
Tidak terlalu lama rasa kaget dari pemuda asal desa Kenanga itu, karena gada yg ada di tangan Gajah Arak kembali menyasar kepala nya.
" Heiithh,.."
" Whusshhhh,.."
Luput lagi serangan dari laki -laki yg bertubuh tinggi besar , penghuni alas Turanggana ini.
Sedang Raka Senggani sendiri melompat menghindar dari garis serangan orang tersebut.
Meski gerak orang yg bertubuh tinggi besar kelihatan nya lamban namun ia terus memburu Raka Senggani yg berlompatan dengan sangat cepat.
sebentar kemudian ia telah berhasil mendekatinya.
Hehh,..mengapa ia mampu bergerak secepat ini,. kelihatan nya, langkahnya sangat lamban, berkata Senopati Brastha Abipraya dalam hati.
Namun kembali ia harus berlompatan guna menghindari terjangan gada yg terus memburunya. Merasa agak kewalahan menghadapi senjata lawan yg cukup besar itu, Raka Senggani langsung mencabut tongkat berkepala ular , senjata milik dari Ki Suganpara yg baru -baru ini telah di minta oleh Ki Gedangan yg mengaku sebagai guru dari Suganpara.
" He, he, he,..ternyata nyali mu besar juga bocah,..tetapi kau pasti kalah di tangan ku,.." seru Gajah Arak.
Orang yg mengaku Penguasa Alas Turanggana sejenak menghentikan serangan nya. Ia menatap ke arah lawannya dengan tajam.
Sambil ia meneguk kembali arak yg ada di tangan nya ,
" Glek ,.."
" Gleek,.."
" Gleeek.."
Tiga tuangan masuk ke dalam mulutnya membuat mata orang tersebut kembali menyala, sedang dirinya dalam keadaan limbung akibat mabuk.
Melihat hal ini,.Raka Senggani merasa mempunyai kesempatan untuk menyerang lawannya tersebut.
" Heaahhh,.."
Sang Senopati melompat cukup tinggi sambil mengarahkan tendangan kaki kanan mengarah ke leher orang yg bernama Gajah Arak.
Tetapi anehnya, tidak satu pun tendangan dari Senopati Brastha Abipraya itu mengenai sasarannya , padahal seolah -olah saja tubuh yg tinggi besar itu bergoyang goyang akibat dari minuman yg telah ia minum tadi,..tetapi rupanya selain mabuk orang tersebut mampu mengeluarkan ilmunya.
Sehingga membuat Senopati Brastha Abipraya harus kecele di buatnya.
Bahkan ketika ilmu peringan tubuhnya di tingkatkan nya, belum juga berhasil menembus pertahanan lawannya .
Orang ini menggunakan jurus mabuk yg sangat baik, aku akan mengubah serangan ku,..berkata Raka Senggani dalam hati.
Ia tidak lagi mempergunakan ilmu peringan tubuhnya, cukup menanti dari lawannya untuk datang sambil tetap akan menyerang jika lawannya itu telah dekat.
Gajah Arak pun menunggu serangan dari lawannya , sehingga keduanya tampak menghentikan serangan dan saling berdiri menatap tanpa berkedip.
Apakah orang ini sudah tidak berani kepadaku,..tanya Gajah Arak dalam hati.
Dengan tubuh yg masih sempoyongan ia berusaha mendekati Raka Senggani.
" Hiyyahhh,.."
Terdengar suara teriakan yg keluar dari orang yg bertubuh tinggi besar sambil mengayunkan gada nya memukul ke arah kepala Raka Senggani, luput serangan itu namun dengan cukup cepat ia mengarahkan kembali gadanya pada perut dari lawannya.
" Thakkkkhh,..,"
Rupanya kali ini Raka Senggani mengadu tongkat yg ada ditangan nya dengan senjata Gada milik lawannya tersebut. Dalam benturan kali tampaknya keduanya sama -sama terkejut dengan hasil yg di dapat.
Kedudukan nya berimbang, baik Raka Senggani maupun lawannya tidak bergeser dari tempat nya.
Hehh,..sangat kuat tenaga orang ini, jangan kah terjatuh, goyah pun tidak, berkata dalam hati Raka Senggani.
Pemuda itu cepat cepat menarik tongkatnya dan ,.
" Hieiihh,...,"
" Thukkh,..,"
" Akhhh,."
Ia langsung memukulkan tongkat berkepala ular pada lutut lawan. Membuat si Gajah Arak menderita kesakitan dan berteriak tertahan.
