Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 15 SRIKANDI patah HATI. bag ke delapan.


__ADS_3

Senopati Pajang itu mencerna semua ucapan dari Bekel Dukuh Ringin tersebut.


Ia berusaha menghubungkan semua keadaan dsri keluarga Andini itu dengan menghilangnya Putri Sekar Kedaton itu.


Adakah hubungannya atau tidak, belum pun ia menemukan kaitannya,..tiba -tiba Dewi Dwarani bertanya kepada Ki Bekel itu.


" Ki Bekel,..apakah orang yg melihat kehadiran dari Andini disini ,..ia seorang diri,..?" tanyanya.


"Benar Angger Rani,..ia seorang diri,..bahkan ia terlihat cuma sekali saja ,..oleh salah seorang penduduk yg sedang berada di sawahnya,..". jawab Ki Bekel.


" Satu pertanyaan lagi,.Ki,..apakah Kakak dari Andini itu sering bepergian,..ke hutan perburuan misalnya,.?" tanya Dewi Dwarani.


Agak lama Ki Bekel dukuh Ringin itu mengingat -ingat,..ia nampak nya tengah mengumpulkan segala ingatannya itu.


" Sepertinya memang demikian Angger Rani,..beberapa kali ia melakukan perjalanan ke hutan perburuan itu,.." jawab Ki Bekel.


Dan jawaban dari Bekel Dukuh Ringin itu membuat Senopati Pajang itu segera ikut bertanya,..


" Ki Bekel,..apakah di hutan yg ada di kaki gunung Klotok ini ada tempat yg tersembunyi,..yg orang luar akan kesulitan untuk menemuinya,..?" tanya Raka Senggani.


" Banyak,...ngger,..bahkan banyak sekali," jawab Ki Bekel dukuh Ringin.


" Dapatkah Ki Bekel menyebut salah satu tempat yg tersulit untuk di temukan itu,..?" tanya Raka Senggani lagi.


" Letaknya agak ke timur,..ada Sebuah Goa,..yg tidak akan di ketemukan oleh siapa pun jika ia bukan asli dukuh Ringin ini,.." jelas Ki Bekel dukuh Ringin itu.


" Begitu sulitkah tempat itu untuk di temukan,..Ki Bekel,..?". tanya Japra Witangsa .


" Ya,..ya,..sangat sulit,..karena selain,.tempat itu berada cukup dalam dari hutan itu,..ada sebuah jurang yg sangat terjal yg harus di lalui,..di tambah lagi mulut goa tersebut ditutup oleh sebuah batu yg sangat besar,..jika tidak memiliki tenaga dalam yg lumayan tinggi tentu tidak akan dapat membukanya,.." jelas Ki Bekel lagi.


" Apa tanda tempat itu Ki Bekel,..dan sudah adakah orang yg masuk ke dalam nya,. ?" tanya Raka Senggani.


"Tempat itu di tandai dengan sebuah pohon jati yg sangat besar,..mungkin telah berumur ratusan tahun,.." ucap Ki Bekel.


Sejenak kemudian ia melanjutkan ucapannya,..


" Pernah suatu waktu...seorang ksatria dari kediri yg mendatangi tempat itu guna mencari seseorang yg telah membuat kejahatan disana,.dan ia berhasil masuk ke tempat itu,..ternyata memang orang yg di carinya itu memang berada di dalam goa tersebut,..dari sanalah kemudian kami mengetahui bahwa tempat itu memang cukup tersembunyi,..sulit untuk diketemukan,..bahkan oleh ksatria dari kediri itu mulut goa tersebut ditutup dengan sebuah batu yg sangat besar , agar tidak ada orang lagi yg dapat masuk kesana,.." tutur ki Bekel dukuh Ringin itu.


Hehh,..apa mungkin orang tersebut bersembunyi di sana,..jika memang demikian tentulah ia berilmu sangat tinggi,..bathin Senopati Pajang berkata.


" Ki Bekel,..apakah mungkin putra Nyi Wiyatsih dapat bersembunyi disana,..?" tanya Raka Senggani penuh selidik.


" Kalau masalah itu,..Aki tidak tahu,..akan tetapi ,..kalau dirinya mengetahui tempat itu,..tentu sudah pasti ia mengetahui nya,.." jawab Ki Bekel lagi.


Akhirnya ketiga orang desa Kenanga itu memutuskan akan mendatangi tempat itu pada esok harinya.Dengan berbekal dari keterangan Ki Bekel tersebut.


Malam itu ketiga nya sibuk dengan pemikiran nya masing-masing,..jika memang Sekar Kedaton itu tidak berada di dukuh Ringin itu,..kemana lagi mereka harus mencarinya .


