
Terasa dingin yg sangat menusuk tulang ketika berada di Padepokan Lereng Wilis itu, hal demikian dialami oleh rombongan dari Patih Haryo Winangun, termasuk Raka Senggani.
" Malam terasa dingin, apakah anakmas Senggani merasakannya,?" tanya Patih Haryo Winangun kepada Raka Senggani.
" Benar paman Patih, terasa sampai kesungsum tulang dinginnya terasa," jawab Raka Senggani.
Mereka terlihat belum tidur meskipun malam telah larut.
Dan sepasang mata sedang melihat keenam orang yg sedang duduk -duduk itu.
" Hehh, ternyata ia adalah seorang prajurit Madiun, benarkah ia seorang prajurit Madiun ataukah seorang utusan dari Kotaraja Demak yg ditugaskan ke Madiun," pikir orang yg tengah mengintai rombongan Patih Haryo Winangun itu.
" Akan tetapi kalau ditilik dari kemampuan nya tidak mungkin ia seorang prajurit Madiun, dan apa perlunya ia bersama Patih Haryo Winangun itu," ucap orang itu di dalam hati.
Setelah agak lama barulah orang itu beringsut dari tempat nya dan meninggalkan tempat itu.
Sementara Patih Haryo Winangun dan rombongannya masuk ke dalam bilik yg telah di sediakan .
Patih Haryo Winangun dan rombongannya beristrahat setelah melakukan perjalanan cukup jauh, terutama bagi sang Patih yh terlihat agak sepuh itu.
Kicau burung -burung membangunkan para penghuni padepokan Lereng Wilis di pagi itu.
Terlihat mentari pagi muncul di ufuk timur, Raka Senggani yg sudah sejak subuh terbangun dan melakukan kebiasaan rutin nya nampak keluar dari dalam bilik nya, dengan sedikit melakukan pemanasan ,ia berjalan-jalan di sekitar padepokan yg cukup indah menampilkan pemandangan ketika di pagi hari.
Cahaya mentari pagi yg menerangi pepohonan , di tambah kabut - kabut tipis seakan enggan beranjak pergi.
Di kejauhan terlihat panorama kaki gunung wilis yg cukup menyedapkan untuk dipandang mata.
Ada sebuah perkampungan yg nampak terlihat sangat kecil jika dipandang dari atas gunung tersebut.
Raka Senggani terus berjalan mengitari tempat itu, sambil sesekali ia mampir di sebuah air terjun hanya sekedar ingin menyaksikan keindahan yg telah diberikan oleh yg Maha kuasa terhadap makhluk nya yg bernama manusia itu.
Ketika itu ia terus berjalan, dan ia terdiam sesaat setelah melihat ada seorang yg keluar dari balik sebuah air terjun itu.
Raka Senggani langsung berusaha bersembunyi ketika yg keluar itu dilihatnya berjalan dengan enteng nya melewati air yg merupakan kolam itu.
Nampak orang itu memakai jubah panjang dan jubah nya pun tidak basah ketika melewati air tersebut.
" Sungguh ilmu peringan tubuh yg sangat sempurna," ucap Raka Senggani dalam hati.
Ia terus melihat orang itu berjalan mengarah padepokan Lereng Wilis itu.
Sebenarnya ada rasa penasaran di hati Raka Senggani untuk melihat keadaan di balik air terjun itu, namun niat itu diurungkan nya.
Ia lebih memilih kembali untuk mengetahui siapa sebenar nya orang itu.
Sampai di padepokan Lereng Wilis, Raka Senggani langsung di sambut dengan pertanyaan dari Patih Haryo Winangun.
" Darimana anakmas, sepagi ini telah keluar dari bilik, apakah tidak merasa kedinginan,?" tanya Patih Haryo Winangun.
" Untuk itulah paman , Senggani berusaha berjalan -jalan guna memanaskan tubuh, jika di dalam terus, sulit rasanya untuk membuka mata," jawab Raka Senggani.
" Benar katamu anakmas, serasa ingin tidur saja, meskipun hari telah terang akan tetapi suasana masih terasa sangat dingin," balas Patih Haryo Winangun.
Saat Patih Haryo Winangun dan Raka Senggani sedang asyik mengobrol datanglah Arya Pinarak murid utama Mpu Phedet Pundirangan.
