
" Ada Secercah Harapan jika kelak armada pasukan Demak ini berhasil di hancurkan oleh bangsa asing yg ada di sebelah Lor itu,.." ucap Tumenggung Waturangga lagi.
Semua yg mendengar penuturan dari orang terdekat Sang Adipati Surabaya tampak terdiam. Mereka sudah menerka ke arah mana pembicaraan dari Junjungan nya tersebut.
"Tetapi satu hal yg mengganjal dalam hatiku,..akankah Sultan Demak yg baru ini mau terjun langsung pada peperangan kali ini, jika tidak ia merupakan lawan tersulit yg harus kita hadapi,.." sebutnya lagi.
Salah seorang pengawal nya langsung menyela ucapan nya,
" Demikian saktinya kah , Sultan Demak itu,..?" tanya orang itu.
Ia yg sedari tadi memainkan sebatang logam di tangan nya.
" Yah,..ia memang sangat sakti , bahkan ketika terjadi penyerangan ke Malaka pada waktu itu, para prajurit lawan pun mengakui kesaktian nya, ia yg bergelar Senopati Sarjawala, cukup menjadi momok di daerah kulon dan lor,..sehingga merupakan batu sandungan yg sangat berat yg harus kita hadapi,.." jelas Tumenggung Waturangga.
Orang itu masih saja mondar mandir berjalan di tempat tersebut, sambil mmeperhatikan satu persatu para pengawalnya.
Baru setelahnya ia berujar,..
" Namun dengan kehadiran kalian semua di sini telah menjadi penambah semangat pada diriku akan keberhasilan cita -cita kita ini,.."
Tidak ada yg menyahuti perkataan dari Tumenggung Waturangga tadi. Umumnya mereka mengatakan dalam hati atas bergabung nya mereka di barisan dari Kadipaten Surabaya ini akibat dari kekalahan mereka saat bertarung dengan nya.
" Aku mengerti jalan pikiran kalian semua,..jadi percayalah padaku,..jika kelak kita mampu mendirikan Kerajaan sendiri lepas dari kekuasaan Demak ,..aku berjanji akan memberikan apa yg kalian minta, Waturangga tidak pernah ingkar janji,.." urai nya.
Sengaja orang Kepercayaan dari Adipati Surabaya ini mengatakan demikian agar para pembantunya ini gigih memperjuangkan cita -cita nya yaitu lepas dari kekuasaan Demak dan berdiri menjsdi kerajaan sendiri.
Masih banyak orang yg merasa bahwa kerajaan Majapahit harus di tegakkan lagi, terutama nya bagi mereka yg masih memiliki darah keturunan dari trah Prabhu Brawijaya terakhir, termasuk dengan Tumenggung Waturangga ini.
Niat dan cita -cita nya sangat kuat untuk membangun dan mendirikan kembali Kerajaan Majapahit yg sempat menguasai seluruh wilayah nusantara.
Pangeran Sabrang Lor tidak pantas menjadi seorang Raja di tanah ini, ia hanya seorang mantu dari Paman Raden Patah, bukan merupakan trah dari Eyang Prabhu Brawijaya terakhir, begitulah yg ada dalam pikiran Tumenggung Waturangga.
Terlihat ia memandang jauh ke arah barat tepat nya ke arah bekas ibukota dari Kerajaan Majapahit yg ada di trowulan.
Hatinya merasa terpanggil untuk membangkitkan lagi masa kejayaan itu.
Aku harus mampu meneruskan cita -cita dari eyang Prabhu ,..bathinnya.
Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah para pengawal dan pembantu nya yg masih tetap duduk melingkar .
" Untuk kalian semua,..mulai saat ini kalian harus bekerja dengan keras, jaga setiap sudut dari kota ini agar para penyusup tidak dapat masuk kemari dan berhasil mencari tahu tentang keadaan di sini, terutamanya bagi para penyusup dari kotaraja Demak,..Aku tidak ingin keadaan disini sampai bocor ke tangan Sultan Demak ,." terangnya.
Seluruh yg mendengar sesorah dari Tumenggung Waturangga terdiam, hingga suara hening di tempat tersebut.
Masing masing mengerti dengan ucapan dari sang Tumenggung.
Namun tanpa di ketahui oleh Tumenggung Waturangga,. diantara yg sedang duduk melingkar ada seorang yg memakai pakaian serba hitam bahkan ikat kepalanya pun berwarna hitam tengah mendengarkan semua ucapan dari pejabat teras kadipaten Surabaya ini.
