Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 13 Bingung. bag kedua.


__ADS_3

Ditengah kebingungan Raka Senggani tanpa sadar ia meremas tangannya, ia memang sulit untuk mengambil keputusan untuk tetap tinggal di pedukuhan itu guna menghadapi tantangan dari saudara seperguruan dari Ki Mangku Darno yg telah di bunuh nya beberapa waktu lalu dengan keadaan nya yg seperti ini atau ia lari dari tantangan itu, karena saat ini ia memang tidak memiliki apapun.


Tidak sadar jari tangannya menyentuh cincin pemberian Kanjeng Sultan Demak.


Raka Senggani menatap cincin itu cukup lama. Ia merasa masih punya kekuatan dengan cincin itu yg telah beberapa kali menunjukkan khasiat nya.


Hehhh, sebaiknya kuterima saja permintaan Kakang Bekel ini,untuk menerima Tantangan dari saudara seperguruan nya Ki Mangku Darno itu, aku tidak boleh lari tanggung jawab, Katanya dalam hati.


Akhirnya ia berkata kepada Bekel itu untuk bersedia tinggal di pedukuhan itu satu malam, jika mereka memang tidak datang maka esok hari nya ia akan berangkat dari tempat itu menuju ke kotaraja Demak .


Bekel pedukuhan Dalih tersebut sangat senang mendengarkan nya, segera di perintahkan nya kepada sang istri untuk menyiap kan makanan yg banyak hari itu, beberapa ekor ayam pun menjadi korban untuk di jadikan jamuan makan pada Raka Senggani.


Saat telah menjelang sore, kediaman Ki Bekel itu telah ramai di datangi para warga yg umum nya kagum akan kesaktian dari seorang pemuda yg mengaku sebagai prajurit Pajang.


Dan pemuda itu telah berhasil menyelamatkan pedukuhan itu dari kawanan rampok yg di pimpin oleh Ki Mangku Darno.


Dan saat ini mereka mendengar ada saudara seperguruan dari pemimpin begal itu yg ingin menuntut balas dan bertepatan dengan kehadiran pemuda itu, jadi warga pedukuhan itu tidak menyia-nyiakan kesempatan pertunjukan yg menurut mereka tentu akan sangat seru , karena mereka mengetahui kesaktian dari pemuda yg ada di rumah Bekel nya itu.


Ada diantara mereka yg menjadikan pertarungan kali ini sebagai ajang untuk bertaruh, namun karena umum nya mereka menjagokan Raka Senggani, terpaksalah taruhan itu di batalkan, tidak ada yg berani memegang saudara seperguruan dari Ki Mangku Darno itu sebagai jago nya.


Sedangkan Raka Senggani sendiri masih dalam keadaan gelisah, saat ini memang hatinya tidak tenang , bahkan ia menyuruh salah seorang dari anak ki Bekel untuk mengambilkan segelas air putih.


Ia kemudian memasukkan cincin Kanjeng Gusti Sultan itu ke dalam gelas dan selanjutnya air itu di minum nya.


Terasa tubuh nya agak ringan bahkan gelisah di hatinya pun sedikit berkurang.


Saat ini selain ia berdoa kepada yg Maha kuasa untuk keselamatan nya, juga berharap khasiat dari cincin pemberian Kanjeng Sultan itu akan bekerja , walaupun ia tidak mampu mengeluarkan ajian nya setidaknya tubuh nya masih kebal dengan senjata tajam, demikian lah kata hati nya.


Dan saat malam telah menjelang , dan kediaman dari Bekel pedukuhan itu telah ramai, Raka Senggani dan Ki Bekel telah selesai santap malam, mereka duduk di pendopo rumahnya Ki Bekel itu.


Sampai wayah sepi uwong, tidak ada terlihat yg datang ke tempat itu, rasa gelisah menyelimuti orang -orang yg berada di situ termasuk Raka Senggani dan Ki Bekel.


" Apakah orang itu memang akan datang malam ini, atau Kakang Bekel salah mendapatkan berita nya,?" tanya Raka Senggani.