" Maaf Kanjeng Patih, guru bersedia menerima kehadiran dari Kanjeng Patih, akan tetapi hanya Kanjeng Patih seorang diri saja," jelas Arya Pinarak kepada Patih Haryo Winangun.
" Baiklah , terima kasih sebelumnya kami ucapkan atas kesediaan Mpu Pundirangan menerima kami ," jawab Patih Haryo Winangun.
" Sama -sama, silahkan Kanjeng Patih," ucap Arya Pinarak lagi mempersilahkan kepada Patih Haryo Winangun untuk segera berangkat.
Patih Madiun itu segera berjalan dengan di iringi oleh murid Mpu Pundirangan itu.
Keduanya menuju bangunan yg cukup besar yg ada di tempat itu.
" Mari silahkan masuk Kanjeng Patih," pinta Arya Pinarak kepada Patih Haryo Winangun.
__ADS_1
Patih Haryo Winangun melangkahkan kaki nya memasuki bangunan itu dan menuju sebuah bilik yg lumayan luas tempat nya.
" Silahkan Kanjeng Patih masuk,!" terdengar ucapan dari dalam bilik yg pintu nya terbuka itu.
" Dan kau Arya Pinarak segeralah kembali ke tempat mu," ucap orang itu lagi.
" Baik Kanjeng Guru," jawab Arya Pinarak.
Sementara dengan agak ragu - ragu Patih Haryo Winangun melangkahkan kaki nya memasuki bilik itu, dan ketika ia sudah berada di dalam di lihatnya Mpu Phedet Pundirangan tengah duduk bersila membelakangi nya.
" Selamat datang di gubukku ini Kanjeng Patih, kuharap engkau tidak merasa kurang dihargai di tempat ini akibat kemarin aku tidak menemui,!" ucap orang yg bernama Mpu Phedet Pundirangan itu.
" Ah tidak apa -apa Mpu Pundirangan, mungkin Mpu lagi ada keperluan yg lain yg lebih mendesak," jawab Patih Haryo Winangun.
" Benar ucapan mu itu Kanjeng Patih, Aku ada keperluan yg sangat mendesak sehingga tidak bisa menyambut kedatangan mu Kanjeng Patih, dan ada perlu apa kiranya Kanjeng Patih hingga jauh-jauh untuk datang kemari,?" tanya Mpu Phedet Pundirangan kepada Patih Haryo Winangun.
'" Kami atas nama Madiun sangat berharap pertolongan dari Mpu Pundirangan, " ungkap Patih Haryo Winangun.
" Pertolongan, , Pertolongan apa yg kiranya bisa kami berikan kepada Madiun,?" tanya Mpu Phedet Pundirangan lagi.
" Sudilah kiranya Mpu Pundirangan mengirimkan murid nya untuk mengatasi persoalan keamanan yg sedang terjadi di Madiun, mengenai Si Topeng Iblis itu, kami sangat berharap Mpu mau membantu kami menangkap nya atau bila perlu melenyapkan nya dari muka bumi ini,!" jelas Patih Haryo Winangun.
" Bukankah sudah ada Kotaraja Demak yg siap untuk membantu Madiun mengenai masalah keamanannya, lagi pun di Kotaraja Demak sangat banyak Senopati yg berilmu tinggi , tangguh tanggon,!" kata Mpu Phedet Pundirangan.
" Kami pun telah meminta bantuan kesana , namun Si Topeng Iblis itu belum pun bisa di tangkap,!" jelas Patih Haryo Winangun lagi.
" Apa yg bisa diberikan oleh Madiun jika kami bisa menangkap Si Topeng Iblis itu,?" tanya Mpu Phedet Pundirangan lagi.
" Adipati akan memberikan Putri Sekar kedaton bagi siapa saja yg mampu untuk menangkap Si Topeng Iblis itu ditambah lagi sebidang tanah palungguhan dan kedudukan yg tinggi di Kadipaten Madiun,!" jelas Sang Patih Madiun itu.
" Ahhh, kalau hanya untuk seorang perempuan kami tentu tidak akan menuruti permintaan dari Kanjeng Patih itu, mungkin Kanjeng Patih bisa mencari tempat yg lain untuk dimintai bantuannya," kata Mpu Phedet Pundirangan.
Ia menolak tawaran dari Patih Haryo Winangun itu.
