
Raka Senggani terus melihat sepak terjang dari Si Topeng Iblis Itu.
" Memang hebat Si Topeng Iblis ini, selain kemampuan ilmu peringan tubuh nya sangat tinggi , tenaga nya pun seperti nya tidak ada habis -habis nya, memang merupa kan lawan yg cukup sulit untuk di tunduk kan," kata Raka Senggani dalam hati.
Ia terus menyaksi kan Si Topeng Iblis Itu, hingga suatu saat,
" Hehhh, kau , sudah selayak nya untuk di antar ke akherat, terima ini, hiaahh," ucap Si Topeng Iblis.
Tiga buah senjata rahasia meluncur mengarah kepada Sulung setra.
" Weshh, wush, syeeshh,"
Ketiga senjata rahasia itu meluncur dengan cepat , siap untuk membinasa kan lawan nya itu.
Namun aneh nya ketika akan teoat ber sarang di tubuh dari Sulung setra tiba -tiba,
" Tak, tak, tak,"
Ketiga senjata rahasia itu langsung jatuh dan tidak berhasil mengenai tubuh Sulung setra itu.
Sulung setra yg tengah berusaha bangkit nampak kesulitan ,seperti nya kaki pendekar sewa an Ki Demang Kebon Sari itu patah ketika ter jadi benturan dengan Si Topeng Iblis.
" Hehh, siapa yg ingin berusaha menentang keinginan dari Si Topeng Iblis, segera tunjuk kan diri mu, atau seluruh pengawal kademangan Kebon Sari ini beserta Demang nya akan mati di tangan ku," teriak Si Topeng Iblis kalap.
Ia marah besar karena ada orang yg telah menggagal kan usaha nya untuk membunuh Sulung setra itu.
Ia sampai memutar tubuh nya untuk mencari orang yg telah berani menentang nya itu.
Tetapi ia tidak menemu kan nya, hingga ia ber kata lagi,
" Baik lah, jangan salah kan aku jika mereka semua akan mati,'' ucap Si Topeng Iblis.
Selesai ucapan nya itu ia langsung merogoh dari balik jubah nya.
Ter lihat di tangan nya telah ter genggam banyak senjata rahasia, siap untuk di lesat kan,
Dan ketika senjata rahasia itu siap di lepas kan, ia masih sempat ber kata,
" Jangan salah kan aku jika mereka semua mati, Hiiih,"
Seluruh senjata rahasia itu melesat dengan cepat mengarah ke para pengawal dan Demang Kebon Sari.
" Tak ,tak, tak , tak, tak, traatataktak,"
Seluruh Senjata rahasia itu jatuh tanpa ada satu pun yg mengenai sasaran nya.
Si Topeng Iblis berang, ia ter lihat mencari tahu di mana orang yg telah menggagal kan usaha nya itu, ia baru menyadari ada seorang lawan tangguh yg tengah berada di sekitar tempat itu.
Ia sampai menge trap kan aji panggraita nya untuk mencari di mana orang ter sebut berada namun nihil usaha nya tidak ber hasil.
" Ada yg ingin main -main dengan Ku, Ini Si Topeng Iblis tidak akan gentar untuk ber hadapan dengan siapa pun, kalau memang se orang lelaki tunjuk kan batang hidung mu,!" teriak nya dengan pengerahan tenaga dalam yg tinggi.
Banyak pengawal kademangan Kebon Sari yg telah bangkit ber diri , terjatuh kembali sambil memegangi dada nya yg sakit serta telinga yg terasa mendengar guntur menggelegar dengan keras nya.
Termasuk juga Demang Kebon Sari, ia ter kena pengaruh ajian Si Topeng Iblis yg mirip dengan aji Gelap Ngampar itu.
Tidak ter lalu lama ber selang ter dengar suara seruling yg ngelangut membawa kesejukan kepada para pengawal dan Demang Kebon Sari itu, rasa sesak di dada mereka terasa seperti terbawa dengan suara seruling itu datang.
