Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 17 Sultan Demak Ii. bagian ke delapan.


__ADS_3

Perempuan cantik yg berpakaian merah menyala itu tertawa cekikikan membuat bulu kuduk siapa saja yg mendengarnya akan berdiri.


Hehh,..ternyata mereka adalah para penunggu alas Siroban ini,..berkata dalam hati nya Raden Abdullah Wangsa.


Pedang Jata ancala yg ada di tangannya segera di putarnya,..cahaya merah yg terang menyinari tempat itu.


Raka Senggani kemudian berkata.


" Adi Wangsa ,..jaga para lelembut yg lain itu,..biar kelima perempuan ini Kakang yg menghadapinya,.." serunya.


" Heaaahhh,.."


Setelah selesai mengatakan itu,.. Senopati Pajang itu segera melesat menyerang kelima orang perempuan cantik yg merupakan makhluk halus penghuni alas Si Roban itu.


Dengan senjata puaaka ,.keris Kyai Macan Kecubung itu yg juga bercahaya kemerahan itu,..sang Senopati segera memberikan tusukan kepada salah satu dari lima makhluk halus itu. Sambil ia juga mengirimkan tendangan nya kepada perempuan yg lain.


Gerakan yg sangat cepat dengan diimbangi ilmu peringan tubuh yg nyaris sempurna,..Senopati Pajang itu dapat membuat kerepotan penunggu alas siroban itu.


Mereka yg berdiri tanpa menjejakkan tanah itupun terus menghindari serangan dari lawan mereka itu.


Memang diri mereka itu tidak memiliki wadag yg kasar,.. alias makhluk halus maka dengan mudah mereka melenyapkan tubuh mereka ketika serangan dari Senopati Pajang itu hampir mengenai mereka.


Ada rasa takut kelima penghuni alas siroban itu dengan senjata yg berada di tangan sang Senopati Pajang itu.


Ini diketahui oleh Raka Senggani,..ia semakin memperhebat serangan nya karena meskipun makhluk halus itu dapat menghilang dan muncul kembali dengan sesuka hatinya,..akan tetapi bagi sang Senopati,.ia tetap saja mengetahui kemana mereka itu bergerak,..hingga suatu ketika,..


" Aaaaakhh,.."


Salah seorang dari lima orang perempuan itu terlihat terlempar tanpa mampu bangkit ,..sedangkan yg empat lagi tampak terpaku melihat temannya itu jatuh terkapar,. sebentar kemudian tubuh yg terjatuh itu,..mengeluarkan asap dan lenyap tanpa meninggalkan bekas.


Kini tinggalah keempat perempuan itu sambil menatap tidak percaya terhadap apa yg dilihatnya itu.


" Hehh,..manusia tampan,.. ternyata dirimu memang memiliki kemampuan yg luar biasa,..dirimu telah berhasil membunuh salah seorang teman kami,..kau harus membayar perbuatan mu,..hik hik,.hik,.." ucap perempuan itu sambil tertawa cekikikan .


Tawanya itu Cukup membuat nyali orang yg mendengar jadi ciut ketakutan,..akan tetapi kali ini yg mereka hadapi adalah Raka Senggani yg telah mampu membunuh penguasa alam jin di puncak gunung Tidar, baginya kelima orang gadis cantik yg berpakian merah menyala itu ,..tidaklah mmebuatnya gentar.


" Segeralah tinggalkan tempat ini,..sebelum kalian semua akan bernasib sama dengan teman kalian itu,.." seru Raka Senggani.


Dengan masih mengacungkan keris Kyai Macan Kecubung itu.


Para makhluk halus yg tinggal empat itu diam tidak menjawab ,. tetapi salah seorang dari mereka yg mungkin adalah pemimpin nya segera melambaikan tangan nya.


Dan lamabaian itu adalah sebuah isyarat,..begitu ia melambai,.. seluruh makhluk halus itu kemudian menyerang Raden Abdullah Wangsa dan Raka Senggani.


Keduanya di serang dari kanan dan kiri mereka.


Jumlah yg Cukup banyak itu membuat Raden Abdullah Wangsa harus berjumpalitan sambil menbaskan pedangnya guna menghindari serangan dari mereka itu.


Berbeda dengan Raka Senggani,.. Senopati Pajang itu malah berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun. Tetapi anehnya,..tidak ada seorang pun yg berani mendekatinya.