" Jadi syarat apa yg akan diajukan oleh Mpu Pundirangan supaya mau membantu kami mengatasi Si Topeng Iblis itu, jika kami boleh tahu, mungkin kami bisa menyanggupi nya , ?" tanya Patih Haryo Winangun.
" Kami bersedia membantu jika Madiun bersedia memberi kami Keris Pusaka Kyai Condong Campur,!" tukas Mpu Phedet Pundirangan.
" Maafkan Kami, Mpu Phedet Pundirangan apakah tidak ada syarat lain yg kira-kira bisa kami penuhi,?" tanya Patih Haryo Winangun.
" Tidak, kami mau membantu Madiun jika syarat itu dipenuhi tidak ada syarat yg lain," tukas Mpu Phedet Pundirangan.
Patih Madiun terdiam, ia melihat suatu kesia-siaan datang ke gunung Wilis itu karena Padepokan Wilis meminta syarat yg tidak mungkin untuk di penuhi.
" Baiklah Mpu Pundirangan, kami akan kembali ke Madiun terlebih dahulu untuk membicarakan syarat yg telah diajukan oleh Mpu itu, nanti secepatnya kami akan memberi berita kemari akan hal itu," kata Patih Haryo Winangun
" Silahkan Kanjeng Patih, kami akan menunggu keputusan dari Madiun itu,!'' ujar Mpu Phedet Pundirangan lagi.
" Kalau begitu kami mohon pamit Mpu ," ucap Patih Haryo Winangun.
" Silahkan Kanjeng Patih, semoga kalian selamat sampai di Madiun," balas Mpu Phedet Pundirangan.
Patih Haryo Winangun keluar dari bilik Mpu Pundirangan itu dan kembali ke biliknya.
Di sana ia langsung mendapatkan pertanyaan dari Tumenggung Warabaya,
" Bagaimana Kanjeng Patih apakah Mpu Pundirangan bersedia membantu,?"
" Hehhh, sepertinya usaha kita sia -sia datang kemari , Warabaya, Mpu Phedet Pundirangan tidak bersedia membantu kita ,!" jawab Patih Haryo Winangun sambil menghela nafas nya.
" Jadi maksud Kanjeng Patih , Mpu Pundirangan tidak mau membantu Madiun mengatasi persoalan Si Topeng iblis itu,?" tanya Tumenggung Warabaya lagi.
Patih Haryo Winangun hanya menganggukkan kepala nya menjawab pertanyaan itu.
" Apa masalahnya,?" tanya Tumenggung Warabaya.
" Masalahnya ia mengajukan syarat yg tidak masuk diakal," jawab Patih Madiun itu.
__ADS_1
" Syarat apa , Kanjeng Patih,?" tanya Tumenggung Warabaya.
" Ia meminta Madiun menyerahkan Keris Kyai Condong Campur jika ia berhasil mengalahkan Si Topeng iblis itu," jawab Patih Haryo Winangun.
" Keris Kyai Condong Campur,!!" seru Tumenggung Warabaya.
" Benar , pusaka dari kerajaan Majapahit itu ia minta sebagai imbalan dari usahanya untuk melenyapkan Si Topeng iblis itu," jelas Patih Haryo Winangun.
" Apakah Paman Patih tidak meminta syarat yg lain sebagai pengganti dari syarat yg dimintanya itu,?" tanya Raka Senggani.
" Sudah Anakmas, akan tetapi ia hanya meminta syarat itu tidak syarat yg lain,!" jawab Patih Haryo Winangun kepada Raka Senggani.
" Mana mungkin kita bisa memenuhi syarat itu, sebab pusaka itu milik Kotaraja Demak sebagai sipat kandel dari kerajaan Majapahit, yah Demak merupakan kelanjutan dari Majapahit," tutur dari Patih Haryo Winangun lagi.
" Dan menurut cerita dari kedua orangtuaku, keris itu telah menjadi lintang kemukus akibat kalah bertarung dengan Keris Kyai Sengkelat," kata Tumenggung Warabaya lagi.
" Memang menurut sebahagian banyak orang Kyai Condong Campur sudah tidak ada lagi, entah apapun maksud dari Mpu Pundirangan meminta pusaka itu untuk dihadirkan, yg jelas perjalanan kita kali ini gagal tanpa menghasilkan apapun," ungkap Patih Haryo Winangun.
