
Sementara itu jauh arah utara dari Kademangan Warasaba, nampaklah dua orang muda mudi ,..yg lelaki berwajah tampan dengan rambutnya sebahu, dan yg perempuan berwajah cantik meski agak berkulit gelap dengan rambut panjang nya tengah mengendarai kuda tunggangan nya.
Mereka berdua baru saja mengahadap dan sowan kepada penguasa kesultanan kacirebonan , yaitu Kanjeng Sunan Gunung Jati di istana nya.
Keduanya adalah Raka Senggani dan istrinya Sari Kemuning. Dan kali ini tujuan mereka adalah Sunda Kelapa sebagai kelanjutan dari tugas yg di emban oleh sang Senopati.
Guna mengetahui dari dekat keadaan dari pelabuhan paling kulon dari pulau ini.
Namun atas pesan dari Kanjeng Sunan Gunung Jati mereka diharapkan untuk singgah di Wahanten dan menemui putranya raden maulana Hasanuddin disana.
" Apakah kita akan langsung menyusul kakang Witangsa dan Kakang Andara,.. kakang,..?" tanya Sarj Kemuning.
Pertanyaan yg di lontarkan oleh Sari Kemuning membuat Senopati Bima Sakti ini menjadi agak bingung menjawabnya,.. sejenak ia menghentikan kudanya, ketika mereka tengah berada di sebuah pertigaan.
" Kalau menurutmu sebaiknya kita kemana , Kemuning ,.." tanya Raka Senggani balik.
Kali ini istrinya lah yg tidak dapat menjawabnya.
" Kalau Kemuning terserah Kakang Senggani,..kemana membawa nya," sahut nya.
Raka Senggani kemudian menjalankan kudanya Si jangu menuju ke kota pelabuhan sunda kelapa.
" Sebaiknya kita ke Sunda Kelapa terlebih dahulu,..karena kota tersebut lebih dekat jaraknya dari sini,.." jelase Raka Senggani.
Kemudian keduanya menjalankan kudanya perlahan menyusuri pantai utara, pulau jawa.
Jarak yg cukup jauh sebenarnya dari tempat mereka berada.
Peamndangan yg cukup indah , dilalui dalam petualangan kali ini membuat hati Sari Kemuning menjadi senang , terlebih melakukannya dengan seseorang yg dikasihinya.
Terkadang mereka berhenti di tepian pantai sambil menikmati panorama sesaat mentari akan tenggelam.
Dan pada keesokan paginya mereka dapat melihat kehadiran nya lagi dari sebelah timur juga tidak kalah indahnya.
Ketika keduanya mendekati pelabuhan Sunda Kelapa,..terlihat jalanan mulai lebih ramai.
Banyak orang orang yg berlalu lalang yg hendak ke pelabuhan tersebut.
" Kemuning,..jalan yg mengarah ke selatan itu menuju ke Kerajaan Pakuan Pajajaran,.." ucap Raka Senggani kepada istrinya.
" Kakang ,.. sesekali kita singgah disana kenapa,..?" tanya Sari Kemuning.
" Boleh juga ,.asalkan kita telah berhasil melaksanakan tugas dari kanjeng Gusti Sinuwun,.." sahut Raka Senggani.
" Bagaimana kalau setelah dari Sunda Kelapa ,..pulang nya kita mampir disana,.." seru istrinya.
" Boleh juga,.." jawab Raka Senggani.
Kemudian mereka menjalankan dengan perlahan langkah kaki kuda nya. Karena di jalanan tersebut telah banyak orang yg berjalan kaki hendak menuju Kota Sunda Kelapa.
Dalam jarak yg tidak terlalu jauh lagi , di saat pintu gerbang kota sudah terlihat,.. sesosok tubuh mendekati keduanya.
Ia langsung menyapa kedua orang tersebut.
" Lintang Wengi, terlambat kembali,.." ucap orang itu.
" Hehh,.."
Raka Senggani segera menatap orang yg berdiri tidak jauh darinya itu,..orang menggunakan topi caping lebar dan menutupi wajah nya juga mmeperhatikan ke arah Senopati Demak itu.
" Meski terlambat,..Lintang Wengi tetap bersinar,.." sahut Raka Senggani.
Dengan sebuah isyarat , orang yg memakai topi caping lebar itu mengajak keduanya untuk mengikuti nya.
Raka Senggani faham,.ia segera memberitahukan kepada istrinya untuk mengikuti orang tersebut.
