
Dengan segera , Begawan Kakung Turah ini menggerakkan tangan sebelahnya kirinya membuka.
Sambil ia terus memutar tongkat nya, deru angin pun sangat keras terdengar.
Saat Ki Ajar Sarabaya kembali melepaskan pukulan jarak jauhnya, maka orang yang berjuluk si Tua Gila ini pun melepaskan pula pukulan balasan.
" Heahhhhh..!"
" Bleghuaaarr ....!"
Dua pukulan beradu dengan dahsyatnya, sinar merah yg keluar dari mulut kiri Ki Gabluk bertemu dengan cahaya biru dari tangan Begawan Kakung Turah.
Dari benturan ini , kembali Ki Gabluk harus terlempar jatuh dengan keras nya ke atas tanah.
Akan tetapi ia kembali mampu bangkit dan bersiap untuk melanjutkan pertarungan.
Rupanya si Hantu dari selatan memiliki sejenis ilmu yang dapat membuatnya semakin bertenaga ketika dirinya menerima pukulan dari lawan.Ini membuat heran Begawan Kakung Turah.
Setelah beberapa kali dirinya mampu menjatuhkan lawannya ini, akan tetapi ia masih mampu melawan.
Aneh,. apakah ia memiliki , aji Brantah Wala,..berkata dalam hati Begawan Kakung.
Sungguh sejak pertemuan terakhirnya dengan Ki Ajar Sarabaya ini, ia masih mampu menaklukan nya dengan cepat, namun tidak untuk kali ini.
Demikian pula yg melihat pertarungan tersebut, terutama dua orang yg berada cukup jauh dari tempat itu.
Mereka berdua mengatakan bahwa Ki Ajar Sarabaya ini memang memiliki bekal untuk mengahadapi Begawan Kakung Turah yg di kenal sebagai manusia setengah dewa, dengan segala kemampuan nya.
Bahkan usianya yang sudah sangat sepuh itu tidak nampak terlihat pada Perang Tanding kali ini.
Akan tetapi mereka pun cukup heran den kemampuan si Hantu dari selatan ini, menurut mereka tidak sampai lima puluh jurus , ia sudah tidak akan mampu melawan lagi.
" Resi, apakah si Hantu dari selatan itu memang memiliki sebuah ilmu yg dapat menyerap tenaga lawan nya dengan semakin banyak ia menerima pukulan , semakin bertambah tenaga nya,..?" tanya Ki Gedangan.
" Maksudmu , Aji Brantah Wala,..?" balik Resi Mundingrata yg bertanya.
" Benar, Resi,..Aji Brantah Wala,.. apakah mungkin Ki Ajar Sarabaya ini memliki ilmu tersebut,..!" ucap Ki Gedangan.
" Entahlah, sepertinya memang demikian, sudah beberapa kali ia terkena pukulan dari Ki Argayasa itu, tetapi tetap saja ia mampu melanjutkan pertarungan,..mungkin benar yg Ki Gedangan katakan, ia memang memliki Aji Brantah Wala,..!" ucap Resi Mundingrata
Sedangkan Raka Senggani yg melihat secara dekat perang tanding ini pun tidak kalah heran nya, karena si Hantu dari selatan memang memiliki sebuah kelebihan dari Begawan Kakung Turah, yaitu ia masih saja mampu untuk bangkit melawan tatkala tubuhnya harus menerima pukulan yang sangat telak.
Hingga akhir nya, Begawan Kakung Turah segera kembali memusatkan nalar budi nya,.. tampaknya ia tidak mau di kacangi oleh lawan nya ini.
Tampak orang tua ini bersedekap sekejap dan kemudian berteriak dengan keras sambil melesat cepat menuju Ki Ajar Sarabaya.
" Heahhh,..Rajah Wulungan,..!" teriak nya.
Deru angin keras menyertai gerakan orang tua itu.
Tongkatnya yg berisi angin yang sangat keras segera menghantam ke arah tubuh dari Ki Ajar Sarabaya ini,.. Hantu dari selatan ini masih mampu menepis serangan tersebut dengan senjata nya , canggah yg ada di tangan nya ini bergerak memapasi serangan tongkat tersebut.
Tetapi rupanya serangan yg lain segera menyusul dari tangan kiri Begawan Kakung Turah , cahaya biru terang segera keluar dari telapak tangan si Tua Gila ini.
Ki Ajar Sarabaya berusaha membenturkan ajian nya dengan serangan tersebut.
