Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 20 Secercah Harapan. bag ke tiga.


__ADS_3

Raka Senggani tetap berada di rumah Ki Bekel sampai saat mentari condong ke arah barat. Ia banyak berbincang berbagai masalah dengan Ki Gedangan.


Hubungan kedua nya terlihat lebih mencair setelah Senopati Pajang itu dapat menjelaskan beberapa hal yg dapat di terima oleh Orang tua itu.


Meski jauh lebih tua dari Raka Senggani, dan lebih pantas sebagai kakeknya,..Ki Gedangan tidak merasa di rendahkan oleh sang Senopati. Banyak pelajaran yg dapat di petiknya atas pertemuan nya kali ini dengan pemuda itu.


Raka Senggani berjanji akan kembali lagi saat malam menjelang . Karena ia masih memerlukan untuk membantu pamannya yg baru pindah itu.


Setelah berpamitan dengan Ki Gedangan dan Ki Bekel ,.. Senopati Brastha Abipraya meninggalkan tempat itu.


Ia berniat akan membicarakan tentang hubungan nya dengan Sari Kemuning bersama Ki Lamiran dan pamannya.


Ketika keluar dari rumah Ki Bekel tanpa sengaja ia berpapasan dengan Sari Kemuning yg hendak pergi.


" Ehhh,..Kemuning,..mau kemana,..?" tanya Raka Senggani.


Gadis tersebut tidak menjawab malah ia agak terkejut setelah bertemu dengan pemuda itu.


" Ditanya kok malah bengong,..!" seru Raka Senggani lagi.


" Anu,..kang,..Kemuning ingin bertemu dengan Rani,.." jawab Sari Kemuning.


Agak gugup gadis itu menjawab pertanyaan dari Senopati Brastha Abipraya tersebut.


" Ada urusan apa dengan Dewi Dwarani,..?" tanya Raka Senggani lagi.


" Tidak,..ini sebenarnya ada hubungannya dengan kakang Andara,..!" jawab Sari Kemuning.


" Dengan kakang Andara,..memangnya ada apa dengan kakang Andara,..?" tanya Raka Senggani penasaran.


Kemudian Sari Kemuning menjelaskan mengenai masalah yg akan di bicarakan oleh nya dengan Dewi Dwarani mengenai masalah kakaknya itu.


Telah datang utusan dari Kademangan Kedawung yg meminta Jati Andara untuk mau lagi memberikan pelatihan silat di sana.


Namun utusan dari Kademangan Kedawung tersebut agak segan membicarakan langsung masalah ini kepada Jati Andara putera Ki Bekel itu.


Jadi mereka menyampaikan nya melalui Ki Jagabaya,.orang tua dari Sari Kemuning.


" Mengapa mereka harus merasa segan untuk bertemu langsung dengan kakang Andara,..?" tanya Raka Senggani.


" Mungkin mereka takut menyinggung perasaan dari kakang Andara ,." jawab Sari Kemuning.


" Kok aneh,.." ujar Raka Senggani.


" Ya ,..tidak aneh toh,..kang,." jawab Sari Kemuning.


Di jelaskan oleh Sari Kemuning mengenai hubungannya antara Jati Andara dengan Savitri putri semata wayang demang Kedawung itu.


Mereka menjadi merasa lebih menekan atau mendesak Putra Ki Bekel itu untuk segera membuat hubungan itu ke jenjang lebih serius dengan meminta nya untuk hadir di Kademangan Kedawung.


Barulah ,.. Raka Senggani lebih mengerti permasalahan nya ,.. setelah dijelaskan oleh Sari Kemuning.


Namun sebelum gadis itu melanjutkan kata -katanya,..Raka Senggani langsung menanyakan tentang niatannya itu kepada putri Ki Jagabaya tersebut.


" Menurut Romo,.pekan depan,.. tepat hari pasaran ,..kakang dapat datang ke rumah untuk membicarakan masalah ini,.." jelas Sari Kemuning.


Raka Senggani sangat senang mendengar hal tersebut. Karena sudah ada kepastiannya kapan dirinya dapat melamar gadis pujaan hatinya itu.


" Siapa saja yg akan dstang ,.Kang,..?" tanya Putri Ki Jagabaya.


" Yang jelas Paman dan Ki Lamiran,.. dan kalau mungkin nanti akan ada dari Pajang atau Demak ,.." jawab Raka Senggani.


" Ooo,.."


