Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 24 Kembali. bag pertama.


__ADS_3

Prjurit Wahanten itu membawa ke empatnya memasuki bilik yg tidak terlalu luas yg ada di didalam bangunan besar tersebut.


Dan begitu ke empatnya telah berada di dalam, sang prajurit menutup daun pintunya serta menyelarak dari luar.


Raka Senggani ,.Ki Lintang Panjer Suruf, Japra Witangsa serta Sari kemuning amat terkejut dengan kejadian tersebut.


Terlebih untuk Raka Senggani, Senopati Sandi Demak ini tidak menyangka akan menjadi seorang tawanan di Wahanten ini.


Menurutnya tidak sepatutnya Pucuk Umun berlaku demikian atas mereka.Walaupun memiliki masalah dengan Raden Maulana Hasanuddin, tetapi ia tidak boleh menangkap mereka yg akan berkunjung ke sana.


Baik Ki Lintang Panjer Suruf maupun Raka Senggani menjadi bingung dengan perbuatan Pemimpin Wahanten ini.


" Bagaimana Senopati , apa yg harus kita lakukan,..?" tanya Ki Lintang Panjer Suruf.


" Tenang Ki Lurah,..sebaiknya kita menunggu malam lebih larut, apakah mereka akan memberi kita makan atau sesuatu yg lain , jika tidak, kita akan bertindak,..," jawab Raka Senggani.


Suami dari Sari Kemuning ini lantas mendudukkan tubuhnya.sambil mengambil posisi bersila,.. ia seperti nya sedang melihat keadaan sekeliling nya dengan Aji Ashka pandulunya.


Baru kemudian is mengtrapkan Aji panggraitanya. Nampak nya Sang Senopati merasa tempat ini dalam keadaan aman alias sepi, tidak ada tanda bahwa mereka sedang mmeperhatikan keempat orang tersebut yg telah berhasil mereka tawan.


" Bagiamana kakang, apakah ada orang di sekitar sini,...?" tanya Sari Kemuning penasaran.


" Tidak ada. Kemuning,..tampaknya mereka sengaja mengurung kita begitu saja disini sampaj menunggu keputusan yg akan di ambil oleh Pucuk Umun itu,.." sahut Raka Senggani kepada istrinya.


Ketiganya tampak gelisah,.. mereka bertanya -tanya, apa kesalahan mereka sehingga keempatnya harus menjadi tawanan.


Dan saat malam semakin larut , tiba tiba tempat itu banyak asap nya dan berbau harum.


Buru buru Senopati Sandi Yuda Demak ini memerintahkan yg lain untuk menutup indera penciumannya.


" Kalian tutuplah indera penciuman kalian, nampaknya kita akan mereka buat tidak sadarkan diri,..!" seru Raka Senggani.


Bersamaan semakin banyak nya asap yg masuk, Raka Senggani langsung menotok seluruh penciuman semua teman teman nya.


Bahkan, ia pun mencoba mengetahui siapa orang yg telah melakukan perbuatan ini.


Cukup lama keadaan ini berlangsung,.. Senopati Sandi Demak ini mengtrapkan aji panglimunan nya dan,..


Tiba -tiba saja ia sudah tidak berada di dalam bilik tersebut. Ia berusaha keluar dari sana dan mencsri siapa kiranya orang yg telah berniat membuat mereka pingsan itu.


Namun sebelumnya, ia membukakan selarak pintu tersebut. Dan bersamaan itu pula asap yg memabawa aroma wangi itu pun ikut keluar.


Ki Lintang Panjer Suruf , Japra Witangsa dan Sari kemuning segera keluar dari tempat itu.


Sedangkan Raka Senggani yg masih mengtrapkan aji panglimunan nya segera berkata,..


" Kalian semua , cepatlah kembali ke perahu kita tadi,..tunggu Senggani disana.." ucap nya.


Maka ketiga nya segera bergerak dengan mengendap endap , berusaha mencari jalan keluar dari tempat Pucuk Umun itu.


Mereka juga berusaha menghindari para penjaga yg tengah berjaga jaga.


Namun begitu tiba di tempat itu , mereka telah melihat para penjaga tersebut terkapar pingsan.


Sehingga dengan mudahnya mereka keluar dari tempat Pucuk Umun itu dan mereka pun tahu yg melakukan hal itu adalah Raka Senggani .