Namun ia kalah cepat, serangan Begawan Kakung Turah langsung menghajar tubuhnya,..
" Aaakhh,..!"
Terdengar suara teriakan yg keras dari Ki ajar Sarabaya itu.
Saat tubuhya masih melayang deras meluncur akibat serangan itu, tampak tubuh Begawan Kakung Turah mengejar nya dan mengirimkan sebuah tendangan lagi.
Seperti nya Penguasa dari Bukit Tuntang tidak akan membiarkan hidup lagi lawan nya.
Tatkala tubuh dari Ki Ajar Sarabaya ini jatuh di atas tanah,Begawan Kakung Turah terus saja mengejar nya dan mengarahkan ujung tongkatnya ke arah jantung lawan.
" Hiyyahh,..!"
" Traaakkk,..!"
" Hehh,..!"
Begawan Kakung Turah terkejut bukan kepalang ketika serangan akhirnya ini ada yg menghalanginya.
" Kauuu,..!" seru nya dengan keras.
__ADS_1
" Benar,..!" jawab orang tersebut.
" Mengapa dirimu menghalangi ku membunuh orang ini,..Hehh,..!" bentak Begawan Kakung Turah.
" Bukankah Eyang Begawan telah menunjuk diriku untuk menjadi pengadil dalam perang tanding kali ini, dan saat ini Ki Ajar Sarabaya telah kalah, jadi Eyang Begawan tidak berhak lagi untuk membunuh nya ,bukan begitu perjanjian nya,..!" ucap Raka Senggani kalem.
Memang suatu keputusan yang sangat sulit harus diambil oleh Senopati Brastha Abipraya ini ketika melihat Ki Ajar Sarabaya itu tampaknya telah kalah dan pingsan.
Tindakan nya ini membuat Begawan Kakung Turah murka.
" Jadi kau ingin menantang ku, Hehh,..!" teriak Begawan Kakung Turah.
" Bukan begitu maksud ku, Eyang Begawan, akan tetapi jika dalam perang tanding ini lawan telah kalah dan tidak mampu melawan lagi, perang tanding ini harus segera d hentikan ,.. bukankah Ki Ajar Sarabaya ini telah kalah, dan kemungkinan nya ia sudah tidak bernyawa lagi, mengapa Eyang ingin tetap menusuk kan tongkat itu ke dada nya lagi..!" jelas Raka Senggani.
" Ahh,.. ternyata dirimu memang ingin menantang diriku,.juga berharap mendapatkan kedua benda pusaka itu, baik mari kita bertarung,.. bersiaplah,..!" ucap Begawan Kakung Turah.
Tampaknya Perang Tanding yg kedua akan tersaji kembali antara Begawan Kakung Turah dengan Raka Senggani.
Tetapi dengan tenang nya , senopati Brastha Abipraya ini berkata,..
" Jika memang Eyang Begawan menginginkan nya, aku tidak dapat menolaknya, namun sebelum nya , izinkanlah diriku memeriksa keadaan Ki Ajar Sarabaya ini,..baru sesudahnya terserah Eyang Begawan,..,!" ungkap Raka Senggani.
" Tunggu,..!"
Datanglah ke tempat itu Mpu Loh Brangsang mendekati kedua orang yg tampaknya sedang bersiap untuk bertarung.
" Apa maksudmu datang kemari,..?" tanya Begawan Kakung Turah geram.
" Biarlah Senopati Pajang ini untuk sementara merawat tubuh Ki Gabluk, sedangkan dirimu menghadapi diriku , Argayasa,..!" tantang Mpu Loh Brangsang kepada Begawan Kakung Turah.
" Baik, jika memang dirimu ingin seperti itu, bersiaplah Branang,.kali ini aku tidak akan main main lagi,..!" sahut Begawan Kakung Turah.
Ia kembali memutar tongkatnya dengan cepat, sedangkan Mpu Loh Brangsang tampaknya mengeluarkan sebilah keris dari balik pinggangnya, kedua orang ini bersiap untuk bertarung.
Raka Senggani sendiri segera memeriksa keadaan dari Ki Ajar Sarabaya.
Ternyata si Hantu dari selatan ini masih bernafas, meski sangat halus nyaris tidak tampak.
Heh,.memang sangat kuat tubuh Ki Ajar Sarabaya ini, meskipun ia berkali kali terhantam pukulan Begawan Kakung Turah, tetapi ternyata ia masih bertahan hidup, pantas , Si Tua Gila itu ingin mengahbisinya,..berkata dalam hati Raka Senggani.
