
Meskipun ketiga orang itu masih baru saja berkenalan akan tetapi sudah terlihat keakraban yg terjadi.
Memang dari sisi usia ketiga nya tidak terpaut jauh.
Antara Raka Senggani dengan Arya Radhepara dan Japra Witangsa itu.
Jadi pembicaraan ketiganya dapat berjalan lancar.
" Jadi kalian bertiga setelah dari Madiun akan langsung kembali ke Pajang,..?" tanya Arya Radhepara.
" Yahh,..kami sudah agak lama meninggalkan kampung halaman,. rasanya ada rasa rindu ingin segera cepat kembali,..". jawab Raka Senggani.
Memang Raka Senggani merasa bersyukur kali ini,.. urusan nya di Madiun ini tampak nya akan lebih cepat selesainya.
Ia memang merasa sudah sebaiknya untuk kembali ke Kenanga.
Dan malam Itu mereka habiskan untuk mengobrol sampai menjelang fajar menyingsing.
Jika teman ngobrol itu pas,..terasa waktu cepat berlalu,..dan ketika ayam jantan berkokok untuk pertama kalinya,
barulah ketiganya berusaha memejamkan matanya walau hanya sekejap saja.
Karena pada saat waktu subuh tiba,..Raka Senggani dan Japra Witangsa terbangun dan menjalankan perintah dari yg Maha kuasa meski suasana di tempat itu terasa sangat dingin.
Namun tetap saja mereka menjalankan ibadah sholat subuh itu.
Sedangkan tiga orang perempuan sibuk di dapur menyiapkan makanan.
Setelah selesai semua orang yg ada di dalam rumah itu makan bersama termasuk Sekar Kedaton.
Setelah terang tanah,..Senopati Pajang itu mengajak berangkat dari dukuh Ringin itu untuk kembali ke Madiun.
Sekar Kedaton pun menyetujui nya,..dan sebelumnya ia telah berpamitan kepada Nyi Wiyatsih dan kedua orang anaknya itu.
Terlihat wajah Arya Radhepara yg sedih akan kepergian dari kekasihnya itu.
" Apakah kamu akan kembali lagi kemari,..Kiranti,..?" tanyanya.
" Secepatnya diriku akan kembali kemari dan jika pun diriku yg tidak dapat kemari,..Aku harap kakang Dhepara lah yg datang ke Madiun,.." jawab Rara Ayu Sekar Kiranti.
" Baik,..baik,..nanti kakang yg akan ke Madiun,.." sahut Arya Radhepara.
" Marilah Senopati ,..kita bernagkat,.." ajak Rara Ayu Sekar Kiranti kepada Raka Senggani.
" Mari Gusti ayu,.." ucap Raka Senggani.
Sedangkan Dewi Dwarani dan Japra Witangsa telah terlebih dahulu berangkat menuju ke kediaman dari Ki Bekel.
Kedua orang itu menyampaikan pesan Senopati Pajang untuk berpamitan sekaligus memberitahukan bahwa yg mereka csri itu telah mereka temukan.
Senopati Pajang dan Sekar Kedaton itu kemudian meningglkan kediaman dari Nyi Wiyatsih itu.
Dan ketika keduanya sampai di rumah Ki Bekel dukuh Ringin itu keduanya kemudian berhenti dan berpamitan kepada Ki Bekel.
" Apakah den ayu tidak singgah terlebih dahulu di gubuk kami ini,.?" tanya Ki Bekel.
" Tidak Ki Bekel,..terima kasih,..karena kami memang tidak ingin singgah lagi,.berhubung kakang Senopati ini ingin segera kembali,.." sahut Sekar Kedaton.
" Apakah memang demikian Angger Senggani,..?" tanya Ki Bekel lagi.
" Memang demikian lah Ki Bekel,..dan kami berterima kasih sebelumnya karena Ki Bekel telah banyak membantu.." jawab Raka Senggani.
" Kami pamit Ki Bekel,.." lanjut Raka Senggani lagi.
" Silahkan,..silahkan,..semoga selamat sampai di Madiun," sahut Ki Bekel.