" Benar adi Senggani, ia sendiri yg mengatakan bahwa akan datang malam ini, di tempat ini, bahkan ia memaksaku agar secepatnya memberitahukan kepada adi Senggani," jawab Ki Bekel.


" Tetapi kenapa sampai saat ini ia belum muncul, apakah ia tidak jadi datang," gumam Raka Senggani.


Ki Bekel hanya menggelengkan kepalanya, ia pun tidak tahu akan hal itu.


Namun belum pun , rasa gelisah kedua orang itu sirna, tiba -tiba terdengarlah suara tertawa,


" Hua, ha, ha, ternyata sudah banyak orang di tempat ini,"


Teriakan itu cukup keras dan mengandung tenaga dalam yg lumayan tinggi, akibat nya, orang -orang yg ada disitu sampai memegangi dadanya, termasuk dengan Raka Senggani.


Kali ini sang Senopati mendapatkan akibat dari suara tertawa itu, jantung berdetak sangat kencang seperti di hantam sebuah palu yg sangat besar , ia sampai memegangi dadanya.


Mati aku kalau begini, tenaga dalam nya sangat tinggi , baru suara tertawa nya saja aku tidak mampu menahan nya bagaimana nanti jika harus bertarung dengan nya, katanya dalam hati.


Terlihat kebingungan di raut wajah Senopati Pajang itu, beruntung orang -orang yg berada di tempat itu tidak memlerhatiksn nya yg hampir telentang di atas lantai.


Karena mereka akan pun merasakan hal yg sama dengan yg di rasakan oleh Raka Senggani.

__ADS_1


Perlahan orang yg datang itu berjalan mendekati halaman rumah Ki Bekel, dan setelah tepat berada di tengah halaman rumah itu ia berkata lantang,


" Ki Bekel, apakah orang yg telah membunuh saudara seperguruan ku itu telah berada di sini,?" tanya nya.


Dan kali ini ia tidak mengerahkan tenaga dalam nya sehingga Bekel pedukuhan itu mampu menjawabnya,


" Benar Kisanak, ia memang berada disini sekarang , silahkan kisanak untuk bertemu dengan nya," jawab Ki Bekel.


" Suruh ia turun kemari untuk berhadapan denganku, dan harus mempertanggung jawabkan atas semua kesalahan nya telah berani membunuh kakang Mangku Darno itu, cepaaaaat,..." teriak nya


" Bb, bbaik Kisanak, " jawab Ki Bekel tergagap.


Ia kemudian memandang arah Raka Senggani yg telah dapat duduk seperti semula dan telah mampu mengatasi rasa sakit di jantung nya itu.


" Tenang kakang Bekel, aku akan segera turun," ucap Raka Senggani.


Karena ia paham akan pandangan dari Ki Bekel itu.


Segera lah Raka Senggani bangkit dari duduk nya dan melangkah turun menuju halaman rumah itu, dan alangkah terkejutnya ia setelah melihat orang yg ada di hadapan nya itu, seorang yg di kenal nya,


" Hehhh, bukankah dirimu adalah Ki Sumo Langu," seru nya kaget.


Orang yg ada di hadapan nya itu pun cukup heran karena orang yg di tantang nya itu adalah orang yg pernah mengalahkan nya dahulu saat mereka menghadang putra dan putrinya Tumenggung Bahu Reksa dari Demak.


" Benar kisanak, aku adalah Sumo Langu yg pernah bertemu denganmu di hutan pada waktu itu," jawab nya .


Suara orang tersebut tidak lagi garang bahkan cenderung sangat lemah, karena ia tahu siapa orang yg ada di hadapan nya itu.


Dan kali ini keberanian dari Senopati Pajang itu timbul setelah melihat orang yg dihadapi nya adalah Sumo langu.


"Bb Benar, anak muda, Aku dan adi Sumo lewu adalah saudara seperguruan dari kakang Mangku Darno,!" jawab Ki Sumo Langu agak gugup.