" Hua ha, ha, ha, ha, memang punya nyali juga rupa nya, akhir nya Aku mengetahui di mana diri mu, ha,ha,ha," ter dengar suara ter tawa dari Si Topeng Iblis itu.
Ia masih berupaya untuk memberi kan tekanan dengan ajian nya itu untuk menjatuh kan para pengawal dan Demang Kebon Sari dengan se makin meningkat kan tenaga dalam nya.
Namun suara seruling pun semakin me ninggi dan melengking membuyar kan pengaruh dari ajian itu.
Kali ini nampak Si Topeng Iblis masih di bawah dari si pemilik seruling.
Karena dalam adu tenaga dalam untuk menjatuh kan itu, ter nyata usaha Si Topeng Iblis itu gagal.
Ia pun nampak berusaha mencari jalan, karena memang Si Topeng Iblis telah mengetahui keberadaan dari Raka Senggani yg berada di sebuah cabang pohon Mangga yg ada di belakang dari Si Topeng Iblis.
__ADS_1
Ter lihat Si Topeng Iblis diam , akan tetapi ia telah bersiap untuk melancar kan serangan jarak jauh nya kepada Raka Senggani yg masih ber sembunyi di cabang pohon itu.
" Heeaaahh ,"
Selarik cahaya menghantam batang pohon mangga itu hingga membakar nya, sesosok tubuh melesat melayang turun dari pohon yg telah ter bakar itu.
" Hebat, hebat, memang nama Si Topeng Iblis itu bukan nama yg kosong belaka, ter nyata memiliki kemampuan yg sangat mengagum kan, sayang kemampuan seperti itu di perguna kan pada jalan yg salah," kata Raka Senggani setelah menjejak kan kaki nya di tanah.
Anak muda dari desa Kenanga itu langsung ber hadapan dengan Si Topeng Iblis dalam jarak lima. batang tombak.
" Hehh, dengar kau bocah , segera angkat kaki dari sini sebelum batas kesabaran ku habis,!" seru Si Topeng Iblis.
" Aku di sini memang di tugas kan untuk menangkap mu Topeng Iblis, telah banyak darah yg kau tumpah kan, telah banyak orang yg kau jarah, nyawa mu pun belum cukup untuk membayar nya," jelas Raka Senggani.
" Hua, ha, ha, ha, bocah kemarin sore ingin jual tampang di hadapan ku, mungkin diri mu memang sudah bosan hidup, terima ini, hiyyaaaat," teriak Si Topeng Iblis.
Kembali pukulan jarak jauh nya mengarah kepada Raka Senggani yg masih ber diri tegak di hadapan nya itu.
Senopati Brastha Abipraya segera melesat menghindari serangan itu dan serangan itu hanya menerpa tempat yg kosong.
" Dhuaarr"
Tanah tempat ber pijak Raka Senggani sampai ber lobang , akibat dari serangan Si Topeng Iblis.
" Terima ini, hiyyah"
" Dhuaarr "
Kembali serangan itu luput dan Raka Senggani masih bisa menghindari nya dan kali ini se makin dekat dengan Si Topeng Iblis itu.
" Jangan hanya seperti monyet, yg bisa nya cuma ber loncatan saja," kata Si Topeng Iblis lagi.
" Baik lah jika memang itu yg kau ingin kan , Topeng Iblis, terima ini , hiyyah," ujar Raka Senggani.
Cahaya merah terang keluar dari telapak tangan Senopati Brastha Abipraya ter sebut.
Namun rupa nya Si Topeng Iblis sengaja membentur kan ajian nya dengan ajian milik dari Raka Senggani itu, terjadi lah benturan dari dua kekuatan itu,
Ledakan yg di hasil kan dari benturan dua kekuatan itu melempar kan kedua nya dalam jarak lima tombak.
Dan kedua nya masih dalam keadaan posisi tegak ber diri.
" Memang gila tenaga orang ini," ucap Raka Senggani dalam hati.
