
Di tengah keasyikan nya menatap keindahan yang tersaji dekat Rawa Pening ini, tiba tiba saja Raka Senggani di kejutkan dengan teguran sesorang.
" Sedang mengaso,..Ngger,..?" tanya nya.
Raka Senggani langsung berpaling dan menatap ke arah orang yang menegurnya ini.
" Ehh,..iya,.ehh,..siapkah aki ini,..?" tanya Senopati Brastha Abipraya ini agak gugup.
Hei, mengapa diriku tidak mampu mendengar kedatangan seseorang di tempat ini, apakah ini benar-benar manusia atau makhluk halus penunggu Rawa ini,..berkata dalam hati Raka Senggani.
Memang dirinya merasa kecolongan dengan kehadiran orang lain di tempat itu, biasanya suara yg halus sekalipun dapat ia dengar dengan mudahnya.
Orang tua yg berada di dekatnya ini memandangi Raka Senggani tidak berkedip, seakan ingin mengetahui siapa kah orang tersebut.
Demikian pula dengan Raka Senggani, tanpa berkedip ia menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki laki laki tua yg tengah membawa kayu bakar tersebut dan di tangan nya yg lain ada beberapa ikan tergantung di sebuah kayu kecil.
Orang tua itu memang terlihat sudah cukup sepuh, dengan rambut nya yg telah memutih semuanya, akan tetapi kalau di lihat dari tubuhnya, tampaknya lelaki ini masih terlihat bertenaga.
Ini dapat di lihat dengan banyak nya kayu bakar yg tengah di bawanya ini.
Dia adalah seorang manusia , bukannya makhluk halus, tetapi kalau begitu , sungguh tinggi ilmu penyerap bunyi yang di milikinya sehingga diriku tidak mampu mengetahui kedatangan nya, apakah orang ini adalah Begawan Kakung Turah yg bergelar si Tua Gila,..jika memang iya , gila dari mana, kelihatan nya ia sangat waras,..berkata lagi dalam hati Raka Senggani.
Sambil tak lepas ia menatap orang tersebut.
Sedangkan Lelaki itu kemudian menjawab pertanyaan dari Raka Senggani.
" Kenalkan , namaku adalah Mertalaya, asli penduduk sini, warga Rawa Pening ini,..!" ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangan nya.
" Namaku,..Senggani,..Ki,. tepatnya,..Raka Senggani,..!" ucap Raka Senggani berterus terang.
Walaupun sebenarnya saat ini ia dalam tugas penyelidikan tetapi ia tidak ingin merahasiakan identitas nya sendiri, di sebabkan kini dirinya bukanlah seorang Senopati sandi lagi.
" Nama yg bagus, sesuai dengan orang nya,..!" ucap lelaki tua yang mengaku sebagai Mertalaya ini.
" Terima kasih ,.Ki,..atas pujian nya,.!" sahut Raka Senggani sambil tersenyum.
Orang yang bernama Ki Mertalaya ini kemudian mengajak singgah Raka Senggani di pondokan rumahnya.
" Kalau Angger Senggani berkenan,. mampirlah ke gubukku,..!" kata Ki Mertalaya kepada Raka Senggani.
" Apakah jauh dari sini rumah aki itu,..?" tanya Raka Senggani.
" Lumayan lah, gubukku berada di kaki bukit Tuntang,..!" jawab Ki Mertalaya.
" Hehh,..!" seru Raka Senggani kaget.
" Ada apa, ada yg aneh dengan tempat itu,..?" tanya Ki Mertalaya lagi.
" Ahh,..tidak,..Senggani sepertinya amat sering bukit itu di sebutkan,.jadi Ki Mertalaya tinggal disana ,..?" tanya Raka Senggani penasaran .
" Benar,..aki memang tinggal disana,..marilah mumpung hari belum terlalu siang, paling paling saat menjelang maghrib kita akan tiba disana..!" ujar Ki Mertalaya.
Ia pun bergegas bangkit dari duduk nya dan mengemasi barang bawaannya.
" Biar Senggani saja yang membawa kayu bakar itu,.Ki Mertalaya silahkan berjalan terlebih dahulu,..!" ucap Raka Senggani.
