Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 27 Wong Agung bag ke empat.


__ADS_3

Pembicaraan kedua orang ini semakin dalam saja ketika membicarakan hal yang telah terjadi di Demak itu.


Raden Fatahillah yg sebentar lagi akan masuk ke dalam lingkup keraton tampaknya telah dapat membaca , siapa saja yang dapat di jadikan teman dan siapa pula yang perlu untuk di waspadai, akan hal ini ia memang sangat perlu berhati-hati , sebab jika salah melangkah dirinya dapat tersangkut ke sebuah masalah yg sangat besar.


Dirinya pun lebih memilih untuk tinggal di Cirebon daripada di Kotaraja Demak.


Sampai saat subuh barulah kedua Senopati Sultan Demak kedua ini menghentikan pembicaraan mereka menunaikan shalat subuh bersama dalam bangsal kasatriaan itu.


Dan saat terang tanah, barulah Raka Senggani meninggalkan bangsal kasatriaan, ia tampaknya memang memerlukan waktu yang lebih lama lagi tinggal di Kotaraja Demak ini.


Dan hal ini ia sampaikan kepada Tumenggung Bahu Reksa.


Oleh orang tua angkatnya ini ia di sarankan agar tidak terlalu sering masuk ke dalam istana hingga upacara pernikahan dari Raden Fatahillah.


" Mengapa demikian , Paman Tumenggung,..?" tanya nya kepada Tumenggung Bahu Reksa.


Lelaki yang menjadi orang tua angkatnya ini menjelaskan kepada Raka Senggani, ia telah mendapatkan berita dari para prajurit sandi nya yg mengatakan bahwa bekas Senopati Sandi Demak ini menjadi sasaran utama dari beberapa orang pejabat tinggi di kerajaan ini.


Mendengar hal itu , Senopati Bima Sakti ini hanya menghela nafas nya. Ia memang tidak dapat berbuat apa-apa jika ada orang yang akan membenci dirinya.


Hanya kepada yg Maha kuasa lah ia menyerahkan hal tersebut.


Sementara itu di dalam istana Kepatihan Demak sendiri, tampak tengah berkumpul beberapa orang yang tengah membicarakan mengenai acara pesta pernikahan dari Raden Fatahillah dengan salah seorang saudara perempuan Kanjeng Sultan Trenggana.


Mereka tampaknya sangat serius membicarakan hal tersebut.


Adalah seseorang yang berpangkat Tumenggung yg angkat bicara di depan beberapa orang terdekat dari Patih Demak ini.


" Saudara - saudara sekalian, tampaknya Kanjeng Gusti Sultan telah menyerahkan tampuk kekuasaan keprajuritan Demak ini kepada Raden Fatahillah yg sebentar lagi akan menjadi saudara iparnya itu,..!" ucap Tumenggung Sangga Wira.


" Benar yg kakang ucapkan itu ,..bahkan beliau akan mendapatkan gelar Wong Agung dari Kanjeng Sultan Demak sendiri,..!" sahut seorang lagi yg juga berpangkat Tumenggung.


" Namun kalian jangan lupakan pula, saat ini bekas Senopati Sandi Demak juga tengah berada di Kotaraja Demak ini,..!" ungkap seorang yang berpangkat Rangga.


" Siapa yang kau maksud itu , Rangga Dirgantara,..!" tanya Tumenggung Sangga Wira.


" Siapa lagi kalau bukan Senopati Bima Sakti dari Pajang itu,..!" jelas Rangga Dirgantara.


" Hahh,.. Senopati kesayangan dari Kanjeng Pangeran Sabrang Lor itu berada di sini,..!" seru Tumenggung Kebo Wana.


Tampaknya semua yg hadir di tempat itu merasa terkejut mendengar nama Senopati Bima Sakti di sebutkan tengah berada di Kotaraja Demak ini.


Umumnya mereka telah mendengar nama ini sebagai bagian dari keluarga dari Sultan Demak kedua, Pangeran Sabrang Lor.


Karena Sultan Demak itu telah menganugerahi gelar Raden kepadanya.


" Bukankah , Gusti patih telah mengirimkan beberapa orang untuk melenyapkan nya dari muka bumi ini,..Ki Rangga,..?" tanya Tumenggung Sangga Wira.


