Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 25 Merahnya arus Melaka. bag ke sembilan.


__ADS_3

Raka Senggani tidak jadi mencari hewan buruan dengan cepat ia melesat menuju tempat Raden Abdullah Wangsa.


Di lihatnya ke empat sosok tubuh yg berjalan itu tengah mengepung Raden Abdullah Wangsa sambil tertawa tawa.


" He, he he ,ternyata kalau memang rezeki tidak akan lari,..he he he,.." seru seorang yg berkepala plontos tanpa sehelai rambut.


" Ha, ha ,ha ,ha, benar ucapan mu itu kakang,.tidak sia -sia kita mengikuti bocah ini sejak dari cirebon,." sahut seorang lagi yg wajah nya di penuhi oleh bulu yg tebal.


Nyaris memenuhi seluruh wajah nya, sehingga wajah nya ini cukup menyeramkan jika di lihat , apalagi malam hari begini.


" Hehh,..siapa kalian, apa maksud kalian kemari,.." bentak Raden Abdullah Wangsa.


Putra Sultan Demak kedua ini bangkit dari duduk nya dan menatap ke empat orang yg tengah mengelilingi nya dengan tertawa terkekeh kekeh.


" Kami adalah orang orang yg menginginkan kepala mu Raden, karena kepala mu itu berjumlah lumayan besar, lima ratus kepeng emas, bisa membuat kami kaya,..ha ha ha,.." seru orang yg berkepala plontos itu.


Di tangan nya tergenggam senjata rantai baja dengan kepala nya berbandul kan sebuah bola yg bergerigi besi, cukup tajam tampaknya bola berduri itu.


" Siapa yg mengatakan kepala ku ini seharga Lima ratus kepeng emas,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.


" He, he , he, kalau masalah itu , Kau tidak perlu tahu, jika pun kau ingin tahu siapakah yg mengingnkan kepala mu itu , tanya saja pada orang -orang yg ada di istana Demak, kami tidak ada urusan, saat ini kami menginginkan kepala mu itu, Raden,.." seru orang yg memiliki bulu bulu yg ada d wajah nya itu.


Di tangan nya telah tergenggam sebilah golok yg cukup besar, ia berdiri tegak dengan tetap memperhatikan Raden Abdullah Wangsa tanpa berkedip.


Raden Abdullah Wangsa yg melihat tampak nya sulit untuk berbicara dengan ke empat orang tersebut, segera mencabut senjatanya, berupa pedang.


" Baiklah jika kalian memang menginginkan kepala ku , silahkan maju, siapa diantara kita yg akan segera terpenggal kepalanya lepas dari tubuhnya , silahkan maju,...!" seru Raden Abdullah Wangsa.


Pedang Jata Ancala telah di gerak kan dengan memutar oleh Raden Abdullah Wangsa, pemuda ini tampaknya tidak main -main dengan ucapan nya.


Ia telah bersiap dengan segala kemungkinan yg akan terjadi.


Ketika terdengar suitan nyaring dari orang yg berjepala plontos itu maka dua orang teman nya yg sedari tadi diam saja segera bergerak dan menyerang, putra dari pangeran Sabrang Lor ini.


" Ciaaaat,.."


" Hiyyyyat,.."


" Haiiit,.."


" Triiiinng,.."


" Traangg,.."


Kedua nya langsung berlompatan sambil mengayunkan senjatanya, Raden Abdullah Wangsa dengan sigap memapasi serangan tersebut, dua kali benturan senjata terjadi, karena memang kedua orang yg menyerang Raden Abdullah Wangsa ini dengan cepat ingin melumpuhkan lawan nya.


Akan tetapi lawan mereka kali ini bukanlah pemuda sembarangan , ia adalah Putra Pangeran Sabrang Lor dan berteman dengan Senopati Sandi Yuda Demak yg bergelar Senopati Bima Sakti .


Sehingga dengan mudah nya ia mampu mengimbangi kedua orang yg menyerang nya itu.


" Ayo cepat, ringkus Pemuda itu, agar hadiah segera kita dapatkan ,.." seru orang yg berkepala plontos itu.


Maka kedua orang teman nya segera meningkatkan kecepatan nya, pedang yg ada di tangan mereka berkelebatan dengan sangat cepat mencari sasaran, Raden Abdullah Wangsa beberapa kali harus mengenmposi tenaga nya agar mampu terbebas dari serangan lawan yg tampaknya telah terbiasa bertarung berpasangan.


Gerakan keduanya mampu mengisi dan menutup, sehingga membuat kerepotan bagi Raden Abdullah Wangsa , ditambah lagi ilmu keduanya memang cukup tinggi.


Sementa itu , Raka Senggani yg memperhatikan dari sebuah cabang pohon, meyakini bahwa Putra Pangeran Sabrang Lor ini mampu keluar sebagai pemenang nya jika kedua orang itu saja menjadi lawan nya.