Orang yg di ikuti itu berjalan cukup cepat melalui jalanan kecil yg sepertinya jarang diewati .
Agak lama keduanya mengikuti orang tersebut , karena sepertinya jalan tersebut memutar dan menuju langsung ke dalam kota pelabuhan.
Sesampaianya di sebuah rumah yg cukup besar,..langkah kaki orang itu berhenti dsn berkata,..
" Kakang Senopati telah di tunggu di dalam ,.." ucapnya.
Seraya ia segera meninggalkan tempat itu , tinggallah Raka Senggani dan istrinya yg masih duduk di punggung kudanya.
" Marilah kita masuk ke dalam,.."
Ajak Raka Senggani kepada istrinya sambil menatap melompat turun dari kudanya.
Hal tersebut diikuti oleh Sari Kemuning.. Keduanya kemudian menuntun kudanya dan masuk ke dslam rumah tersebut.
__ADS_1
Setelah menambatkan kudanya , sepasang suami istri itu menuju pendopo rumah yg terbilang besar dan cukup megah.
Senopati Bima Sakti kemudian mengucapkan salam ,..dan di jawab dari dalam bersamaan dengan muncul nya seseorang yg tiada lain adalah Lintang Panjer Suruf.
" Apa khabarnya adi Senopati,.." sapanya.
" Baik ,..sangat baik,.." jawab Raka Senggani.
Kemudian mereka berdua di ajak masuk ke dalam rumah oleh Ki Lintang Panjer suruf.
" Maaf sebelumnya , adi Senopati Bima Sakti,.. karena kedua utusan dari Demak yg telah adi Senopati kirimkan itu telah kami tempatkan di dua tempat, yaitu disini , di kota Sunda Kelapa ini dan yg satu lagi berada di pakuan pajajaran,.." terang Ki lintang Panjer Suruf.
" Mengapa demikian Kakang Panjer Suruf,..?" tanya Raka Senggani heran.
Karena atas sepengetahuan nya , keduanya memang di tugaskan di kota ini.
Kemudian Ki Lintang Panjer Suruf menjelaskan kepada Senopati Bima Sakti bahwa itu di lakukan untuk mendapatkan kepastian apakah pakuan Pajajaran akan dapat di jadikan teman jika kelak Demak menyerang kota ini,
" Apakah memang Pakuan Pajajaran tidak dapat diajak kerjasama Ki Lintang ,..,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Tampaknya sulit Senopati ,..sehingga Kakang Lintang Panjer Rina memerlukan untuk mencari tahu akan hal itu,.." jelas Ki Lintang Panjer Suruf.
Ia kemudian menjelaskan kepada Senopati Sandi Yuda Demak yg baru ini, bahwa di kota pelabuhan Sunda Kelapa ini telah sangat banyak prajurit asing berada di sana,. mereka itu tampaknya semakin melebarkan kekuasaan nya setelah Kerajaan Demak yg di pimpin oleh Senopati Sarjawala gagal untuk merebut tanah melaka, sehingga mereka pun tampaknya ingin melakukan hal yg sama di tanah kulon itu.
" Yah,..oleh sebab itulah Kanjeng Gusti Sultan memerintshkan untuk melihat langsung kota ini,.apakah dapat di jadikan landasan bagi pasukan Demak saat menyerang kota Melaka,.." ungkap Raka Senggani.
Sebagai seorang Senopati sandi yuda, tugas nya cukup berat,..karena berdasarkan laporan nyalah pergerakan pasukan akan berhasil atau tidak.
" Akan tetapi kalau menurut kami ,..tidak mungkin Sunda Kelapa ini di jadikan landasan menuju kota Melaka ,.. Senopati,..sebab mereka disini telah terlalu banyak,..sehingga ketika kita akan singgah disini,.kemungkinan nya kita akan di serang dari tiga arah,.." jelas Ki Lintang Panjer Suruf.
Ia mengatakan , bahwa orang asing itu dapat memberikan pukulannya melalui tiga arah dari darat dari kota Sunda Kelapa , dari utara , melalui jalur laut dan dari barat , dari arah wahanten, karena daerah itu belum di kuasai oleh kasultanan cirebon apalagi Demak.
Demikian lah penutursn dari Lurah prajurit sandi Demak ini kepada Raka Senggani yg merupakan pimpinan nya.
Namun karena saat ini sang Senopati telah berada di kota tersebut, ia sendiri akan memastikan dapat atau tidaknya Sunda Kelapa di jadikan sebagai landasan.
