
Kemudian Raka Senggani dan istrinya Sari Kemuning meninggalkan Ki Lintang Jaka belek, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju ke desa Kenanga.
Di desa Kenanga , pasangan suami istri ini di sambut oleh keluarganya.
Ki Jagabaya amat sangat senang hati melihat kedua nya.
" Apa kabarmu, Angger Senggani, apakah memang dirimu dalam keadaan baik,.?" tanya Ki Jagabaya.
Senopati Sandi Yuda Demak itu menjawabnya dalam keadaan baik, bahkan ia kini merasakan sangat baik.
Dan demikian pula istrinya Sari Kemuning, ia sungguh merasa sangat dalam keadaan baik.
Dalam hidup nya baru kali ini ia merasakan pengalaman yg sangat berharga karena ia telah sampai di tanah melayu.
Lawatan mereka kala itu penuh dengan ketegangan, ketika harus melarikan diri dari kejaran pasukan asing itu.
Mereka berdua kemudian juga menceritakan kejadian yg menimpa mereka di pedukuhan Randu Alas, sempat beberapa hari keduanya tertahan di sana.
Pada saat Raka Senggani dan istrinya Sari Kemuning telah kembali , banyak tamu yg berdatangan disana. Termasuk Ki Bekel desa Kenanga sendiri, ia menanyakan mengenai keadaan putra nya Jati Andara.
" Kakang Andara masih bertugas di kulon bersama Kakang Witangsa, Ki ," jelas Raka Senggani.
Ia mengatakan kepada orang tua itu bahwa keduanya masih akan tetap bertugas sampai pasukan Armada Demak berangkat menuju Lor, menuju meleka.
" Angger Senopati, kapan waktunya pasukan itu di berangkatkan,..?" tanya Ki Bekel.
" Sekira satu purnama lagi, untuk itulah, diriku tidak akan terlalu lama berada di Kenanga ini, karena secepatnya akan kembali lagi ke kotaraja Demak, Ki, " jawab Raka Senggani.
" Akan tetapi saat ini di desa Kenanga ini tengah terjadi pembunuhan hewan -hewan ternak di sini, entah siapa pun pelaku nya," terang Bekel desa Kenanga ini.
Ia berharap dapat meminta bantuan dari Senopati Demak tersebut untuk mengatasi nya, namun sayang , ternyata Sang Senopati akan segera kembali ke Demak lagi, jadi harapan nya tersebut tidak akan kesampaian.
" Namun sebelumnya Senggani mohon maaf Ki Bekel, seperti nya hal ini akan diatasi oleh istri ku dan adi Dewi Dwarani,semoga mereka berdua berhasil, mudah -mudahan masalah ini cepat selesai nya,." ungkap Senopati Sandi Demak.
" Mudah -mudahan,." sahut Ki Bekel.
Dalam pada itu , sang Senopati menerangkan kepada keluarga istrinya ini, bahwa nampaknya sang istri tengah mengandung sehingga ia tidak akan ikut lagi ke Kotaraja Demak, sebaiknya ia beristtrahat di Kenanga saja.
" Kang, sebenarnyalah Kemuning ingin ikut dalam peperangan kali ini, " ucap Sari Kemuning.
" Akan tetapi kesehatan mu dan bayi yg ada dalam kandungan mu itu lebih penting dari yg lain, Kemuning, apalagi ini, kita bukannya untuk pergi liburan, tetapi melakukan peperangan, sudahlah, nanti jika kakang mu ini masih selamat dan di berikan umur panjang, kita akan melakukan perjalanan nya sendiri, Kakang berjanji,.." ungkap Raka Senggani.
Ia memang mengharapkan bahwa sang istri dapat beristrahat dengan nyaman di desa Kenanga itu. Tidak terlalu memikirkan yg lain.
" Baiklah kang,.jika nanti ada kesempatan lagi, Kemuning akan ikut,.." sahut Sari Kemuning.
Pernyataan yg membuat Raka Senggani menjadi senang mendengarnya. Hati Senopati Sandi Demak ini akan sangat berterima kasih kepada sang istri jika kali ini ia mau tinggal di desa Kenanga, karena dslam lawatan armada Demak kali pun, banyak orang yg meragukan keberhasilan dari paeukan tersebut, termasuk dari kalangan para wali, sebahagian besar mereka tidak mengahrapkan Sang Sultan sendiri yg meminmpin pasukan nya, jadi Senopati Bima Sakti sangat mengkhawatirkan keselamatan iatri nya jika harus ikut perang kali ini.
