
Ia makin penasaran dengan ucapan dari Lurah Lintang Jaka Belek mengenai keadaan di desa Kenanga itu.
Dan Ki Lintang Jaka Belek pun segera menceritakan apa yg telah terjadi di desa Kenanga , mengenai tewas nya Raka Jang, paman dari Senopati Bima Sakti ini.
Hati Raka Senggani sangat terkejut mendengar nya, ia tidak menyangka bahwa Paman nya itu kini telah tiada,..
" Benarkah hal itu, Ki Lurah, atau kau hanya mengada -ada saja, siapa orang nya yg telah berani membunuh nya,..?" tanya Raka Senggani setengah tidak percaya.
" Memang demikianlah kenyataan nya , Senopati,.. Paman mu itu kini telah tewas dengan dada nya tertembus sebuah senjata sejenis pedang, akan tetapi tidak ada seorang pun yg dapat menjadi saksi mengenai siapa sesungguhnya pembunuh nya itu,.." ungkap Ki Lintang Jaka Belek.
Raka Senggani terdiam ,..hatinya pepat, baru saja ia merasakan memiliki pengganti orang tua nya dengan kehadiran Paman Raka Jang selama ini, kini ia telah mendaptakan kabar bahwa Paman nya itu telah tewas.
ia mengira -ngira siapakah sesungguhnya orang yg ingin mencari masalah dengan nya itu.
" Apakah dirimu akan disini , Ki Lurah,..?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lintang Jaka Belek.
" Maksud Senopati,..?" tanya Ki Lintang Jaka Belek tidak mengerti.
Kemudian Raka Senggani mengatakan kepada Ki Lintang Jaka Belek , jika ia masih akan bertahan disini , ia ingin meminta kepada Lurah prajurit sandi Demak ini agar memberitahukan kepada dua orang sahabat nya yaitu Jati Andara dan Japra Witangsa agar segera kembali ke desa Kenanga , ini perintah ucap Raka Senggani kepada Ki Lintang Jaka Belek.
" Baik , biarlah akan kusampaikan kepada kedua nya ,.." jawab Ki Lintang Jaka Belek.
Pada keesokan paginya, sebelum terang tanah , Raka Senggani telah berpamitan kepada pemilik rumah yg ia tumpangi itu, ia pun segera bergerak menuju Timur.
Hatinya amat berduka ketika mendengar berita bahwa Paman nya Raka Jang telah tiada.
Dengan menggunakan ilmu lari cepatnya, laksana terbang Senopati Bima Sakti ini segera melesat cepat menuju desa Kenanga.
Sehariaan berlari membuat tubuh dari sang Senopati menjadi lelah juga , akhirnya ia berhenti di dekat sebuah sendang.
Akan tetapi telinga nya yg tajam mendengar ada langkah -langkah kaki yg mendekati nya.
Dan benar saja ketika ia hendak mengambil air dari sendang itu, terdengar suara menegur nya,..
" Hahh, Senggani , apa salah orang tuaku , sehingga kau harus membunuh nya,..!" seru orang itu.
Aku seperti mengenali suara orang ini , berkata dalam hati Raka Senggani,.perlahan tubuh Senopati Bima Sakti ini membalik dan di lihatnya lah sesosok pemuda yg tengah berdiri dengan menggenggam sebilah pedang di tangan kanan nya.
" Kakang, Yantra,.benarkah dirimu ini adalah kakang Yantra.!" tanya Raka Senggani.
Senopati Bima Sakti amat kaget setelah mengetahui siapa orang yg telah menegur nya itu.
" Apa maksud kakang Yantra,..?" tanya Raka Senggani tidak mengerti.
Keduanya saling berhadapan. Dan di dalam hati masing -masing dari kedua pemuda itu terdapat perasaan yg berbeda, Raka Senggani amat senang setelah bertemu dengan saudara sepupunya ini, setelah cukup lama tidak bertemu, akan tetapi tampaknya berbeda dengan putra dari Ki Raka Jang ini, ia terlihat sedang marah dengan sorot mata yg tajam memandangi Raka Senggani.
" Kau telah membunuh Romo ku,..Senggani, apa salah Romo ku sehingga dirimu harus membunuh nya apa karena ia telah mengambil harta dari orang tua mu, hehh,.. Senggani,.hutang nyawa bayar nyawa ,..heahhh,.."
