Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 28 Perang Tanding di Bukit Tuntang. bag kedua.


__ADS_3

Raka Senggani yg kembali ke tempat penginapan nya di desa Lopait langsung menuju ke bilik nya.


Ia merasa bahwa di daerah Rawa Pening ini telah banyak kehadiran orang -orang yg ingin memperebutkan dua benda pusaka peninggalan Kerajaan Majapahit itu.


Dalam biliknya, kembali ia melakukan semedi guna mencari keberadaan dari kedua benda tersebut.


Sebelum ia melakukan nya, Raka Senggani bermohon kepada yg Maha kuasa agar di beri petunjuk.


Dan benar saja, ketika ia telah memasuki laku, bekas Senopati Sandi Demak ini mampu melihat gemerlap nya cahaya yang keluar di dekat nya, sungguh benda tersebut tidak terlalu jauh dari dimana ia berada.


Hahh, Apakah Pusaka Kyai Nogo Sosro dan Sabuk Inten itu berada disini di desa Lopait ini, membathin Raka Senggani.


Ia pun segera menyudahi lakunya, tidak sampai tengah hari, Raka Senggani kembali keluar dari bilik nya.


Dan kali ini ia menggunakan topi caping guna menutupi wajahnya, selain saat itu memang hari agak panas, apalagi di tepian Rawa yg cukup luas ini, dirinya ingin tidak terlalu di ketahui oleh orang lain.


Senopati Brastha Abipraya berjalan -jalan di sepanjang Rawa yg banyak menyimpan cerita itu.


Hehh, sebaiknya aku ke tanah Perdikan Banyu biru, apakah disana telah terjadi kehebohan atas hadirnya kedua pusaka itu, berkata lah dalam hati Raka Senggani.


Ia berjalan cepat menuju ke tanah Perdikan Banyu biru.


Sementara itu di Tanah Perdikan Banyu biru sendiri, terlihat sepasang muda mudi tengah berjalan jalan seperti yg dilakukan oleh Raka Senggani.


Kedua orang yg tampak nya lagi sedang bergembira ini menyusuri tepian Rawa.


" Kakang, kapan kiranya gurumu itu akan datang,.?" tanya sang Gadis.


Sambil menatap lekat ke arah perempuan yang berada di sebelah nya, si pemuda lantas menjawab,.


" Apakah dirimu memang mengharapkan Guru untuk datang,..?"


Yang lelaki balik bertanya kepada yg perempuan.


" Ahh, apakah salah jika diriku bertanya demikian ,.. Kang,..?" tanya si gadis lagi.


" Tidak, tidak ada yg salah atas pertanyaan mu, tetapi kalau menurut kakang,... sebaiknya lah,...!"


Si pemuda tersebut tidak melanjutkan ucapannya dan membuat si gadis itu bertambah heran.


" Sebaiknya apa,.Kang,..apakah kakang menyembunyikan sesuatu ,..?" tanya nya .


" Ahh, jangan cemberut dahulu, kakang tidak menyembunyikan sesuatu, hanya saja ,..Kakang tidak berharap Guru datang,..!" sahut Pemuda itu.


" Hahhh,..!"


Seru Gadis cantik ini terkejut , ternyata pemuda yang bersama nya ini tidak menginginkan gurunya datang.


" Kakang kok aneh,..di saat seperti ini malah berharap gurumu itu tidak datang, apakah kakang sanggup menghadapi si Tua Gila itu,.?" tanya Gadis cantik ini lagi.


Sambil tersenyum pemuda itu menjawab,..


" Aku lebih senang berduaan saja dengan mu,..!" ucapnya pelan.


" Ahh,.Kakang pintar nya cuma merayu ,.!" sahut si gadis.


Ia terus berjalan menuju arah ke bukit yg ada di tanah Perdikan Banyu biru,.tempat itu sangat dekat ke tepian Rawa ,. dimana pemandangan nya pun sungguh elok untuk di pandang mata.


Dari atas bukit yg tidak terlalu tinggi , siapa pun dapat menatap luasnya Rawa yg menyimpan misteri ini.


Konon dahulu ada sebuah Naga yg cukup besar yg bersemayam disana.


Dan tidak jauh dari kedua muda mudi yang tampaknya sedang kasmaran ini, nampak pula seseorang berjalan sangat cepat menuju induk Perdikan Banyu biru .


