
" Memang kekuatan kita akan bertambah dengan para anggota dari kakang Singo Ireng yg telah tercerai berai Itu dan kedua orang tadi adalah termasuk anak buahnya kakang Singo Ireng,!" ucapnya.
" Bagaimana mungkin anak buah Kakang Singo Ireng bisa terpecah begitu, siapa yg sanggup melakukannya apakah pasukan Pajang,?" tanya Ki Bawuk heran.
" Bukan pasukan Pajang melainkan gerombolan Macan Baleman, Ki Bawuk," jawab Singo Lorok.
" Hahh, Macan Baleman, bukankah ia telah dikalahkan guru Kakang Singo Lorok, dan terluka cukup parah, mengapa secepat itu ia telah sembuh dan mampu menguasai Alas Mentaok,!" kata Ki Kaliran kaget mendengar penuturan dari Singo Lorok itu.
" Entahlah, memang Macan Baleman menjadi ancaman buat kita untuk menguasai kawasan Alas Mentaok ini,!" ujar Singo Lorok.
" Jadi mereka akan menunggu Kakang Singo Ireng nanti malam di ujung desa ini, ?" tanya Ki Bawuk.
" Kukatakan kepada mereka agar menunggu kedatangan kita di hutan di ujung desa ini, aku ingin mengumpulkan mereka kembali dan kita rebut Alas Mentaok itu,!" ucap Singo Lorok.
" Jadi malam ini, kita mencari tempat penginapan di desa ini, dan tugas mu Kaliran untuk menjaga Den ayu,!" perintah Singo Lorok.
" Siap kakang, " jawab Ki Kaliran.
" Jika ada sesuatu yg mencurigakan cepat beri laporan, siapa tahu kita masih dalam pencarian para prajurit Pajang dan pengawal desa Kenanga," kata Singo Lorok lagi.
Maka siang itu Singo Lorok dan dua orang anak buahnya mencari tempat untuk menginap malam itu di Prambanan.
*******
Sedangkan Tumenggung Wangsa Rana, Rangga Wira Dipa dan Raka Senggani telah bergerak dari alas Mentaok tepatnya dari Kalasan mereka langsung hendak menyebrangi kali opak namun sebelum tiba di sana berkatalah Tumenggung Wangsa Rana,
" Sebaiknya adi Wira Dipa dan beberapa prajurit segeralah lebih dahulu membawa mayat prajurit Pajang yg telah tewas itu, kembalikan mereka kepada keluarganya katakan mereka tewas dalam keadaan tugas menjalankan perintah Kanjeng Adipati," kata Tumenggung Wangsa Rana kepada Rangga Wira Dipa.
" Memangnya kenapa kalau kita tetap berjalan bersama paman Tumenggung, ?" tanya Raka Senggani kepada Tumenggung Wangsa Rana.
" Nanti keburu mayat-mayat itu membusuk, dan mereka tidak sempat untuk diihat fihak keluarganya, karena kebanyakan mereka berasal dari dekat sini, jika diantarkan lebih cepat tentu masih dalam keadaan baik," jawab Tumenggung Wangsa Rana.
" Baiklah kakang Tumenggung, aku akan membawanya dengan di kawal oleh sepuluh orang prajurit,!" ucap Rangga Wira Dipa.
" Pilih prajurit terbaik karena siapa tahu di depan masih ada halangan, sementara kami di sini tidak usah terlalu dipikirkan karena ada Senopati Raka Senggani, tentu tidak ada yg berani macam -macam, !" kata Tumenggung Wangsa Rana sambil melirik Raka Senggani.
" Baik kakang, !" jawab Rangga Wira Dipa.
Kemudian ia pun memilih sepuluh prajurit terbaik yg akan mengawal mayat teman -temannya yg tewas di pertempuran alas Mentaok itu.
Setelah itu kemudian berangkatlah lima belas kuda mendahului rombongan itu, empat ekor kuda di isi mayat Prajurit Pajang .
Ketika mereka menyebrang Kali opak hari pun telah menjelang sore.
Sementara rombongan dari Tumenggung Wangsa Rana dan Raka Senggani masih jauh tertinggal di belakang karena mereka mengawal para tawanan yg berjalan kaki bahkan ada yg sambil menggendong temannya yg telah terluka.