" Siapa pemuda ini, ia mampu menahan ajian ku, sudah sangat jarang ada yg mampu menahan ilmu ku ini kecuali dari kalangan tua tokoh duniae per silatan, apakah orang ini utusan dari Demak untuk menangkap ku," kata Si Topeng Iblis di dalam hati nya.
Si Topeng Iblis membuka kaki kanan nya dan siap untuk menyerang kembali.
" Hiyyaaah," suara yg keluar dari mulut Si Topeng Iblis.
Dan di balas Raka Senggani dengan teriakan pula,
" Heaaahh,"
Kembali adu duae ajian terjadi di tempat itu. Dan kembali kedua nya masih dalam posisi yg seimbang.
Kedua nya ter dorong ke belakang , tanpa ada yg ter jatuh.
Untuk yg ketiga kali nya, Raka Senggani menyiap kan tenaga dalam penuh pada tataran ter tinggi dari yg di miliki nya,
" Hiiiiyyyaaah,"
" Dhumbh, thuaaaar,"
Dua ajian itu ber temu, tampak kali ini Si Topeng Iblis harus ter lontar lebih jauh dari Raka Senggani dan posisi nya goyah,
" Sreeeert,"
Senopati Pajang itu mengeluar kan keris Kyai Macan Kecubung dari Warangka, nampak nya ia akan menuntas kan per tarungan itu,
__ADS_1
" Heaaahh,"
" Dhumbhh, Dhhuaaarrr,"
Ajian Wajra geni dengan di barengi keris Kyai Macan Kecubung mengarah pada Si Topeng Iblis yg masih belum mapan itu, pukulan jarak jauh itu menghantam tubuh si Topeng Iblis, hingga melempar kan nya cukup jauh, namun ia masih mampu bangkit, Raka Senggani melesat mendatangi Si Topeng Iblis yg masih berusaha mengatur jalan pernafasan dengan duduk ber sila.
Ter lihat dada nya ter sengal -sengal mendapat kan hantaman ajian Raka Senggani.
" Hehh, Topeng Iblis, menyerah lah, karena saat ini adalah saat nya engkau harus mempertanggung jawab kan segala hasil perbuatan mu," seru Raka Senggani keras.
Senopati Pajang itu tengah menyiap kan pukulan pamungkas nya. Keris Kyai Macan Kecubung di tangan nya itu se makin terang sinar nya.
Sedanh kan Si Topeng Iblis diam saja, ia tidak menjawab per kataan dari Raka Senggani itu.
" Baik lah jika kau tidak mau menyerah terima ini, Heaaahh,," teriak nya.
" Dhuaarr,"
Ajian Wajra geni yg di lepas kan oleh Senopati Pajang itu menemui tempat kosong, ter nyata Si Topeng Iblis ber hasil menghindari serangan itu.
Ia ter lihat berusaha melari kan diri dari tempat itu, Raka Senggani segera mengejar nya sambil melepas kan serangan, namun ilmu peringan tubuh Si Topeng Iblis itu cukup mengagum kan meski pun telah ter luka dalam namun kecepatan nya masih sangat kencang, ia ber lompatan dari wuwungan rumah yg satu ke rumah yg lain dengan ringan nya,sambil se sekali melepas kan senjata rahasia nya untuk meng hadang Raka Senggani.
Senopati Pajang itu ter paksa harus melepas Si Topeng Iblis itu ketika ia harus memukul jatuh beberapa buah senjata rahasia tersebut.
Kesempatan itu tidak di sia-sia kan Si Topeng Iblis dengan lesatan -lesatan yg panjang ia terus ber lari meninggal kan tempat itu mengarah ke Timur.
Sementara mentari pagi dari ufuk timur pun mulai muncul ber samaan dengan pergi nya Si Topeng Iblis dari Kademangan Kebon Sari.
Raka Senggani langsung mendekati Demang Kebon Sari dan Sulung setra.
" Terima kasih kisanak, siapa kisanak ini sebenar nya,?' tanya Demang Kebon Sari sambil menyalami Raka Senggani.