" Bawa kemari, !" seru seseorang.
Raka Senggani segera menoleh ternyata empat orang tengah berdiri, dan salah seorang melambaikan tangan nya.
Mereka ini adalah saudara seperguruan dari Ki Ajar Sarabaya dan dua orang lagi adalah muridnya.
Raka Senggani selanjutnya menyerahkan tubuh Ki Ajar Sarabaya ini kepada mereka.
" Teima kasih , Senopati,..kami merasa berhutang budi kepada mu,..!" ucap Ki Jaladri.
Salah seorang adik seperguruan dari Ki Ajar Sarabaya .
Raka Senggani kemudian meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke arena perang tanding . Dan kali ini ia melihat pertarungan yg sangat dahsyat, karena kedua orang tokoh tua dari dunia persilatan ini memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam hal ilmu peringan tubuh.
Mpu Loh Brangsang jarang terlihat menjejakkan kaki nya diatas tanah. Tubuhnya yang bergerak kesana kemari dengan sangat ringan nya, sementara itu Begawan Kakung Turah yg juga memiliki hal kecepatan pun dapat mengimbanginya.
Pertarungan di udara pun tersaji dalam perang tanding kali ini, tongkat di tangan Begawan Kakung Turah telah menyala berwarna kebiru biruan, pertanda orang itu telah menyalurkan ilmunya atas tongkatnya ini.
Sedangkan Mpu Loh Brangsang yg menggunakan keris sebagai senjatanya , tampak terus bekelebatan laksana burung elang yang tengah mencari mangsa.
Tetapi lawan nya kali ini adalah manusia yang memiliki cukup banyak ilmu dan memiliki segudang pengalaman, tidak membuat Begawan Kakung Turah kewalahan.
Si Tua Gila ini terus saja mencecar Mpu Loh Brangsang dengan tongkatnya ,.sehingga tak ayal lagi, benturan kedua senjata pun harus terjadi.
" Heahhh,..****** kau Tua Gila,..!" seru Mpu Loh Brangsang.
" Tidak semudah itu , Branang,..!" sahut Begawan Kakung Turah.
Yg mengemposi tubuhnya dan bergerak naik lebih tinggi lagi ke udara tatkala keris di tangan Mpu Loh Brangsang ini berusaha menikam jantung nya.
Mpu Loh Brangsang sendiri dengan ringannya terus memburu,.mau tidak mau Begawan Kakung Turah harus menghentikan pergerakan nya.
" Heaahhh,..!"
" Traakk,..!"
Tongkat Begawan Kakung Turah menyabet mengarah leher dari Mpu Loh Brangsang, , penguasa Gunung Merapi ini memalangkan keris nya menahan serangan cepat itu.
__ADS_1
Kembali benturan keras terjadi,.kedua orang ini melompat ke belakang akibat benturan yang terjadi.
Walaupun tenaga dalam Mpu Loh Brangsang tsmpaknya masih berada d bawah tenaga dalam lawan nya kali ini, tetapj ia tidak masih mempunyai kelebihan dalam hal peringan tubuh.
Sehingga pertarungan terus berlanjut dengan mengerahkan dan mengeluarkan kemampuan masing-masing.
Mpu Loh Brangsang merasa yakin mampu mengalahkan Begawan Kakung Turah, karena dalam benturan tadi, ia melihat si Tua Gila ini pun harus melompat mundur.
" Kakang Kuda Wira, apakah guru mampu mengalahkan Si Tua Gila itu ..?" tanya Dewi Rasani Mayang yg tengah menyaksikan jalan nya pertarungan.
" Entahlah , adi Mayang, tampaknya sulit bagi Guru untuk mampu mengalahkan orang tua itu,.." balas Raden Kuda Wira.
" Mengapa Kakang mengatakan demikian, darimana kakang melihatnya,..?" tanya Dewi Rasani Mayang.
" Karena Guru sepertinya masih di bawah si Tua Gila ini dalam hal tenaga dalam,..!" jelas Raden Kuda Wira.
" Jadi, apa yang harus kita lakukan jika pendapat Kakang ini benar,..?" tanya Dewi Rasani Mayang lagi.
Pemuda itu terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan dari adik seperguruannya ini.
Kemudian ia berbisik kepada gadis itu.
" Hahhh,..!" seru Dewi Rasani Mayang kaget.
" Iya ,.bila perlu sekalian dengan Senopati Pajang itu,..!" ucap Raden Kuda Wira pelan.