Meskipun Rangga Dirgantara dalam hal kepangkatan nya masih di bawah dua Tumenggung ini yaitu Tumenggung Sangga Wira dan Tumenggung Kebo Wana, tetapi karena ia merupakan keponakan dari Patih Demak ini maka ia dapat duduk dan berbicara dengan keduanya tanpa memakai tradisi keprajuritan yg benar . Bahkan terlihat ia lebih tinggi dari kedua Tumenggung yg masih agak muda itu.


" Akan tetapi usaha Paman Patih tidak berhasil,.. Senopati Bima Sakti ini dapat lolos dari maut,..bahkan ia dengan mudahnya mengalahkan empat iblis dari Gunung Kendeng itu,..!" terang Rangga Dirgantara menjelaskan.

__ADS_1


" Kakang Sangga Wira,.. sebenarnya aku ingin menjajal kemampuan dari orang yang bernama Raden Hidayat ini,..!" ucap Tumenggung Kebo Wana sambil mengepalkan tangannya.


Ia tampaknya memang memerlukan untuk bertemu dengan Senopati Bima Sakti ini.


" Ahh,..jangan gegabah adi Kebo Wana,..empat iblis dari Gunung Kendeng saja tidak mampu mengalahkan nya, apalagi diri mu,..dapat menjadi salah seorang Tumenggung karena mendapatkan dukungan dari Gusti Patih,..!" seru Tumenggung Sangga Wira.


" Kakang Sangga Wira jangan mengejekku, mungkin karena kakang belum pernah merasakan pukulan Waringin Sungsang ku sehingga dapat berkata demikian ,..!" jawab Tumenggung Kebo Wana.


Ia agak tersinggung dengan ucapan dari Tumenggung Sangga Wira ini , memang diakuinya bahwa orang yang bernama Sangga Wira telah cukup lama menjabat jabatan Tumenggung , berbeda dengan dirinya yg naik dari seorang Rangga menjadi seorang Tumenggung setelah Sultan Trenggana bertahta di kerajaan Demak ini.


" Sudah ,sudah, kalian berdua jangan bertengkar disini , Paman Patih mengundang kalian semua disini adalah untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ini,..bukan untuk saling bertengkar,..!" ucap Rangga Dirgantara.


Baik Tumenggung Sangga Wira dan Tumenggung Kebo Wana terdiam setelah mendengar ucapan dari Rangga Dirgantara itu, akhirnya kedua orang itu meminta kepada Rangga Dirgantara untuk menjelaskan apa yang menjadi rencana dari Patih Demak ini.


" Paman Patih menginginkan kepada kita semua untuk dapat membunuh atau setidaknya mengusir Raden Fatahillah dari keraton Demak ini dan yg kedua , kita juga di harapkan untuk dapat melenyapkan orang yang bernama Raden Hidayat itu,..inilah perintahnya,..!" jelas Rangga Dirgantara.


" Mengapa Gusti Patih tidak meminjam tangan orang lain saja untuk menghabisi mereka berdua itu,..!" tukas Tumenggung Sangga Wira.


" Maksud Ki Tumenggung adalah menggunakan orang orang bayaran yang memiliki ilmu sangat tinggi untuk melenyapkan mereka berdua, begitu maksudnya,..?" tanya Rangga Dirgantara .


Tumenggung Sangga Wira tampak tersenyum mendengar pertanyaan dari Rangga Dirgantara ini , ia kemudian menjelaskan sesuatu yang membuat semua orang yang ada di tempat itu menjadi sangat terkejut jadinya.


" Maksud kakang Sangga Wira, Raden Fatahillah kita adu dengan Raden Hidayat,..begitu,..!" seru Tumenggung Kebo Wana kaget.


" Benar,..dan bila perlu , ,mereka berdua ini kita jadikan sasaran yg empuk dari Kanjeng Pangeran Prawata,,..!" jelas Tumenggung Sangga Wira lagi.


" Maksud nya, bagaimana Ki Tumenggung,..bukankah kedua orang tersebut sangat dekat hubungan nya dengan putra mahkota ini,.mana mungkin Kanjeng Pangeran mau melawan kedua orang tersebut,.di tambah lagi,..dalam lingkup keraton Demak ini,..Raden Hidayat ini memiliki teman yang cukup banyak,, termasuk di dalam nya Tumenggung Wreda , Tumenggung Bahu Reksa, Tumenggung Wicaksana,.bahkan dengan Mpu Supa mandrangi pun ia cukup rapat berteman nya,..!" ungkap Rangga Dirgantara.