Apa yg membuatnya demikian ternyata di perhatikan oleh keempat orang perempuan itu.


" Cepat ringkus kedua manusia itu,..hik,..hik,..hik,.." teriak pemimpin nya itu.


Sambil tetap tertawa cekikikan. Tetapi keinginan nya tidak selaras dengan kenyataan yg terjadi,..para makhluk halus itu semakin menjauh dari Raka Senggani,..bahkan demikian pula dengan Raden Abdullah Wangsa,..ia yg menggunakan senjata pedang pusaka itu juga dapat membuat makhluk halus itu kabur ngacir ketakutan dengan tandang dari Putra pangeran Sabrang.


Sebenarnya apa yg membuat para makhluk lelembut tidak berani memdekat dengan sang Senopati tiada lain tiada bukan adalah karena Senopati Pajang itu nampak mengerahkan tenaga dalam nya ke cincin yg ada di jarinya itu.


Terlihat asap tipis yg keluar dari cincin tersebut. dan itulah yg membuat takut makhluk halus itu.


Mereka akhirnya kabur,..tinggallah keempat perempuan yg berbaju merah itu.


Sementara itu hujan pun mulai mereda,.bahkan sudah tidak terlihat lagi cahaya kilat yg menyanbar nyambar,.hutan kembali menjadi tenang.


Tanpa sadar ,..baik Raka Senggani mau pun raden Abdullah Wangsa mampu melihat ujud asli keempat perempuan yg berpakaaian merah itu.


Ujud asli nya yg akan membuat setiap orang akan ketakutan melihatnya.


Keempatnya berubah menjadi hantu sundel bolong yg mengerikan,..dengan wajah yg nyaris rata,..rambut panjang menjuntai ke tanah,..dan punggung nya terlihat lobang besar menganga dengan belatung di dalam nya.


Dari yg di lihat pertama kali sangat cantik kini telah berubah sangat menywramkan.


Raden Abdullah Wangsa sampai beberapa kali menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya atas apa yg telah di lihatnya itu.


Aroma bau bangkai sangat kentara ter cium di tempat itu


" Hooeeekkhh,.."

__ADS_1


Putra Pangeran Sabrang Lor itu sampai muntah mencium bau yg menyengat itu.


" Hehh,..kalian kembali ke asalmu,.." teriak Raka Senggani.


Sambil mengacungkan keris Kyai Macan Kecubung itu ke arah ke empat makhluk halus itu.


Tidak ada jawaban dari keempatnya,..yg terdengar adalah suara tertawa yg berkepanjangan tanpa berani mendekat lagi ke arah kedua anak muda itu.


" Baiklah,..jika kalian masih tetap bersikukuh tidak mau pergi,.aku sendiri yg akan mengusir kalian dari sini..jangan salahkan aku jika kalian akan lenyap seperti teman kalian itu,.." seru Raka Senggani.


Senopati Pajang itu memutar keris Kyai Macan Kecubung di depan dadanya.


" Heahhhh,.."


Ia mengerahkan tenaga dalam nya dengan dilambari ajian Wajra geni miliknya itu kepada keempat orang itu.


" Bleghuaaarrrr,.."


Ternyata hantaman Ajian Wajra geni miliknya itu telah berbenturan dengan suatu kekuatan yg luar biasa besarnya.


Keempatnya tidak terkena hantaman ajian itu.


Mereka masih tertawa -tawa cekikikan ,..suara tertawa yg cukup menakutkan,.apalagi terjadi di malam hari di alas siroban itu.


" Eyang,..." seru keempat perempuan itu.


Mereka berkata secara serempak dan melihat ke satu arah,..dimana telah berdiri tegak seorang laki -laki tua yg memiliki janggut dan rambut yg telah memutih semua.


Lelaki itu datang menghampiri keempatnya.


" Sebaiknya kalian kembali saja,..biar orang ini ,..eyang akan menghadapinya,.." ucap orang yg di panggil eyang itu.


" Baik,..Eyangg,..kami akan pergi,.." seru perempuan itu.


Tidak berselang lama,.akhirnya keempatnya pun meninggalkan tempat itu.


" Siapakah kalian ini,. cah bagus ,..?" tanya lelaki tua itu.


" Kami adalah utusan dari Demak,..dan saat ini akan kembali ke Demak,..!" jawab Raka Senggani.