****************
Dan pada itu di sebuah tempat yg cukup jauh dari desa Kenanga tepat nya di Kademangan Warasaba.
Ada beberpa orang yg bertampang sangar dan kejam tengah memperhatikan keadaan dari Kademangan tersebut.
Seorang yg mereka panggil sebagai Lurah , dan yg memimpin dari gerombolan itu terlihat sedang menimang nimang senjata nya berupa trisula pendek, ia yg sangat di takuti untuk wilayah tersebut, dan bernama Lowo Kumbolo, pemimpin gerombolan rampok yg sering menyatroni wilayah di Kademangan Warasaba ini.
" Lodong , benarkah pemuda itu memang memiliki kemampuan yg tinggi,..?" tanya Lowo Kumbolo itu kepada Ki Lodong.
" Benar Ki Lurah,.pemuda itu memang memiliki kemampuan yg sangat tinggi kami berdua dengan Ki Ranta tidak mampu mengatasinya," jawab Ki Lodong.
" Baiklah, Lodong, malam ini kita akan segera menyerang Kademangan Warasaba ini, kita rebut , Ki Ranta dari sana,..!" ucap Lowo Kumbolo.
Maka Ki Lodong pun segera meninggalkan Lowo Kumbolo seorang diri, pemimpin gerombolan rampok ini amat geram, setelah mendengar salah seorang kepercayaan berhasil di tawan Kademangan Warasaba itu.
__ADS_1
Mereka memang berada tidak terlalu jauh dari pedukuhan induk Kademangan Warasaba ini
Sehingga sebenarnya semua kegiatan kawanan rampok itu telah mendapatkan perhatian dari para penghuni Kademangan Warasaba ini.
Dalam hal itu Ki Demang Warasaba sendiri memimpin pertemuan di rumah nya.
" Para Bekel, dan Jagabaya semuanya, saat ini kita tengah menghadapi suatu masalah yg cukup sulit, dengan hadirnya kembali para kawanan rampok yg di pimpin oleh Lowo Kumbolo itu, " ucap Ki Demang.
Ia membuka pembicaraannya guna mengatssi persoalan yg tengah mereka hadapi kali ini.
Salah seorang Bekel pedukuhan yg pada beberapa waktu lalu mengalami sendiri kejadian di rumah nya yg menjadi sasaran kawanan rampok tersebut.
Ia segera mengatakan kepada Ki Demang bahwa sebaiknya Angger Raka Yantra di panggil untuk datang ke rumah Ki Demang.
" Larso, panggil Angger Raka Yantra untuk datang kemari, ia kami tunggu disini, " seru Ki Demang.
Terdengar ucapan Ki Demang pada salah seorang pengawal Kademangan Warasaba.
" Baik Ki Demang,..." jawab orang yg bernama Larso itu.
Ia pun meninggalkan rumah Ki Demang dan berjalan menuju rumah Raka Yantra, pemuda yg paling di harapkan oleh Ki Demang dapat mengatasi persoalan Lowo Kumbolo itu.
Tidak terlalu lama, sampailah Larso di kediaman dari Raka Yantra.
Setelah mengucapkan salam, Pengawal Kademangan itu segera berkata kepada Raka Yantra.
" Yantra , dirimu di panggil oleh Ki Demang Warasaba untuk datang ke rumah nya,." ucap Orang yg bernama Larso itu.
" Kapan, ...?" tanya Raka Yantra.
" Sekarang juga,..!" jawab Larso.
" Baik, tunggu sebentar Aku akan berganti pakaian dahulu,.." jawab Raka Yantra.
Saat keduanya tiba di rumah Ki Demang , keadaan semakin ramai, banyak orang yg dstang ke rumah Ki Demang ini guna membahas masalah gerombolan rampok pimpinan dari Lowo Kumbolo itu.
Umum nya yg datang memiliki kepentingan masalah keamanan dari Kademangan Warasaba itu.
Sesungguhnya gerombolan rampok itu sudah cukup lama membuat resah Kademangan Warasaba ini, mereka kesulitan untuk mengatasinya, bahkan ketika para pemimpin Kademangan meminta bantuan dari kota kadipaten , permintaan mereka tidak terlalu di tanggapi.
