
" Terserah apa katamu, yg jelas kami tidak akan sudi menuruti perintah mu itu, silahkan kalau kau mau jalan kekerasan kami siap melayani nya, " jawab Japra witangsa.
Putra Jagabaya itu merasa inilah saat nya untuk menilai kemampuan yg di peroleh nya dari Raka Senggani. Jadi semacam Pendadaran buat nya.
" Kalau kalian tidak mau menuruti perintah ku, golok ku inilah yg kan bicara," ujar Gerang.
Lelaki yg berwajah sangar itu menjilati mata golok nya , golok yg lumayan besar.
Ia pun perlahan menggerakkannya , kemudian,
" Hiyyah,,"
Gerang pun melompat membacok kan golok nya itu kearah Japra Witangsa, mendapatkan serangan , putra Jagabaya itu berkelit dengan memiringkan tubuhnya, golok itu luput dari sasaran nya namun angin nya masih kuat menerpa Japra Witangsa.
" Hati -hati Witangsa, jika kau memerlukan bantuan segera beri isyarat, " ucap Jati Andara.
" Jangan khawatir Andara, kunyuk busuk ini akan bertekuk lutut di kaki ku,!" jawab Japra Witangsa.
" Hehhh, bocah jangan terlalu percaya diri, ku robek mulutmu baru tahu, heaah,!" teriak Gerang.
Ia kembali membabatkan golok nya mendatar mengarah ke leher Japra Witangsa, dan untuk kali ini ia menundukkan kepalanya seraya memberikan pukulan balasan.
" Hihh,"
" Dhigh "
Kepalan tangan kanan Witangsa mendarat di pinggang Gerang.
Ia kemudian melompat mundur dan menjaga jarak dengan Japra Witangsa.
" Sudah ku katakan, kau harus bertekuk lutut di kaki ku,!". ejek Japra Witangsa.
" Behh, jangan terlalu sombong bocah, nanti kau akan menyesal, " seru Gerang dengan keras.
Tiba -tiba saja di tempat itu telah hadir seorang lelaki yg berpakaian mewah dan berwajah bersih , sambil tertawa terkekeh.
" He, he, he, Gerang , ternyata hanya untuk melumpuhkan seekor cecurut saja kau tidak mampu,!" ucap orang itu.
" Tapi Raden , ini baru permulaan, sebentar lagi, kepalanya segera terpisah dari lehernya, ". jawab orang yg bernama Gerang itu.
" Biarlah anak ini , aku yg menghadapi nya, kau lawan teman nya itu,!". terdengar perintah dari orang yg di panggil Raden itu.
" Baik Raden, '' jawab Gerang.
Ia pun langsung mendekati Jati Andara, sedangkan orang yg di panggil Raden itu segera berhadapan dengan Japra Witangsa, tampak kaki nya segera melangkah mendekati putra Ki Jagabaya itu.
" Bocah , sebaiknya kau turuti permintaan temanku tadi, kalau kalian mau selamat dan jangan lupa tinggal kan juga kedua gadis cantik itu,!" ucap orang itu.
" Sampai mati pun aku tidak akan mau menuruti permintaan kalian berdua , jika memang mampu kalahkan kami, ". jawab Japra Witangsa.
Ia nampak geram dengan sikap orang yg di panggil Raden itu.
" He, he, he, kenalkan namaku Pranacitra, orang -orang memanggilku Raden Pranacitra, jika kau mau menuruti perintah ku, akan Ku jamin selamat sampai ke tempat tujuan kalian, jika kalian menolak, Pranacitra tidak akan segan -segan untuk membantai nya, cincang halus seperti perkedel," ucap orang yg mengaku sebagai Raden Pranacitra tersebut.
" Sudah, banyak omong terima ini, heaahh,". teriak Japra Witangsa.
Putra Jagabaya itu langsung menyerang Raden Pranacitra dengan sebuah tendangan yg cepat mengarah ke dada lawan nya. Sementara itu , Jati Andara pun tengah berhadapan dengan Gerang si pemilik golok yg lumayan besar itu.
Pertarunga terjadi di dua tempat, sedangkan Sari Kemuning dan Dewi Dwarani telah bersiap ketika mereka berdua terjaga akibat suara teriakan orang yg sedang bertarung itu.