Sehingga usulan dari Tumenggung Sangga Wira ini kurang masuk di akal menurutnya, jadi untuk itu ia merasa tidak setuju.


" Kalau aku pun demikian , Rangga Dirgantara ,..jika kita mengharapkan mereka bertiga itu akan bertikai rasa rasanya sangat sulit,.. ditambah lagi, tentu Kanjeng Sultan pun akan turun tangan mengatasinya,..sehingga dapat menimbulkan kecurigaan dari dalam keraton sendiri kepada Gusti Patih , bukankah saat ini yg telah banyak memberi masukan kepada Kanjeng Gusti Sultan adalah Gusti Patih,..!" terang Kebo Wana.


Dari nada bicaranya memang Tumenggung Kebo Wana ini tetap ingin melaksanakan niatnya untuk melakukan perang tanding dengan orang yang bernama Raden Hidayat itu.


Sehingga ia berkata kepada yg hadir di tempat itu untuk memberikan mandat kepada nya agar ia dapat menjalankan tugas menghabisi Senopati Bima Sakti ini.


" Kau jangan terburu nafsu, adi Kebo Wana,.. pernahkah kau mendengar nama dari Tumenggung Watu rangga yg terkenal dengan kesaktiannya itu,..?" tanya Tumenggung Sangga Wira kepada Tumenggung Kebo Wana.


" Pernah kakang Sangga Wira, ia merupakan orang yang sangat berpengaruh di bang wetan,..dari Adipati Blambangan sampai Surabaya tunduk terhadapnya,..!" jawab Tumenggung Kebo Wana.


" Tahu ,..dengan siapa ia tewas nya,..?" tanya Tumenggung Sangga Wira lagi.


" Tidak , aku tidak tahu dengan siapa ia dapat dikalahkan ,.. karena sampai saat ini aku merasa ia masih hidup.," ucap Tumenggung Kebo Wana sambil menggelengkan kepalanya.


" Dengan Senopati Bima Sakti dalam sebuah operasi sandi yg tertutup yg dilakukan oleh para prajurit sandi yuda Demak ini..!" terang Tumenggung Sangga Wira.


Memang Tumenggung Sangga Wira ini termasuk orang dekat dengan Tumenggung Bahu Reksa dahulunya, ketika Sultan Demak pertama sampai mangkatnya Sultan Demak kedua.


Akan tetapi ketika terjadi peralihan kekuasaan kepada Sultan Trenggana , maka Tumenggung Sangga Wira pun memiliki hubungan dengan patih kerajaan Demak ini yg terlihat berusaha untuk menyetir Sultan Trenggana tengah belakang layar.


Sehingga beberapa hal dapat di ketahui oleh Tumenggung Sangga Wira ini.

__ADS_1


Akan tetapi ucapan dari Tumenggung Sangga Wira ini tidak di acuhkam oleh Tumenggung Kebo Wana, ia tetap ngotot untuk bertemu dengan Senopati Bima Sakti itu dalam sebuah pertarungan.Sehingga membuat orang yang hadir di tempat itu akhirnya menyetujui usulan tersebut dengan catatan , bahwa waktunya setelah selesai upacara pernikahan dari Raden Fatahillah.


" Apakah ia tidak keburu pulang ke Pajang,..Ki Rangga,..?" tanya Tumenggung Kebo Wana kepada Rangga Dirgantara.


" Tidak,..dan andaikan pun ia telah kembali,..dirimu dapat mendatangi tempat tinggal nya di Pajang,.. Kanjeng Pangeran Prawata dapat menemui paman nya di Lasem dan membunuh'nya ,..apalagi Kebo Wana,..!" ujar Rangga Dirgantara memanas-manasi .


Akhirnya Tumenggung Kebo Wana ini terpancing atas ucapan dari Rangga Dirgantara ia berkata,.


" Sampai ke ujung dunia pun akan ku kejar orang yang bernama Senopati Bima Sakti itu,..!" seru nya tegas.


Tampak wajah dari Tumenggung muda ini terlihat memerah. Ia mengepalkan tangannya.


Dan hal inilah yang sangat di harapkan oleh keponakan Patih Demak ini, ia ingin ada seseorang yang mau untuk bertarung dengan Senopati Bima Sakti ini, karena nama besar dari sang Senopati telah cukup mengentarkan lawan lawan nya, sehingga sampai saat ini tidak ada seorang tokoh yang mau jika berbenturan dengan nya.