Terdengar teriakan dari Raka Yantra, bersamaan itu pula ia melesat menyerang Raka Senggani dengan pedang nya .
" Haiiit,.."
Raka Senggani berkelit, ia berlompatan menghindari tebasan pedang dari Raka Yantra ini.
Akan tetapi pemuda itu terus saja mencecar tubuh saudara sepupunya itu dengan cepat nya,hatinya seperti tengah di rasuki dendam yg menyala --nyala.
Alhasil, Raka Senggani kerepotan juga karena serangan yg di lancarkan oleh Raka Yantra semakin cepat .
" Tunggu dahulu, kakang Yantra, ini ada kesalah pahaman, hentikanlah serangan mu itu,.." teriak Raka Senggani.
" Kau jangan pandainya berlompatan seperti seekor Monyet, ayooo,..lawan Aku,..Senggani ,..!" teriak Raka Yantra.
Putra Ki Raka Jang ini telah memutar kembali pedang nya dan siap melakukan serangan.
" Hiyyyyat,.."
" Hufhhhh,.."
Kembali Raka Yantra menyerang saudara sepupunya ini dengan sangat cepat,..lambat laun tata gerak yg di keluarkan oleh putra Ki Raka Jang ini di ketahui oleh Raka Senggani.
__ADS_1
Bukankah ini adalah jurus dari padepokan Merapi, apa hubungan kakang Raka Yantra dengan Mpu Loh Brangsang itu, bertanya dalam hati Raka Senggani, ia masih saja berkelit dan menghindari semua serangan dari saudara sepupunya itu.
" Ternyata nama besar Senopati Brastha Abipraya itu hanya Ngayawara saja, tidak lebih dari isapan jempol belaka, Hehh,.." ejek Raka Yantra.
Setelah semua serangan nya hanya di hindari saja oleh Raka Senggani.
" Dengar dahulu penjelasan ku, kakang Raka Yantra,..kau jangan menyerang membabi buta seperti ini,..tahan dahulu serangan mu,.." ucap Raka Senggani.
Ia melompat dan menjaga jarak dengan saudara sepupunya itu.
" Tidak ada yg perlu di bicarakan, yg jelas kau telah membunuh , Romo, kau harus membayar nya , Senggani,..dengan nyawa mu sendiri,..heahhh,.."
Kembali Raka Yantra menyerang Raka Senggani dengan senjata nya, dan kali ini tampaknya Senopati Bima Sakti tidak mau menghindari lagi serangan itu ia pun mencabut tongkat berkepala ular milik Ki Suganpara itu.
" Trakkkhh,.."
Benturan terjadi dengan pedang yg ada apa genggaman dari Raka Yantra,..pemuda ini kaget setengah mati, tangan nya terasa panas sekali dan ia pun mental beberapa tindak ke belakang akibat benturan tadi.
Nyaris pedang nya lepas dari genggaman nya.
Gila, ..ternyata tenaga dalam anak ini sangat tinggi , aku harus berhati-hati menghadapinya,..berkata dalam hati putra Ki Raka Jang ini.
Ia kembali akan menyerang Raka Senggani yg masih tetap tegak berdiri tanpa bergerak dari tempat nya.
" Kakang Yantra, sebaiknya kita berbicara sebagai dua orang saudara, ada yg perlu di luruskan di sini,.." ucap Raka Senggani.
" Aku tidak butuh penjelasan mu Senggani, dari dahulu dirimu telah mendendam keluarga ku , terutama dengan Romo ku,..tentu kau memang berniat untuk membunuh nya bukan,..?!!"" seru Raka Yantra.
" Kakang Yantra salah, selama beberapa waktu terakhir ini, Aku telah berbaikan dengan paman, bahkan pada pernikahan ku beberapa waktu yg lalu beliau lah yg menjadi wali ku,..dan Aku sendiri amat kaget mendengar ia telah tiada, padahal ketika ia ku tinggalkan , ia dalam keadaan baik baik saja,.." jelas Raka Senggani.
" Kau bohong, Senggani,..kau tetap mendendam kepada Romoku, dan meminjam tangan orang lain untuk membunuh nya,..!" seru Raka Yantra.