" Bagaimana Rani, apakah kita akan turut membantu mereka ,?" tanya Sari Kemuning.
" Sebaiknya kita melihat terlebih dahulu jika mereka berdua terdesak , sesuai pesan Kakang Senggani kita harus bertarung berpasangan ketika musuh lebih tinggi ilmu nya," jawab Dewi Dwarani.
Kedua gadis cantik itu kemudian memperhatikan jalan nya pertarungan itu dan tampaklah bahwa Japra Witangsa kesulitan menghadapi lawan nya.
" Bagaimana Rani, apakah kita akan tetap tinggal diam, kau lihat itu, Kakang Witangsa sudah terdesak, Beberapa kali pukulan lawan nya itu telah mengenai nya," seru Sari Kemuning.
" Baik, kau bantu Kakang Witangsa, biar aku yg melihat Kakang Andara,!" jawab Dewi Dwarani.
" Baik kalau begitu, jika nanti kami memerlukan mu, kami akan beri isyarat, !" ucap Sari Kemuning.
Putri Ki Jagabaya itu langsung menuju ke tempat pertarungan antara kakak nya dan orang yg bernama Raden Pranacitra.
__ADS_1
" Kakaang, aku datang membantu mu,!". ujar Sari Kemuning.
Ia langsung menyerang Pranacitra yg tengah mendesak Japra Witangsa, terpaksa lah, Pendekar cabul itu mengalihkan serangan nya kepada Sari Kemuning.
" He, he, he, malam ini merupakan malam keberuntungan buat ku, adae seorang bidadari yg lagi datang kemari,. marilah Cah ayu, " ucap Pranacitra.
Mata nya langsung ijo ketika melihat Sari Kemuning. Walaupun sinar api unggun hampir habis tetapi bias -bias cahaya nya masih mampu memberikan penerangan di tempat itu.
Pranacitra amat terkesan dengan kehadiran dari Sari Kemuning, dari ujung kaki sampai ujung rambut , ditatap nya dengan tatapan penuh makna.
" Siapa namamu, Cah ayu,?" tanya nya.
Sari Kemuning diam saja, ia merasa jijik dengan tatapan aneh orang yg ada di depan nya itu.
" Untuk apa kau menanyakan nama ku,". kata Sari Kemuning dengan ketus.
" Ahh, jika nanti dirimu bersamaku, apakah panggilan yg pantas untuk mu Cah ayu, tetapi kalau kau sebutkan namamu tentu aku akan dapat memanggil mu dengan benar atau aku panggil dirimu dengan,. sayang, yahh, panggilan sayang memang cocok untukmu,!". kata Pranacitra.
" *******, terima ini, heaahh,". teriak Japra Witangsa.
Ia menyerang Pranacitra dengan cepat karena teramat geram mendengar ocehan nya. Meski tidak sedang tidak mengarah kepada Japra Witangsa tetapi Pranacitra dapat dengan cepat menghindari serangan itu. Dan bagi Sari Kemuning serangan kakak nya itu adalah pertanda bahwa ia pun harus segera menyerang pula.
Kedua kakak beradik itu langsung menyerang bersama -sama, dan hasilnya, Pranacitra tampak kewalahan menghadapinya.
Beberapa jurus kemudian Pranacitra telah kena dipukul oleh Japra Witangsa.
Pertarungan pun semakin seru ketika Sari Kemuning pun berhasil menyarangkan pukulan tangan kanan nya ke dada Pranacitra.
" ******, kalian memang tidak tahu di belas kasih, terima ini, heaaahh,!" teriak Pranacitra.
Ia bergerak dengan cepat nya sambil melambari pukulan nya dengan tenaga dalam yg kuat dan mengarahkannya kepada Japra Witangsa.
Witangsa segera menghadang pukulan itu dengan kedua tangan nya.
" Dhiesskh, "
Putra Ki Jagabaya itu terdorong dan mundur beberapa langkah, Pranacitra menerus kan serangan sambil mengirimksn tendangan ke arah pinggang dari lawan nya itu.
" Hati -hati Kakang Witangsa, jangan beri kesempatan ia menyerang," teriak Sari Kemuning.
" Baik Kemuning," ujar Japra Witangsa.
