhadap Senopati Bima Sakti.


Ia menjelaskan kepada Senopati Sandi Demak ini agar sampai besok pagi melakukan puasa agar isi di dalam perutnya dapat di keluarkan dengan ramuan obat yg akan di berikan nya kepada Raka Senggani.


Meski cukup berat, karena sejak pertsrungan itu , ia belum makan sesuatu apa pun juga dan membuatnya semakin lemah, tetapi ada rasa percaya dengan apa yg telah di katakan oleh Ki Tambi ini, bila ia akan berbuat sebaliknya tentu berpikir dua kali untuk menghadapi para prajurit sandi Demak yg ada disitu.


Dan ramuan yg telah selesai di buat oleh Ki Tambi , maka ramuan tersebut langsung di berikan kepada Raka Senggani untuk diminum.


Meskipun rasanya terasa pahit, tetapi akhirnya berhasil ia habiskan semuanya tanpa tersisa. Tidak lama setelahnya Raka Senggani akhiranya tertidur pulas, dan kali ini jalan pernafasan nya nampak teratur.


Ki Lintang gubuk Penceng mengajak Ki Tambi keluar gubuk meninggalkan senopati Sandi Demak yg tengah tertidur.


Ki Lintang gubuk Penceng kemudian menceritakan kepada Ki Tambi bahwa tugas yg di perintahkan oleh Kanjeng Sinuwun , Sultan Demak telah berhasil dilaksanakan dengan tuntas dan baik hasilnya.


Memang Ki Tambi amat teriris hatinya mendengarkan penuturan dari Lurah prajurit sandi Demak ini, karena dirinya telah melakukan suatu kesalahan yg cukup fatal dengan berkhianat.


Jadi lah, Ki Lintang Gubuk Penceng dan Ki Tambi bergabung dengan para prajurit sandi Demak yg lainnya.


Mereka pun kemudian ber cerita mengenai berbagai masalah termasuk dengan tugas kali ini. Ada rasa kebanggaan di hati mereka karena telah berhasil melaksanakan perintah dari Kanjeng Gusti Sultan Demak, diantara yg paling senang adalah Gajah Arak.


Karena ia tahu kemampuan dari Tumenggung Waturangga ini.


" Kalau hanya berhadapan dengan Tumenggung Kundara atau pun yg lainnya, akan masih lebih mudah, karena mereka tidak memiliki hubungan dengan para pejabat kadipaten yg lainnya,.." jelas Ki Lintang Sapi Gumarang.


Pada saat malam semakin larut, para prajurit sandi Demak ini kemudian satu persatu meninggalkan tempat itu.


Mereka kembali ke tempat tugas nya masing masing.


Hanya yg tinggal adalah para Lurah prajurit sandi Demak saja.


Dalam sepekan , Senopati Bima Sakti berada di trowulan, barulah ia meninggalkan tempat itu dan akan kembali ke Demak untuk melaporkan hal yg telah terjadi di wilayah bang Wetan.


Rupanya setelah selesai dengan perawatan di dapatnya dari Ki Tambi, tubuh Senopati Demak ini merasa lebih baik lagi, semua pengaruh dari racun pelumpuh syaraf, telah hilang tidak meninggalkan pengaruh lagi.


Karena selain ia menerima pengobatan Ki Tambi, Raka Senggani juga membiasakan meminum air dari cincin yg di dapatnya dari Sultan Demak.


Hasilnya sangat memuaskan untuk Raka Senggani. Dan meninggalkan Ki Tambi bersama para Lurah Prajurit sandi Demak untuk di bawa ke hadapan Kanjeng Gusti Sultan Demak di Kotaraja.


Raka Senggani sendiri berjalan sendiri menuju ke Madiun dimana ia meningglakan kudanya, si Jangu.


Setibanya di Kadipaten Madiun , Senopati Bima Sakti ini di sambut dengan sangat gembira oleh Kanjeng Patih Haryo Winangun.

__ADS_1


" Apa khabarnya , anakmas Senopati,..?" tanya Patih Haryo Winangun.


" Alhamdulilah, Paman Patih,..sangat baik,.." jawab Raka Senggani.


Ia merasa sangat senang sekali melihat keadaan dari Raka Senggani.


Segeralah mereka mengobrol sampai mereka lupa waktu. Dan malam itu Senopati sandi Demak ini bermalam di kota Madiun.