Akan tetapi matanya yg tajam segera melihat , orang yg berkepala plontos itu mencabut sebuah senjata dari balik bajunya.


" Hehhh, apa yg akan kakang lakukan,..?" tanya temannya.


Orang yg memiliki bulu bulu di hampir seluruh wajah nya ini kaget melihat temannya mencabut sebuah senjata rahasia.


" Mereka berdua terlalu lama untuk menangkap bocah itu, lebih baik segera ku lumpuhkan dengan senjata ini,.." jawabnya.


Sambil menimang nimang senjata rahasia itu di tangan nya , ia melihat ke arah pertarungan antara kedua teman nya itu dengan Raden Abdullah Wangsa.


Memang saat itu kedudukan dari kedua teman nya dalam keadaan kesulitan setelah Raden Abdullah Wangsa dengan pedang pusaka Kyai Jata Ancala bergerak sangat cepat bahkan sulit untuk di ikuti mata, maka kedua musuh nya ini sangat kerepotan sekali menghadapinya .


Dan sebagai orang yg memimpin rombongan itu, orang yg berkepala plontos ini ingin segera menyudahi pertarungan dengan berlaku curang.


" Kang, apakah tindakan kakang ini tidak akan memalukan kita, Empat iblis dari Gunung Kendeng,..?" tanya teman nya.


Memang wajah orang yg memiliki banyak bulu di wajahnya ini masih memilki sedikit rasa belas kasihan daripada orang yg berkepala plontos itu, ia malah menyahuti ucapan teman nya dengan mengatakan,..


" Apa peduliku, yg penting lima ratus kepeng uang emas itu ada di tanganku,.lagian pun tidak akan ada orang yg melihat kita melakukan nya, tempat ini cukup sepi,..Sugriwa,..." serunya.


Ia tampak nya telah bersiap dengan senjata kecil nya ini, karena pada pertarungan antara kedua orang teman nya itu dengan Raden Abdullah Wangsa memasuki tahap akhir, Raden Abdullah Wangsa telah berhasil menjungkalkan salah seorang lawan nya dengan sebuah tendangan keras sehingga orang tersebut roboh dan pingsan .

__ADS_1


Kini tinggallah seorang saja yg menjadi lawan nya dan di saat itu pula , orang yg berkepala plontos itu melepskan senjata rahasia nya.


" Heaahhhh,.."


" Shiiinnnnn,.."


" Taaaph,.."


" Hehhh,.."


" Hahhh,.."


Begitu senjata rahasia itu meluncur dengan kencang nya menuju tubuh Raden Abdullah Wangsa yg dalam posisi membelakangi kedua orang tersebut, tiba -tiba saja. senjata rahasia itu berhenti dekat dari tubuh sang pangeran, dan yg membuat anehnya lagi senjata rahasia tersebut tidak jatuh ke atas tanah, malah menggantung seolah ada orang yg tengah memegangi nya.


Membuat kedua orang tersebut sangat heran dan saling berpandangan , menurut mereka hal tersebut tidak mungkin terjadi,ada sebuah senjata yg tampak mengapung di udara tanpa terjatuh ataupun menancap pada sasaran nya.


Keanehan tidak sampai di situ, tiba -tiba senjata rahasia tersebut berbalik dan meluncur deras ke arah si pemiliknya.


" Triiing,.."


Orang yg berkepala plontos itu memukul jatuh senjatanya yg menyerangnya balik.


" Gila, .." seru nya.


Dan tidak terlalu lama kemudian terdengar lah suara dari arah belakang kedua orang tersebut.


" Ternyata nama empat iblis dari Gunung Kendeng itu hanya Ngayawara saja mereka tidak lebih hanya cecunguk murahan,.." ucap seseorang dengan pengerahan tenaga dalam yg tinggi.


Jantung kedua orang yg ada di hadapan nya itu sampaj berdetak kencang, jika seandainya ucapan tersebut berlangsung lama mungkin keduanya akan segera ter jatuh.


" Siapa Kau,....?" tanya orang yg berkepala plontos itu kaget.


Setelah ia berhasil menenangkan dirinya dan berb#lik , di lihatnya seorang pemuda tengah berdiri tegak menatap ke arahnya.


" Siapa aku itu tidak lah penting, sekarang Ku perintahkan untuk segera meninggalkan tempat ini, " sahut orang tersebut.


Yang tiada lain adalah Raka Senggani atau lebih di kenal sebagai Senopati Bima Sakti. Ia memang teramat kesal atas sikap orang yg berkepala plontos ini.


" *******, kau pikir semudah itu dapat mengalahkan empat iblis dari Gunung Kendeng, jangan bermimpi bocah,.." ucap orang yg berkepala plontos ini.


" Whutth,."