Ia adalah Senopati Brastha Abipraya, yg ingin menemui Ki Ageng Banyu Biru.


Saat itu menjelang sore ketika Raka Senggani telah berada di kediaman Ki Ageng Banyu Biru.

__ADS_1


Penguasa tanah Perdikan ini sangat senang sekali atas kedatangan dari Senopati Brastha Abipraya ini.


" Sungguh,..mimpi apa Aku semalam, atau memang suara burung ku sedari tadi berkicau adalah pertanda akan kedatangan tamu agung dari Demak,..!" seru Ki Ageng Banyu Biru sambil tersenyum.


" Ahh, Ki Ageng terlalu melebih-lebihkan saja, aku kali ini memang berniat singgah kemari untuk meminta sekedar wejangan dari Ki Ageng,..!" kata Raka Senggani.


" Seorang Senopati tangguh meminta nasehat dariku, apa tidak salah dengar Aku ini,..!" seru Ki Ageng Banyu Biru.


Raka Senggani kemudian mengatakan maksud kedatangan nya ke Banyu Biru ini, ia menjelaskan bahwa saat ini dirinya sedang tidak bertugas di Demak lagi, namun ia memang memerlukan datang ke Banyu Biru guna mengetahui apakah memang benar telah banyak orang orang persilatan yg singgah di tanah Perdikan ini.


Ki Ageng Banyu Biru kemudian menjawab bahwa sejak sepekan terakhir ini memang beberapa orang asing telah hadir , akan tetapi ia tidak mengetahui apakah mereka adalah para tokoh persilatan atau bukan.


" Yang jelas memang orang asing yg datang disini semakin meningkat, ada apa sebenarnya , Angger Senopati,..?" tanya Ki Ageng Banyu Biru.


Raka Senggani tidak langsung menjawab pertanyaan Ki Ageng Banyu Biru ini, ia memang harus memastikan apakah pembicaraan mereka itu tidak di dengar oleh orang lain.


" Apakah ada sesuatu yg sangat rahasia ,.Ngger,..?" tanya Ki Ageng Banyu Biru lagi.


Ia jadi penasaran tatkala Senopati Brastha Abipraya tidak langsung menjawab pertanyaan nya tadi.


" Benar Ki Ageng,..ini adalah sesuatu yang sangat rahasia,.namun anehnya telah banyak orang yang tahu akan berita ini,..!" seru Raka Senggani.


Ki Ageng Banyu Biru tampak termenung sejenak mendengar penuturan dari Senopati Brastha Abipraya itu.


Rahasia,..tetapi telah banyak orang yang tahu,..ahh itu bukan rahasia namanya, berkata dalam hati Ki Ageng Banyu Biru.


Tetapi jika bukan rahasia tentu mereka yg berada di Banyu Biru ini tentu sudah tahu akan hal itu, katanya lagi dalam hati.


Merasa tidak mendapatkan jawabannya,.Ki Ageng Banyu Biru lantas bertanya,..


" Sebenarnya rahasia apakah itu , Angger Senopati,..?" tanya nya kepada Raka Senggani.


Yang di tanya langsung menjawab. Bahwa saat ini Demak tengah kehilangan dua benda pusaka yang menjadi Piyandel, yaitu Kyai Nogo Sosro dan Sabuk Inten.


" Lalu apa hubungannya dengan Banyu Biru ini ,.. Angger Senopati,..?" tanya Ki Ageng Banyu Biru semakin penasaran.


Alangkah terkejutnya pemimpin tanah Perdikan Banyu Biru setelah mendengar penjelasan dari Raka Senggani,.ia memang sudah mengenal dengan Senopati Brastha Abipraya ini,.meskipun tidak terlalu akrab, tetapi sepak terjang pemuda asal desa Kenanga ini pernah menggegerkan tlatah Pajang bahkan sampai ke Demak ketika dirinya membantu Ki Gede Mantyasih mengusir para perusuh yg ingin mengambil sebuah benda pusaka dari puncak gunung Tidar beberapa waktu yang lalu.


Sehingga ia pun sangat mempercayai omongan pemuda yang ada dihadapan nya ini.