Seru Sari Kemuning,.ia sudah dapat mengira siapa saja yg akan datang nantinya ke rumah nya itu.


Mungkin Tumenggung Wangsa Rana dari Pajang atau Tumenggung Bahu Reksa dari Demak,.. begitulah dalam hati Sari Kemuning mengatakan nya.


Karena kedua petinggi kadipaten Pajang dan Demak itulah yg sangat dekat dengan kekasihnya tersebut.


" Baiklah kang,..nanti akan Kemuning beritahukan kepada Romo,.." ucapnya.


Ia kemudian pamit untuk segera ke rumah Ki Bekel guna memberitahukan tentang permintaan dari Ki Demang Kedawung kepada Jati Andara.


Setelah kepergian dari Sari Kemuning,. kemudian Raka Senggani langsung pulang ke rumah nya yg ada di pategalan. Hatinya sudah berbunga bunga karena sebentar lagi ia akan dapat mengetahui jawaban atas doa -doanya itu.


Diterima atau tidak , semua terserah kepada yg maha Kuasa ,..saat ini yg terpenting aku sudah berusaha ,..pikirnya dalam hati.


Begitu sesampainya di rumah hati Senopati Pajang itu sangat terkejut setelah melihat tiga ekor kuda sedang tertambat di halaman depan.


Hatinya bertanya -tanya siapa gerangan tamu yg datang ini.


Bergegas ia memasuki rumah tersebut,.dengan mengucapkan salam dan di lihatnya , dua orang pangeran putra dari Kanjeng Sinuwun , Sultan Demak.

__ADS_1


Mereka adalah Raden Arya Wangsa dan Raden Surya diwangsa dengan di temani seorang lurah prajurit Demak.


Ketiganya tengah duduk berhadapan dengan Ki Lamiran dan Ki Raka Jang.


Setelah Senopati Pajang itu masuk dan mengambil tempat duduk di sebelah Ki Lamiran. Ia langsung menanyakan kepada kedua orang pangeran itu perihal apa yg membuat mereka harus datang sendiri ke tempat nya ini.


" Ahh,..kakang Hidayat seperti tidak tahu saja dengan sikap Ramanda Sultan,.." ucap Raden Arya Wangsa.


Putra sulung Sultan Demak tersebut menampilkan senyum yg cerah.


Berbeda dengan Raka Senggani,..ketika tahu yg datang itu adalah Putra Kanjeng Sinuwun sendiri, pasti ada sesuatu hal yg penting yg harus segera ia emban.


" Tentu diriku di minta untuk segera datang ke Demak,.." seru Raka Senggani.


Sambil tetap melemparkan senyum nya Raden Arya Wangsa mengatakan,..


" Benar kakang Hidayat,.. Kanjeng Ramanda Sultan meminta dirimu datang menghadap ke Demak,..ada suatu tugas yg akan di embankan ke pundak kakang,.." jelas nya.


Raka Senggani sedikit terperangah setelah mendengar penjelasan dari Putra sulung Sultan Demak tersebut.


Karena saat ini hati dan pikirannya sedang tertumpah pada satu masalah ,.yaitu mengenai hubungannya dengan Sari Kemuning. Ia ingin hubungannya itu semakin jelas arah dan tujuan nya.


Tiba -tiba saja datang perintah yg tampaknya tidak dapat ia tolak.


" Kapan waktunya ,..Raden,..?" tanya nya.


" Secepatnya ,..kalau dapat hari ini juga kakang dapat berangkat bersama kami,.." jawab Raden Arya Wangsa.


Hahh,..secepat itu,..pikir Raka Senggani dalam hati.


Namun sebagai seorang prajurit ia harus patuh dan taat terhadap perintah junjungan nya.


" Baiklah,..Raden,..akan tetapi jangan sekarang,.. karena hari telah sore,..lebih baik besok pagi pagi sekali kita berangkat,.." ucap Raka Senggani.


Kemudian putra sulung dari Kanjeng Sinuwun itu pun menyetujui nya. Dan itu artinya malam ini mereka akan menginap di desa Kenanga.


Kemudian Senopati Pajang itu menanyakan kepada Raden Arya Wangsa,..tugas apakah yg harus ia emban itu dan mengapa Kanjeng Sinuwun tidak memerintahkan para prajurit sandi saja yg menyampaikan pesan ini.


Pertanyaan nya Itu di jawab oleh Raden Arya Wangsa karena saat ini seluruh prajurit sandi tengah bertugas di tempat nya masing-masing,.di tambah lagi bahwa Kanjeng Ramanda Sultan menginginkan kedatangan Senopati Brastha Abipraya secepatnya.