" Mungkin esok , aku dan istri ku akan berkeliling di kota ini guna mengetahui keadaan yg sebenarnya,.." ucap Raka Senggani.
Dan Ki Lintang Panjer Suruf pun mempersilahkan kedua tamunya itu untuk beristrahat.
Saat itu belum terlalu sore, Raka Senggani dan Sari Kemuning memang menyempatkan diri untuk beristrahat ,.. karena nanti malam mereka berdua akan berusaha melihat lebih dekat pasukan asing itu berada.
Sesaat menjelang maghrib keduanya telah terbangun dan tampaknya tengah bersiap.
Ki Lintang Panjer Suruf yg melihat hal itu segera bertanya,..
" Apakah Senopati akan keluar malam ini,.?" tanya nya.
" Benar Ki Lurah ,..kami berdua akan segera melihat lihat keadaan, tolong sampaikan kepada kakang Witangsa kami tidak usah di tunggu,..mungkin besok pagi kami akan kembali,.." jelas Raka Senggani.
Tidak lama keduanya kemudian keluar dari rumah yg cukup besar itu selepas Maghrib.
Berdua , pasangan muda mudi ini berjalan jalan di tengah kota Sunda Kelapa , kota yg cukup besar dan sibuk yg berada di ujung pulau jawa itu.
Lampu- lampu minyak jarak telah menerangi kota tersebut, dan di beberapa sudut terdapat obor yg terpasang.
Debur ombak yg datang dari arah utara membuat kota ini menjadi lebih ramai.
Tidak seperti yg ada di kota Pajang,.jika malam hanya ada suara -suara binatang malam.
Sambil berpegangan tangan ,.. keduanya memperhatikan keadaan kota pelabuhan tersebut.
Memang benar yg di katakan oleh Ki Lintang Panjer Suruf,..banyak sekali para Prajurit asing yg berlalu lalang, dengan menggunakan topi yg tinggi dan di pinggang nya terselip sebuah pedang panjang.
Bahkan mereka di lengkapj dengan sebuah senjata yg untuk kali pertama di lihat oleh sang Senopati.
Senjata itu pun ada di pinggang para prajurit asing tersebut.
" Kemuning,, apakah dirimu mau masuk ke dalam bangsal mereka itu,..?" tanya Raka Senggani.
Pertanyaan itu diajukan nya kepada sang istri.
" Nanti kita akan di tangkap oleh mereka,. Kang,.." jawab Sari Kemuning.
Sambil tersenyum Raka Senggani membisiki sesuatu kepada istrinya dan membuat sang Istri ikut tersenyum juga.
" Boleh juga ,..!" ucap nya.
Keduanya mempercepat langkahnya mendekati salah satu bangsal dari prajurit asing tersebut,..dan dalam jarak yg agak jauh , Raka Senggani kemudian merapal ajian nya yg cukup ngegrisi yaitu aji panglimunan.
Secara ajaib , kedua tubuh pasangan suami istri itu menghilang dari tempatnya.
__ADS_1
Dan dalam pada itu mereka berdua kemudian memasuki bangsal prajurit asing tersebut dengan melewati para penjaganya.
Bangsal prajurit asing itu cukup luas dan besar sehingga , cukup lama mereka untuk mengetahui keadaan yg ada di dalam nya.
Di rumah Ki Lintang Panjer Suruf sendiri, telah kedatangan dua orang , salah seorang adalah Japra Witangsa yg merupakan kakak ipar dari Senopati Bima sakti.
" Maaf Ki Lurah,..tadi aku mendengar bahwa adi Senopati Bima Sakti telah datang kemari,..?" tanya Japra Witangsa .
" Benar, memang tadi Senopati Bima Sakti telah singgah kemari namun mereka akan kembali lagi besok pagi ,.." jawab Ki Lintang Panjer Suruf.
Japra Witangsa kemudian tidak menanyakan lagi, ia pun tidak ingin mencari kedua orang tersebut.
Sampai ke esokan harinya, barulah Japra Witangsa bertemu dengan kedua adiknya itu, hati putra Ki Jagabaya ini menjadi senang sekali.
" Apa khabar adj Senggani,..?" tanya nya kepada Senopati Bima Sakti.
" Baik,..kakang ,..bagaimana dengan mu sendiri,..?"
Balik Senopati Sandi Yuda Demak itu yg bertanya.