" Apakah kakang telah pernah bertemu dengan Paman,..?" tanya Raka Senggani.
Raka Yantra yg mendapati pertanyaan ini menjadi terdiam, sehingga ia tidak mampu menjawabnya.
" Itu tidak perlu Senggani,.yg ada kau harus mati di tanganku sebagai ganti nyawa orang tuaku itu,.." balas Raka Yantra.
" Kakang Yantra, selama ini , aku memang tengah mencari dirimu , seperti permintaan Paman,.akan tetapi karena banyaknya tugas yg harus ku lakukan, sehingga diriku terpaksa mengesampingkan niat itu,..jadi darimana diri mu tahu, bahwa Paman telah tiada,..?" tanya Raka Senggani.
Kembali pertanyaan dari saudara sepupunya ini sulit untuk di jawab oleh Raka Yantra, karena ia mengetahui nya dari guru nya sendiri yg telah mengatakaan kepada nya bahwa ia tidak boleh mengatakan hal ini kepada siapa pun juga termasuk kepada Raka Senggani saudara sepupunya itu.
" Darimana aku tahu itu tidak penting, yg sekaran ku pinta dari mu adalah bertanggungjawab atas kematian Romo ku,..Senggani,..!" seru Raka Yantra lagi.
" Baiklah kalau begitu, jika memanh kakang Yantra mampu melakukan nya, lakukan lah, tetapi aku akan melawan,.." jawab Raka Senggani.
Senopati Bima Sakti ini ingin mengetahui sampai dimana kemampuan dari saudara sepupunya ini yg ternyata adalah salah seorang murid dari Mpu Loh Brangsang dari Gunung Merapi.
" Bagus , bersiaplah,.. Senggani, Aku tidak akan main main lagi,.." ucap Raka Yantra.
Pemuda yg berkumis tipis ini tengah bersiap pada pengerahan ilmunya, setelah benturan senjata tadi ia merasakan bahwa akan sulit untuk mengalahkan saudara sepupunya itu.
Sambil merapal mantera , tampaknya Raka Yntra akan segera melepaskan aji Lebur Saketi miliknya.
" Bersiaplah ,..Senggani,...aji Lebur Saketi,..Heaahhh,.."
" Dhumbhhh,.."
" Bletaaaaar,.."
Sambil berteriak sangat keras, Raka Yantra membuka kedua telapak tangan nya ke arah Raka Senggani dan kemudian melepaskan ajian nya itu,. ia melihat Raka Senggani masih tetap berdiri pada posisi nya saat ia tengah melepaskan serangan nya itu.
" Ha, ha ,ha, ****** kau Senggani,.." teriak Raka Yantra.
Pemuda it amat kegirangan setelah serangan nya sepertinya mengenai sasaran nya.
Dan ia yakin bahwa saudara sepupunya itu pasti akan menemui ajalnya . Tetapi kebahagiaan dari putra Ki Raka Jang ini hanya sebentar saja tatkala dari arah belakangnya ada yg menegur nya.
" Apa yg kakang Yantra tertawakan itu ,..?"
__ADS_1
Orang tersebut yg tiada lain adalah Raka Senggani yg bertanya kepadanya.
" Hehhh,.."
Raka Yantra terkejut mendengar nya, ia tidak melihat bahwa Raka Senggani menghindari serangan nya itu tetapi tiba-tiba saja pemuda itu telah berada di belakang nya.
" Kakang Yantra , sampaikan kepada gurumu, aku masih mempunyai persoalan dengan nya,..katakan dimana Aku bisa bertemu dengan nya,..Aku siap kapan pun,.." seru Raka Senggani.
Bersamaan dengan hilang nya suara dari Senopati Bima Sakti ini, bersamaan itu pula ia pun telah pergi meninggalkan tempat itu.
Raka Yantra celingukan mencari saudara sepupunya itu,.akan tetapi ia tidak menemukan lagi.
Kemana perginya anak itu,..ternyata ia takut menghadapi ku, berkata dalam hati Raka Yantra.
Pemuda yg merupakan murid dari Mpu Loh Brangsang ini merasa unggul dari Senopati Sandi Yuda Demak itu.