Mulai dapat meraba sisi lemah lawannya ,.dengan cepat sang Senopati melesat dan melompat tinggi dan mengarahkan tendangan nya pada belakang leher lawan.
" Heaahhhh,.."
" Dhieghh,.."
Tendangan yg cukup keras dari Senopati Brastha Abipraya tidak dapat di hindari oleh Gajah Arak yg masih menderita kesakitan dan sedang terbungkuk akibat lututnya kena pukul oleh Raka Senggani dengan menggunakan tongkat nya.
Tak ayal lagi tubuh tinggi besar itu harus terjatuh ke atas tanah dan ia pun bergulingan agar terhindar serangan lanjutan dari lawannya.
Raka Senggani tidak langsung memburu orang itu dengan serangan-serangan nya karena ia telah dapat menilai sisi lemah lawan.
__ADS_1
Ternyata setiap persendiannya adalah merupakan titik lemah nya , ucap Raka Senggani dalam hati.
Ia berdiri tegak sambil memperhatikan orang itu yg sedang berusaha bangkit.
Kendi araknya pecah setelah tadi ia tindih dengan tubuhnya sendiri dan menjadi hancur berantakan tatkala bergulingan diatas tanah.
" ******* ternyata dirimu memang memiliki modal untuk menantangku,. baiklah , aku tidak akan memberimu ampun,.."
Terdengar sumpah serapah di sertai suara ancaman.
Gajah Arak kelihatan nya akan mulai merambah ilmu kadigjayaan, karena mulut nya terlihat komat -kamit membaca mantera.
Sambil tangan kirinya di letakkan di dadanya. Sedang senjata gada yg ada di tangan kanannya mulai ia angkat perlahan -lahan.
Tidak terlalu lama kemudian, terdengar suara teriakan nyaring,
" Hiyyyahhhh,.."
Orang tersebut segera melompat sambil memukulkan senjata nya ke arah Raka Senggani.
Sedang senjata itu mulai tampak kemerahan.
" Whuuuuutss,."
Senopati Brastha Abipraya melompat menghindari serangan itu, ia tidak berani memapasinya dengan tongkatnya. Beberapa kali ia melompat sambil bersalto, menjauhi lawannya.
Sesaat kemudian ia merapal ajian Wajra Geni miliknya.
Tongkatnya pun seakan-akan sedang membara.
Datang serangan dari Gajah Arak lagi dengan melontarkan pukulan jarak jauhnya.
Oleh Raka Senggani langsung di balasi dengan ajian Wajra Geni nya.
" Aji Wajra Geniiii,.."
Teriaknya sambil membenturkan ajian nya tersebut dengan ilmu lawannya.
" Dhumbhhh,.."
" Bleghuaaarrrr,.."
Akibat benturan yg terjadi pada kali pertama ini tidak ada yg unggul.
Keduanya masih tegak berdiri dengan kokohnya.
Gajah Arak menatap wajah Raka Senggani dengan tatapan aneh, ia berbisik dalam hati,..
Dan,..
" Tungguuuu,.."
Teriak nya cukup keras,.setelah melihat lawannya itu siap melepaskan ilmunya lagi.
Raka Senggani heran ,.tangan nya yg sudah terangkat tinggi kemudian ia turunkan lagi.
" Ada apa,..?" tanya nya dengan keras.
Kemudian Gajah Arak mendekati Raka Senggani dalam jarak dua langkah saja dihadapan sang Senopati ia berhenti.
Sementara Raka Senggani waspada dengan orang yg ada dihadapan nya.
" Apa yg ingin kisanak katakan,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Sungguh hatinya penasaran dengan sikap orang tersebut yg tiba -tiba berubah.
" Kulihat lintang kemukus tengah bersinar,.." ucap orang yg bertubuh tinggi besar itu.
Sedang senjata gada nya sudah tidak terangkat ke atas lagi, hanya di tenteng saja.
Hehh,..
Raka Senggani terkejut mendengar ucapan sandi tersebut,..pertanda orang ada dihadapannya adalah seorang prajurit sandi Demak.
" Jika lintang kemukus telah bersinar siapakah teman nya,..?" tanya Raka Senggani dalam bahasa Sandi pula.
Orang yg bertubuh tinggi besar tersebut menjawab, bahwa Lintang Kemukus terbit tanpa teman, hanya banyak orang yg mengira akan terjadi sesuatu di muka bumi termasuk dengan keadaan binatang nya.
Aku hanya seekor Gajah bukan sebuah Lintang,..ucap Gajah Arak menyebut jati dirinya.