" Jadi kalian adalah utusan kerajaan Demak itu,.. Haaahh,..?" tanya lelaki tua itu lagi.


" Aku adalah penguasa Alas siroban ini,..namaku Ki Klamprah,.." jawabnya.


" Jadi apa maksud dan tujuan Ki Klamprah menghadang kami,..?" tanya Raka Senggani lagi.


Sambil matanya terus saja mengawasi semua gerak dan tingkah laku dari orang yg mengaku sebagai penguasa Alas Siroban dari alam lelembut itu.


Ia dapat meraba kemampuannya yg dapat menahan Ajian Wajra geni tadi,..tentunya orang itu memiliki kemampuan yg sangat tinggi.


" Sebenarnya ,..semua yg terjadi disini itu tanpa sepengetahuan diriku,..jadi maafkanlah atas tindakan para cucuku itu,..kisanak,.." sahut Ki Klamprah.


" Jika memang demikian,..biarkanlah kami lewat dari sini,.. karena kami ingin segera sampai di Kotaraja Demak,.." ucap Raka Senggani.


Di hati Senopati Pajang itu sebenarnya kurang mapan atas semua ucapan dari orang yg mengaku penguasa Alas Siroban itu.


Akan tetapi dirinya tidak dapat mengungkapkan itu di hadapan Raden Abdullah Wangsa.


" Apakah benar orang tua ini akan membiarkan kita lewat,..kakang,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.


" Entahlah adi,..mungkin ia akan mengatakan yg sebenarnya ,..yaitu memberikan kita jalan untuk lewat,..atau malah sebaliknya,..!" jawab Senopati Pajang itu.


" Maksud kakang,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa lagi.


Raka Senggani tidak menjawab,..ia kemudian melihat kearah orang tua yg bernama Ki Klamprah itu.


Dilihatnya ditangan orang tua itu tergenggam seutas bulu -bulu yg telah dirangkai menjadi satu menjadi seperti sebuah buntut kuda ,.. bentuknya tidak terlalu panjang ,..mungkin hanya dua jengkal tangan orang dewasa saja.


Ia terlihat seperti sedang mengibas -ngibaskan seperti sedang mengusir nyamuk.


Sangat pelan ,.tetapi akibat yg di timbulkan,..tempat itu seperti sedang mengalami angin yg sangat kencang,..pohon -pohon bergoyang sangat hebat,.dedaunan berguguran.


Sangat tinggi ilmu tenaga dalam orang ini,..pikir Raka Senggani.


Ia pun dapat memaklumi atas apa yg telah dilihatnya itu.


Karena sebagai penguasa dari Alas Siroban itu,.. tentunya kemampuan orang tersebut tidak terlalu jauh dengan penguasa dari Gunung Tidar itu,..walaupun mungkin masih di bawah dari penguasa Gunung Tidar itu..

__ADS_1


" Jika memang demikian ,.izinkanlah kami lewat,.ki Klamprah,.." ucap Raka Senggani.


Sedangkan Ki Klamprah sendiri,.sesekali masih memainkan senjata nya yg mirip dengan buntut kuda tersebut.


" Kalian dapat lewat dari sini,..jika telah dapat memenuhi permintaan ku,.." ucap Ki Klamprah itu.


Serasa dada Senopati Pajang itu seperti sedang di permainkan oleh orang mengaku sebagai penguasa dari Alas Siroban tersebut.


Bukankah tadi ia telah mengatakan kami dapat lewat dari sini,..tetapi sekarang ia mengatakan dengan sebuah syarat,..memang para makhluk halus ini sulit di pegang ucapan nya,..berkata dalam hati Raka Senggani.


Ia langsung bertanya,..


" Apa syarat nya itu,..Ki Kalmprah,..?"


Penguasa Alas Siroban itu menghentikan kegiatan nya mengibas -ngibaskan pecut kecilnya itu.


Ia menatap tajam ke arah Raka Senggani,..yg berdiri tegak di hadapanya itu.


Seraya menjawab pertanyaan dari Senopati Pajang itu,..


" Kalian harus dapat merebut apa yg ada di tangan ku,.ini, ."


Sambil menunjukkan benda yg mirip dengan buntut kuda tersebut. kearah Raka Senggani dan Raden Abdullah Wangsa.


" Hehh,.." ucap Raden Abdullah Wangsa kaget.


Ia tidak menyangka bahwa permintaan dari orang tua itu cukup aneh,..mengambil sesuatu yg ada di tangannya itu.