Sementara itu , saat menjelang pagi, seorang penjaga yg bertugas menjaga bilik ke empat tawanan tersebut amat terkejut mendapati bilik telah kosong tidak berpenghuhi lagi.


Buru -buru ia melaporkan hal ini kepada Pucuk Umun ,..di dalam biliknya.


" Ampun kan , hamba,..gusti,.. para tawanan telah berhasil melarikan diri,.." jelas penjaga itu ketakutan.


" Apa,... mengapa mereka dapat melarikan diri, bukankah sudah ku pertintahkan untuk membuat mereka pingsan,..Hehh,.." bentak Pucuk Umun dengan geramnya.


Ia segera bangkit dari dalam biliknya guna melihat kebenaran laporan sang penjaga itu.


Sebelum sampai ke tempat dimana Raka Senggani dan teman -teman nya di tawan, Pemimpin Wahanten inj mendapati banyaknya prajurit yg pingsan.


Hehh, sungguh hebat mereka itu, mampu melumpuhkan para prajurit ku tanpa harus membunuhnya,..kata Pucuk Umun dalam hati.


" Cepat , kau bangunkan mereka, dan kumpulkan para prajurit yg lain, kejar mereka,...." teriak Pucuk Umun.

__ADS_1


Sambil bergegas untuk melihat keadaan dari bilik tersebut. Yg menurutnya tidak akan mungkin untuk keluar dari sana di tambah lagi setelah adanya racun pelumpuh syaraf yg di kirimkan melalui asap,..bagaimana mungkin mereka dapat lolos.


Dan setelah tiba di tempat itu, nampaknya pemimpin Wahanten ini agak terkejut dengan apa yg telah dilihatnya, tidak ada tanda -tanda pengrusakan dalam hal ini,.pintu tersebut terbuka karena selarak nya di buka dari luar, tanpa ada kerusakan.


Apakah ada orang dalam.yg telah membantu mereka, kata Pucuk Umun dalam hati.


Ia mengira ngira, adanya seseorang yg telah menolong keempatnya untuk melarikan diri.


Apakah Hasanuddin ,..yg telah melakukan hal ini,..berkata lagi dalam hati pemimpin Wahanten ini.


Maka ia pun segera menyiapkan para prajurit nya untuk mendatangi kediaman dari Raden maulana Hasanuddin putra Sunan Gunung Jati ini.


" Prajurit ,..segera periksa ,..tempat dimana untuk pertama kalian bertemu,.." ucap Pucuk Umun kepada sebahagian prajurit nya.


" Dan sebahagian lagi ikut aku ke kediaman dari Hasanuddin, kita memeriksa keadaan disana,.." kata Pucuk Umun lanjut.


" Baik ,..Gusti,.." jawab para prajurit nya.


Maka orang orang Wahanten ini memecah diri, sebahagian mencari ke tepi laut dan yg sebahagian lagi yg di pimpin oleh Pucuk Umun sendiri menuju kediaman dari Raden Maulana Hasanuddin.


Adalah Raka Senggani yg telah bertemu kembali dengan ketiga temannya segera memerintahkan mereka untuk secepatnya ke kediaman dari Raden Maulana Hasanuddin.


" Dirimu tahu Ki Lurah , dimana letaknya padepokan dari Raden Maulana Hasanuddin itu,..?" tanya Raka Senggani.


" Seprtinya , Aku tahu ,.. Senopati,.. marilah kita susuri jalan setepak ini., " ajak Ki Lintang Panjer Suruf.


Dan bersamaan dengan itu di belakang mereka terdengar suara ribut ribut, tampkanya jumlah mereka cukup banyak.


" Sssthhh,.. segera bersembunyi ,.." perintah Raka Senggani.


Maka ke empatnya pun segera bersembunyi di balik semak belukar yg cukup rimbun dan rapat,.dan tidak terlalu lama mereka melihat hampir lima puluh orang para prajurit Wahanten yg di pimpin oleh Pucuk Umun sendiri.


" Suatu kesempatan yg baik untuk membalaskan perbuatan mereka,..Kang,.." seru Sari Kemuning kepada suaminya.


" Benar adi , ...tampaknya mereka akan mencari kita ke Kediaman dari Raden Maulana Hasanuddin,..apa maksud mereka yg sebenarnya , mereka ini memang patut di beri pelajaran,.." ungkap Japra Witangsa dengan jengkel nya.