Dan ia tidak tahu tugas apa yg harus di emban oleh Senopati Brastha Abipraya tersebut.


Karena Kanjeng Ramanda sultan tidak mmeberitahukan nya , hanya memerintahkan untuk memanggil saja jelas Raden Arya Wangsa.


Setelah agak lama mengobrol bersama kedua Pangeran itu , Raka Senggani mengajak mereka untuk segera membersihkan badan di sebuah sendang yg ada di belakang rumah .


Dalam perjalanan menuju Sendang ,. Senopati Pajang masih sempat bercanda kepada ketiganya,..


" Maaf Raden,..karena rumah ini masih baru selesai di bangun jadi tidak ada paliwa nya,..semua nya di lakukan di sendang ini,.." ujar nya.


" Tidak mengapa kakang,..kami malah merasa senang sekali karena dapat merasakan kenikmatan mandi di alam terbuka,.." jawab Raden Arya Wangsa.


" Raden,..mengapa Raden Abdullah tidak turut serta,..?" tanya Raka Senggani.


Raden Arya Wangsa kemudian menjelaskan mengenai hal mengapa adiknya itu tidak dapat ikut.


Ia mengalami kecelakaan kecil saat sedang berlatih sehingga kaki nya mengalami cedera walaupun tidak terlalu parah.


Dan setibanya di sendang itu maka keempat orang tersebut segera mandi dengan segera.


Para tamu dari Kotaraja Demak itu terlihat senang sekali melakukan nya. Cukup lama juga mereka berada disana.


Baru setelah nya mereka kembali. saat waktu maghrib tiba.


Di rumah ,.. Ki Lamiran tampak sibuk menyiapkan hidangan,. meskipun sudah tua tetapi pande besi desa Kenanga cukup cekatan berada di dapur,.maklum ia sudah terbiasa hidup sendiri.


Walaupun terkadang Raka Senggani lah yg melakukan tugas ini jika mereka berdua saja berada di rumah.


Akan tetapi kali ini ada tamu agung dari Kotaraja Demak yaitu para putra dari Kanjeng Gusti sultan Demak sendiri,. ia pun segera memasak beberapa makanan.


Dengan di bantu oleh Raka Jang yg tampak mulai sehat. Ternyata akibat dari perasaan dan pikiran nya yg semakin baik, bersamaan itu pula tubuhnya pun makin sehat.


Ketika keempat nya tiba,..Ki Lamiran segera berkata ,.


" Ngger,.. makanan telah siap,.."


" Baiklah Ki,..akan tetapi kami akan sholat terlebih dahulu ,.." jawab Raka Senggani.


Ia pun segera memimpin sholat bersama ketiga tamu dari Kotaraja Demak.


Karena sewaktu berada di bangsal kasatriaan pun ia sering di dapuk sebagai imam sholat.


Pernah suatu waktu Raden Abdullah Wangsa berkata,..

__ADS_1


" Kakang Senopati sudah seperti eyang Sunan Kalijaga,.." ujarnya.


Setelah selesai barulah mereka menghadapi hidangan yg telah disiapkan oleh Ki Lamiran.


Meski cukup sederhana namun itu merupakan suatu suguhan yg sangat lezat,.. panggang ayam kampung dengan sambal yg tidak terlalu pedas.


Dengan nasi putih yg masih mengepulkan asap nya.


Namun sebelum mereka memulai untuk makan , Ki Lamiran mengatakan kepada Raka Senggani.


" Sudah saatnya rumah ini ada seorang perempuannya,..Ngger,.."


Mendengar hal itu Raka Senggani langsung teringat apa yg telah disampaikan oleh Sari Kemuning tadi.


" Oh iya,..Ki..keluarga Ki Jagabaya dapat menerima aki dan paman tepat pada hari pasaran depan,.." ungkap nya.


Ki Lamiran dan Raka Jang, pamannya itu saling berpandangan.


Karena mereka tahu bahwa pemuda itu akan berangkat besok pagi guna memenuhi perintah dari Kanjeng Sinuwun datang menghadap dan entah kapan akan kembalinya.


" Jadi Bagaimana dengan Angger Senggani sendiri,..?" tanya Ki Lamiran.


Orang tua itu tidak jadi mengambil nasi nya.


Raden Arya Wangsa yg tidak mengetahui permasalahannya segera menanyakan kepada orangtua itu.