Dia lah orang yg bernama Ki Tambi, seorang yg masih merupakan prajurit Sandi Demak yg berhasil disusupkan ke kadipaten Surabaya. Entah bagaimana bisa ia menjadi salah seorang kepercayaan dari Tumenggung Waturangga ini.
Wajah dan penampilan Ki Tambi ini mirip dengan orang hindia , memiliki kulit hitam dengan alis yg tebal , hidungnya cukup bangir dengan perawakan agak kurus.
Jika sekali lihat seperti seorang yg memiliki ilmu sihir. Dan memang demikian lah, ia memiliki ilmu mengenai racun dan tenung.
Mungkin itulah yg menjadi kannya seorang kepercayaan dari Tumenggung Waturangga.
Sementara itu di kota yg lain tepatnya di trowulan
__ADS_1
Kota yg dahulunya adalah merupakan pusat dari kerajaan Majapahit di masa pemerintahan dari Prabhu Brawijaya terakhir.
Nampak seorang pemuda tengah berjalan kaki dengan ringannya menuju sisi timur kotae tersebut.
Saat ini kota bekas ibukota Kerajaan Majapahit tidak seramai dahulu, apalagi setelah di pindahkan oleh Prabhu Girindrawardhana ke daha atau Kediri setelah kekalahan dari Demak.
Cukup jauh juga sang Senopati dari Demak berjalan sehingga sampai pada satu tempat di pinggiran kota.
Di tempat tersebut ia melihat seseorang tengah berdiri di bawah sebatang pohon yg cukup rindang daunnya.
Dan orang tersebut melihat ke arah dari mana datang nya Raka Senggani.
Begitu dekat dan ia pun mengenalinya, dengan cepat, orang tersebut menarik tangan pemuda desa Kenanga ini dan membawa nya ke suatu tempat.
Tempat itu adalah sebuah gubuk yg berada di dalam sebuah pategalan yg sedang di tanami , tanaman palawija.
Banyak terlihat kacang panjang yg tengah mulai berbuah , ada pula ketimun, dan beberapa sayuran lainnya.
Tiba di atas gubuk tersebut,.orang yg membawa Senopati Brastha Abipraya yg tiada lain adalah Lurah prajurit sandi demak yg membawahi di daerah Mojokerto ini segera berkata,..
" Terima kasih senopati Lintang Bima Sakti telah dapat hadir di sini,..aku Lintang Gubuk Penceng siap membantu semua keperluan dari Senopati kali ini,."
Memanglah , orang yg membawa Senopati Demak dari prajurit sandi ini adalah Lintang Gubuk Penceng.
Salah seorang dari sepuluh prajurit sandi terpilih pada waktu menyerang gerombolan rampok alas Mentaok pada waktu itu.
" Sama -sama, Ki Lintang Gubuk Penceng, namun kali ini ,..Aku merasa seperti seorang yg sangat bodoh,.." sahut Raka Senggani.
" Mengapa demikian Senopati Bima Sakti,..?" tanya Ki Lintang Gubuk Penceng terkejut.
Dan baru kali ini ia mendengar ada seorang senopati yg mengatakan dirinya adalah seorang yg bodoh.
" Hehh,..apakah demikian njlimetnya kalau hanya untuk membunuh seseorang ," jawab Raka Senggani.
Setelah pemuda itu melepaskan seluruh beban yg telah di rasakan nya, sesaat ketika meninggalkan kota madiun hingga sampai di tempat ini.
" Bukan begitu , Senopati,..memang kali ini Demak ingin melakukan tebang pilih untuk mengatasi niatan pemberontakan yg akan di lakukan oleh para pembesar kadipaten yg ada di wilayah timur ini,.." jelas Ki Lintang Gubuk Penceng.
" Bukankah Kanjeng Gusti Sultan dapat memerintahkan kepada diriku untuk langsung membunuh Tumenggung Waturangga itu,.." seru Raka Senggani.
Aura wajah dari anak muda tersebut menegang , setelah ia harus melewati beberapa masalah dalam perjalanannya. Sehingga sampai bertemu dengan Ki Lintang Gubuk Penceng di gubuk yg ada di wilayah trowulan.