Selama dua hari ia berada di kota Madiun baru selanjutnya kembali pulang menuju ke Kotaraja Demak untuk melaporkan keadaan yg telah terjadi.


Dalam beberapa hari barulah ia sampai di Kotaraja Demak. Dan kali ini ia menuju rumah dari Tumenggung Bahu Reksa, ada sesuatu yg ingin ia tanyakan kepada orang tua itu.


Adalah Tumenggung Kepercayaan dari Sultan Demak II ini yg gantian merasa senang setelah melihat kehadiran anak angkatnya kembali di Kotaraja Demak.


" Syukurlah,..Ngger, akhirnya kau selamat bertugas dari bang Wetan," ucap Tumenggung Bahu Reksa.


" Sama -sama paman, bagaimana keadaan di Kenanga,..?" tanya Raka Senggani.


" Baik, ngger, keluargamu semua di desa Kenanga , dan keinginan mu nampaknya tidak akan lama lagi,.." sahut Tumenggung Bahu Reksa.


" Benarkah hal itu, paman,..?" tanya Raka Senggani penasaran.


" Benar , Ngger,..lamaran mu ternyata telah di terima oleh keluarga dari Ki Jagabaya , " jawab Tumenggung Bahu Reksa.


Hati Senopati Bima Sakti ini menjadi tenang setelah mendengar penuturan dari Orang tua angkatnya itu.


Ia merasa sangat senang sekali karena lamaran nya telah di terima oleh keluarga Jagabaya desa Kenanga.


" Ngger,..hanya Paman meminta mereka untuk segera mempercepat pernikahannya,.." ucap Tumenggung Bahu Reksa.


" Mengapa begitu, Paman Tumenggung,..?" tanya Raka Senggani.


Hati Senopati sandi Demak ini agak terkejut setelah Tumenggung Bahu Reksa mengatakan kepada nya bahwa pernikahannya akan di percepat.


" Mengapa harus di percepat,.. Paman,..?" tanya Raka Senggani heran.


Kemudian Tumenggung Bahu Reksa menceritakan tentang keadaan dalam Kotaraja Demak , ia mengatakan bahwa sebentar lagi Sultan Demak akan membernagkatkan armada pasukan Demak ke Lor, dan sepertinya itu tidak dapat di tunda lagi.


Jadi sudah sewajarnya jika memang dirimu harus mmepercepat langkah baik ini.ucap Tumenggung Bahu Reksa.


Raka Senggani membenarkan ucapan dari Tumenggung Bahu Reksa , orang tua angkatnya itu. Ia merasa sudah saatnya untuk menikah.


" Jika memang demikian , kapan kiranya waktunya,..paman,..?" tanya Raka Senggani lagi.


" Selepas panen kali ini,..Ngger,.." jawab Tumenggung Bahu Reksa.


" Sehabis panen kali ini,..bukankah waktunya sudah sangat dekat, paman,..?" tanya Raka Senggani.


Tumenggung Bahu Reksa mengiyakan dan hal tersebut memang telah di setujui oleh pihak keluarga Jagabaya.


Dan Tumenggung Bahu Reksa juga mengatakan kepada Raka Senggani akan meminta kepada Kanjeng Sinuwun , Sultan Demak untuk memberi waktu istrahat setelah bertugas dari wilayah timur.


Tumenggung Bahu Reksa kemudian menanyakan hal yg telah terjadi di wilayah timur, dengan tugas yg di embannya dari Kanjeng Gusti Sultan Demak tersebut.


Raka Senggani kemudian menceritakan semua yg telah dialaminya serta keadaan dari wliayah Surabaya dimana ia sempat menjalankan perintah dari Kanjeng Gusti Sultan Demak.


Raka Senggani pun menyebutkan bahwa Tumenggung Bahu Reksa mengetahui tugas yg di perintahkan oleh Kanjeng Sinuwun itu.


" Memang benar, Ngger,.. Paman mu sebenarnya mengetahuinya,.. namun untuk membuat mu lebih penasaran biarlah , dirimu sendiri yg akan melihatnya tanpa harus ada bocoran dari pamanmu , guna melatih naluri prajurit sandi mu,.." jelas Tumenggung Bahu.

__ADS_1


__ADS_2