" Dan apakah memang benar , niatmu tadi itu adalah untuk mengadakan Perang Tanding guna menuntut balas atas kematian nya,?" tanya Raka Senggani lagi.


Ki Sumo Langu menekuk kepalanya, ia tidak berani menatap wajah Sang Senopati, karena ia tahu dengan kemampuan pemuda itu.


Di hati dari Sumo Langu berkata, pantaslah kakang Mangku Darno tewas, ternyata pembunuh nya adalah seorang pemuda yg sangat Linuwih, ia saja berdua dengan adiknya Ki Sumo lewu tidak mampu mengatasi nya beruntung pemuda itu masih berbaik hati mengampuni nya tidak membunuhnya , kata nya dalam hati.


Orang -orang yg ada di tempat itu merasa aneh akan kejadian tersebut, karena mereka memang melihat kegarangan dari orang yg mengaku sebagai saudara seperguruan dari Ki Mangku Darno itu saat tiba disitu, tetapi begitu berhadapan dengan anak muda itu, nyali mengekeret, seperti lompong di siram air panas, tidak tampak lagi kegarangan nya.


Mereka bahkan berbisik bisik mengatakan bahwa tidak akan terjadi pertarungan karena orang yg datang itu tampak nya sangat segan dengan pemuda itu.


Sementara Ki Sumo Langu yg terdiam cukup lama menjawab pertanyaan dari Raka Senggani itu,


" Sebenarnya demikian lah tujuan ku datang kemari, tetapi berhubung dirimulah orang nya yg telah mengalahkan kakang Mangku Darno itu,niat ku urungkan, mana mungkin diriku mampu menghadapi dirimu kisanak hanya akan menyusul kakang Mangku Darno saja," ucap nya.


" Baguslah, jika memang demikian, aku pun merasa bersalah atas kematian dari Ki Mangku Darno itu, tetapi ia telah Aku peringatkan untuk menyerah tetapi ia tidak mau terpaksalah aku menjatuhkan tangan kepadanya, berbeda dengan Ki Wulung Ireng, meskipun ia harus ikut ke Demak tetapi ia masih mau menyerah, sekali lagi maafkanlah diriku atas kematian dari kakak seperguruan Ki Sumo Langu itu," ucap Raka Senggani.


" Ya, kami pun mengerti dengan sikap dari kakang Mangku Darno yg terlalu mementingkan harga diri nya daripada nyawa nya, kami pun memohon maaf atas kesalahan nya itu," jawab Sumo Langu.


" Hei, dimana Ki Sumo lewu, bukankah kalian sering pergi bersama,?" tanya Raka Senggani.


" Ada , ia tadi ada berada disini, karena kami memang datang berdua," jawab Sumo Langu.

__ADS_1


" Suruh ia datang kemari, aku ingin berbicara dengan nya, karena kali ini kulihat kemampuan kalian sudah sangat tinggi," ujar Raka Senggani.


" Hehh, benar kah itu Kisanak,... baik aku akan memanggil adi Sumo lewu," jawab Ki Sumo Langu.


Ia segera bersuit cukup keras, dan datanglah seseorang yg tiada lain adalah Ki Sumo lewu itu


Orang itu setelah melihat Raka Senggani langsung memeluknya dan berkata,


" Sebenarnya aku telah melarang kakang Sumo Langu untuk menuntut balas, tetapi ia malah bersikeras untuk datang kemari, tidak tahunya Kisanak Pendekar yg ada disini, mungkin kami bertiga bergabung dengan Kakang Mangku Darno pun tidak akan mampu menandingi kemampuan dari Kisanak ini," ucap nya.


" Ahh, Ki Sumo lewu terlalu merendah, tadi saja suara dari Ki Sumo Langu amat menggelegar ketika berteriak, hampir saja pendopo rumah Ki Bekel itu ambruk," kelakar Raka Senggani.