Jalan iring -iringan itu sangat lambat bagaikan semut yg berjalan beriringan.
Sedangkan rombongan Rangga Wira Dipa ketika harus melewati hutan menuju Prambanan hari telah gelap.
" Apakah kita akan terus berjalan Ki Rangga,?" tanya salah seorang prajurit kepada Rangga Wira Dipa.
" Sebaiknya demikian, kita harus sampai di Prambanan sebelum pagi menjelang," jawab Rangga Wira Dipa.
" Akan tetapi daerah hutan ini pun masih termasuk rawan Ki Rangga, apakah tidak sebaiknya kita beristrahat barang sejenak,!" kata prajurit itu lagi.
" Tidak , kita tetap melanjutkan perjalanan biar di Prambanan saja kita beristrahat,!" jelas Rangga Wira Dipa.
Kemudian lima belas ekor kuda itu pun berjalan perlahan melewati hutan yg membatasi kali opak menuju Prambanan, dan ketika lewat tengah malam pasukan yg di pimpin oleh Rangga Wira Dipa hampir menembus hutan itu dan sampai di wilayah Prambanan.
Akan tetapi beberapa pasang mata telah mengintai pasukan itu.
" Berapa jumlah mereka,?" tanya salah seorang kepada teman nya .
" Tampaknya berjumlah sepuluh orang saja dengan beberapa kuda yg membawa mayat,!" jawab temannya itu.
" Siapa mereka sesungguhnya ,?" tanya orang itu lagi.
" Prajurit Pajang, dari seragam yg di kenakannya mereka adalah prajurit Pajang,!" jawab temannya itu.
__ADS_1
" Bagus kalau begitu, segera laporkan pada Ki Lurah agar kita bisa mencegat dan membantai pasukan Pajang itu,!" terdengar perintah dari temannya.
Dengan cepat orang itu melaporkan hasil pengamatannya kepada orang yg di sebut Ki Lurah itu.
Kemudian mereka pun menyiapkan siasat untuk menjebak pasukan Pajang yg di pimpin oleh Rangga Wira Dipa itu.
Dan tepat ketika berada di ujung hutan menuju Prambanan, tampaklah beberapa sosok tubuh yg mencegat rombongan dari Rangga Wira Dipa itu.
Melihat hal itu Rangga Wira Dipa segera berbisik kepada salah seorang prajurit nya,
" Jika jumlah mereka banyak melebihi jumlah kita, segera engkau laporkan kepada kakang Tumenggung Wangsa Rana yg ada di belakang , jangan jumlah kuda seperti itu bertambah lagi,!" kata Rangga Wira Dipa sambil menunjuk kuda yg di tumpangi para mayat.
" Baik Ki Rangga,!" jawab Prajurit itu.
" Hehh, siapa kalian, jangan halangi jalan kami,!" teriak Rangga Wira Dipa.
" Hahh, segera turun dari kudamu dan serahkan seluruh barang ber harga milik kalian semua, kalau tidak jangan salahkan kami jika kalian akan pulang hanya nama saja," jawab orang yg menghadang itu.
" Kalian tahu sedang berhadapan dengan siapa,?" tanya Rangga Wira Dipa.
" Kami adalah para prajurit Pajang yg bertugas untuk membasmi orang -orang seperti kalian,!" kata Rangga Wira Dipa lagi.
" Kamu para prajurit Pajang, kami tidak perduli, sekarang tinggalkan barang-barang bawaan kalian termasuk Kuda -kuda yg kalian tunggangi itu, jika mau selamat silahkan berjalan kaki,!" kata orang itu lagi.
" Kalian terlalu meremehkan prajurit Pajang, prajuriiiiit ,seraaaaang," teriak Rangga Wira Dipa.
Sepuluh orang prajurit Pajang itu pun langsung menyerang para penghadang itu.
Mulanya para prajurit Pajang berhasil mendesak para penghadang yg hanya berjumlah enam orang saja, akan tetapi begitu anak buah dari penghadang itu bermunculan dari gelapnya hutan dari kiri dan kanannya membuat para prajurit Pajang terdesak, terlebih ketika orang yg di sebut Ki Lurah itu ikut membantu pertempuran.