Padahal sebenar nya Raka Senggani tidak ingin melukai dirinya, sehingga ia meninggalkan tempat itu , ia ingin segera sampai di desa Kenanga. Dan mengetahui apa sebenarnya yg telah terjadi.
Dengan sangat cepat Raka Senggani meninggalkan Raka Yantra, Senopati Bima Sakti ini ingin segera mengetahui apa sebenarnya yg telah terjadi.
Ketika ia telah memasuki wilayah kekuasaan kadipaten Pajang.
Senopati Bima Sakti ini berhenti sejenak.
Apakah diriku akan singgah terlebih dahulu di Pajang,..tanya nya dalam hati.
Tetapi kemudian ia putuskan untuk segera sampai di desa Kenanga agar ia dapat mengetahui kejadian yg sesungguhnya , dan mengapa Raka Yantra tahu bahwa orang tua itu telah tiada .
Apakah ada hubungan nya antara kematian Paman Raka Jang dengan penguasa Gunung Merapi itu.
Demikian lah pertanyaan yg bwrkecamuk d dalam hati Sang Senopati.
Saat malam menjelang tibalah , Raka Senggani di desa Kenanga .
Ia langsung menuju rumah yg baru di bangun nya itu.
Disana keadaan nya ternyata cukup ramai, beberapa orang mengadakan tahlilan setelah meninggalnya Paman nya , Raka Jang.
" Assalamualaikum ,.." ucap Raka Senggani.
" Wa 'alaikum salam,.." jawab orang orang yg ada di dalam rumah itu dengan serempak.
" Angger,..Senggani,..!" seru Ki Lamiran.
Pande besi desa Kenanga ini langsung memeluk tubuh sang Senopati.
Ia pun segera menceritakan apa yg telah terjadi saat malam duka itu.
" Begitulah,..Ngger,.. ketika diriku kembali, kulihat pintu setengah terbuka dan dengan rasa penasaran aku mendorong nya, kulihat tubuh Ki Raka Jang tengah tergeletak beraimbah darah, dengan lobang yg menembus dada nya,.." jelas Ki Lamiran.
" Apakah pada saat siang itu tidak ada yg mencurigakan, Ki,..?" tanya Raka Senggani.
" Tidak ada yg mencurigakan, sepertinya orang yg melakukan nya telah mempersiapkan secara matang niatan nya itu tanpa seorang pun yg mengetahui nya,..!" jawab Ki Lamiran.
Raka Senggani masih mempertanyakan apakah orang tersebut ada meninggalkan jejak atau sesuatu yg dapat di telusuri keberadaan nya.
Oleh Ki lamiran di jawab dengan gelengan kepala.
Pada malam itu, akhirnya rumah Raka Senggani ini menjadi lebih ramai lagi setelah para penduduk desa Kenanga mengetahui diri nya telah kembali dari medan perang.
Banyak yg ingin mendengar penjelasan dari sang Senopati keadaan para prajurit Kerajaan Demak yg di kirim ke Lor itu dan bagaimana tewasnya Kanjeng Gusti Sultan Demak itu.
Akhirnya, mau tidak mau Senopati Bima Sakti ini menceritakan apa yg telah terjadi dengan pasukan Armada laut Demak ketika berperang melawan bangsa asing itu.
" Yeahhh,.. sebenarnya Pasukan Kerajaan Demak tidak kalah, sayang, Kapal perang yg di tumpangi oleh Kanjeng Gusti Sinuwun harus hancur oleh sebuah hantaman meriam yg besar milik musuh, itulah yg menyebabkan pasukan Demak harus mundur setelah gugur nya Kanjeng Gusti Sultan,..!" jelas Raka Senggani.
Sebagai salah seorang yg melihat sendiri kejadian yg menimpa Kapal perang milik Kanjeng Gusti Sultan Demak itu, hati Raka Senggani merasa teriris karena saran yg ia usulkan tidak terlalu di dengar oleh penguasa dari Kerajaan Demak pada waktu itu dan menyebabkan dirinya harus kehilangan nyawa nya.
Dan kini kesedihan sang Senopati pun bertambah setelah meninggal nya Paman nya tanpa d ketahui siapa pelaku pembunuhan nya.
__ADS_1