" Whutth,."


Ia segera memainkan rantai baja nya yg memilki bola berduri di ujung nya, beberapa kali ia memutarnya di atas kepalanya , suara senjatanya itu terdengar jelas ke arah Raka Senggani.


Akan tetapi Senopati andalan dari Demak ini tidak gentar sedikit pun, terlebih sikap curang yg telah mereka tunjukkan.


" Baiklah , jika memang dirimu tidak mau pergi dari tempat ini, biarlah tongkat ku ini yg melakukan nya,.. hiyyyahh,.."


Senopati Bima Sakti segera melesat dan melakukan tusukan dengan menggunakan senjata tongkatnya kearah orang yg berkepala plontos itu.


Namun dengan cepat pula, orang tersebut menggerakkan senjata nya guna menahan serangan dari Senopati Demak ini.


Raka Senggani harus melompat lebih tinggi dan dua kali bersalto di udara sebelum akhir nya ia meluruk turun dengan cepat mengarah kepala musuh nya itu.


Melihat gerakan yg sangat cepat, di tambah lagi senjata rantai baja nya pun cukup panjang, membuat kesulitan tersendiri untuk nya maka orang yg berkepala plontos tersebut segera melompat mundur sebelum tongkat yg ada di tangan dari Senopati Sandi Yuda Demak itu menghantam kepala nya.


Cukup gesit juga gerakan dari pemimpin empat iblis dari Gunung Kendeng itu. dalam beberapa kali lompatan saja ia sudah berada di luar garis serang dari sang Senopati.


Akan tetapi lawan nya kali ini adalah Seorang Senopati sandi yuda Demak, begitu ia kehilangan musuhnya, dengan cepat pula ia melesat mengejarnya,.


" Hiyyyaaat,.."


Sebuah tusukan mendatar tongkat milik Ki Suganpara ini mengarah jantung dari orang yg berkepala plontos itu.


Tidak mau kalah, orang itu pun langsung memutar senjata nya mengarah lambung dari Raka Senggani . dengan sangat cepat Senopati Sandi Demak ini memalangkan tongkat nya guna menghambat gerakan dari rantai baja milik lawan nya itu.


Akhir nya rantai baja tersebut membelit tongkat milik Senopati Sandi Demak ini, tarik menarik terjadi, adu tenaga dalam segera berlangsung , namun nampak jelas bahwa pemimpin empat iblis dari Gunung Kendeng ini masih jauh berad di bawah senopati sandi Demak itu.


Tubuhnya yg cukup besar itu segera terbetot, dan ikut tertarik oleh tenaga yg di keluarkan oleh Raka Senggani.


Perlahan tubuhnya semakin mendekati tubuh dari Raka Senggani, dan dalam jarak yg sudah sangat dekat itu,..tiba tiba,..


" Heaaahhhh,.."


" Dhieghh,..."


Sebuah lompatan yg panjang disertai sebuah tendangan yg cukup keras mendarat telak d dada orang yg bertubuh dan berjepala plontos itu.

__ADS_1


" Wadaaaw,.."


Orang tersebut terjengkang ke belakang dengan punggung nya menghantam tanah dengan sangat keras nya , ia memang enggan untuk melepaskan senjata nya itu sehingga meskipun ia tertarik namun tetap saja mempertahankan nya sehingga ketika datang sebuah serangan ia sulit untuk menghindari nya.


" Kakang,..." teriak teman nya.


Orang yg wajahnya di tumbuhi bulu bulu lebat itu segera menghampiri teman nya dan berusaha menolong nya agar mampu untuk berdiri.


" Aku tidak apa apa, Sugriwa, mari kita serang bersama sama orang ini,.." sahut orang yg berkepala plontos itu itu.


Ia mulai memutar kembali senjatanya yg segera menimbulkan suara yg berdesing,..tampak nya kali ini ia tidak akan bermain main lagi karena lawan yg di hadapi nya kali ini ternyata memiliki ilmu yg sangat tinggi.


Setelah kedua nya berpencar dan mengurung Raka Senggani,..kali ini dua orang musuh sekaligus akan di hadapi oleh Senopati sandi yuda Demak ini.


Ketika sambaran dari rantai baja tersebut dengan mudah di hindari oleh Raka Senggani.


Senopati Bima Sakti ini kemudian berteriak keras,..


" Heaahhh,.."


" Trakkkk,."


Ia langsung menyerang orang yg di wajah nya penuh bulu itu,..lawan nya pun tidak kalah garang nya, ia mengadu golok nya dengan tongkat berkepala ular milik dari Senopati Sandi Yuda Demak ini dan akibat dari benturan itu, orang yg bernama Sugriwa itu harus mundur beberapa langkah ke belakang dalam posisi goyah, ia nyaris jatuh, dan ketika sebuah serangan mendadak datang lagi dengan cepatnya , mau tidak mau ia harus menjatuhkan tubuhnya bergulingan diatas tanah guna menghindari nya.