Dan disaat Raka Senggani dan Japra Witangsa berdua akan tidur,.kedua nya masih sempat berkata,..


" Adi Senggani,..apakah kita memang akan menilik ke dalam goa yg di sebutkan oleh Ki Bekel itu,..?" tanya nya.


" Ya,..kita memang harus kesana,..karena kita akan mencari dimana persembunyian anak Wiyatsih tersebut,..dan jika memang didalam goa itu kita tidak menemukan mereka ,..kita tetap harus meminta keterangan dari Radhepara tersebut,.." jawab Raka Senggani.


Malam yg semakin larut, sedangkan Dewi Dwarani tidur di dalam bilik yg di sediakan oleh Ki Bekel dukuh Ringin itu .


Tiba-tiba,..telinga Senopati Pajang itu menangkap desir hakus langkah kaki seseorang,..ia langsung berkata pelan kepada putra Ki Jagabaya itu.


" Ssssttthh,..ada seseorang yg datang ke tempat ini,." ucapnya.


Sedangkan Japra Witangsa sendiri tidak mendengar apapun selain suara -suara binatang malam.


Raka Senggani kemudian berujar lagi,..


" Kang,..Senggani akan mengejar orang itu,..jika sampai pagi Senggani belum kembali,.. kakang berdua dengan adi Rani segeralah menyusul ke dalam hutan itu,..cari arah dimana goa yg telah di sebutkan oleh Ki Bekel tadi,.." ucap nya kepada Japra Witangsa.


Dan sekejap kemudian,.. Senopati Pajang itu ,.membuka pintu dan langsung melesat pergi meninggalkan rumah Ki Bekel Dukuh Ringin tersebut.


Japra Witangsa menutup kembali pintu rumah tersebut. Setelah kepergian dari Raka Senggani.


Sedang Raka Senggani langsung mengejar orang yg telah mendatangi rumah itu.


Orang itu cukup kaget karena tiba -tiba saja ada seseorang dari belakang nya langsung menegurnya.


" Apa keperluan datang kemari,..Kisanak,..?" tanya Raka Senggani.


Tidak menjawab pertanyaan dari orang yg telah mengagetakannya itu,.orang tersebut malah lari.


Tidak mau kehilangan buruannya,.. Senopati Pajang itu pun segera mengejarnya.


Cukup lumayan juga lari orang tersebut,.. setelah agak jsuh dari rumah Ki Bekel tersebut,..Raka Senggani berhasil menyusul dan langsung melepaskan pukulan jarak jauh nya,..


" Hiyyyah,.."


" Dhumbhh,.."


Orang tersebut pun berhenti seketika karena serangan yg di lancarkan oleh Raka Senggani tepat berada di depan nya.


Ia segera membalikkan tubuh nya,..tidak terlalu jauh dihadapan nya telah berdiri tegak sang Senopati Pajang.


" Siapa sebenarnya dirimu itu, .Kisanak,..?" tanya Raka Senggani lagi.


Orang itu malah menyerang dengan senjata nya,.


" Hiyyahhh,.."

__ADS_1


" Cetaaaaarrr,.."


Dengan sebuah senjata cambuk ditangannya ia menyerang Raka Senggani,.. beruntung Senopati Pajang itu tetap bersiaga,..dengan satu kali lompatan saja ia berhasil menghindari serangan itu.


" Hehh,..kisanak,..diriku tengah bertanya kepadamu,. mengapa kau malah menyerangku,..?" tanya Raka Senggani.


" Bukankah dirimu lah yg telah terlebih dahulu menyerang ku,.." jawab orang itu.


Dalam suasana di gelapnya malam,..Raka Senggani melihat bahwa orang itu adalah orang yg mereka di jumpai tengah berdiri di sebuah batang pohon di tepi jalan ketika mereka hendak ke rumah Andini,..siang tadi.


" Apakah dirimu adalah Arya Radhepara,..?" tanya Raka Senggani.


" Yg pantas untuk bertanya itu adalah diriku,.siapa kalian , untuk apa datang kemari,..?" sergah orang itu.


" Kami adalah teman dari Andini dan ingin bertemu dengan nya,. " jawab Raka Senggani.


" Bohong,..kalian bukan teman Andini,." jawab orang itu sangat keras.


" He,..darimana dirimu tahu kami bukan teman Andini,..apakah karena dirimu adalah kakak nya,..?" tanya Raka Senggani lagi.


" Darimana aku tahu ,.itu bukan urusanku,..yg jelas kalian harus enyah dari sini,.." teriaknya.


" Kami tidak akan pergi dari sini sebelum bertemu dengan Andini,.." jawab Raka Senggani lagi.


Memang Senopati Pajang itu sengaja memancing kemarahan orang tersebut.