" Aku Raka Senggani, utusan dari Demak yg ingin ke Madiun," jawab Raka Senggani terus terang.
" O, Utusan Demak , mari Kisanak , mampir ke rumah," ucap Demang Kebon Sari mengajak Raka Senggani
Raka Senggani pun menuruti per mintaan dari Demang Kebon Sari itu dengan di iringi para pengawal dan Sulung setra yg harus di papah mereka menuju rumah Ki Demang.
Rumah Ki Demang Kebon Sari pagi itu ter lihat ramai, di atas pendopo para se sepuh dan perangkat kademangan tengah ber kumpul membicara kan situasi yg telah terjadi di kademangan itu.
" Saya selaku Demang di sini, kembali mengucap kan ribuan terima kasih kepada Anakmas Senggani yg merupa kan utusan dari Kotaraja guna membantu menangani per masalahan dari Topeng Iblis itu," ungkap Demang Kebon Sari.
" Jangan ter lalu sungkan Ki Demang , sudah selayak nya kita saling tolong menolong , dan kejahatan memang harus di lenyap kan, jadi merupa kan tugas kita semua untuk mengatasi nya ter masuk per masalah an Si Topeng Iblis ini," kata Raka Senggani.
" Tetapi sudah banyak yg berusaha untuk mengalah kan nya , namun hasil nya Nihil bahkan terakhir putra sang Adipati pun sampai ter luka cukup parah ketika harus ber hadapan dengan Si Topeng Iblis itu," ujar Ki Demang lagi.
" Baik lah Ki Demang, mungkin aku tidak bisa ter lalu lama berada di sini, karena sesungguh nya harus memberi laporan ter lebih dahulu ke Madiun baru setelah nya berusaha mencari keberadaan dari Si Topeng Iblis itu, memang jika ia masih ada sulit rasa nya ada keamanan di Madiun ini, jadi sekali lagi Senggani tidak bisa ter lalu lama di sini karena akan menghadap Kanjeng Patih Haryo Winangun di Madiun," kata Raka Senggani kepada Demang Kebon Sari.
" Tunggu lah anakmas, kita makan ber sama ter lebih dahulu, lagi pun keadaan masih ter lalu pagi, dan jarak dari sini ke Madiun tidak terlalu jauh,!" ucap Demang Kebon Sari.
Akhir nya Raka Senggani menuruti permintaan dari Ki Demang itu.
Mereka yg berada di situ di hidang kan makanan dan minuman karena semalaman telah melakukan per lawanan ter hadap si Topeng Iblis, beruntung Senopati Brastha Abipraya datang tepat pada waktu nya jika tidak mereka mungkin tidak akan lagi rasa panas sang Mentari lagi.
Setelah matahari menggatal kan kulit, Raka Senggani memacu si Jangu menuju Kota kadipaten Madiun yg sebenar nya tidak ter lalu jauh dari kademangan Kebon Sari.
Tepat matahari di atas kepala sampai lah ia di Madiun dan langsung menuju istana kepatihan.
" Siapa Ki sanak, dan ber niat untuk ber temu siapa,,?" tanya prajurit jaga yg ada di pintu gerbang istana kepatihan itu.
" Aku Senopati Brastha Abipraya dari Demak dan ingin ber temu dengan Patih Haryo Winangun," jawab Raka Senggani yg telah turun dari punggung kuda nya.
" Tunggu sebentar, kami harus melapor ter lebih dahulu kepada Kanjeng Patih," ucap Prajurit itu seraya menyuruh teman nya ke dalam.
" Silah kan," ucap Raka Senggani.
Tidak ter lalu lama, prajurit yg masuk itu telah kembali dan ber kata,
" Silah kan Kisanak, Kanjeng Patih ber sedia menemui Ki sanak," ucap nya.
__ADS_1
Raka Senggani masuk ke dalam istana kepatihan dan segera menambat kan kuda nya, setelah itu baru lah ia melangkah kan kaki nya ke dalam istana kepatihan kadipaten Madiun itu.