Mungkin disebabkan daerah ini merupakan wilayah bawahan yg merupakan daerah yg berbatasan langsung dengan kesultanan kacirebonan ,sehingga ada pemikiran para pemimpin kadipaten bahwa wilayah itu adalah urusan dari kesultanan kacirebonan.
" Silahkan duduk Angger Yantra,.." ucap Ki Demang Warasaba.
" Terima kasih ,.Ki Demang,." sahut Raka Yantra.
Pemuda itu mengambil tempat diantara banyak nya para pemimpin Kademangan Warasaba itu.
Kemudian Ki Demang Warasaba menjelaskan bahwa saat ini kawanan rampok yg di pimpin oleh Lowo Kumbolo itu tengah bersiap akan menyerang Kademangan Warasaba ini.
Ia meminta secara khusus kepada Raka Yantra untuk ikut langsung memikirkan bagaimana jalan keluar nya.
Setelah mendengar kan ucapan dari Ki Demang, Raka Yantra segera menyahutinya,..
" Sebaiknya kita harus menggalang kekuatan ,Ki Demang , bila perlu semuanya kita keluarkan, bagi laki laki yg mampu bertarung harus ikut untuk menjaga kademangan ini,..!" ungkap Raka Yantra.
Pemuda yg memiliki kumis tipis ini menyebutkan rencana nya dengan menggalang seluruh kekuatan yg di miliki Kademangan Warasaba. Agar para gerombolan rampok yg di pimpin oleh Lowo Kumbolo itu tidak semena mena atas Kademangan Warasaba ini.
Semuanya yg ada di rumah Ki Demang Warasaba itu menyetujui usul dari Raka Yantra, mereka segara memrintahkan para pengawal Kademangan Warasaba untuk memberitahukan kepada para warga yg masih mampu mengangkat senjata untuk dapat menjaga tempat mereka itu dari penjarahan yg akan di lakukan oleh Lpwp Kumbolo.
Pada siang menjelang sore, Kademangan Warasaba tengah bersiap menanti kedatangan dari tamu yg tidak di undang ini, di setiap sudut wilayah Kademangan Warasaba di tempatkan para penjaga yg terdiri dari banyak orang.
Di harapkan mereka dapat dengan cepat memberirahukan kedatangan gerombolan itu.
Para pemimpin Kademangan Warasaba memang berharap banyak pada Raka Yantra kali ini. karena mereka telah mengetahui kemampuan pemuda ini pada pertrmuan pertama dengan gerombolan rampok itu.
__ADS_1
Segingga ada rasa percaya diri tertanam di hati warga penduduk Kademangan Warasaba dalam menyambut kedatangan gerombolan itu.
Dan hari pun terus bergulir, seolah sang surya tidak ada lelah nya dalam berotasi, ia telah meninggalkan alam mayapada, sehingga dunia terasa menjadi sangat gelap.
Suatu saat bagi para perampok dari gerombolan yg di pimpin oleh Lowo Kumbolo itu berangkat menuju sasaran nya kali ini.
Sebenarnya tujuan mereka kali ini adalah untuk membebasikan salah seorang teman nya Ki Ranta, yg telah berhasil di tawan oleh penduduk Kademangan Warasaba beberapa waktu silam, dimana pada saat itu , Lowo Kumbolo tengah beraksi di tempat lain dan menugaskan dua orang kepercayaan yg menggarap Kademangan Warasaba , namun hasilnya sungguh tidak sesuai dengan apa yg diinginkan, bukan nya mereka berhasil membawa uang dan harta, malah merekalah yg harus mati dan ada salah seorang yg ikut menjadi tawanan.
Oleh sebab itulah Lowo Kumbolo perlu turun langsung guna membebaskan Ki Ranta ini dari tawanan Kademangan Warasaba.
Saat malam telah menyelimuti, dengan sangat cepat mereka bergerak mendekati Kademangan Warasaba itu, bahkan para pengawal dan penduduk yg di jadikan sebagai mata matanya, telah melihat pergerakan mereka itu.
Dengan sangat cepat , salah seorang berlari guna mmeberitahukan kehadiran mereka pada Ki Demang.
" Ki Demang mereka telah datang. aku telah melihat nya sendiri ,." ucap orang tersebut pada Ki Demang.
" Dimana kau melihatnya Ki, dan berapa jumlah mereka ,.." tanya Ki Demang Warasaba.
" Di sawah Ki Demang, jumlah mereka cukup banyak mungkin mencapai lima puluh orang,.." jawab orang itu.