" Ini akan sangat berbahaya Kakang Kuda,..,!" ucap Dewi Rasani Mayang .
" Apa nya yg berbahaya,..kita melakukan nya dari sini dari tempat ini,.,!" terang Raden Kuda Wira.
" Jika para tokoh persilatan ini tahu, kita berdua bisa mereka bunuh secara beramai ramai,.Kang,..!" ungkap Dewi Rasani Mayang.
" Tenanglah,. mereka tidak akan mengetahuinya,.Adi Mayang,..,!" sahut Raden Kuda Wira.
Pemuda itu nampaknya tengah menimang nimang tiga buah pisau kecil yg pada ujungnya terlihat sangat hitam warnanya penanda bahwa benda itu memiliki warangan yg kuat.
Mereka berdua terus melihat jalannya pertarungan.
Di sisi lain, Raka Yantra yg juga memandangi jalan nya perang tanding itu pun sepertinya merasa bahwa sang guru akan mengalami kekalahan.
" Kakang Raka Yantra , tampaknya Eyang Mpu Loh Brangsang itu akan kalah, ternyata gelar manusia setengah dewa itu memang pantas di sandang oleh Begawan Kakung Turah ini,..!" ucap Tara Rindayu.
Ia yg berdiri bersebelahan dengan putra Raka Jang ini melihat sang pemuda tidak berkedip melihat jalan nya pertarungan.
" Ehh, iya,..adi Rindayu,..memang Eyang Branang harus mengakui keunggulan dari si Tua Gila itu, beberapa kali serangan nya dapat dengan mudah di mentahkan oleh orang itu,..,!" jawab Raka Yantra.
Memang yg berada di tempat itu merasakan bahwa Perang Tanding kali ini akan di menangkan lagi oleh Si Tua Gila ini.
Termasuk seorang yang melihat dari sebuah cabang pohon yang berada agak jauh dari tempat tersebut.
Sungguh ilmu dari Argayasa ini sangat tinggi , sulit di cari bandingnya, si Branang ini tidak akan mampu bertahan sampai jurus yg ke seratus, berkata dalam hati orang itu.
Ia duduk dengan ringan nya di atas cabang pohon itu sambil menyaksikan pertarungan antara kedua orang yg melakukan perang tanding ini.
Saat Rembulan semakin terang memancarkan cahaya nya,.dimana Bukit Tuntang ini semakin terang .
Kelebatan -kelebatan dari kedua orang yg sedang bertarung semakin sulit untuk diikuti oleh mata biasa.
Gerakan keduanya semakin banyak mengandalkan ilmu peringan tubuh.
Beberapa kali serangan yg di lancarkan oleh Mpu Loh Brangsang belum mampu menembus pertahanan lawan.
Karena Begawan Kakung Turah juga semakin cepat bergeraknya, bahkan tidak jarang ia dapat menghilangkan tubuhnya hingga membuat Penguasa Gunung Merapi ini kebingungan mencari nya.
" Bagaimana Branang apakah tidak sebaiknya kita sudahi saja pertarungan ini , dan sebaiknya dirimu segera kembali ke merapi,..he,he, he,..!" ujar Begawan Kakung Turah sambil tertawa tawa mengejek.
" Hehh Tua Gila , aku tidak akan berhenti sebelum berhasil membunuh mu dan merebut kedua pusaka itu, kau jangan merasa sombong dulu,..!" seru Mpu Loh Brangsang.
" Akan tetapi , kau pun harus sadar diri, sudah sejauh ini, dirimu belum bisa menjatuhkan diri ku,.hah,..!" teriak Begawan Kakung Turah.
Ia melesat lagi sambil memutar kembali tongkatnya , angin kencang kembali terasa di tempat itu, debu dan dedaunan kering nampak terlontar ke udara di hantam angin yg di timbulkan oleh putaran tongkat tersebut.
Tubuh Mpu Loh Brangsang pun nampak goyang , di hantam badai serangan angin ini, ia terus bertahan dengan memalangkan kerisnya di depan dada, mulutnya komat kamit membaca mantera kemudian,.
" Aji Lebur Saketi,. heahhh,..!"
Terdengar teriakan nyaring keluar dari mulutnya sambil tubuh Mpu Loh Brangsang ini membubung tinggi ke udara, dari tangan nya memancarkan cahaya yang sangat terang menghantam ke arah tubuh Begawan Kakung Turah.
__ADS_1