Ia paham maksud adik nya itu, jika lawan di beri keleluasaan untuk menyerang mereka pasti akan terdesak karena tenaga dalam lawan sangat tinggi, sementara mereka berdua baru mulai berhasil mengungkapkan nya, itu pun terhenti setelah Raka Senggani pergi.
Sehingga dua kakak beradik itu segera mengurung Pranacitra dengan rapat, sulit untuk nya mengeluarkan seluruh kemampuan nya, hanya karena Prana citra menang pengalaman bertarung di tambah lagi ia memiliki tenaga dalam yg lumayan, dengan perlahan ia berhasil membalikkan keadaannya.
Japra Witangsa dan Sari Kemuning telah berhasil di desak nya, pukulan nya beberapa kali masuk ke tubuh kedua orang itu.
Dan buat kedua kakak beradik itu, memang pertama kali nya bertarung sesungguhnya, sehingga tenaga kedua nya cepat menurun.
Sementara itu Jati Andara berhasil mendesak Gerang bahkan golok dari Gerang itu tidak dapat menyentuh pemuda itu, di saat saat yg sulit buat Japra Witangsa dan Sari Kemuning, Jati Andara sempat melihat ke arah keduanya.
" Rani, cepat bantu Witangsa dan Kemuning, mereka kelihatan nya sedang terdesak," seru Jati Andara.
" Baik kakang," jawab Dewi Dwarani.
Ia langsung menuju ke tempat pertarungan dari Japra Witangsa dan Sari Kemuning.
" Kemuning dan kakang Witangsa bertahsn lah, aku akan membantu kalian, hiyyahh," teriak Dewi Dwarani.
Sambil melompat, Putri dari Bekel desa Kenanga itu langsung memberikan serangan kepada Pranacitra, sehingga Pendekar cabul itu telah di keroyok oleh tiga orang, meskipun kemampuan nya diatas dari ketiga orang itu, namun harus menghadapi tiga orang itu membuat nya jadi sulit padahal sebelumnya ia telah berada di atas angin.
Sedangkan Japra Witangsa dan Sari Kemuning seperti mendapatkan angin segar, setelah kedatangan dari Dewi Dwarani itu.
Keadaan yg di hadapi oleh Pranacitra itu sama juga dengan yg dihadapi oleh Gerang.
Hanya bedanya , Gerang memang tidak mampu mengatasi Jati Andara, satu lawan satu sedangkan Pranacitra harus menghadapi tiga orang yg memiliki kemampuan yg sama. Bahkan karena ke empat orang itu tidak menggunakan senjata membuat tenaga mereka cepat sekali menurun nya.
Melihat keadaan yg tidak menguntungkan bagi ia dan Gerang , Pranacitra mengambil keputusan untuk segera pergi dari tempat itu, dengan sebuah isyarat , Pranacitra segera membuat suitan membuat Gerang segera berusaha menghindari serangan dari Jati Andara dengan lompatan-lompatan yg panjang. Ketika ia mendapat kesempatan , dengan cepat ia berlari dari tempat itu bersamaan fajar mulai menjelang, memang pertarungan kali ini cukup lama karena memang keadaan nya seimbang.
Setelah kedua nya pergi dari tempat itu, Japra Witangsa langsung jatuh terduduk saking lemas nya.
" Ada apa Kakang, ?" tanya Sari Kemuning cemas.
__ADS_1
" Tenang Kemuning, aku tidak apa -apa, hanya sangat lelah saja, " jawab Japra Witangsa.
Kemudian Sari Kemuning memapah kakak nya itu untuk berdiri dan berjalan ke tempat semula.
Kemuning mengambil air minum dan memberikan nya kepada Witangsa.
" Ternyata bertarung itu sangat melelahkan , ya , Kemuning, " ucap Japra Witangsa.
" Benar kakang, Aku sendiri yg tidak terlalu lama saja , sudah cukup lelah apalagi kakang, " jawab Sari Kemuning.
" Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini, jarak ke kota Pajang pun tidak terlalu jauh lagi, " ujar Jati Andara.
" Rani, cepat ambil kuda -kuda itu, kita harus pergi dari sini,!" kata Jati Andara lagi.
Dewi Dwarani segera mengambil dua ekor kuda itu dan membawa nya ke tempat itu.