Setelah membiarkan Senopati Brastha Abipraya melepaskan kekesalan nya barulah Ki Lintang Gubuk Penceng menjelaskan bahwa langkah yg diambil oleh Kanjeng Gusti Sultan memang sesuai dengan permintaan dari para prajurit sandi yuda Demak sendiri.
Di sebabkan sampai saat ini bukti bukti tenang keterlibatan pejabat dalam kadipaten Surabaya ini belum terlalu jelas. Dan lagi , setelahny bayaknya para tokoh tokoh sakti duni persilatan yg bergabung dalam barisan nya menjadikan nya suatu ancaman yg cukup serius bagi keberlangsungan kekuasaan kerajaan Demak ini.
Di sebutkan pula oleh Ki Lintang Gubuk Penceng bahwa Tumenggung Waturangga itu memiliki hubungan kekerabatan yg sangat kuat dengan para pemimpin wilayah yg ada di wetan ini.
Jadi jika untuk melenyapkan nya di lakukan dengan terang terangan oleh Demak , itu sama saja artinya menyulut api peeprangan antara Demak dan seluruh wilayah bang Wetan ini.
Kami para Lurah prajurit sandi Demak yg telah menghitung semua untung ruginya jika terjadi benturan dengan wilayah bang Wetan ini, sangat menyayangkan bila hal tersebut sampai terjadi.
Berarti peperangan seperti yg telah terjadi antara anak dan ayah di saat pertama kali , Raden patah sang sultan Demak pertama mendirikan kerajaan Demak bertemu dengan Ramanda nya yg kala itu masih menjadi Raja di kerajaan Majapahit terjadi lagi pada saat ini.
Tentu ini akan sangat merugikan bagi demak sendiri, dimana saat ini Demak tengah berdiri berhadap hadapan dengan kekuatan asing yg berada di malaka.
Dan Kanjeng Gusti Sultan Demak yg kedua ini pun tidak ingin itu sampai terjadi , sebut Ki Lintang Gubuk Penceng lagi.
__ADS_1
Jadi kesepakatan telah diambil oleh keputusan suara bulat bahwa Senopati Bima Sakti lah yg di harapakan untuk menghabisi sepak terjang dari orang yg bernama Waturangga ini.
Selain kami telah melihat sendiri kemampuan dari senopati saat terjadi benturan di alas Mentaok pada waktu itu, kami juga mendapatkan semacam saran dari Tumenggung Bahu Reksa, bahwa memang dirimulah yg pantas untuk melakukan nya, senopati,.urai Ki Lintang Gubuk Penceng.
" Sungguh saktikah , orang yg bernama Waturangga itu,..?" tanya Raka Senggani.
" Memang ia memiliki ilmu yg sangat tinggi dan cukup banyak, bahkan ada yg mengatakan bahwa ia memiliki ilmu pancasona dan tidak dapat di tewaskan,.." jelas Ki Lintang Gubuk Penceng.
" Sudah ada dari prajurit sandi Demak yg bertarung dengan nya ,..?" tanya Senopati Brastha Abipraya.
" Sudah Senopati,..!" jawab Ki Lintang Gubuk Penceng.
" Siapa,..?" tanya senopati Brastha Abipraya lagi.
"Yang menjadi lawan mu, kala senopati sedang berada di alas Turanggana,.." ucap Ki Lintang Gubuk Penceng.
" Hahh,..Gajah Arak," seru Raka Senggani kaget.
" Benar Senopati,. dia lah Gajah Arak, salah seorang prajurit sandi yg memiliki kemampuan yg cukup tinggi diatas rata -rata dari para prajurit yg lainnya, sehingga dirinya berhasil bertemu dengan Tumenggung Kepercayaan dari Adipati Surabaya, " terang Ki lintang gubuk penceng.
" Dan hasilnya Ki Lintang Gubuk Penceng, bagaimana, ?" tanya Raka Senggani lagi.
" Seperti yg telah di lihat bersama, akhirnya Gajah Arak kalah dari Tumenggung Waturangga, beruntung dirinya masih selamat berkat , Ki Tambi," jelas Ki Lintang Gubuk Penceng
Ia menjawab pertanyaan dari Senopati Brastha Abipraya .
" Bagaimana Ki Tambi dapat menyelamatkan Gajah Arak, Ki,..?" tanya Raka Senggani.