Walaupun jumlah mereka cukup banyak namun putra Ki Jagabaya ini tidak terlalu takut untuk menghadapi mereka.


" Baiklah , kalau bergitu,.kita akan memberi pelajaran untuk mereka, kalian tunggu disini,.jika ada yg lari arah sini terserah kalian untuk berbuat apa, asal tidak membunuh nya,.." jelas Raka Senggani.


Ia segera bergerak mengejar rombongan dari para prajurit Wahanten yg di pimpin oleh Pucuk Umun sendiri.


Tidak terlalu lama , Senopati sandi yuda Demak ini dapat menyusul mereka, dan mulai lah keanaehan terjadi.


" Hehh,..jangan main main,..mengapa kau mencolek telinga ku,..apa salah ku,.." teriak salah seorang prajurit Wahanten.


Itu ia ucpakan kepada teman yg berada di sebelahnya. Dengan agak bengong temannya itu menjawab,..


" Aku tidak mencolek mu , mungkin orang yg ada pada barisan belakang yg melakukan nya,.." jelas temannya itu.


Namun belum pun habis ucapan dari sang teman, beberapa prajurit yg lain pun mengalami nya sehingga kegaduhan terjadi dalam rombongan Pucuk Umun ini.


Melihat hal itu, penguasa Wahanten ini segera berteriak teriak guna menenangkan para prajurit nya.


Namun mereka tidsk juga menghentikan saling tuduh menuduh , bahkan yg lebih gila lagi,.. saat Pucuk Umun sendiri mengalami nya,..ia segera menuduh para prajurit nya telah melakukan hal tersebut.


Namun karena para prajurit nya tidak berada dekat dengan nya maka ia pun mengambil kesimpulan, bahwa ada nya makhluk yg tak kasat mata tengah mengerjai mereka.


Terdengar teriakan dari para prajurit nya yg belarian tak tentu arah.


" Ha,..ha hann tuuuu,..."


Mereka pun lari tunggang langgang dan meninggalkan Pucuk Umun sendiri yg diam mematung, karena tidak mampu mencegah para prajurit nya itu lari.


Bersamaan dengan perginya seluruh prajurit Wahanten yg bersama Pucuk Umun tadi.,.maka Raka Senggani pun muncul di belakang dari penguasa Wahanten ini.


" Hehh,..apa maksudnya kau menahan kami,.. Pucuk Umun,..?" tanya Raka Senggani den keras ,


Ia mempergunakan ilmu sejenis dengan Aji Gelap ngampar,..dan akihatnya sangat dapat di lihat pada tubuh Pucuk Umun yg tampak menggeletar menahankan agar tubuhnya tidak terjatuh.


" Hehh, Pucuk Umun, ..sekali lagi Aku bertanya,..apa maksudnya dirimu menahan kami,..apa kesalahan yg telah kami perbuat terhadap mu,..?" tanya Raka Senggani dengan lantang.

__ADS_1


Dan kali ini ia tidak mmepergunakan ajian nya sehingga membuat Pucuk Umun dapat bernafas lega.


Dengan serta merta ia menjawabnya,..


" Kalian adalah musuh kami, karena kalian semua adalah teman dari Hasanuddin,..itu artinya kalian adalah musuh kami, dan yg kedua kalian telah memasuki wilayah kekuasaan kami, sehingga patut untuk di curigai,.." jelas Pucuk Umun.


" Hehhh,..jika cuma itu alasan mu,..mengapa kami harus di buat pingsan,.,mengapa dengan licik kau membiarkan asap pelumpuh syaraf itu masuk kedalam bilik kami,.." seru Raka Senggani lagi.


Dan bersama an dengan itu sebahagian para prajurit wahanten telah kembali lagi ke tempat sang Pemimpin nya.


Begitu mereka melihat Pemimpin nya itu tengah berhadapaan dengan orang yg mereka csri,..tanpa menunggu perintah lagi mereka langsung menyerang.


" Ciaat ,"


" Heaaahh,.."


". Hiyyyyat,..."


Mereka menebaskan senjatanya ke arah Senopati Sandi Yuda Demak ini , yg berdiiri dengan gagah nya.


Ia tidak bergeming dari tempstnya hanya mengandalkan senjata Tongkat berkepala ulat milik Ki Suganpara, untuk menangkis semua serangan itu.


