
Prajurit sandi yg di tugaskan menyiapkan perahu telah kembali. Ia melaporkan kepada Lurah Ki Lintang Panjer suruf bahwa perahu itu telah disiapkan.
" Apakah Ki Lurah akan segera berangkat,..?" tanya prajurit sandi Demak itu.
Pertanyaan yg di ajukan oleh nya supaya ia dapat memastikan kesiapan nya.
" Mungkin kami akan berangkat pada esok hari,.. Ki,.." jawab Ki Lintang Panjer Suruf.
" Siapa saja yg akan berangkat ikut Ki Lurah ,..?" tanya nya lagi.
Lurah prajurit sandi Demak ini mengatakan kepada nya , bahwa mereka akan berangkat empat orang saja.
" Kami akan berangkat empat orang saja,.yaitu Senopati Bima sakti dengan istrinya , aku dan prajurit Japra Witangsa,.." jelas Ki Lintang Panjer Suruf.
" Baiklah kalau begitu,..aku akan mempersiapkan perbekalan nya,.." jawab prajurit sandi itu.
" Satu hal lagi,.. dirimulah yg menjaga disini ,.jika kelak Kakang Lintang Panjer Rina dstang, sambutlah mereka, katakan kepada mereka kami akan ke Melaka,.." ungkap Ki Lintang Panjer Suruf.
Dan prajurit sandi Demak ini pun menganggukkan kepalanya.
Maka Ki Lintang Panjer Suruf pun segera berkemas , ia akan membawa beberapa peralatan yg akan di bawa ke Melaka.
Memang jarak yg cukup jauh dan akan menagrungi samudera , jadi persiapan memang harus benar -benar rapi dan cermat.
Sedangkan Senopati Bima sakti dan istrinya pun nampak nya akan melakukan persiapan pula.
Sampai menjelang malam barulah mereka selesai.
Japra Witangsa pun mendatangi kedua nya dan bertanya,..
" Apakah adi Senggani memang akan melakukan hal ini,..apa ini tidak berbahaya,..adi,..?" tanya putra Ki Jagabaya.
" Walaupun cukup jauh ,..kita sudah seharusnya melakukan nya , agar dapat menentukan bagaimana langkah yg akan di ambil selanjutnya,.." jelas Raka Senggani.
Japra Witangsa tidak berani menanyakan lagi, ia hanya memikirkan keadaan yg akan terjadi diatas laut.
Karena bagaimana pun juga,.. mereka bertiga adalah orang gunung meski telah pernah mengikuti pelatihan di keprajuritan Demak , tetapi dalam hal yg sebenarnya mereka belum pernah melakukan nya.
Menurut Ki Lintang Panjer Suruf ,..mereka sebaiknya berangkat sebelum Matahari terbit.
Ki Lintang Panjer Suruf mengatakan bahwa saat telah siang itu para prajurit asing yg sering melakukan pencegatan terhadap kapal kapal asing, jadi guna menghindarinya memang sebaiknya mereka lewat sebelum matahari terbit.
Jadi malam ini ke empatnya tidak dapat tidur terlalu nyenyak, dan pada ayam jantan berkokok untuk pertama kalinya, mereka telah berada di perahu itu.
Perahu nya tidak terlalu besar , mungkin hanya bermuatan sepuluh orang saja.
Dan kali ini di isi oleh empat orang yg terdiri dari tiga orang laki laki dan seorang perempuan.yaitu Sari Kemuning.
Di dalam perahu itu telah disiapkan berbagai peralatan untuk menangkap ikan. Karena mereka akan menyamar sebagai seorang nelayan.
Japra Witangsa segera membentangkan layar dari perahu itu yg tidak terlalu besar.
Segera saja Ki Lintang Panjer Suruf melepaskan tali ikatan dari perahu itu, dan mulai lah pengarungan lautan luas itu di mulai menuju kota Melaka.
Sebagai nakhodanya dari perahu kecil itu adalah Ki Lintang Panjer Suruf sendiri. Selain ia memang biasa hidup di laut, ia pulalah yg dapat menentukan arahnya.
Tiga orang yg lain yg akan merasakan untuk pertama kalinya berlayar di lautan.