" Ha, ha, ha, ha,"


Terdengar tertawa dari kedua orang itu setelah mendengar candaan dari Raka Senggani. Karena keduanya tahu akan kemampuan dari pemuda yg ada di hadapan nya itu yg memiliki ilmu dan kemampuan yg sulit untuk di ukur.


" Marilah kita duduk ke pendopo, kita berbicara disana sebagai seorang teman bukan musuh," ajak Raka Senggani.


Dan kedua orang itu pun menurutinya, mereka bertiga berjalan ke rumah Bekel pedukuhan Dalih itu.


Sementara orang -orang yg berada di tempat itu segera berkasak kusuk, umum nya mereka meyakini tidak akan ada pertarungan pada malam itu, karena yg datang tampak sangat takut kepada pemuda yg telah berhasil menewaskan Ki Mangku Darno itu.


Berangsur -angsur mereka meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah masing -masing.


Sementara Ki Sumo Langu dan Ki Sumo lewu, duduk di pendopo rumah Ki Bekel pedukuhan itu.


Mereka kemudian bercerita pengalaman masing-masing, termasuk saat pertemuan mereka di alas dekat pedukuhan itu beberapa waktu silam, mereka menyebutkan bahwa mereka masih merasa tertolong dengan sikap Raka Senggani yg mengampuni mereka pada waktu itu.


Sementara Raka Senggani yg mendengar tersenyum saja, ia tidak merasa pada saat ini jika mereka berdua memang akan mengajak nya bertarung tentu saja ia akan kalah, tetapi memang keduanya sangat tidak berani jika harus menghadapi nya saat ini.


Sampai pagi mereka bertiga berada di Rumah Ki Bekel itu, baru setelah nya mereka berpisah untuk melanjutkan perjalanan nya lagi, karena Senopati Pajang itu akan bernagkat ke Demak dan kedua orang kakak beradik akan kembali ke tempat nya sendiri.


Mereka berdua sekali lagi meminta maaf kepada Raka Senggani dan Bekel pedukuhan Dalih itu, atas sikap nya yg ingin mengadakan perang tanding dengan sang Senopati Pajang itu.


Selepas dari pedukuhan tersebut Raka Senggani dengan cepat memacu kudanya menuju ke Kotaraja Demak, kali ini ia tidak akan singgah dimana pun lagi sampai ke Kotaraja .


Saat malam menjelang sampai lah ia di Kotaraja Demak, dan langsung menuju rumah kediaman orang tua angkat nya Tumenggung Bahu Reksa.


Sang Tumenggung agak terkejut dengan kehadiran anak angkatnya itu, karena baru saja ia dari Demak dan mudah-mudahan telah kembali lagi.


" Ada apa gerangan Angger Senggani, apakah ada orang masalah di Kota Pajang,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Tidak ada masalah dengan Kota Pajang Paman Tumenggung, kali ini Senggani lah yg punya masalah dan oleh Kanjeng Adipati di suruh datang ke Kotaraja Demak ini," jawab Raka Senggani.


Setelah menambatkan kudanya , dan masuk ke dalam rumah Tumenggung Bahu Reksa, ia langsung membersihkan tubuh nya di pakiwan.


Barulah ia menceritakan apa yg telah terjadi pada dirinya, hingga membuat orang tua angkatnya itu sangat terkejut dengan apa yg telah dialami oleh Raka Senggani.


Bahkan ia berjanji akan membawa langsung anak angkatnya itu menghadap Kanjeng Sunan Kalijaga pada esok hari.


Malam itu keluarga Tumenggung Bahu sangat senang akan kehadiran dari Raka Senggani termasuk Lintang Sandika yg memang berniat mempersunting gadis dari tanah Perdikan Mantyasih itu. Ia berharap saudara angkat nya itu dapat ikut kelak jika ia akan bernagkat ke Tanah Perdikan Mantyasih .


Esok hari nya setelah terang tanah dengan di temani oleh Tumenggung Bahu Reksa , Raka Senggani diantar ke rumah kediaman Kanjeng Sunan Kalijaga yg berada di Kadilangu.

__ADS_1


__ADS_2