
" Jika demikian , kami akan menelusuri jejak dari Ki Jarong itu, Ki Demang, apakah Ki Demang tahu keberadaan nya,?" tanya Jati Andara.
" Sampai saat ini, Aku tidak mengetahui keberadaan nya, sudah sangat lama sekali ia meninggalkan Kedawung ini,!" jawab Ki Demang Kedawung.
" Apakah Nyi Demang tahu keberadaan nya , ?" tanya Jati Andara kepada istri Ki Demang itu.
Nyi Demang hanya menggeleng , tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, wajah nya di tundukkan menatap lantai, di wajah yg masih terlihat garis -garis kecantikan itu meski telah berusia paruh baya, ada guratan kesedihan nampak disana.
" Baiklah kalau begitu, jika memang tidak ada yg dapat memberikan petunjuk , kami akan memulainya dari alas Kedawung, jadi kami pamit Ki Demang , karena hari pun masih siang," kata Jati Andara lagi.
" Silahkan , Ngger, kami berharap banyak Angger sekalian dapat menemukan putri kami itu, dalam keadaan selamat," ucap Ki Demang.
" Mudah -mudahan, Ki Demang," sahut Jati Andara.
Kemudian ke empat orang itu segera meningglakan rumah Ki Demang, mereka langsung melompat naik ke atas punggung kudanya dan segera menuju alas Kedawung.
Jarak tempuh yg tidak terlalu jauh, sehingga keempat orang itu segera sampai di Alas Kedawung itu.
Terlihat pohon Kedawung mengisi hutan yg berada di Kademangan Kedawung tersebut, dan saat itu lagi sedang musim kembang.
Kembang Kedawung yg menggantung menambah keindahan hutan itu.
Pohon yg sangat mirip dengan pohon petai itu, banyak tumbuh di sana sehingga alas itu dinamai alas Kedawung.
Memasuki alas itu , empat orang pemuda desa Kenanga itu berjalan dengan perlahan.
Setelah agak dalam mereka memasuki alas Kedawung itu, Jati Andara menghentikan kudanya. Sambil memberikan isyarat dengan tangan nya pertanda berhenti.
" Ada apa , Andara,?" tanya Japra Witangsa.
" Lihat itu , " sahut Jati Andara.
Sambil menunjuk ke arah sebelah kanan nya, Putra Bekel Kenanga itu memberitahukan sesuatu.
" Apa, kakang,?" tanya Dewi Dwarani.
" Kalian tidak melihat nya,?" tanya Jati Andara balik.
" Tidak, kami tidak melihat sesuatu," jawab Sari Kemuning.
" Lihat yg jelas , benda apa yg menggantung itu,?" tanya Jati Andara lagi.
" Ya , Kembang Kedawung, karena memang disini banyak pohon Kedawung," jawab Dewi Dwarani lagi.
" Ahh , kalian semua payah, yg itu kan sebuah kain panjang, milik seorang perempuan,". jelas Jati Andara.
Putra Ki Bekel desa Kenanga itu langsung turun dari kudanya dan berjalan menuju tempat itu.
Ia mengambil sebuah kain panjang yg memang milik seorang perempuan, dari sebuah semak belukar yg ada di bawah pohon Kedawung itu.
" Apakah kain ini milik , Savitri putri Ki Demang itu,?" tanya Jati Andara.
Sementara tiga orang yg lainnya hanya memandangi kain panjang itu dengan berbagai pertanyaan.
" Apa tidak sebaiknya kita kembali ke Kademangan Kedawung guna menanyakan hal ini," kata Japra Witangsa.
" Memang sebaiknya demikian, kita kembali ke Kedawung terlebih dahulu untuk mempertanyakan hal ini, baru setelahnya kita lanjutkan penelusuran ini," kata Dewi Dwarani.
__ADS_1
" Apa tidak sebaiknya kita lanjutkan lagi, siapa tahu di depan kita mendapatkan petunjuk lagi." ujar Jati Andara.
" Sebaiknya memang kita mempertanyakan kain ini kepada Ki Demang baru setelah nya kita lanjutkan pencarian lagi,". ucap Sari Kemuning.
Akhirnya Jati Andara mengalah dan keempat orang itu kembali lagi ke Kademangan Kedawung .
Sesampainya disana, Jati Andara langsung menanyakan tentang kain panjang itu.
" Apakah kain ini milik dari Savitri, Ki Demang ,?" tanya nya.
" Hehh, darimana Angger dapat kan,?" tanya Ki Demang.
" Di dalam alas Kedawung , Ki Demang," jawab Jati Andara.
" Benar, Ngger, kain ini milik putriku , Savitri, duh Gusti , dimanakah dirimu Nduk," ucap Ki Demang Kedawung itu.
Ia memeluk kain milik putrinya itu sambil menciumi nya.
" Baiklah Ki Demang , kalau kain itu memang milik dari Savitri, kami akan melanjutkan lagi pencarian kami ,mudah mudahan, besok kita telah mendapatkan titik terang tentang keberadaan dari putri Ki Demang itu,". ucap Jati Andara.
" Mudah-mudahan , Ngger," sahut Ki Demang .
Kembali keempat orang itu melanjutkan penelusuran nya guna mencari keberadaan dari Savitri putri Ki Demang itu.
Ketika langkah kaki kuda itu telah meningglakan halaman rumah Ki Demang, dan berjalan di jalanan Kademangan Kedawung, tiba-tiba rombongan itu di cegat oleh seorang perempuan .
" Tunggu sebentar, Ngger, bibi mau mengatakan sesuatu," ucap nya.