Tidak ada satu pun yg berhasil menyentuh tubuh sang Senopati. Semua nya dapat ia tangkis serangan serangan tersebut,..Tanpa bergeser dari kedudukan nya semula.


Ia kemudian balik menyerang para prajurit Wahanten itu dengan tongkatnya,. satu persatu mereka menerima kenyataan bahwa harus merelakan salah satu bagian tubuhnya ter hantam tongkat itu.


Akhirnya mereka semua jatuh be gulingan menahan sakit pada tangan, kaki,..paha, atau pun punggung nya.


Saat ini tinggallah Pucuk Umun seorang diri, yg masih tegak mematung melihat seluruh prajurit nya jatuh tidak berdaya.


" Sekarang Giliran mu ,..Pucuk Umun,..majulah,.." seru Raka Senggani.


Senopati Sandi Demak ini memang berniat memebrikan pelajaran kepada penguasa Wahanten ini agar tidak bertindak sewenang wenang terhadap orang lain ,apalagi ia seorang tamu.


Meskipun agak ngeri juga, ketika ia melihat sendiri dengan mudahnya orang yg berada di hadapan nya itu melumpuhkan seluruh prajurit nya.


Akhirnya Pucuk Umun pun menagmbil sikap untuk menjaga kewibawaan nya d hadapan para prajuritnya yg sedang terkapar diatas tanah .


" Heh,.. dirimulah yg seharusnya berlaku baik disini.. karena ini adalah wlayah kekuasaan ku,.siapa saja yg lewat dari sini harus tunduk dan patuh terhadapku,.." jelas Pucuk Umun dengan tegas.


Senjata nya yg ada di tangan nya telah di putar nya beberapa kali di depan dadanya.


Senjata golok ini nampaknya sudah siap untuk di tebaskan ke leher musuh.


" Terserahlah apa kata mu,..Pucuk Umun, saat ini , kita buktikan siapa yg benar sesungguhnya, ." jawab Raka Senggani.


Senopati Sandi Demak ini pun memutar tongkst berkepala di depan dan sampingnya , seolah olah mnjadi sebuah baling baling .


Pucuk Umun pun langsung menerjang dengan goloknya, cukup cepat tampknya gerakan nya itu.


Penguasa Wahanten ini langsung menebaskan goloknya arah mendatar terarah pada leher lawan nya.


Ketika gerkaan tebasan dari Pucuk Umun ini hampir tiba di leher dari Senopati Demak itu, maka dengan cepat nya sang Senopati memalangkan tongkat nya menangkis tebasan golok itu.


" Trakkkkhh,.."


" Hehhhhh,..."


Benturan pun terjadi dari kedua senjata tersebut..dan kenyataan yg pahit yg di terima oleh Pucuk Umun..golok nya sampai terlepas dari genggaman tangannya, ternyata tenaga dalam nya masih sangat jauh di baeah Senopati Demak itu,.. buru -buru ia berusaha mengambil kembali golok yg telah terlepas tadi.


Ia pun berusaha menjauhi Raka Senggani dengan masih mmainkan tongaktnya.


" Bagaimana Pucuk Umun, apakah dirimu masih penasaran ,..?" tanya Raka Senggani.


Ia memperhatikan sang penguasa Wahanten ini, yg terlihat sedang bingung, mengahadapinya.


" Aku belum kalah,.. terima ini ,.. Hiyyahh,.." seru Pucuk Umun.


Ia melesat kembali menerjang Raka Senggani , dan kali ini ia menagndalkan kedua tangan nya yg mengandung tenaga dalam.


Raka Senggani melayani semua serangan serangan tersbut dengan mudahnya bahkan ia tidak mengeluarkan seluruh tenaganya ketika benturan benturan terjadi,..dan semakin nyatalah bahwa Pucuk Umun memang masih jauh berada di bawah dari sang Senopati,..Dan memasuki tiga puluh jurus, sebuah jotosan yg tidak terlalu keras bersarang di perut Pucuk Umun, penguasa dari Whanten ini sampai terlempar beberapa tombak ke belakang.

__ADS_1


Ia menringis kesakitan dan berusaha untuk bangkit ..namun gagal, setelah di bantu oleh para prajurit nya barulah ia berhasil untuk berdiri.


Bersamaan itu pula ,ketiga orang dari Demak itu pun tiba di tempat itu, dan melihat kekalahan dari Pucuk Umun.


__ADS_2