Ada rasa kecil di hati mereka ketika telah mengapung diatas lautan itu, sejauh mata memandang mereka hanya dapat melihat air saja.
Seharian mereka berlayar baru melewati daerah gunung yg ada di dalam laut, yg memisahkan antara Jawadwipa dan Swarnadwipa.
Saat malam tiba mereka melaju dengan cepat karena dukungan angin yg cukup kuat mendorong perahu tersebut.
Menjelang pagi,.. mereka baru mengarah ke utara, dan angin tidak terlalu kencang berhembus.
Sehingga laju perahu menjadi melambat.
Menurut Senopati Bima sakti , mereka harus sampaj di kota pelabuhan Melaka saat sebelum pagi di keesokan harinya .
Atas saran dari nya ,.mungkin sebaiknya kecepatan perahu itu harus di tambah,.
" Apa yg harus kita lakukan Senopati,..?" tanya Ki Lintang Panjer Suruf.
__ADS_1
" Kami akan membantu dengan mendayung ,.." sahut Raka Senggani.
" Baiklah jika memang demikian,.. Aku setuju,.." jawab Ki Lintang Panjer Suruf.
" Satu hal Ki Lurah, arahkan perahu nya dengan tepat,..sehingga kita akan cepat sampainya,.." seru Raka Senggani.
Ki Lintang Panjer Suruf mengacungkan jari jempolnya tanda ia setuju.
Raka Senggani sang Senopati Demak yg mendapatkan gelar Raden dari Sultan Demak II ini segera meraih dua dayung yg cukup besar terdapat pada sisi kiri dan kanan dari perahu tersebut.
Ia pun segera meletakan kakinya sebagai tahanan saat akan mendayung.
Dan,..
" Whussshhhh,.."
Begitu ia telah mulai menggenjot kedua dayung tersebut dengan sentakan yg terlihat pelan namun mengandung tenaga dalam yg lumayan besar.
Seketika perahu kecil itu laksana di dorong oleh tiupan angin yg sangat kencang.
Dari yg awalnya terlihat pelan makin lama makin cepat sehingga perahu itu terlihat seperti sedang terbang saja.
Hanya buritan nya saja yg masih berada di atas air.
Saat Mentari tepat diatas kepala,..Ki Lintang Panjer Suruf memberikan isyarat kepada Senopati Bima Sakti untuk menghentikan dayungan nya.
Ia merasa sudah tidak jauh lagi dari kota pelabuhan Melaka. Padahal bagi tiga orang yg lainnya merasa mereka masih sangat jauh dengan daratan.
Setelah memrinthakan kepada Japra Witangsa untuk memegang kemudi,..Ki Lurah , Lintang Panjer Suruf mendekati Raka Senggani.
" Sebaiknya ,.. Senopati menghentikan dayungan nya,.. karena jarak nya sudah tidak terlalu jauh lagi,.." ucapnya pada Senopati Bima Sakti.
" Hehh,.."
Raka Senggani yg telah melepaskan pegangan nya pada kedua dayung tersebut cukup terkejut mendengarnya,..ia tidak menyangka bahwa mereka akan secepat itu tiba di Melaka,. kota pelabuhan yg berada di tanah melayu itu dan saat ini dikuasai oleh orang asing.
" Benarkah hal itu , Ki Lintang Panjer Suruf, apakah aku tidak salah mendengarnya ,..?" tanya Senopati Bima Sakti tidak percaya.
Raka Senggani seolah tidak mempercayainya,.. karena yg ia tahu ,. jika dari kota pelabuhan Jepara , dengan menggunakan kapal Jung dengan di tiang layar yg tinggi , kota itu akan di capai mungkin lima hari .
Sedangkan kali ini mereka menggunakan perahu yg cukup kecil , meski lebih besar dari perahu nelayan kebanyakan.
" Apakah aku tidak salah dengar Ki Lintang ,.. bukankah kita harus melakukan perjalanan selama tiga hari baru tiba di kota Melaka,..?" tanya nya kepada Ki Lintang Panjer Suruf.