Maka Rangga Wira Dipa segera memberi perintah kepada Prajuritnya,
" Cepatlah beritahu kakang Tumenggung Wangsa Rana, nampak nya kelompok ini adalah gerombolan dari Singo Ireng yg beberapa waktu lalu kita serang, dan kelihatannya pemimpin nya itu adalah Singo Lorok,!' Rangga Wira Dipa.
" Baik Ki Rangga, mudah mudahan pasukan Tumenggung Wangsa Rana tidak jauh dari sini,!' ucap prajurit itu.
Tidak menunggu perintah untuk ketiga kalinya prajurit itu langsung memacu kudanya mengarah ke Kali Opak lagi guna menyampaikan pesan Rangga Wira Dipa.
Melihat ada salah seoran yg berhasil melarikan diri dari kepungan itu, maka Pemimpin penghadangan dari pasukan Pajang itu segera berteriak,
" Cepat habisi mereka semua sebelum bantuan tiba,!"
Namun Rangga Wira Dipa cukup cerdik ia menarik pimpinan rampok itu untuk bertarung secara kucing -kucingan sehingga menyulitkan mereka.
Sementara prajurit yg diperintah oleh Rangga Wira Dipa itu memacu kudanya dengan cepat, sehingga sebentarnya saja ia melalui wilayah hutan yg ada di Prambanan itu, dan ketika ia mendekati Kali Opak , hatinya terasa gembira karena dilihatnya para prajurit Pajang tengah beristrahat sambil menyalakan beberapa obor.
Dengan kecepatan tinggi ia memacu kudanya dan berhenti tepat ketika ia tiba di depan rombongan para prajurit Pajang itu.
Setelah melompat turun dari kudanya, ia langsung bertanya,
" Dimana Kanjeng Tumenggung Wangsa Rana,?" tanyanya kepada sesama prajurit.
" Ia ada bersama Senopati Raka Senggani, dan Klabang ireng di dekat api unggun itu,!" jawab temanya itu.
Prajurit itu nampak tergesa -gesa, dan ketika telah bertemu dengan Tumenggung Wangsa Rana ia langsung berkata,
" Gawat Kanjeng Tumenggung, kami telah di serang oleh sekelompok orang di dekat Prambanan ," kata Prajurit itu.
" Apaaaa, kalian di serang, oleh siapa,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Entah lah Kanjeng Tumenggung,menurut Ki Rangga, mereka adalah begal alas Mentaok kelompok dari Singo Ireng yg kemungkinan di bawah kepemimpinan dari Singo Lorok,!" jelas prajurit itu lagi.
" Kelompok Singi Ireng dan di bawah ke pemimpinan dari Singo Lorok,?" tanya Raka Senggani yg terkejut mendengar nama terakhir yg disebutkan oleh prajurit tersebut.
" Nampaknya demikian Senopati Raka Senggani,!" jawab prajurit itu.
" Kalau begitu, Aku harus lebih dahulu kesana, silahkan paman Tumenggung mengatur prajurit yg di sini,!" kata Raka Senggani yg langsung bangkit dari duduknya.
Ia nampak berjalan tidak menuju ke arah kudanya melainkan terus saja meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
" Bismillah, hedffhh,!"
Raka Senggani langsung mengetrapkan ilmu lari cepatnya setelah tidak terlihat lagi oleh para prajurit Pajang itu.
Ia terus berlari dan berlari dengan kecepatan yg tinggi, se olah ada yg di burunya, sebentar saja ia telah tiba di hutan yg membatasi Prambanan itu.
Pemuda itu terus masuk dengan tetap dalam kecepatan yg tinggi hingga ia mendapati arena pertempuran dari Rangga Wira Dipa itu tepat di tepi hutan.
Setelah melihat sejenak pertempuran itu, terlihat pasukan Pajang yg kalah jumlah itu telah sangat -sangat terdesak, dan tanpa basa basi lagi Raka Senggani langsung menghantamkan pukulan jarak jauhnya untuk mengurangi tekanan dari kawanan rampok itu.
" Heaaahh, !"
" Dhhuaaarrr,"
Terdengar ledakan di sertai sebuah cahaya terang yg menghantam para pengepung prajurit Pajang itu.
Seketika itu juga kepungan terhadap pasukan Pajang itu langsung pecah, Raka Senggani langsung melesat laksana burung elang yg akan menyambar mangsanya, ia menuju ke pertarungan dari Rangga Wira Dipa yg agak tersendiri di daerah ara-ara itu.