" Terima kasih Ki Bekel,..mari,.." ucap Raka Senggani lagi.
Kemudian keempatnya segera meninggalkan pedukuhan Ringin itu dan menuju ke Madiun.
Seharian penuh mereka berjalan kaki,.. akhirnya sampailah keempatnya di kota Madiun.
Raka Senggani terus mengantarkan Rara Ayu Sekar Kiranti ke dalam kaputren dengan di temani oleh Dewi Dwarani. Sedangkan Japra Witangsa langsung singgah di istana kepatihan.
Setelah mengantarkan Sekar Kedaton itu sampai ke kaputren.
Keduanya kembali ke istana Kepatihan. Saat malam tiba menyelubungi kota Madiun,..Patih Haryo Winangun segera mengajak ketiganya untuk makan bersama sekaligus ia ingin mendengar kisah dan cerita bagaimana Senopati Pajang itu berhasil menemukan Sekar Kedaton itu.
Patih Haryo Winangun dengan tenang mendengarkan semua kisah yg telah diterangkan oleh Raka Senggani itu.
Dan sang Senopati Pajang itu tidak meninggalkan apa pun yg telah terjadi di Pedukuhan Ringin tersebut.
Semuanya di sebutkannya dengan sangat jelas.
Sehingga Patih Haryo Winangun dapat mengerti apa sebab kepergian dari Sekar Kedaton itu.
Ia kemudian menanyakan apakah Senopati Pajang itu akan langsung kembali setelah Putri Sekar Kedaton itu di temukan.
" Apakah anakmas Senopati akan segera kembali ke Pajang,. ?" tanya Patih Haryo Winangun.
__ADS_1
" Kami berharap memang demikian Paman Patih,.karena kami sudah agak lama meninggalkan desa Kenanga,.dan kami bertiga sudah sangat rindu,.." jawab Raka Senggani.
" Baiklah jika memang demikian,..akan tetapi besok anakmas Senopati harus menghadap Kanjeng Gusti Adipati terlebih dahulu,..baru setelah nya dapat kembali ke Pajang,. " jelas Patih Haryo Winangun.
" Baik,..paman Patih,..besok kami akan menghadap Kanjeng Gusti Adipati sekaligus mohon pamit,.." ucap Raka Senggani.
Dan malam itu ketiganya tinggal di istana kepatihan.
Besok harinya ketika matahari telah menggatalkan kulit, . ketiganya menghadap Kanjeng Adipati Madiun di istananya dengan di temani oleh Patih Haryo Winangun.
Setelah masuk dalam keraton Madiun,.Raka Senggani dan Japra Witangsa serta Dewi Dwarani melihat Putri Sekar Kedaton itu telah berada disana.
" Hamba,.. menghaturkan sembah Kanjeng Gusti Adipati,.." ucap Patih Haryo Winangun.
Dan hal itu diikuti oleh Raka Senggani, Japra Witangsa dan Dewi Dwarani.
" Kami atas nama Madiun mengucapkan terima kasih yg banyak kepada Senopati Brastha Abipraya yg telah berhasil menemukan Putri kami ini,..Rara Ayu Sekar Kiranti ini ," terdengar kata kata dari Adipati Madiun.
" Dan atas keberhasilan nya itu ,..kami akan memberikan hadiah kepada Senopati Brastha Abipraya dan teman -teman nya ini,..sebagai ucapan terima kasih kami..yg sangat senang setelah Rara kiranti kembali lagi disini,.." ucap Adipati Madiun itu.
" Apakah dirimu bersedia menerima nya Senopati Brastha Abipraya,..?' tanya Adipati Madiun lagi.
" Hamba Kanjeng Adipati,.. walaupun sebenarnya usaha kami ini tidak pantas untuk menerima hadiah dsri Kanjeng Gusti Adipati itu,.." jawab Raka Senggani.
" Mengapa tidak pantas,.. Senopati Brastha Abipraya,..?" tanya Adipati Madiun lagi.