Kemudian Ki Lintang Gubuk Penceng menjelaskan bahwa ternyata Tumenggung Waturangga ini tidak dapat menerima serangan gelap yg di lontarkan oleh Ki Tambi. Tumenggung Waturangga terluka akibat serangan tersebut, dan mengalami keracunan. Walau ia tidak sampai tewas , karena kami pun harus menyelamatkan Gajah Arak yg pqda saat itu terluka cukup parah.
Dan ketika ada wacana ingin melenyapkan lagi Tumenggung Waturangga, Gajah Arak mengajukan diri sebagai pendadar bagi siapa saja yg akan menjadi calon lawan Tumenggung itu.,.jelas Ki Lintang Gubuk Penceng.
Dan ternyata keputusan nya jatuh pada diri Senopati Bima Sakti.maka dengan serta merta Gajah Arak menawarkan diri untuk menjajal kemampuan dari Senopati sendiri, walau sebenarnya kami semua melarang nya berbuat demikian,..karena kami tahu sampai dimana batas kemampuannya dan kemampuan dari Senopati Bima Sakti .
Kami ,..seluruh lurah prajurit sandi Demak telah melihat dengan mata kepala kami sendiri bagaimana Senopati Bima Sakti harus bertarung dengan para pemimpin rampok yg ada di alas mentaok.
" Kami melihat bahwa Senopati ,..memang memiliki kemampuan diatas dari semua prajurit sandi Demak yg ada bahkan ketika harus berhadapan dengan Tumenggung Waturangga,.kami merasa yakin bahwa Senopati Bima Sakti lah yg akan keluar sebagai pemenang nya,." puji Ki Lintang Gubuk Penceng.
" Jangan terlalu memuji, Ki Lintang,..bagaimana puj juga diatas langit masih ada langit,..Aku takut akan pujian dari Ki Lintang ini,.. karena menurut pendapatku,..Gajah Arak sendiri pun memiliki kemampuan yg sangat tinggi, tentu Tumenggung Waturangga lebih tinggi lagi ilmunya,.." ungkap Raka Senggani.
" Memang Tumenggung Waturangga memiliki kemampuan yg sangat tinggi,.tetapi jika harus berhadapan dengan Senopati Bima Sakti belum tentu ia akan sanggup memenangkan nya, karena dari pesan Ki Jaka Belek, baru baru ini, Senopati Bima Sakti telah berhasil mengalahkan Ki Gedangan, yg menurut sebahagian orang adalah guru dari Tumenggung Waturangga,.." ucap Ki Lintang Gubuk Penceng lagi.
" Hehh,..kok bisa, bukankah Ki Gedangan adalah tokoh yg berasal dari kulon , sementara Tumennggung Waturangga berasal dari Wetan,..dimana bertemunya,..?" ucap Raka Senggani yg keheranan.
Ia malah menjadi penasaran dengan orang yg bernama Waturangga ini. Jika ia memang benar pernah menjadi murid dari Ki Gedangan , tentu tongkat yg di bawanya akan di kenali oleh Tumenggung Waturangga.
" Jadi , sebelum Senopati berangkat ke Surabaya, diriku lah sebagai pemberi arahan terakhir, jika ada pertanyaan atau sesuatu yg ingin di ketahui oleh Senopati , jangan sungkan untuk bertanya kepadaku,." ucap Ki Lintang Gubuk Penceng.
Raka Senggani menatap cukup lama ke arah Ki Lintang Gubuk Penceng, ia juga sempat bersama ketika mereka bersama sama menyerang Alas Mentaok.
" Satu hal Ki Lintang Gubuk Penceng, bagaimana caranya , diriku dapat berhadapan dengan Tumenggung Waturangga itu,..?" tanya Raka Senggani.
Ki Lintang Gubuk Penceng mengatakan itu adalah perkara sangat mudah karena Tumenggung Waturangga sangat bangga dengan kemampuan ilmunya yg sangat tinggi. Dan jika ada orang yg akan menantang nya berperang tanding, tentu ia akan segera menyanggupinya.
Jadi merupakan hal yg sangat sepele kalau hanya ingin bertarung dengan Tumenggung Kepercayaan dari Adipati Surabaya ini.
" Namun yg perlu di perhatikan adalah para pembantunya, cukup banyak orang sakti yg berada di sekitar Tumenggung Waturangga ini,.." jelas Ki Lintang Gubuk Penceng.
__ADS_1