Hari itu Tumenggung Kebo Wana telah menyanggupi untuk melawannya, sehingga upaya dari Patih Demak ini berhasil untuk berupaya melenyapkan Senopati Bima Sakti ini.


Meskipun demikian , tatkala kembali ke rumahnya, Tumenggung Sangga Wira masih mengingatkan teman nya itu untuk berpikir ulang mengenai keputusan yang telah di ambilnya.


" Kakang Sangga Wira jangan terlalu meremehkan ku,.. pantang bagi diriku menjilat ludah yang telah ku buang, kakang kan tahu, dihadapan orang banyak aku telah berjanji untuk menghabisi Senopati Bima Sakti itu,.. apakah aku sanggup menahan malu dihadapan semua orang jika diriku tidak jadi bertarung dengan Raden Hidayat ini,..mau di taruh mana muka ku ini,..!" ucap Tumenggung Kebo Wana.


" Ahh,.. kakang hanya mengingatkanmu, adi Kebo Wana,.. dirimu baru saja naik menjadi seorang Tumenggung, sayang jika semua itu akan cepat berlalu,..!" ucap Tumenggung Sangga Wira.


Akan tetapi bagi Tumenggung Kebo Wana ucapan dari teman nya ini dianggap nya sebagai angin lalu , ia bertekad akan menjajal kemampuan dari Senopati Bima Sakti tersebut, apapun resiko nya.


Demikian lah,..hari terlalu cepat berlalu , tibalah pada pesta kerajaan Demak untuk pertama kalinya di masa pemerintahan dari Kanjeng Sultan Trenggana ini.


Ia menikahkan adik perempuan nya dengan seorang ksatria dari tanah Swarna Dwipa yg bernama Raden Fatahillah.


Sesaat pesta meriah tengah berlangsung dengan kedatangan banyak nya para penguasa daerah yang masih tunduk di bawah kekuasaan panji-panji kebesaran kerajaan Demak, disaat itu pula, Kanjeng Sultan Trenggana menganugerahi gelar kepangkatan kepada Raden Fatahillah sebagai panglima tertinggi armada laut Demak dengan gelar Wong Agung.


Ia berkuasa atas pasukan yang telah di tinggalkan oleh Pangeran Sabrang Lor , sultan Demak kedua yg telah mangkat ini.


Dalam pada itu , Raka Senggani masih sempat berbincang dengan Raden Fatahillah sesaat dirinya akan mengucapkan ijab kabul.


Senopati dari Pajang ini mengatakan ia bersedia untuk ikut dalam pasukan yg di pimpin oleh Wong Agung ini tatkala menyerang Sunda Kelapa.


Hal tersebut di sambut gembira oleh Raden Fatahillah, ia berjanji akan mengirimkan seorang prajurit untuk memberitahu kan kepada Senopati Bima Sakti ini jika saat itu telah tiba.


Sehari setelah perayaan pesta pernikahan dari Wong Agung, Raka Senggani berpamitan pulang kepada Tumenggung Bahu Reksa, ia merasa sudah terlalu lama berada di Kotaraja Demak ini.


Oleh orang tua angkatnya ini ia di pesankan agar lebih berhati-hati, karena saat ini Kotaraja Demak tengah bergembira , tentu banyak prajurit Demak yg tidak pada tempat tugasnya sehingga di khawatirkan akan ada beberapa orang yang akan mengambil kesempatan tersebut.


" Terima kasih Paman Tumenggung atas nasehatnya ini, mudah mudahan yg Maha kuasa tetap mmeberikan perlindungan nya kepada kita semua,..Senggani pamit Paman,..!" ucap Raka Senggani.


Ia lantas naik ke atas punggung kudanya Si Jangu kemudian menggebrak nya meninggalkan Kotaraja Demak ini .


Sementara itu diluar Kotaraja Demak, tepatnya di sebuah hutan perburuan yg tidak terlalu jauh dari jalanan menuju ke Pajang, terlihat beberapa orang tengah duduk-duduk.


Mereka terlihat seperti menunggu seseorang , dan diantara orang itu tampaklah Tumenggung Kebo Wana dan Rangga Dirgantara.


Seperti yang telah di sepakati,., tumenggung Kebo Wana akan menjajal kemampuan dari Senopati Bima Sakti sebagai upaya dalam keraton untuk melenyapkan Senopati Kinasih , Pangeran Sabrang Lor itu.

__ADS_1


__ADS_2