" Mungkin benar yg Senopati Bima sakti katakan itu, jika keadaan angin seperti saat pagi tadi, tidak bertiup dengan kencang,..tetapi saat tadi Senopati telah mendayung,. gerak perahu kita seperti di terbangkan saja,.." jelas Ki Lintang Panjer Suruf.
Dan memang benar apa yg telah di ucapkan oleh Lurah Prajurit sandi Demak itu, di kejauhan telah terlihat banyaknya perahu nelayan yg berlalu lalang , dan seperti nya kebanyakan ingin pulang.
" Apakah tidak akan mmebahayakan jika kita mendarat saat suasana masih terang begini,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Dan hal itu pula yg sedang di pikirkan oleh Ki Lintang Panjer Suruf , ia pun segera memberitahukan kepada mereka bertiga untuk segera menganti pakaian nya , menajdi pakaian seperti nelayan kebanyakan dan juga berpakaian ala tanah melayu supaya para prajurit asing itu tidak menjadi curiga.
Setelah semuanya selesai berganti pakaian ,..Ki Lintang Panjer Suruf berkata kepada Japra Witangsa,..
" Ki Japra , aegerae ganti layar itu dengan layar yg lebih kecil, agar kesan nya kita adalah penduduk kota Melaka ini,.."
Terdengar perintah dari Ki Lintang Panjer Suruf kepada Japra Witangsa.
Dan Putra Ki Jagabaya itu melaksanakan nya ,.ia segera mengganti layar perahu tersebut dengan yg lebih kecil .
Sednagkan Raka Senggani , ditangan nya telah tergenggam sebatang kail pancing, Senopati Sandi Yuda Demak itu seolah olah sedang memancing .
Terlebih ketika perahu itu semakin mendekat dengan sebuah pelabuhan yg ada di kota yg mereka tuju itu.
Dari kejauhan terlihat banyak nya perahu dan kapal yg sedang bergerak , bahkan ketika sebuah perahu cukup besar tiba -tiba saja melintas di dekat perahu mereka dan di dalam kapal tersebut terdapat banyak sekali orang yg berpakaian seragam berwarna kebiru -biruan lengkap dengan senjata , tampakanya mereka adalah para prajurit asing yg telah menguasai kota pelabuhan Melaka itu.
Raka Senggani mengetahuinya , karena seragam pakaian yg mereka kenakan sama persis dengan yg ada di kota Sunda Kelapa.
Terdengar suara mereka yg tidak di ketahui artinya oleh ke empat orang itu.
Karena gerak perahu yg mereka tumpangi itu menjadi sangat lamban akibat layar yg mereka gunakan cukup kecil,.. mereka tiba di pelabuhan sesaat maghrib menjelang .
Dengan cepat Ki Lintang menambatkan perahu nya di jejeran para perahu nelayan dari Kota Melaka itu.
__ADS_1
Mereka berempat pun turun dengan cepat dari atas perahu tersebut.
Untuk pertama kalinya ketiga orang itu menginjakkan kakinya di tanah asing yaitu tanah melayu , berbeda dengan Ki Lintang Panjer Suruf sendiri, yg sudah beberapa kali ke tanah melayu itu.
" Kang ,..untuk pertama kalinya diriku keluar pulau jawa ,..." seru Sari Kemuning senang.
Istri Senopati Sandi Demak ini memang tidak terlalu banyak bicara selama perjalanan nya menuju kota Melaka ini.
Selain ia mabuk laut,..dirinya terkesan agak takut ketika melihat ombak yg cukup besar saat datang menerjang perahunya sehingga ia diam saja dan banyak berdoa dslam hatinya.
Baru begitu mereka semua sampai dengan selamat ia berkata kepada suaminya itu.
" Kakang pun demikian kemuning,..untuk kali pertama nya menginjak kan kaki di tanah melayu ini,." sahut Raka Senggani.
Mereka berempat segera meninggalkan dermaga pelabuhan yg merupakan pintu masuk ke dalam kota pelabuhan Melaka ini.
Dengan di bawa oleh Ki Lintang Panjer Suruf mereka berjalan menuju dalam kota .
Ki Lintang Panjer Suruf memiliki banyak teman di dalam kota pelabuhan Melaka ini, umumnya adalah orang orang melayu yg beragama islam yg sangat membenci terhadap bangsa asing yg telah menjajah mereka.