Bahwa ia memang bukan dari para Lurah prajurit sandi Demak yg terpilih, tetapi ia memang prajurit sandi Demak biasa.
Dalam hati Raka Senggani merasa bahwa para prajurit sandi Demak ini merupakan orang -orang pilihan. Sehingga dirinya harus mengeluarkan kemampuan nya untuk menghadapinya.
" Jika dirimu memang seorang prajurit sandi Demak, apa tujuan mu menghadang perjalanan ku,..?" tanya Raka Senggani.
Sebuah pertanyaan yg amat ingin ia dengar jawaban nya dari orang yg berada dihadapan nya.
__ADS_1
" Maaf sebelumnya Senopati Lintang Kemukus,.. atas perintah Ki Lintang Gubuk Penceng,.. diriku di minta untuk mengatakan kepada mu tentang sesuatu,.." ucapnya.
" Hehh,..apa itu,..?" tanya Raka Senggani kaget.
Karena dengan hadangan orang yg tinggi besar ini saja sudah cukup membuat nya heran, apalagi dengan sesuatu yg akan disampaikan oleh Gajah Arak ini.
Kemudian Gajah Arak menjelaskan kepada Senopati Brastha Abipraya untuk segera bersiap bahwa dirinya untuk berhadapan dengan seorang pejabat dalam kadipaten Surabaya.
Ia menyebutkan bahwa tugasnya kali ini memang cukup berat sehingga dirinya yg kali ini melakukan pertarungan dengan sang Senopati adalah pendadaran , diusulkan oleh seluruh lurah prajurit sandi Demak agar dapat menilai kemampuan dari sang Senopati.
Kejadian kali ini diluar kebiasaan dari para prajurit sandi Demak.
Semuanya itu atas persetujuan dari Kanjeng Sinuwun dan Tumenggung Bahu Reksa agar kelak Senopati Prajurit sandi Demak yg terpilih ini mampu melaksanakan tugasnya, jelas dari Gajah Arak.
Ia juga mengatakan bahwa orang yg menjadi musuh utama kerajaan Demak kali ini memang sangat berbahaya dan sangat tinggi ilmunya.
Dan orang tersebut selalu di kelilingi oleh para bawahan nya yg juga memiliki kemampuan yg tidak dapat di pandang rendah.
Oleh Gajah Arak, ia mengatakan agar Senopati Brastha Abipraya segera menemui Lurah prajurit sandi Demak yg lain yg berada di trowulan.
" Siapa dia , Gajah Arak,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Tampaknya kali ini ia mengahadapi situasi yg cukup pelik atas tugas yg telah di terimanya dari Kanjeng Gusti Sultan Demak.
" Tugas kali ini memang tugas sandi, jadi untuk pengarahan selanjutnya akan di beritahukan oleh Ki Lurah,..Lintang Gubuk Penceng yg ada di trowulan, tepatnya di tepi dari kota tersebut,.." jelas Gajah Arak.
Ia juga menjelaskan agar secepatnya sang Senopati menemui Lintang Gubuk Penceng di tempatnya dan kemudian akan segera berkumpul di rumah Ki Tambi yg ada di kota Surabaya.
Mendengar penjelasan dari Gajah Arak maka Raka Senggani segera meninggalkan tempat itu dan berpisah dengan Gajah Arak.
" Selamat Tinggal,..Gajah Arak,.." ucapnya.
" Selamat jalan, dan semoga beruntung,.., Senopati,.." sahut Gajah Arak.
Kemudian Senopati Brastha Abipraya meninggalkan tempat itu dengan meninggalkan sejuta tanya yg ada di dalam benaknya.
Sedemikian beratkah tugas seorang prajurit sandi , ketika bertemu dengan teman sendiri pun harus bertarung mati matian , bagaimana kelak jika bertemu dengan orang yg bernama Ki Tambi yg ada di kota kadipaten Surabaya itu.
Pertanyaan yg sulit untuk di temukan jawaban nya,..hanya gegara ingin melenyapkan satu orang saja mengapa seluruh pasukan sandi yuda Demak harus di terjunkan, demikian sakti kah orang itu,.. bagaimana dengan nasibku jika kelak kalah bertarung dengan nya .
Begitu banyak pemikiran yg timbul dalam benak Senopati Sandi Demak ini.
Atau memang seperti yg telah di katakan oleh Ki Sarang sewaktu di desa Kenanga, bahwa dirinya adalah seorang mesin pembunuh yg di pergunakan oleh penguasa yg ada di Demak.