" Memangnya ada apa Ki,..?" tanyanya.


Ki Lamiran kemudian menjelaskan bahwa saat ini,.. Senopati Pajang itu akan melaksanakan lamaran nya terhadap seorang gadis yg merupakan putri dari Jagabaya desa ini.


" Jadi kakang akan segera menikah,..?" tanyanya pada Raka Senggani.


Yg ditanya langsung menganggukkan kepalanya.


Kemudian ia pun menceritakan bahwa hal ini sudah lama di rencanakan,.. memang waktunya saja yg belum tepat.


" Tetapi kan sewaktu lamaran kakang Hidayat tidak perlu hadir kan tidak apa -apa,..!" kata Raden Arya Wangsa.


Menurut Ki Lamiran, memang tidak mengapa , akan tetapi jika mereka menanyakan waktunya ,.. siapa yg akan menentukannya.


" Biasanya Ki,.dari pihak perempuan lah yg menentukan nya , jadi pihak laki laki tinggal mengikut saja,.." kata Lurah prajurit Demak.


Dan ini pun di benarkan oleh orang -orang tua yg ada di situ,..tetapi jika kelak mereka menanyakan pendapat dari mereka ,..apa yg harus di jawab.


" Kita mengikuti saja Ki,..jika mereka menanyakan hal itu,.." ucap Raka Senggani.


Sedang mereka terus saja menyantap makanan sambil mengobrol.


Saatnya selesai ,..Raka Senggani mengajak mereka untuk datang ke rumah Ki Bekel karena masih ada janjinya kepada sesorang yg berada di sana.


" Ternyata kakang Senopati,.orang yg sibuk ,.." kata Raden Arya Wangsa.


" Begitulah,..Raden,..karena memang tadi telah berjanji kepada seseorang yg ada di rumah Ki Bekel,..ia seorang tokoh dari dari kulon,.." jelas Raka Senggani.


Raden Arya Wangsa dan adiknya Raden Surya diwangsa merasa penasaran dengan orang yg merupakan tokoh dari kulon itu.


Mereka pun mengikuti Senopati Brastha Abipraya menuju ke rumah pemimpin desa Kenanga.


Mereka berjalan kaki saja tidak mempergunakan kudanya.


Setiba di rumah Ki Bekel, seperti biasanya telah ramai dengan para pemuda dan pengawal deaa.


Yang menjadi sangat terkejut adalah Ki Bekel,.karena melihat dua orang Putra penguasa Demak itu datang menyambangi rumah nya.


" Mimpi apa kiranya,..aku semalam,..ternyata dua orang pangeran dari Kotaraja berkenan datang berkunjung ke gubuk reot ini,.." ucap Ki Bekel.


" Jangan terlalu ewuh pakewuh Ki Bekel,..kami memang sedang bertugas datang kemari untuk sekedar melihat lihat desa ini,.." kata Raden Arya Wangsa.


Sungguh telah terjadi kehebohan di rumah Ki Bekel tersebut,..para pemuda dan pengawal segera memanggil para perangkat desa Kenanga guna datang ke sana karena ada dua orang putra Kanjeng Sinuwun yg datang berkunjung sehingga mereka di harapkan untuk hadir.


Sebentar saja rumah Bekel desa Kenanga itu menjadi sangat ramai,. karena mereka ingin melihat dua orang pemuda yg merupakan anak dari Raja mereka.


Malam itu menjadi sangat lain dari biasanya.Para kaum ibu dan anak -anak kecil pun turut hadir.


Dalam pada itu,.Sari Kemuning yg mengetahui bahwa akan ada tugas untuk sang kekasih langsung menanyakan nya.


" Apakah kakang Senggani akan segera ke Kotaraja Demak,..?"


" Benar Kemuning,.besok kakang akan ke Kotaraja,..ada tugas yg harus kakang lakukan,.." jawab Raka Senggani.


Sambil memandangi wajah pemuda itu, Sari Kemuning kemudian berkata lagi,.


" Jadi bagaimana dengan rencana kita ini,..kang,..?" tanya nya.

__ADS_1


Raka Senggani kemudian menjelaskan bahwa rencana itu tetap berjalan,. nanti apapun keputusan nya ia akan terima , termasuk waktu yg akan di tentukan.


Hati putri Ki Jagabaya itu menjadi lega mendengar nya. Bahwa ia tetap dapat melaksanakan rencana yg telah di buat.


__ADS_2