Memang sifat putra Raka Jang suka menolong maka ketika melihat seorang tua yang tengah membawa beban yang cukup berat tentu saja ia segera menawarkan diri untuk membawakan nya.
" Nanti Angger Senggani tidak mampu membawa nya, kayu bakar ini cukup berat , loh,..!" jawab Ki Mertalaya.
Sambil ia melirik ke arah Raka Senggani yg telah berdiri.
" Ahh, sedangkan Ki Mertalaya mampu membawanya , bagaimana mungkin diriku tidak mampu Ki,..!??" seru Raka Senggani.
Ia pun mendekati kayu bakar yg telah diikat menjadi satu ini. Dari pandangan matanya kayu bakar itu tentu sangat ringan karena sebahagian besar adalah kayu kering.
" Baiklah jika memang demikian, aki mengucapkan terima kasih, karena Angger Senggani mau membantu ,.!" kata Ki Mertalaya.
__ADS_1
Ia pun bergerak terlebih dahulu dengan melangkah kan kakinya mengarah agak ke timur dari tempat mereka ini duduk.
Senopati Brastha Abipraya ini kemudian berusaha untuk mengangkat kayu bakar yg di tinggalkan oleh Ki Mertalaya ini.
" Hufhhh,..!"
Dengan tangan kanan nya ia berusaha mengangkatnya akan tetapi , sesuatu keanehan terjadi , kayu bakar itu tidak mampu diangkat oleh sang Senopati.
Kemudian ia mencoba lagi untuk yg kedua kalinya,..hasilnya pun tetap sama, kayu bakar itu tidak bergeming dari tempanya.
Gila,..itulah yang terbersit d benak Senopati Brastha Abipraya ini. Dengan tenaga wadag nya ia tidak mampu untuk mengangkat nya.
Barulah, setelah percobaan untuk yg ketiga kalinya dengan di lambari oleh tenaga dalam nya kayu bakar tersebut mampu di angkatnya dan segera di pikulnya .
Untuk selanjutnya ia mengejar lelaki tua yang tengah berjalan pelan , tetapi tidak juga kunjung mampu disusul nya.
Memang benar benar Gila,. langkah terlihat sangat pelan sekali tetapi diriku yg telah mengtrapkan ilmu peringan tubuh pun tidak mampu menyusul nya, kembali pertanyaan silih berganti menggelayuti benak suami Sari Kemuning ini.
Entah memang jarak nya cukup dekat atau karena kemampuan ilmu peringan tubuh kedua orang ini sangat tinggi,.begitu sang surya tepat d atas kepala keduanya telah tiba di pondokan dari Ki Mertalaya ini.
" Nah,..Ngger,..inilah gubukku itu,..!" ucap Ki Mertalaya kepada Raka Senggani.
Raka Senggani sangat takjub dengan pondokan yg di miliki oleh Ki Mertalaya ini.
Gubuk itu berada di atas dahan besar , dengan sulur sulur sebagai lantai nya, sedangkan tidak tangga disana untuk naik .
Hanya ada sebuah sulur yg cukup besar yg menjuntai ke bawah , mungkin itulah tangga untuk naik ke atas pondokan itu.
" Gubuk Ki Mertalaya agak aneh,..!" seru Raka Senggani .
" Apa nya yg aneh ,..Ngger,..?" tanya Ki Mertalaya heran.
" Ya, aneh lah Ki,.lha wong gubukke berada diatas, tetapi tidak ada tangga nya untuk naik ,..!" sahut Raka Senggani sambil tersenyum.
" Ha, ha ,ha, kau benar Ngger,..memang gubukku ini tidak memiliki tangga , akan tetapi ada ini,..!" ucap Ki Mertalaya sambil tertawa.
Ia pun menunjukkan sebuah sulur yg cukup besar dan menjuntai ke bawah itu.
Lelaki tua ini pun cukup heran dan tidak berkedip dengan penglihatan nya , bahwa sedari tadi Raka Senggani tidak pun menurunkan kayu bakar yg ada di pundaknya ini.
CK,ck,ck, ternyata dengan seusia muda seperti ini ia memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi, bagaimana kelak jika telah seumuran dengan ku,..tentu ia akan sulit untuk di carikan lawan tanding, begitulah perkataan dalam hati Ki Mertalaya ini.