" Jika kalian memang tidak ingin pergi dari sini,..jangan salahkan diriku,..jika kalian harus berurusan denganku,.akulah yg akan mengusir kalian bertiga,.." seru orang itu.


Ia mulai melecutkan Senjata nya yg berupa sebuah cambuk itu.


" Cetaaaaarrr,.."


" Cetaaaaarrr,.."


Dua kali suara lecutan itu memecahkan keheningan malam.


Dan tampak nya tenaga dalam orang tersebut cukup tinggi. Dari gerakan nya mengayunkan senjatanya itu dengan sangat pelan tetapi menimbulkan bunyi ledakan yg cukup keras.


Hehmm,..tenaga dalam nya lumayan tinggi,..kata Raka Senggani dalam hati.


Ia terus memperhatikan gerakan orang tersebut dan ketika sebuah teriakan yg keras yg keluar dari mulut orang tersebut,..


" Hiyyahhh,.."


" Ctaaaaaarrr,.."


Senjata cambuk tersebut segera menyerang Raka Senggani. Kembali Senopati Pajang itu harus melompat guna menghindari nya,.


Ia segera membalas dengan menggunakan tongkat berkepala ular milik dsri Ki Suganpara itu,.


" Heaaahh,.."


Dengan cepat orang tersebut menundukkan kepalanya,..sambil membalas serangan dari Raka Senggani itu dengan cambuk ditangannya,.ia mempergunakan tarikan sendal pancing,..dan serangan nya itu mengarah ke pinggang sang Senopati.


Raka Senggani tidak menghindari serangan itu ,. ia malah memalangkan tongkat yg ada di tangannya,.. sontak saja senjata lawan langsung membelitnya.


Tarik menarik pun terjadi,..dan Raka Senggani tidak mau melepaskan tongkatnya itu ,..ia mengerahkan tenaga dalam nya,. agar dapat menarik lawannya.


Ternyata lawan nya merasa kalah tenaga segera melepaskan belitan nya.


Cambuk tersebut lepas dan segera saja,..Raka Senggani melompat menyerang orang tersebut,..


" Hiyyyah,.."


" Dhiesggh,. "


Dengan kecepatan yg sulit untuk diikuti oleh mata,..kaki sang Senopati Pajang itu mendarat telak di dada lawannya.


Orang itu jatuh terjungkal ke atas tanah. Namun ia dengan cepat bangkit.


Ia memberikan balasan serangan dengan dua kali lecutan kearah Raka Senggani.


Terpaksa Senopati Pajang itu mengurungkan serangan nya ia beberapa kali bersalto ke udara guna menghindari serangan itu.


Orang tersebut mencecar tubuh Raka Senggani dengan cambuk nya,..belum pun tubuh dari Senopati Pajang itu mendarat di tanah serangan beruntun terus mengejar nya, . dan kali mengarah ke kakinya.


Mau tidak mau ,.. Raka Senggani harus melompat lagi.


Namun begitu dirinya terbebas dari kurungan cambuk lawannya itu,.ia segera meluruk turun sambil tongkatnya mengarah ke kepala orang itu.


Orang itu menjawab serangan dari Raka Senggani dengan memutar cambuknya dengan cepat guna membuyarkan serangan dari Raka Senggani.


Tetapi Raka Senggani memang tidak mau kalah dengan cepat ia menarik pulang tongkatnya ,. sambil memukulakan nya mengarah kaki lawan,..


" Thakkk,.."


Tak ayal lagi,..kaki yg menjadi incaran dari sang Senopati itu terkena pukulan tongkat tersebut,.


Orang itu,. kembali terjatuh,..namun ia kemudian melpaskan serangan cambuk nya dengan tarikan sendal pancing.


" Chraaakkz.."


Cambuk itu berhasil menggapai tubuh Raka Senggani dan menyebabkan koyak pada bajunya ,..akan tetapi tidak sampai melukai nya,..meski di ujung cambuk itu ada gerigi -gerigi yg terbuat dari baja.


Orang tersebut tersentak kaget ,..meski malam sangat gelap namun ia mampu melihat lawannya itu tidak mempan dengan senjata nya.

__ADS_1


Segera orang tersebut melompat berdiri.Ia kembali mencecar Raka Senggani dengan serangan cambuknya.


Senopati Pajang itu harus beberapa kali membenturkan senjata nya.


Namun karena sifat kedua senjata itu berbeda,.. senjata yg ada di tangan dari Senopati Pajang itu bersifat keras sedangkan Senjata lawannya itu yg bersifat lunak dan lemas,..jadi benturan kedua nya tidak membawa pengaruh apa -apa,..hanya ketika terjadi tarik menarik ,.. Raka Senggani masih unggul.