Ternyata yg mencegat rombongan Jati Andara itu adalah istri Ki Demang Kedawung sendiri.
Putra Ki Bekel Kenanga turun dari kudanya dan diikuti oleh ketiga teman nya.
"Begini, Ngger , sebenarnya bibi mengetahui dimana Kakang Jarong itu berada ,". ucap Nyi Demang Kedawung itu.
" Hehh, benarkah Bi, mengapa tidak sedari semula bibi katakan,?" tanya Jati Andara.
Sambil melihat kiri dan kanan , Nyi Demang Kedawung itu berkata,
" Sebenarnya bibi enggan mengatakan nya dihadapan kangmas Demang, bibi takut ia cemburu," kata Nyi Demang beralasan.
" Baiklah Bi, sekarang coba katakan dimana Ki Jarong itu berada , Bi,?" tanya Jati Andara lagi.
" Walau sebenarnya bibi tidak meyakini bahwa pelaku penculikan Savitri itu adalah Kakang Jarong, tetapi disini bibi ingin mengatakan dimana keberadaannya, " ucap Nyi Demang Kedawung.
" Iya bi, jika memang bibi mengetahui nya katakan kepada kami, biar kami mendatan tempat itu, kita harus berusaha menemukan putri bibi tersebut" kata Jati Andara lagi.
" Yah, karena menurut ciri -cirinya yg telah di sebutkan Kawit itu, memang kemungkinan nya adalah kakang Jarong," ucap Nyi Demang.
Ia terdiam sesaat , baru kemudian melanjutkan ucapan nya,
" Sekarang kakang Jarong tinggal di Gunung Pandan, di daerah Matahun," jelas nya.
" Hahhh, gunung Pandan, sangat jauh itu , Bi,!" seru Jati Andara.
" Iya memang sangat jauh dari sini," kata Nyi Demang Kedawung.
' Baiklah Bi, kami akan segera berangkat , doakan kami dapat menemukan Savitri secepat nya,!" kata Jati Andara lagi.
__ADS_1
" Bibi doakan , Ngger, supaya kalian menemukan putri ku itu ,aelamat jalan,!" ungkap Nyi Demang.
Jati Andara dan yg lainnya segera melompat keatas punggung kudanya,.mereka pun langsung bergerak menuju ke arah timur.
Memang jarak yg cukup jauh harus di lewati oleh ke empat orang dari desa Kenanga itu.
Jarak yg sama jika mereka harus kembali ke Pajang.
Namun jarak yg cukup jauh itu tidak menyurutkan niat ke empat nya untuk mendatangi kediaman Ki Jarong itu.
Keempat nya memacu kudanya cukup kencang meski hari telah menjelang sore.
Namun terus saja ke empat nya berpacu dengan waktu guna menelusuri jejak dari hilang nya putri Ki Demang Kedawung itu.
*******
Sementara di tempat lain tepat nya, di Demak, Raka Senggani dan Lintang Sandika telah pun sampai di Kotaraja itu.
Keduanya langsung di sambut oleh Tumenggung Bahu Reksa dan istrinya serta Lintang Sri wedari.
" Apa kabar nya Angger Senggani, Bagaimana keadaan Pajang ,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa itu.
" Baik Paman, dan Pajang pun saat ini dalam keadaan baik, bahkan sedang giat -giat membentuk pasukan yg akan di perbantukan di Kotaraja ini," jawab Raka Senggani.
" Bukankah Paman Tumenggung baru saja dari Pajang bersama Raden Abdullah,?" tanya Raka Senggani kepada Tumenggung Bahu Reksa itu.
" Benar , Ngger , kami dapat perintah dari Gusti Pangeran Sabrang Lor untuk memeriksa secara langsung kesiapan pasukan yg akan segera di kirim ke Lor itu , Ngger," jawab Tumenggung Bahu Reksa.
" Apakah memang Guati Pangeran segera akan berangkat , ?" tanya Raka Senggani lagi.
" Sepertinya demikian , Ngger , kalau memang tidak ada halangan mungkin dalam waktu dekat ini , setelah seluruh persiapan telah rampung ," jelas Tumenggung Bahu Reksa.
" Apakah tidak terlalu terburu -buru , Paman bukankah belum terlalu lama pasukan itu kembali dari medan perang,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Itulah yg disebutkan oleh Kanjeng Pangeran , jangan sampai terlalu lama para prajurit itu beristrahat ,sehingga akan segera mengjilangkan semangat juang nya,* kata Tumenggung Bahu Reksa.
" Oh iya, Paman Tumenggung, ada yg ingin Senggani sampaikan kepada Paman ," ucap Raka Senggani.
Memang saat itu Lintang Sandika tengah bersama ibu dan adiknya di belakang.
Jadi Raka Senggani dengan leluasa dapat menyampaikan maksud nya.
" Hal apa itu, Ngger,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.
" Mengenai kakang Sandika , Paman," jawab Raka Senggani.
" Ada apa dengan , Sandika , Ngger, apakah ia telah berbuat sesuatu yg melanggar paugeran,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa lagi.
" Bukan melanggar paugeran, Paman , tetapi ini masalah mengnai seorang perempuan," ucap Raka Senggani lagi.
" Apa, !!, tentang perempuan,?* tanya Tumenggung Bahu Reksa.
" Benar Paman Tumenggung, Kakang Sandika telah menyukai seorang gadis yg berasal dari tanah Perdikan Mantyasih, Paman," jelas Raka Senggani.
" Maksud mu , Sandika menyukai seorang gadis sebagai kekasih , begitu?" tanya Tumenggung Bahu Bahu Reksa.
Kepala Raka Senggani mengangguk mengiyakan.
__ADS_1