Oleh Japra Witangsa dijawab bahwa ia dalam keadaan baik dan sangat senang sekali dalam bertugas.
Wajah pemuda itu terlihat senang sekali.Memang ia sudah merasa pas dslam tugas keprajuritan sandi Demak itu.
" Syukurlah jika memang demikian, Senggani sangat senang mendengar nya,.." ucap Raka Senggani.
Seluruh orang yg berada dj tempat itu,.segera membicarakan masalah mengenai keadaan di kota Sunda Kelapa itu.
" Begini Ki Lurah,.. setelah kami berhasil masuk ke dalam salah satu bangsal prajurit asing itu, ternyata memang mereka sangat banyak , dan sangat sulit untuk menentukan jumlahnya,.." terang Raka Senggani.
Yang lain diam mendengarkan, apalagi setelah ia melanjutkan ucapannya,..
" Ada keinginan ku untuk melihat kekuatan mereka yg ada di kota Melaka itu,.." ucapnya.
Ki Lintang Panjer Suruf terkejut mendengar penuturan Senopati Bima Sakti ini.
" Tidak mungkin kita kesana senopati,.." sahut Ki Lintang Panjer Suruf.
" Apa sebab nya kita tidak dapat kesana, Ki Lurah,..?" tanya Raka Senggani.
Ki Lintang Panjer Suruf menuturkan , bahwa mereka tidak akan mungkin untuk menyusup kesana, selain cukup jauh jarak nya,. penjagaan nya cukup ketat, sulit untuk di tembus.
" Mengapa sulit untuk di tembus , apakah setiap nelayan akan mereka tangkap jika berlayar di dekat kota itu,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Walaupun agak sulit menjelaskan, Lurah Prajurit sandi Demak ini yg memang pernah menyusup kesana mengatakan bahwa para prajurit asing itu akan segera mengusir orang asing yg memasuki daerah mereka.
Mereka tidak akan memberikan perintah melalui kata kata, tetapi dengan letusan meriam.
Jika mereka menggunakan sebuah kapal yg berukuran kecil, maka segera akan hancur jika terkena tembakan meriam tersebut.
Senopati Bima Sakti belum mau mengundurkan keinginan nya untuk dapat menyusup masuk ke kota pelabuhan Melaka itu.
" Ki lurah,..jika itu kapal asing,..bagaimana dengan perahu nelayan setempat , apakah hal itu akan mereka lakukan pula,..?" tanya nya sekali lagi.
Ki Lintang Panjer Suruf menggelengkan kepalanya,..pertanda bahwa bagi nelayan setempat tidak akan di serang oleh para prajurit asing itu.
" Jika memang demikian ,.kita pergunakan sebuah perahu nelayan saja untuk dapat masuk kesana,.." ungkap Raka Senggani.
Kembali suatu usulan yg tidak masuk diakal, jarak ke kota Melaka itu tidak cukup dekat.
Alangkah berbahayanya jika menggunakan sebuah perahu nelayan yg kecil masuk kesana.
Namun Raka Senggani tetap meminta kepada Ki Lintang Panjer Suruf untuk menyediakan perahu itu,.. karena ia akan berusaha masuk kesana agar dapat menentukan bagaimana langkah selanjutnya,.. jangan kejadian pada waktu itu terulang lagi.
Ki Lintang Panjer Suruf tidak dapat berkata apa -apa lagi,.. karena itu adalah perintah yg harus segera di laksanakan.
Ia memrintahkan prajurit sandi yg menjadi teman Japra Witangsa untuk menyiapkan sebuah perahu nelayan yg terbaik.
Yang akan di pergunakan oleh Senopati Bima Sakti mengarungi selat itu menuju kota Melaka.
Tanpa banyak tanya prajurit sandi itu berangkat mencari apa yg telah di perintahkan oleh Lurah Prajurit sandi Demak ini.
" Kakang ,..apakah memang benar ucapanmu itu,..?" tanya Sari Kemuning.
" Benar,.. Kemuning,..karena ini sesuatu yg sangat penting bagi seluruh armada pasukan Demak ,..jika kita mengetahui kekuatan mereka tentu dapat menentukan langkah selanjutnya,.." jawab Raka Senggani.
Jawaban yg membuat Sari Kemuning kembali bersemangat .
Petualangan mereka akan berlayar mengarungi lautan luas.
Sesuatu yg akan sangat mengasyikkan ,..kata nya dalam hati.
__ADS_1