" Hahh, sebegitu banyak nya jumlah mereka itu ,?" tanya Ki Demang kaget.
Ia tidak menyangka bahwa jumlah para perampok tersebut tidak terlalu banyak lagi setelah kekalahan mereka beberapa waktu yg lalu .
" Tidak apa -apa Ki Demang, yg penting saat ini kita harus segera menyambut kedatangan mereka, jangan terlalu jauh mereka memasuki pedukuhan induk Kademangan Warasaba ini,.." ucap salah seorang Jagabaya.
" Benar Ki Demang , usulan Ki Jagabaya ini harus segera kita laksanakan, kita sambut mereka di regol pendukuhan induk Kademangan ini," ucap Raka Yantra.
Maka dengan terburu -buru, para pengawal dan sebahagian besar pemimpin Kademangan Warasaba ini berangakat menuju tempat dimana mereka akan menghadang kedatangan gerombolan rampok itu.
Dan benar saja , tidak terlalu lama kentongan bernada titir tengah terdengar di saat malam baru saja menyelimuti.
Seluruh orang orang yg ada dalam rombongan Ki Demang itu mempercepat langkahnya guna mencapai asal bunyi kentongan tadi, dan memang jaraknya yg tidak terlalu jauh segera lah mempertemukan dua kekuatan itu di dekat tugu regol pendukuhan induk Kademangan Warasaba ini.
Para penjaga yg di tempatkan di poa perondan ujung ini sebenarnya sudah ciut nyali ketika mereka melihat kekuatan dari gerombolan rampok itu, akan tetapi begitu mereka melihat para pengawal Kademangan Warasaba datang dengan di pimpin langsung oleh Ki Demang hati mereka kembali membesar dan mereka mulai berani menjawab pertanyaan dari para rampok itu.
" Dimana teman kami itu kalian sekap,..?" tanya Ki Lodong pada penjaga pos perondan.
" Kami tidak tahu kisanak, itu semua urusan Ki Demang, dan itu ia telah datang,.." jawab penjaga itu.
Ki Lodong langsung mengalihkan pandangan nya pada orang orang yg baru saja datang ini, memang jumlah nya cukup banyak mungkin ada ratusan orang, tetapi kali ini Ki Lodong tidak akan gentar , karena Ki Lurah Lowo Kumbolo ada bersama mereka .
Dengan garang Ki Lodong beralih ke arah Ki Demang Warasaba yg baru datang ini.
" Hehhh, Demang Warasaba, cepat lepaskan temanku itu, kalau tidak ingin Kademangan Warasaba ini kami hancurkan," teriak Ki Lodong.
Ucapan nya ini langsung disambut oleh Ki Demang Warasaba,.
" Yang ada, kamulah yg harus segera menyerah Ki Lodong, biarlah Pajang yg akan memutuskan hukuman apa yg pantas untuk mu,.." seru Ki Lodong.
" Hehh, jangan mimpi Ki Demang, yg ada Warasaba ini lah yg harus tunduk, karena kini kami bersama Kakang Lowo Kumbolo, tidak akan ada yg sanggup menghadapinya , ha, ha ha,."
Terdengar tawa dari Ki Lodong yg cukup membahana pada malam itu , ia merasa percaya diri dengan kehadiran pemimpin nya yg bernama Lowo Kumbolo itu.
Sebelum Ki Demang menjawab perkataan dari Ki Lodong, terdengar lah suara berat dari seseorang,.
" Lodong, jangan bertele tele, lebih baik segera seran saja mereka dan kita ambil Ki ranta dari tangan mereka , serta kita harus jadikan Kademangan ini menjadi karang Abang, hayo cepat lakukan, " teriak orang tersebut.
Dari suaranya saja yg menagndalkan tenaga dalam sudah dapat merontokkan jantung yg mendengarnya.
Bahkan Ki Demang Warasaba , para jaga baya pun merasakan akibat dari suara orang itu yg menggelegar, sehingga mereka hampir tidak kuat untuk berdiri lagi.
" Ha, ha ,ha , sudah serahkan kepada kami Ki Ranta , atau kalau tidak kalian semua akan mati, ha, ha ,ha ha,.".
Suaranya meraung raung membuat yg mendenagrkan nya menjadi ciut nyali nya sungguh tinggi tampaknya ilmu orang itu,.. karena hampir semua penghuni dari Kademangan Warasaba ini terkena pengaruh nya mereka memegangi dadanya yg sakit serasa mau rontok itu.
__ADS_1