" Apakah kita akan langsung kembali ke Madiun,?" tanya Tumenggung Warabaya kepada Patih Haryo Winangun.
" Mumpung masih diberikan tugas keluar sebaiknya kita malam ini berada disini , besok baru kita kembali," ucap Patih Haryo Winangun.
" Jika Si Topeng iblis menyerang Madiun bagaimana, Kanjeng Patih,?" tanya Tumenggung Warabaya lagi.
" Kalau memang ia telah terluka dalam oleh Anakmas Senggani, mungkin ia belum akan berani muncul, entahlah jika ia sehat dengan cepat, mungkin ia akan melakukannya lagi, dan menurutku tidak akan di Madiun," jelas Patih Haryo Winangun.
" Mengapa Kanjeng Patih berpandangan begitu,?" tanya Tumenggung Warabaya.
" Tentu ia akan berpikir dua kali untuk melakukan itu, karena tentunya anakmas Senggani masih berada disana, yg pernah mengalahkannya,!" jelas Patih Haryo Winangun.
Rombongan itu masih bermalam , semalam lagi di padepokan Lereng Wilis itu.
Dan kali ini, Raka Senggani , setelah memasuki suasana gelap di gunung Wilis itu tiba, ia segera keluar dari biliknya menuju air terjun yg.berada di lereng sebelah timur itu.
Sebelumnya ia meminta izin dari Patih Haryo Winangun untuk keluar, oleh sang Patih ia diizinkan.
Dengan cepat Raka Senggani melesat menuju tempat yg pagi tadi itu di lihatnya ada seseorang yg keluar dari sana.
Sampai di tepian dari air terjun itu, Raka Senggani memutar otak nya untuk bisa masuk tanpa di ketahui oleh orang yg berada di dalam goa di balik air terjun itu.
Ia segera memusatkan segera kemampuan nya untuk bisa melewati kolam yg cukup luas itu, sesaat kemudian ia segera melesat menuju ke balik air terjun itu.
" Heeftth,"
Sesaat setelah ia berhasil mendarat di balik air terjun yg cukup besar dan tinggi itu, suara grojokannya sampai memekakkan telinga, namun Raka Senggani mengetrapkan Pangrungu nya supaya ia tidak terjebak di dalam goa itu.
Di depan mulut goa itu , ia mulai mendengar ada suara orang yg lagi berbicara.
Senopati Brastha Abipraya itu berusaha masuk agak dalam agar mendengar lebih jelas apa yg sedang dibicarakan oleh orang tersebut.
Setelah beberapa langkah masuk ke dalam ia mulai mendengar pembicaraan orang itu.
" Apa maksud kedatangan Patih Madiun itu, kakang Pundirangan,?" ucap orang itu.
" Mereka meminta bantuanku untuk menangkap Si Topeng Iblis itu,!" jawab orang yg di panggil sebagai Mpu Pundirangan itu.
" Jadi apa jawaban kakang atas permintaan mereka itu,?" tanya orang itu lagi.
" Aku mengajukan syarat supaya mereka tidak sanggup untuk memenuhinya, untuk menolak mereka dengan halus,!" jawab si Mpu Pundirangan itu.
" Bagus kakang, sudah selayaknya mereka itu di tolak permintaannya biar aku bebas bergerak lagi,!" ucap orang itu.
" Akan tetapi luka dalam mu belum sembuh benar, mungkin satu purnama lebih baru bisa pulih, ternyata ajian yg menghantammu itu cukup lumayan tinggi, sebaiknya engkau harus berhati-hati adi Yasa, karena tugas kita belum selesai, " kata Mpu Pundirangan lagi.
" Ahh itu hanya kelengahanku saja kakang Pundirangan , jika sekali lagi bertemu ia pasti bisa aku binasakan,!" ucap orang yg dipanggil adi Yasa oleh Mpu Pundirangan itu.
" Terserahlah apa katamu, yg jelas kakang Bransang menyuruh kita untuk kembali berusaha memunculkan kembali keris Kyai Condong Campur sperti yg pernah kita lakukan dahulu," ucap Mpu Phedet Pundirangan lagi.
__ADS_1
" Oleh sebab itu engkau harus menjaga dirimu supaya tidak terluka apalagi sampai terbunuh,," tukas Mpu Phedet Pundirangan lagi.
" Baik kakang, nasehat mu akan kuingat ," jawab orang yg bernama Yasa itu.