Dirinya mengagumi sosok dari Senopati Pajang ini.
Tidak terlalu berpikir lama , kemudian Ki Mertalaya memanjat sulur itu dan naik ke atas gubuknya.
Hal yg serupa di lakukan pula oleh Raka Senggani , sambil tetap membawa kayu bakar, ia pun naik ke atas pondokan Ki Mertalaya ini.
Sementara itu di desa Lopait sendiri, tampak makin ramai dengan hadirnya beberapa orang yang tampaknya akan ke bukit Tuntang.
Mereka inj dari kalangan dunia persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam.
Disana telah hadir seorang buta yg menggunakan tongkatnya dengan ikat kepalanya ada bulu meraknya terlihat tengah mencari tempat untuk menginap.
Ia hadir di tempat itu bersama dengan seorang gadis yang berparas cantik tetapi dari raut wajahnya nampak nya memiliki sifat yang sangat kejam.
Ketika ia menanyakan kepada salah seorang pelayan penginapan yang di tempat itu dan mendapatkan jawaban tidak memuaskan,tangan nya segera melayang menampar wajah pelayan tersebut.
" Maaf ,tuan dan nona, desa ini sangat kecil, jadi tidak memiliki tempat penginapan, rumah inj saja hanya untuk mereka yang kemalaman saja saat pergi memancing,..dan kini telah penuh ,..!" ucap Pelayan itu dengan ketakutan.
" Hehh, jangan banyak mulut , jika tidak ingin ku tampar lagi, lekas tunjukkan dimana tempat kami bisa beristirahat,..!" teriak gadis yang berpakaian merah ini.
" Ningrum , jangan marah -marah,.nanti pelayan ini akan mati ketakutan,..!" kata Lelaki paruh baya yang menggunakan tongkat itu.
Kedua matanya nampak tidak dapat membuka.
Dialah yang di kenal dengan gelar Si Buta dari bukit tengkorak. Kali ini ia datang bersama muridnya yang merupakan seorang gadis cantik yang bernama Ningrum ini.
__ADS_1
Muridnya ini bergelar si Mawar Merah .
Kedua orang ini adalah dari golongan hitam dunia persilatan .
Entah apa menyebabkan mereka turun gunung, apakah karena mereka memang ingin memperebutkan dua buah pusaka Kerajaan Demak itu. Atau ada hal yang lain yg membuat mereka hadir di sini.
Pada saat menjelang malam, tempat itu pun kehadiran lagi dua tokoh persilatan yang adalah perempuan tua . Mereka adalah Nyi Ronce yg datang dengan muridnya Sruni dan yg seorang lagi adalah Nyi Sriti Wengi , namun kali ini ia datang seorang diri.
" Hehh, kangmbok Wengi,. dimana muridmu, mengapa dirimu datang seorang diri,..?" tanya Nyi Ronce kepada Nyi Sriti Wengi.
" Ahh,..ternyata muridku itu telah kepincut dengan seorang lelaki dan kini ia meninggalkan ku seorang diri,..susah memang kalau memiliki murid yg masih di butakan oleh yg namanya cinta,..!" jawab Nyi Sriti Wengi.
" Sruni, muridku ini tidak berbuat demikian kangmbok, ia masih setia menemaniku, bukan begitu Sruni,..!" seru Nyi Ronce.
" Beruntunglah kau , Ronce, dimasa tuamu masih ada yg menemani , berbeda dengan diriku, entahlah,.!" sahut Nyi Sriti Wengi lagi.
Ia kemudian mengajak Nyi Ronce untuk mencari tempat menginap .
" Dimana,..kangmbok,..?" tanya Nyi Ronce lagi.
Karena satu satunya penginapan yang ada di situ telah penuh,jadi tidak ada lagi tempat yang harus mereka datangi lagi.
" Kita cari rumah penduduk desa inj yg mau menampung kita selama beberapa malam disini,..tentu ada diantara mereka yang mau memberikan rumahnya untuk kita ,..asal tentu saja kita bayar,.!" seru Nyi Sriti Wengi.