Oleh sebab itulah mereka meminta bantuan terhadap Kerajaan Demak yg merupakan Kerajaan Islam terbesar di seantero Nusantara ini ia merupakan kelanjutan dari Kerajaan Majapahit yg pernah berjaya di masanya , dan berhasil memepersatukan Nusantara di bawah panji panji Majapahit.
Sehingga tanah Melayu berharap sangat tinggi kepada Kerajaan Demak untuk dapat mengusir bangsa asing yg telah menjajah mereka itu.
Dan ki Lintang Panjer Suruf membawa ketiganya ke sebuah rumah yg cukup besar yg ada di jantung kota melaka ini.
Seperti kebanyakan rumah rumah dari tanah melayu yg merupakan rumah panggung yg cukup besar dan terbuat dari kayu kayu pilihan,. demikian pula rumah yg mereka tuju kali ini.
Rumah tersebut terkesan layaknya sebuah istana kecil yg berada daerah tersebut.
Secara singkat Ki Lintang Panjer Suruf menuturkan siapa sesungguhnya pemilik dari rumah tersebut.
Ia bernama Hang Adin dan masih keturunan dari bangsawan melayu dari garis keturunan neneknya.
Orang tua Hang Adin inilah yg telah membiayai perlawanan rakyat melayu yg ada di Kota Melaka ini.
Namun sayang , ia tewas di berondong meriam musuh. Dan jiwa patriot nya diturunkan kepada anaknya yg bernama Hang Adin ini.
Ia lah orang pertama yg melakukan kerjasama dengan kerajaan Demak .
Hang Adin memiliki banyak harta benda yg di warisinya dari orang tuanya yg merupakan saudagar sukses di Kota ini.
Demikianlah penjelasan singkat yg dikatakan oleh Ki Lintang Panjer Suruf.
Sesaat mereka berada di depan rumah yg berpagar tinggi dan memiliki banyak pimtu masuk itu.
Ki Lintang Panjer Suruf mengucapkan salam , dan di jawab dari dalam oleh salah seorang penjaga rumah tersebut.
Pintu gerbang terbuka dan ke empat pintu segera masuk.
Di dalam mereka bertiga segera mendapatkan pertanyaan dari penjaga rumah itu.
Oleh Ki Lintang Panjer Suruf di jelaskan secara terperinci bahwa mereka adalah utusan dari kerajaan Demak dan ingin bertemu dengan Saudagar kaya raya Hang Adin.
Alangkah terkejutnya penjaga rumah itu, karena tuan nya sudah sangat lama menatikan utusan dari kerajaan Demak ini.
Segera saja mereka dibawa untuk bertemu dengan Saudagar itu.
Raka Senggani dan istrinya serta Kakaknya Japra Witangsa terkagum kagum melihat rumah dari Saudagar Hang Adin ini, terlihat megah dan layaknya istana saja.
Setelah naik keatas rumah teesebut,..keempat orang dari Demak ini di bawa berjalan menuju salah satu bilik rumah tersebut.
Dan ketiganya di suruh untuk menunggu sejenak, karena penjaga tersebut ingin melaporkan mereka kepada tuannya.
Setelah kepergian penjaga rumah itu masuk ke dalam ,..maka Raka Senggani langsung berkata kepada Ki Lintang Panjer Suruf.
" Ki lurah,.orang yg bernama Hang Adin layaknya seorang Raja atau Adipati saja,..memiliki rumah layaknya istana lengkap dengan para penjaganya,.." ucap Senopati Sandi Demak itu.
" Benar yg Senopati katakan itu,..memang Hang Adin ini sudah selayaknya menjadi Raja di Kota Melaka ini,.. sayang para prajurit asing itu telah mengalahkan mereka dan membuat orang tuanya tewas,.." sahut Ki Lintang Panjer Suruf.
Belum habis pembicaraan kedua nya ,..penjaga tadi telah keluar dari dalam bilik itu dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
" Tuan tuan semuanya , silahkan masuk ke dalam , karena telah di tunggu oleh Saudagar Hang Adin ," ucap penjaga itu mempersilahkan mereka untuk masuk.
__ADS_1