" Hamba Kanjeng Adipati,..karena sudah sepantasnya lah kami sebagai kawula menjalankan perintah dari Kanjeng Adipati,.." jelas Raka Senggani.
Namun Sang Adipati tetap bersikukuh untuk memberikan hadiah itu kepada ketiganya.
Dan hadiah itu di berikan di Istana Kepatihan sesaat ketiganya akan kembali pulang.
Setelah dari dalam keraton Madiun,..Raka Senggani dan Japra Witangsa serta Dewi Dwarani kembali lagi ke istana Kepatihan.
Disana Patih Haryo Winangun memberikan beberapa uang dan perhiasan pemberian dari Kanjeng Adipati Madiun.
Memang pemberian dari Kanjeng Adipati Madiun itu cukup banyak sehingga membuat terkejut Japra Witangsa dan Dewi Dwarani
" Apakah hari ini,.. anakmas Senopati akan kembali ke Pajang,..?" tanya Patih Haryo Winangun.
" Benar Paman Patih,..kami akan segera kembali mumpung hari belum terlalu sore,.." jawab Raka Senggani.
" Baiklah,..paman tidak dapat menahan kalian lagi disini jadi kami ucapkan selamat jalan dan terima kasih atas segala bantuannya,.. anakmas Senopati,.." ungkap Patih Haryo Winangun.
" Sama -sama Paman Patih,..kami berangkat,.. selamat tinggal,.." ucap Raka Senggani.
Kemudian Senopati Pajang itu segera meninggalkan istana kepatihan dengan diikuti oleh Japra Witangsa dan Dewi Dwarani.
" Kakang Senggani,.. pemberian dari Kanjeng Adipati Madiun itu terlalu banyak,..apakah kita sudah selayaknya mendapatkan hal itu,..?" tanya nya kepada Raka Senggani.
" Syukuri saja,.. Rani,..mungkin yg Maha Kuasa telah menentukan nya,..yg ada kita hanya dapat menerimanya saja,..kan tidak mungkin kits menolak pemberian Kanjeng Adipati itu,.". jawab Raka Senggani.
Japra Witangsa yg mendengar ucapan dari Dewi Dwarani itu segera berkata,..
" Rezeki pantang untuk di tolak,..apalagi pemberian dari seorang Adipati,.."sahut Putra Ki Jagabaya itu.
Namun bagi Senopati Pajang,..itu adalah hal yg biasa ,..karena umum nya seorang penguasa akan memberikan hadiah yg sangat banyak kepada sesorang yg telah berhasil membantunya bahkan terkadang di luar dari kebiasaan jika memberikan hadiah.
Jadi ia tidak terlalu mempermasaalahaknya.
Ia terus saja berjalan saja meninggalkan wilayah Madiun itu. Walaupun mereka telah cukup jauh meninggalkan kota kadipaten Madiun itu ketika hari menjelang malam,..ketiganya beristrahat di sebuah ara-ara di dekat sebuah hutan.
Ketiganya membuka bekal yg mereka terima dari istana kepatihan itu. Disana mereka menghabiskan malam di tempat itu.
Esok harinya mereka melanjutkan lagi perjalanan nya menuju ke desa Kenanga.
Ketika mendekati gunung Lawu di sebuah pedukuhan kecil,.. ketiganya mendengar ucapan dari para penduduk nya bahwa ada makhluk jadi-jadian yg sering memangsa hewan ternaknya.
Termasuk sapi,..lembu,..kambing bahkan juga ayam.
Kejadian itu cukup meresahkan penduduk pedukuhan tersebut.
" Bagaimana Kang,..apakah kita akan menginap di pedukuhan ini,.untuk mencari tahu siapa sebenarnya pelaku nya itu,..?" tanya Dewi Dwarani.
" Ya,..adi Senggani,..memang sebaiknya kita menunggu sampai malam di pedukuhan ini..guna mengetahui siapa sebenarnya pemangsa hewan-hewan ternak itu,..bukankah Gunung Lawu sudah tidak terlalu jauh lagi dari sini,.." ucap Japra Witangsa.