" Bukankah suatu permintaan yg sangat mudah untuk di penuhi,..kisanak,..hanya mengambil benda ini,..kalian akan dapat melewati Alas ini tanpa di ganggu oleh siapa pun,.. apalagi aku tahu ,..kalian berdua ini bukan utusan sembarangan yg di kirimkan dari Demak itu,..!" jelas Ki Klamprah.


" Bagaimana tadi salah seorang cucuku telah berhasil kalian bunuh dan membuat yg lain lari tunggang langgang karena kesaktian kalian itu.,.." lanjutnya lagi.


" Baiklah,..jika memang itu keinginan dari Ki Klamprah,..kami bersedia menerimanya,.." ucap Raka Senggani.


Terlihat kepala dari Ki Klamprah itu manggut-manggut,..


" Bagus,..sekarang telah dapat kita mulai,..rebut lah buntut kuda ini dari tanganku,.." ucap Ki Klamprah.


Ia kemudian mengibas-ngibaskan lagi buntut kuda tersebut dengan tangannya.


Sebentar kemudian tempat itu kembali bergerak dengan sangat kencang nya.


Raka Senggani kemudian bersiap untuk mengambil buntut kuda tersebut dari tangan Ki Klamprah.


" Apakah kits sudah dapat untuk mulai,..?" tanya Raka Senggani.


" Silahkan,..silahkan,.. segeralah rebut buntut kuda ini dari tanganku dengan cara sesuka hatimu,.aku telah siap,.." ucap nya lagi.


" Heaahh,.."


Senopati Pajang itu langsung melesat melompat untuk mengambil buntut kuda yg ada di tangan ki Klamprah itu.


Lesatan dari Raka Senggani itu sangat sulit untuk diikuti oleh mata biasa,..ia berusaha menggapai benda yg ada di tangan Ki Klamprah itu.


Akan tetapi gerakan dari penguasa Alas Siroban itu pun lebih cepat lagi,..belum pun tubuh Senopati Pajang itu sampaj pada tempat Ki Klamprah itu,..tubuh makhluk itu telah lenyap dari pandangan mata.


Raka Senggani terus memburu nya sambil mengayunkan keris Kyai Macan Kecubung itu mengarah ke leher Ki Klamprah itu.


Terjadilah adu ilmu peringan tubuh dan lari cepat diantara keduanya,.. gerakan dari Raka Senggani itu sebenarnya lebih cepat dari Ki Klamprah,..namun kelebihan dari Ki Klamprah itu dalam melenyapkan tubuhnya itulah yg membuat kesulitan Raka Senggani menghadpainya.


Akan tetapi Senopati Pajang itu tidak putus asa,..sebuah gerak tipuan yg mampu mengecoh penguasa Alas Siroban itu,..satu tendangan dengan kekuatan yg luar biasa besarnya menghantam tubuh dari Ki Klamprah yg merupakan makhluk halus itu terjatuh cukup jauh dari situ.


Raka Senggani terus menyerang lawannya itu.


Dengan tetap menggunakan Keris pusaka Kyai Macan Kecubung itu,..ia terus bergerak untuk mendaotakn benda seperti buntut kuda yg ada di tangan Ki Klamprah itu.


Walaupun Ki Klamprah tidak memiliki wadag kasar nya itu.Tetapi ia tetap merasakan tendangan dari Raka Senggani itu.


Ketika tiba diatas tanah ,..Ki Kalmprah cepat bangkitnya.


Ia berusaha mengindari semua serangan lawannya tersebut


Tetapi Senopati Pajang itu tidak memberikan kesempatan nya untuk bangkit,.serangan susul menyusul terus di lakukan oleh Raka Senggani untuk mendapatkan benda tersebut.


Usaha yg keras dari Senopati Pajang itu akhirnya membuahkan hasil. Sebuah patukan dari Kyai Macan Kecubung itu membuat Ki Klamprah harus mengindari serangan itu


.

__ADS_1


Namun tanpa di sadarinya,..senjata dari Raka Senggani itu berubah arah yg awalnya mengarah ke leher dari Ki Klamprah saat itu,..Kyai Macan Kecubung segera mengincar kaki dari penguasa Alas Siroban itu.


Membuat Ki Klamprah harus mengadu Senjata buntut kuda miliknya itu dengan keris Kyai Macan Kecubung itu.


__ADS_2