" Hiyyyah,!"
Sambil melompat menuju tempat Rangga Wira Dipa, Raka Senggani masih sempat memberikan serangan kepada kawanan rampok yg masih menyerang para prajurit Pajang itu.
Tiga orang langsung terjengkang ke belakang akibat tendangan dari Raka Senggani itu, namun tubuhnya terus saja melayang menuju tempat pertarungan dari Rangga Wira Dipa.
" Ki Rangga , sebaiknya segera membantu prajurit yg lain biar orang ini, Aku yg mengurusnya," ucap Raka Senggani kepada Rangga Wira Dipa.
Rangga Wira Dipa yg telah melihat sendiri tandang Senopati Pajang yg baru itu segera menjawab,
" Baik , Senopati,!"
Rangga Wira Dipa segera bergerak menuju para prajurit Pajang yg masih ber tempur itu, memang kondisi mereka sudah lumayan baik ketika hantaman dari Raka Senggani itu, sehingga tekanan yg di berikan para kawanan rampok itu tidak seberat sebelumnya, di tambah dengan kedatangan Rangga Wira Dipa, nyali prajurit Pajang kembali menyala.
Sementara Raka Senggani yg telah berhadapan dengan pemimpin gerombolan itu yg tiada lain adalah Singo Lorok yg baru saja di dapuk sebagai pimpinan menggantikan Singo Ireng terlihat memandangi wajah Singo Lorok dengan seksama, dan dari pandangan itu Raka Senggani melihat yg dihadapannya itu memang benar adalah Singo Lorok.
Raka Senggani amat geram melihat dari pimpinan rampok asal Gunung Tidar itu dan sekarang telah menjadi pimpinan di alas Mentaok itu segera berkata,
" Hehh, Singo Lorok, di mana kau sembunyikan Tara Rindayu putri juragan Tarya itu, ?" tanyanya kepada Singo Lorok.
Karena Singo Lorok belum pernah bertemu dengan Raka Senggani, ia heran atas pertanyaan dari pemuda yg ada dihadapannya itu.
" Siapa kau, apa urusanmu dengan Putri Juragan Tarya itu,?" balik Singo Lorok yg bertanya.
Menyadari Singo Lorok belum mengenalnya, maka Raka Sengganipun berbohong kepada pemimpin begal asal gunung tidar itu.
" Aku adalah putra demang muncar, dan sekarang aku menuntut balas atas kematian kakakku, sekaligu bertugas untuk membawa kembali kakak iparku ke Muncar,!" kata Raka Senggani.
" Sekarang putri Juragan Tarya itu telah Aku bunuh dan mayatnya telah aku buang di hutan, carilah sendiri jika engkau mampu,!" ejek Singo Lorok dengan petantang petenteng.
" Kau Bohooong, Singo Lorok, tujuanmu datang ke Kenanga hanya ingin mengambil Tara Rindayu bukan yg lain, tidak mungkin barang bagus seperti Tara Rindayu itu telah kau bunuh apa lagi engkau telah mengorbankan kakak mu Singo Ireng, itu sesuatu yg mustahil, !" teriak Raka Senggani.
Pemuda sampai mengacungkan tangannya menunjuk ke arah Singo Lorok.
Namun Singo Lorok menjawab dengan entengnya,
" Terserah kau mau percaya atau tidak, tetapi Putri Juragan Tarya itu tidak ada padaku,!"
" Dasar pembohong, berarti Tara Rindayu masih hidup, kau terima ini, heaaahh,"
Raka Senggani langsung melesat mem berikan serangan kearah kepala dari Singo Lorok itu.
Sementara Singo Lorok segera bergerak menghindari serangan itu.
Terjadilah pertarungan di antara keduanya di malam itu.
Singo Lorok tidak menyadari bahwa lawan yg dihadapinya adalah pembunuh Singo Ireng kakak seperguruannya itu.
Jadi Singo Lorok memandang rendah kepada lawannya yg masih muda itu.
Berbeda dengan Raka Senggani yg memang geram akan perbuatan dari Kepala begal dari Gunung Tidar itu, ia segera menyerang dengan serangan-serangan yg cepat dan mematikan, apalagi tugas yg dibebankan keatas pundaknya oleh Juragan Tarya, untuk dapat membawa kembali Tara Rindayu pulang.
__ADS_1