" Baiklah kalau begitu, Aku setuju dengan usulan dari Kangmbok Wengi itu,..!" kata Nyi Ronce.
Mereka kemudian menyusuri desa itu , yg sebenarnya masih pantas d sebut sebagai pedukuhan saja.
Karena memang desa ini belum terlalu ramai , sehingga rumah para warga pun terlihat sangat jarang dan agak berjauhan.
Di saat malam tiba , desa yg sangat dekat dengan Rawa Pening ini kehadiran lagi dua orang , yg satu adalah pemuda sedangkan teman nya adalah seorang gadis cantik.
" Kakang Kuda Wira, dimanakah kita akan menginap,..?" tanya gadis itu kepada temannya.
" Nampaknya kita harus menginap di alam terbuka , adi Mayang,. tempat disini telah penuh dengan kedatangan orang-orang dari dunia persilatan, tampaknya Dua pusaka Naga Sosro dan Sabuk Inten ini sangat banyak peminat nya ,.!" ucap Raden Kuda Wira.
Ia datang bersama temannya yang tiada lain adalah Dewi Rasani Mayang.
Kedua murid utama dari Mpu Loh Brangsang ini memang datang terlebih dahulu dari gurunya, Mpu Loh Brangsang sendiri.
" Jika kita menginap di alam terbuka, bagaimana dengan guru nantinya,.. Kakang,..?" tanya Dewi Rasani Mayang.
Raden Kuda Wira diam saja, ia terus saja melangkah meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Raka Senggani yg masih bersama Ki Mertalaya pada malam ini , banyak bertanya kepada orang tua itu.
Ia berusaha untuk mengorek keterangan dari lelaki tua inj dan sekaligus menjajaki kerja adanya dua buah benda Pusaka yg berada di tempat itu.
Namun sampai sejauh itu, Senopati Brastha Abipraya ini belum mendapatkan apa apa.
Ki Mertalaya nampak banyak tertawa ketika ia disebut Raka Senggani sebagai Begawan Kakung Turah alias si Tua Gila.
Dan pada malam itu juga Raka Senggani dengan mengtrapkan ilmu nya berusaha mencari tanda tanda keberadaan dari dua buah Pusaka Demak yg menghilang inj.
Hehh, sepertinya ada pagar ghaib yang sulit untuk ku tembus guna melihat cahaya dari kedua pusaka itu, meskipun diriku merasakan getaran nya cukup kuat, meski tidak berasal dari sini, begitu lah yg ada di benak Raka Senggani.
Saat ia bertirakat guna menemukan kedua benda pusaka inj, di sebelahnya orang yang bernama Ki Mertalaya ini tengah tidur dengan mendengkur , mengeluarkan suara yang cukup keras.
Saat menjelang pagi, mata dari Senopati Pajang ini tidak lagi mampu menahan kantuknya, ia pun ikut tertidur tanpa mendapatkan apa-apa.
Pada keesokan harinya , saat terang tanah, Raka Senggani di kejutkan dengan tidak adanya Ki Mertalaya di tempatnya.
Kemanakah orang tua itu perginya, benarkah orang inilah yg bernama Begawan Kakung Turah itu, itulah pertanyaan yang timbul di dalam kepala Raka Senggani.
Senopati tangguh asal desa Kenanga ini langsung turun dan meninggalkan tempat itu.
Tidak seperti saat ia datang untuk pertama kalinya ke pondokan ini. Saat dirinya meninggalkan pondokan tersebut, Raka Senggani menggunakan ilmu peringan tubuhnya yang sudah sangat tinggi itu. Sehingga dirjnya melesat sangat cepat dan sangat ringan dari atas pondokan yg cukup tinggi tempatnya.
__ADS_1
Tanpa disadari oleh Senopati Brastha Abipraya ini , sepasang mata melihatnya tanpa berkedip.
Sungguh tinggi ilmu peringan tubuh nya,.dan demikian pula dengan tenaga dalam nya, kayu bakar itu mampu diangkatnya,. Aku harus berhati-hati dengan pemuda ini, demikian lah orang yang tengah melihat kepergiaan dari Raka Senggani ini berkata kata dalam hatinya. Ia tiada lain adalah Ki Mertalaya.