" Jika kalian berdua memang telah sepakat,.maka kita. akan tetap disini sampai malam menjelang,. " jawab Raka Senggani.
Ketiganya saat itu masih berada di sebuah warung yg ada di pedukuhan itu
Dari beberapa pengunjung warung itulah mereka mendengarkan cerita tentang adanya makhluk jadi -jadian yg memangsa hewan ternak para penduduk itu.
" Bi,..apakah makhluk itu setiap malam keluar memangsa hewan ternak disini,..?" tanya Raka Senggani kepada pemilik warung itu.
" Tidak tentu,..den,..akan tetapi yg jelas setiap malam jumat,.. makhluk itu keluar,.." jelas pemilik warung itu.
" Bentuknya seperti apa ,..Bi,..?" tanya Raka Senggani.
" Dari beberapa orang yg telah melihatnya,..makhluk itu berupa seekor macan yg sangat besar ,.." jelas Pemilik warung itu.
__ADS_1
" Apa tidak mungkin makhluk itu adalah memang macan sesungguhnya,.bukan makhluk jadi -jadian,..bi,..?" tanya Raka Senggani.
" Tidak mungkin den,..karena beberapa makhluk itu di kejar,..tiba -tiba saja menghilang begitu saja,..dan ada satu lagi keanehan yg terjsdi pada korban yg berhasil dimangsanya itu,.." jawab pemilik warung.
" Keanehan apa ,..Bi,..?" tanya Japra Witangsa penasaran.
" Lha ya aneh,..den,..baik lembu atau kambing yg telah di bunuh nya itu ,..seluruh darahnya habis tidak bersisa tetapi tubuhnya masih utuh,.." jelas Pemilik warung lagi.
" Oh iya,..Bi,..apakah di pedukuhan ini ada tempat untuk menginap,..?" tanya Dewi Dwarani.
"Ndak,..ada,..den,..karena pedukuhan ini hanya sebuah pedukuhan yg kecil,..jadi tidak ada rumah penginapan di tempat ini,.." jawab si Pemilik warung.
" Apakah aden bertiga ini ingin menginap disini,..?" tanya si Pemilik warung lanjut.
" Benar,.. Bi,..kami ingin tahu ,.. sebenarnya seperti apa ujud makhluk jadi -jadian itu,..!". sahut Raka Senggani.
" Jika kalian bertiga memang hendak bermalam di tempat ini,..biarlah bibi memberi tempat kalian menginap di dalam warung ini,.." sebut si pemilik warung itu.
" Akan tetapi di warung ini kan tidak ada hewan ternak nya,..Bi,..?" tanya Dewi Dwarani.
" Memang tidak ada den,.. tetapi rumah kami yg ada di belakang warung ini kan memiliki hewan ternak,.berupa kambing dan sapi,.." jawab si Pemilik warung.
" Bagaimana Kang,..apakah kita menginap disini saja,. siapa tahu kita dapatkan makhluk itu disini,..?" tanya Dewi Dwarani.
Raka Senggani tidak langsung menjawabnya tetapi ia malah bertanya kepada si pemilik warung itu ,..
" Oh ,..iya,.. Bi,..apakah disini belum pernah terjadi hal itu,..?" tanya nya.
Sambil menggelengkan kepalanya si Pemilik warung itu menjawab,..
" Belum den,..mungkin kami harus bersyukur karena rumah kami ini belum pernah mengalami hal itu,.." jawab si pemilik warung itu.
" Baiklah Bi,..kami akan menginap disini pada malam nanti,..dan mudah -mudahan makhluk itu tidak akan datang ,.." ucap Raka Senggani.
" Hehh,..mengapa tidak dstang ,..Kang,..bukankah kita berada disini untuk bertemu dengannya,.." sahut Dewi Dwarani.
Raka Senggani memberikan isyarat kepada putri Ki Bekel itu dengan kerlingan matanya.
Maka tanpa sadar Dewi Dwarani pun menatap kearah yg telah disebutkan oleh Senopati Pajang itu.
Dilihatnya ada dua orang yg tengah memperhatikan mereka ,..dan keduanya duduk di sebelah kanannya.