Ahhh,. tidak..ini memang sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang prajurit,..katanya lagi dalam hati.
Ia terus saja berjalan menuju kota bekas dari ibukota Kerajaan Majapahit pada masa jayanya.
Langkah seperti tidak menyentuh tanah lagi , ia terus menjauh meninggalkan hutan Turanggana tempat dimana ia telah bertemu dengan Gajah Arak, seorang prajurit sandi Demak yg tangguh tanggon.
Dalam pada itu di kota kadipaten Surabaya, seorang pejabat yg sangat berpengaruh dan merupakan musuh dari Demak terlihat tengah duduk tenang bersama beberapa orang pengawal nya, ya ,..dia adalah Tumenggung Waturangga.
Seorang kepercayaan dari Adipati Surabaya. Ia masih memiliki darah Majapahit dari pihak ibunya.
Dalam perbincangan nya dengan para pengawalnya tersebut ,.orang yg bernama Tumenggung Waturangga mengatakan bahwa mereka semua harus bersiap karena seluruh wilayah bang wetan akan segera memberontak setelah beberapa Adipati nya berhasil ia pengaruhi.
" Tumenggung Waturangga,..Jika kelak wilayah wetan ini akan mbalela , siapakah yg akan jadi Senopati Agungnya,." tanya Salah seorang bawahan nya.
" Mungkin kita akan mengangkat Adipati Kediri atau Adipati Surabaya sendiri sebagai Senopati Agungnya,.." Jawab Tumenggung Waturangga.
Para pengawalnya kemudian melihat ke arahnya dan bertanya lagi,..
" Mengapa tidak Kanjeng Tumenggung Waturangga sendiri yg menjadi Senopati Agungnya,..bukankah kedua Adipati itu ilmunya masih di bawah dari Kanjeng Tumennggung Waturangga,..!" kata seorang yg berperawakan sedang.
Akan tetapi jika di lihat orang itu memiliki kemampuan yg cukup tinggi karena tangan kirinya mampu memainkan sebatang logam seperti sebuah karet saja .
Ia dapat melemaskan dan membuat benda itu melengkung dan kemudian di luruskan lagi,. pertanda dirinya memiliki tenaga dalam yg lumayan tinggi.
" Tidak ,..tidak , diriku lebih baik bermain di belakang layar , jika pun kedua Adipati itu tewas , aku masih dapat selamat dari kejaran penguasa yg ada di Demak,.." jelas Tumenggung Waturangga.
" Mengapa kita harus kalah Kanjeng Tumenggung,.. bukankah pasukan dari beberapa Kadipaten yg ada di bang Wetan ini sangat kuat dan mampu menghancur leburkan Kotaraja Demak itu,.." ucap pengawal nya yg lain.
Sambil menatap kepada orang yg berbicara tadi kemudian Tumenggung Waturangga bangkit dari duduk nya sambil berjalan mengelilingi pengawalnya tersebut.
Ia berkata,..
" Belum tentu wilayah kita ini akan mampu mengalahkan Kotaraja Demak yg memiliki pasukan dan Armada lautnya yg sangat kuat itu,..jadi kita harus bersiap dengan segala kemungkinan yg terjadi,. misalkan pasukan kita kalah, sehingga kita masih dapat menyatukan kekuatan lagi jika kelak kita kalah, dan akulah yg kelak menjadi pemimpin nya,.." ucap Tumenggung Waturangga.
Salah seorang pengawalnya segera mengaukan pertanyaan ,..
" Bagaimana jika kita yg menang,..bukankah peran dari Kanjeng Tumennggung Waturangga dianggap kecil atau malah kelak akan di singkirkan,..?"
" Ini tidak boleh terjadi ,.."
Terdengar ucapan dari Tumenggung Waturangga sambil mengepalkan tangan nya . Terlihat wajah nya menegang sambil menyambung ucapannya,..
" Untuk itulah kalian aku kumpulkan disini,..selain aku berharap bahwa kalian dapat menilai keadaan, kalian juga bertugas sebagai pembunuh para Adipati yg mampu menjadi pahlawan dari peperangan melawan Kotaraja Demak,.." terang Tumenggung Waturangga.
__ADS_1
Namun ia juga berharap bahwa Demak akan segera mengirimkan pasukan nya ke lor,.barulah kelak pasukan dari wilayah wetan ini bersatu menyerang Kotaraja Demak.
Itulah yg menjadi harapan Tumenggung yg memiliki kemampuan meluluhkan hati lawannya jika ia harus bertatapan mata dengan nya.