" Witangsa apakah kau mampu berkuda sendiri ,?" tanya Jati Andara.
" Entahlah, rasa nya badan ku terlalu berat," jawab Japra Witangsa.
" Sebaiknya kau berkuda denganku, biar Dwarani bersama dengan Kemuning,!" kata Jati Andara.
Akhirnya Japra Witangsa berkuda dengan Jati Andara, sedangkan Sari Kemuning berkuda dengan Dewi Dwarani.
Ke empat orang itu segera meninggalkan tempat itu. Matahari pun mulai memancar dari ufuk sebelah Timur.
Dengan cepat kuda -kuda menderap melangkah menuju ke kota Pajang.
Menjelang matahari di atas ubun -ubun sampailah ke empatnya di gerbang kota Pajang.
Keempat orang itu menuju ke kediaman dari Tumenggung Wangsa Rana sesuai petunjuk dari Raka Senggani.
Di depan kediaman dari Tumenggung Wangsa Rana itu, ke empatnya ditahan oleh prajurit jaga.
" Berhenti, siapa kalian dan ingin bertemu siapa,?" tanya prajurit itu.
" Kami adalah anak dari desa Kenanga dan ingin bertemu dengan Tumenggung Wangsa Rana,!" jawab Jati Andara.
Ke empat orang itu pun turun dari punggung kuda nya.
" Tunggu sebentar, aku akan melaporkan kedatangan kalian ini kepada Kanjeng Tumenggung,!" ucap prajurit itu.
Ia pun langsung melangkah masuk ke dalam, dan tidak terlalu lama ia telah kembali lagi.
" Silahkan, Kanjeng Tumenggung bersedia menerima kalian," kata Prajurit itu.
Ke empat orang itu kemudian masuk ke dalam rumah Tumenggung Wangsa Rana itu.
" Ooo, jadi kalian berempat inilah yg sering di sebut -sebut oleh Angger Senggani itu," kata Tumenggung Wangsa Rana
Tumenggung kepercayaan dari Adipati Pajang itu menyambut langsung ke empat di luar pendopo rumah nya.
Ia mempersilahkan ke empat nya untuk naik ke atas pendopo.
Setelah mereka semua duduk di atas pendopo , berkata lah Tumenggung Wangsa Rana itu,
" Sayang sekali Angger Senggani sedang tidak berada kota Pajang ini, !" kata Tumenggung Wangsa Rana lagi.
" Jadi kakang Senggani tidak ada disini Kanjeng Tumenggung,?" tanya Sari Kemuning.
" Ya , angger Senggani sedang berada di Demak, mungkin sebentar lagi mereka akan berada di Jepara,!" jawab Tumenggung Wangsa Rana.
" Berarti sia -sia kedatangan kami kemari Kanjeng Tumenggung, , kami datang kemari sebenarnya ingin melanjutkan latihan kami yg tertunda sejak kepergian nya dari desa Kenanga," kata Japra Witangsa.
" Tidak ada yg sia -sia, Ngger, kalian itu telah mendapatkan tempat di hati Angger Senggani, karena sebelum keberangkatannya ke Demak ia telah membicarakan hal ini, termasuk dengan Kanjeng Adipati sendiri, dan kami telah memutuskan untuk menerima kalian semua disini dan akan kami tempat kan di bangsal keprajuritan, sambil menunggu kedatangan nya kalian bisa berlatih dengan para pelatih disini, baik masalah keprajuritan atau pun masalah ilmu silat dan nanti jika kalian berminat dspat diangkat sebagai prajurit Pajang, tetapi sekali lagi, jika kalian mau," kata Tumenggung Wangsa Rana itu.
" Jadi kami tidak perlu kembali lagi ke desa Kenanga lagi, Kanjeng Tumenggung,?" tanya Jati Andara.
" Benar, kalian tidak usah kembali ke Kenanga sampai angger Senggani kembali dari Demak, karena keperluan nya kali ini pun tidak akan terlalu lama, jadi bersabarlah kalian semua menunggu kehadiran nya di sini,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana.
" Apakah kakang Senggani tidak akan lama di Demak nya ,,?" tanya Dewi Dwarani.
" Seperti nya tidak sampai setengah purnama ia telah kembali disini , !' jelas Tumenggung Wangsa lagi.
__ADS_1