Akhirnya putri Ki Bekel itu paham atas apa yg telah dimaksudkan dari Senopati Pajang itu.
" Jadi bagaimana den,..jadi menginapnya,..?" tanya si pemilik warung itu.
" Tentu,..tentu,..tentu kami akan menginap disini jika memang diperbolehkan,..berapa kami harus membayar sewanya ,.?". tanya Raka Senggani.
" Kalian tidak perlu khawatir untuk membayar apapun,..tempat ini akan bibi berikan kepada Aden bertiga tanpa harus membayar sewa sepeser pun.. asalkan rumah dan hewan ternak kami dalam keadaan aman,." ungkap si pemilik warung.
" Baiklah Bi,..kami ucapkan terima kasih atas kebaikan bibi itu,.." ucap Raka Senggani.
Namun pandangan mata Sang Senopati itu tetap pada dua orang yg ada di sebelah kanan Dewi Dwarani itu.
Dan tidak terlalu lama,..menjelang malam,..warung itu telah di tutup oleh pemilik nya,.. sedangkan Raka Senggani dan kedua temannya itu masih berada di dalam.
Sesaat kemudian Pemilik warung itu meninggalkan warung nya..ia kembali ke rumah nya yg ada di belakang warung tersebut. Barulah Raka Senggani berkata kepada Dewi Dwarani dan Japra Witangsa.
" Apakah kalian tidak memeperhatikan bahwa dua orang itu terus memperhatikan kampil kalian yg ada di pinggangmu itu,.." ungkap Raka Senggani.
" Yah,..Rani memang melihatnya setelah kakang Senggani memberikan isyarat tadi,.." sahut Dewi Dwarani.
" Nampaknya malam ini kita harus bekerja keras kembali,..tentu orang itu akan kembali lagi ,..malam ini,..kemari,.." jelas Raka Senggani.
" Akan tetapi kita tidak perlu khawatir,.karena di belakang warung ini ada rumah sang pemilik warung,.." balas Japra Witangsa.
" Yah,..mudah mudahan kita tidak terlalu harus memeras keringat,..mengingat jarak ke Gunung Lawu sudah tidak terlalu jauh lagi,.." ungkap Raka Senggani.
Dan malam pun mulai beranjak semakin larut,..suara binatang malam terdengar seperti sebuah orkestra yg sempurna.
Malam itu memang terasa agak panas,.namun yg agak aneh mereka mendengarkan suara burung kedasih bersahut -sahutan.
Panggraita Senopati Pajang yg sangat tajam segera menangkap akan ada sesuatu yg bakal terjadi di tempat itu.
Ia segera memperingatkan kedua temannya itu untuk bersiap siaga..
Karena sepertinya mereka akan kedatangan tamu yg tidak di inginkan.
" Jika kalian berdua mendengar ada teriakan ataupun suara hewan ternak yg tengah bersuara ,..jangan langsung di datangi,..kita harus berjaga atas datangnya kedua orang tadi,..!" jelas Raka Senggani.
" Baik kakang,..kami mengerti,.." sahut Dewi Dwarani.
" Bersiaplah,.. nampaknya kita memang tengah mereka incar,..ada suara langkah kaki yg mendekati tempat ini,..mereka rupanya menginginkan kampil kalian itu,.." kata Raka Senggani lagi.
Baik Japra Witangsa maupun Dewi Dwarani segera bersiap,..mereka berbagi tugas,..Dewi Dwarani menjaga pintu depan warung itu sedangkan Japra Witangsa menjaga pintu belakang..
Namun oleh Raka Senggani mereka berdua di suruh mengeluarkan suara -suara orang yg lagi sedang tertidur.
Dan keduanya pun melakukan nya,..terdengar dengkuran di dalam warung itu.
__ADS_1
Sementara Raka Senggani semakin mempertajam pendengaran nya sehingga semakin jelas ,..ada dua orang yg sedang menuju ke tempat itu dengan dari arah yg berbeda.
Yg seorang dari depan dan yg seorang lagi dari belakang.