Memang berhasil apa yg telah di upayakan nya namun tampaknya Raka Senggani terus saja mencecar tubuhnya yg masih bergulingan di atas tanah itu.


Melihat posisi teman nya dalam keadaan gawat , pemimpin empat iblis dari Gunung Kendeng yg berkepala plontos itu segera mengambil sikap , ia segera menggerakkan senjatanya.


" Whuuuuuuth,.."


Raka Senggani yg masih dalam posisi membelakanginya segera melompat tinggi ,berdasarkan panggraita nya tentu serangan itu adalah serangan mendatar yg di arahkan ke punggung nya.


Dua kali ia bersalto di udara dan mengarah ke belakang meminggalkan musuh nya yg belum mampu bangkit itu, kali ini ia memusatkan serangan nya ke arah orang yg berkepala plontos itu.


" Heaaahhhh,.."


" Thakkkh,.."


Dengan sangat cepat setelah berhasil terbebas dari jangkauan rantai baja itu, Senopati Bima Sakti ini segera melesat dan langsung memukulkan tongkat nya, dan tongkat berkepala ular itu segera mendarat pada pundak sebelah kiri dari orang yg berjrpal plontos itu.


" Adaauuuw,.."


Ia menjerit sangat keras setelah di rasakan nya pundak nya menerima sebuah hantaman yg sangat keras dari tongkat itu, serasa batu yg sangat besar menimpa pundak nya , membuat pundaknya ini sampai miring .


Orang yg berkepala plontos ini kehilangan kendali pikiran nya, ia tidak mampu melihat lagi ketika sebuah pukulan tangan kiri dari Raka Senggani menghantam dada nya, dan untuk yg kedua kalinya ia terjatuh.


Kali ini orang tersebut amat sulit untuk bangkit , demikian pula teman nya, yg sudah merasakan hajaran dari Senopati Bima Sakti, ia tidak berani terlalu dekat lagi.


" Kuperingatkan sekali lagi, sebelum habis kesabaranku, segera tinggalkan tempat ini, cepaaaaattt,.." seru Raka Senggani.


Orang yg berkepala plontos itu berusaha untuk bangkit walau dengan susah payah , ia berjalan mendekati teman nya itu.


Segera ia berbisik kepada teman nya,..


" Apakah akan kita lanjutkan untuk menangkap Raden Abdullah Wangsa itu,..?" tanya nya kepada teman nya.


" Kalau menurutku sebaiknya kita urungkan saja , Kakang, kalau kita memang masih sayang dengan nyawa kita,.." jawab teman nya.


Orang yg bernama Sugriwa itu memang telah melihat tandang musuh nya ini yg sangat sulit untuk di ukur kemampuan nya, dengan mudahnya ia menghajar kedua orang tersebut.


Belum lagi kedua orang yg berusaha untuk menangkap Raden Abdullah Wangsa, kedua nya telah pingsan setelah di hajar oleh sang Pangeran .


" Memang sebaiknya kita tinggalkan tempat ini kakang,.. karena kedua teman kita pun telah berhasil di lumpuhkan oleh putra dari sultan Demak itu,.." kata orang yg wajahnya penuh bulu itu.


" Hehh, benarkah demikian, Sugriwa,..?" tanya orang yg berkepala plontos itu.


Ia pun melihat ke arah pertempuran antara Raden Abdullah dan kedua orang teman nya ,memang tidak ada lagi pertarungan yg terjadi, Raden Abdullah Wangsa tengah duduk sambil memperhatikan pertarungan antara Senopati Bima Sakti dengan kedua orang itu.


" Kakang Senopati, sebaiknya beri pelajaran kepada mereka berdua agar tahu unggah ungguh , jangan meras sok jago, apalagi sampai berkhayal menginginkan kepalaku, !" seru Raden Abdullah Wangsa.


Namun Raka Senggani tidak ambil pusing ia mendekati kedua orang itu dan berkata,..


" Tinggalkan tempat ini , atau nasib mu akan sama dengan kedua orang teman mu itu,.." ucap Raka Senggani pelan.


" Bb,..baaik,..kami akan segera pergi dari sini,.." ucap orang yg berkepala plontos itu gagap.


Ia memang merasa kedua pemuda yg menjadi lawan nya ini jauh diatas mereka kemampuan ilmu silatnya.


" Jangan lupa , bawa pula kedua orang teman mu itu , kami tidak ingin melihatnya,.." seru Raka Senggani lagi.

__ADS_1


Kedua orang itu yg ingin pergi segera berbalik dan menuju ke arah kedua orang teman nya yg sedang pingsan, segera mereka menggendong keduanya meninggalkan tempat itu.


__ADS_2