Senopati Pajang itu ingin segera meringkus orang tersebut.


Dengan tangan kirinya ia melepaskan serangan jarak jauh nya,.


" Hiyyyah,.."


"Dhumbhh."


" Krakkkkz.."


" Bumpphh,."


Serangan nya itu luput dan menyasar sebatang pohon yg ada di belakang orang itu dan tumbang.


Dan kali kedua Raka Senggani melepaskan pukulan jarak jauh nya,..


" Heaaaahhh,.."


" Dhummmbbh,.."


" Bleghuaaarrrr,.."


Ternyata orang tersebut melepaskan juga ajian nya Sehingga benturan kedua pukulan jarak jauh itu harus melontarkan tubuh orang itu.


Sementara bagi sang Senopati Pajang itu tidak mampu menggoyahkan nya.


Ia masih tetap tegak berdiri.


Tetapi memang lawannya kali ini pun memiliki kemampuan yg cukup tinggi,.. meskipun telah terlempar akibat serangan dari Raka Senggani namun ia masih mampu berdiri.


" ********..Ku bunuh kau,.heaaaahh,..." teriaknya.


Ia melesat menerjang Raka Senggani yg masih berdiri itu.


Tangan kanan nya memainkan cambuknya dan dari tangan kirinya ia melepaskan pukulan jarak jauh nya,..angin keras menerpa Senopati Pajang itu.


Sementara suara lecutan dari cambuk itu nyaris tidak terdengar lagi tetapi terasa menggoncang di jantung setiap kali ia menyabetkan nya.


Tetapi Raka Senggani tidak terlalu terpengaruh dari serangan orang itu,..ia tahu orang tersebut telah sampai pada puncak ilmunya.


Sambil memainkan tongkat di tangannya ,. Raka Senggani berusaha memecah angin serangan lawan,..agar tidak menerpa nya.


Dan serangan lawannya itu dapat di mentahkan oleh Senopati Pajang.


Tampaknya orang tersebut mengetahui lawan yg sedang dihadapinya berilmu sangat tinggi,.. sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.


" Heaahhh,.."


Kembali ia melpaskan serangan jarak jauh nya dan kali ini di sertai dengan lesatan beberapa senjata rahasia,..


" Swiiiingg,.."


" Swiiiingg,.."


" Swiiiingg,.."


Tiga buah senjata rahasia meluncur kencang menyerang Raka Senggani,.. Senopati Pajang itu harus segera memutar tongkat untuk memukul jatuh senjata tersebut,..sambil tangan kirinya melepaskan ajian nya guna menahan serangan lawan tersebut.


Agak kerepotan Senopati Pajang itu,..dan Kesempatan ini tidak di sia -sia kan orang tersebut ,..dengan cepat ia melesat meninggalkan tempat itu,.. meskipun kaki nya masih terasa sakit.


Melihat lawannya berusaha melarikan diri,. Raka Senggani tidak tinggal diam ia pun segera mengemposi tenaga dalamnya mengejarnya.


Pada malam itu terjadilah kejar- kejaran diantara keduanya.


Dan lawannya itu sengaja membawa Raka Senggani mengarah hutan,..yg sebenarnya siang tadi telah di sambangi oleh sang Senopati.


Tetapi memang karena orang itu lebih paham seluk beluk hutan tersebut,..kembali Raka Senggani harus kehilangan jejaknya.


Hehh,..aneh ,..jika sampai di tempat ini aku tidak dapat menemukan nya,..apakah ada sebuah jalan rahasia ,..yg aku tidak tahu,..tanya Raka Senggani dalam hati.


Padahal ia tadi masih sempat melihat orang itu ketika sampai di tempat itu.


Tetapi tiba -tiba saja menghilang.


Tidak mungkin ia itu adalah hantu,..kata Raka Senggani dalam hati lagi.


Sampai pagi menjelang,. ia masih memeriksa tempat itu.


Barulah ia melihat sesuatu yg agak aneh,..yg menurutnya itu adalah jalan keluar masuk orang tersebut.


Ada sebuah batu besar yg teronggok begitu saja di tempat itu.


Perlahan Senopati Brastha Abipraya mendekati batu tersebut,..dan mulai meraba batu tersebut.


Ia agak ragu jika harus menggeser batu tersebut,. dikhawatirkanya ada serangan dari dalam.


Namun kemudian diputuskan untuk menggeser nya.


Dengan tenaga dalam nya ia pun berusaha menggeser batu tersebut.

__ADS_1


Dan berhasil ,.. alangkah terkejutnya sang Senopati ternyata di balik batu itu ada lorong ,..yg terlihat sering untuk di lewati.


Dengan sangat hati -hati ia masuk ke dalam nya.


__ADS_2