" Apakah kejadian di Mantyasih akan terjadi pula disini,.Angger Senopati,..?" tanya Ki Ageng Banyu Biru.


" Kalau menurutku tidak demikian Ki Ageng, ini akan menjadi perseteruan kalangan persilatan saja yang ingin memperebutkan kedua benda pusaka tersebut,..yg mereka yakini di tangan Begawan Kakung Turah,..!" sahut Raka Senggani.


" Meskipun demikian , kami harus bersiap dengan segala kemungkinan nya, jika mereka tidak berhasil menemukan nya , nantinya mereka akan melampiaskan nya kepada para penduduk desa ini dan di sepanjang Rawa Pening ini,.!" ungkap Ki Ageng Banyu Biru.


Raka Senggani tidak memberikan komentar apa pun atas tindakan yang akan di ambil pemimpin tanah Perdikan Banyu Biru itu.


Ia hanya ingin mengetahui apakah ada dari para pemburu pusaka yang berada di tanah Perdikan Banyu Biru itu saja.


Saat menjelang malam tiba, Senopati Brastha Abipraya mohon pamit kepada Ki Ageng Banyu Biru, ia akan kembali ke desa Lopait yg berada di seberang dari Rawa Pening ini.


Perlahan Raka Senggani meninggalkan kediaman dari Ki Ageng Banyu Biru, ia berjalan menyusuri jalanan desa.


Namun tiba tiba saja , matanya yang tajam melihat dua orang yg sangat di kenalnya berjalan menuju ke arah nya.


Hehh, mereka ,..untuk apa mereka berdua berada disini, apakah mereka ingin memperebutkan kedua pusaka itu, sebaiknya aku menghindarinya,.. berkata dalam hati Raka Senggani.


Senopati Brastha Abipraya ini pun langsung pergi dari tempat itu dengan sangat cepat, ia melesat menuju arah utara meninggalkan dua orang yg tengah berjalan menuju ke pedukuhan induk tanah Perdikan Banyu Biru itu.


" Kang,.sepertinya tadi aku melihat seseorang tadi berdiri di sini,..kemana perginya,..?" tanya perempuan cantik kepada lelaki yang berada di samping nya.


" Ahh, nanti perasaan mu saja, sedari tadi aku tidak melihat siapa pun berada disini , sudahlah kita tinggalkan tempat ini, sebelum malam semakin larut,.!" sahut lelaki itu.


Perempuan cantik itu pun menuruti ajakan dari teman nya ini meskipun hatinya masih penasaran akan orang di lihatnya samar samar tadi.


Jelas tadi itu adalah bayangan seseorang yg tengah berdiri ,.kemana perginya orang itu,.berkata dalam hati perempuan tersebut.

__ADS_1


Sementara itu, Raka Senggani yg telah jauh meninggalkan pedukuhan induk tanah Perdikan Banyu Biru mulai memperlambat larinya.


Ia mendongakkan kepalanya ke atas, di lihatnya sang Dewi malam telah menunjukkan wajah indahnya menerangi keadaan di sekitar tempat itu.


Dua malam lagi adalah malam purnama,.apakah ada sesuatu yg akan terjadi d desa Lopait, bertanya dalam hati Raka Senggani.


Keindahan malam ini membuat dirinya terkenang saat masih kecil dahulu. Dimana ia bermain dengan anak seusia nya jika malam terang bulan.


Ia terus mengayunkan langkah nya dengan perlahan sambil menikmati panorama yang tersaji di hadapan nya.


Namun pendengaran yang cukup tajam, tiba-tiba mendengar sesuatu yang bergerak cepat seperti tengah berlari. Dan itu tidak jauh dari diri nya tadi berdiri.


Apakah orang ini adalah Begawan Kakung Turah , bertanya dalam hati Raka Senggani. Sesaat ia melihat ada kelebatan seseorang yg tengah berlari mengarah ke desa Lopait.


Gerakan orang tersebut sangat ringan seperti sedang terbang saja.


Satu hal yang membuat Senopati Brastha Abipraya menjadi sangat kagum dan meyakini bahwa orang itu adalah Begawan Kakung Turah, di lihatnya orang tersebut mampu melesat melewati Rawa Pening tanpa menyentuh air, seolah terbang diatas rawa yg cukup luas inj.


Sungguh tinggi ilmu peringan tubuh orang ini, membathin Raka Senggani.


Ia pun segera bergerak mengejar orang yang tengah berlari diatas air itu.


Raka Senggani pun melesat dengan cepat bagai terbang diatas Rawa yg berair jernih itu.


Pantulan cahaya rembulan membuat air di Rawa ini berkilauan .


Dan diatasnya ada dua orang manusia yang tengah melayang, saling mempertontonkan kemampuan nya masing -masing dalam hal ilmu peringan tubuh.


Sayang , pada malam itu tidak ada orang yg melihatnya , kalau tidak tentu mereka akan mengira bahwa ada dua makhluk halus yang tengah berkejaran.


Karena lesatan lesatan keduanya begitu cepat tanpa menimbulkan suara.


Sebentar saja keduanya telah mampu menyebrang.


Raka Senggani kehilangan jejak orang yang di burunya ini ketika memasuki desa Lopait.


Ia pun langsung menuju ke tempat dimana ia menginap. Namun anehnya, ketika ia mengarah ke tempat tersebut, sang Senopati melihat lagi orang yang tadi di kejarnya itu pun mengarah kesana.


Hei, siapakah sesungguhnya orang ini, itulah yang menjadi pertanyaan dari Senopati Brastha Abipraya ini.


Dengan sangat hati -hati ia membuntuti terus langkah orang yang ada dihadapan nya ini.


Hingga sampai ke tempat dimana ia menginap. Raka Senggani melihat sosok orang tersebut masuk ke dalam bilik tepat di sebelah biliknya .


Senopati Brastha Abipraya pun buru-buru masuk ke dalam bilik nya .Ia langsung mengetrapkan ilmu pendengaran nya untuk mengetahui siapakah orang yang tengah di buntuti nya tadi.


Maka ia pun segera mengatur nafasnya agar tidak terdengar pada bilik sebelah.


" Selamat datang Guru,..kami berdua tidak dapat menyambut kedatangan guru tadi,..!" ucap salah seorang kepada yg baru datang itu.


" Tidak apa -apa,. bagiamana penyelidikan kalian, apakah memang kedua benda pusaka itu tersebut memang berada disini,..atau berada di tempat lain,..?" tanya orang yang baru tadi.


" Sepertinya kami tidak mampu untuk melihatnya Guru,..untuk itulah kami tadi pun tidak menyambut kedatangan guru, sampai malam ini kami belum dapat memastikan apakah benar, Kyai Nogo Sosro dan Kyai Sabuk Inten itu berada disini,..!" jawab orang yang di panggil murid tersebut.


" Jadi , apa kerja kalian selama berada disini , bukankah Aku telah menyuruh kalian untuk menyelidiki keberadaan dari kedua pusaka tersebut, kalau urusan dengan si Tua Gila itu serahkan padaku,..percuma kalian ku kirim kemari terlebih dahulu,..!" seru orang yang dipanggil Guru itu.


" Maaf sebelumnya Guru,..pandangan mata bathin kami berdua terhalang oleh pagar ghaib yang tidak dapat kami tembus,..sepertinya Begawan Kakung Turah ini telah memagarinya,.. Guru,..!" sahut yg seorang lagi.


" Ahhh, kalian banyak alasan saja,..kalau begitu malam ini kalian berdua bantu aku ,.kita tembus pagar ghaib yang telah di pasang oleh si Tua Gila itu,..dia pikir hanya dirinya saja yang memiliki ilmu setinggi langit,..cepat persiapkan perdupaan, kita lakukan malam ini,..!" terang orang yang di panggil guru itu.


" Baik, Guru,..!" jawab keduanya.


Dan malam itu juga , ketiga orang yg berada di bilik sebelah dari bilik yg di tempati oleh Raka Senggani menjalankan sebuah laku.


Ketiganya dengan secara bersama sama melakukan semedi guna mengetahui keberadaan dari dua buah pusaka yang menjadi sangat ke sohor setelah hilang dari bangsal perbendaharaan kerajaan Demak.


Tanpa di ketahui oleh ketiganya sepasang mata mengintai kegiatan mereka itu. Dialah Raka Senggani.

__ADS_1


Yang amat penasaran dengan sosok orang yang baru datang itu.


__ADS_2