Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 20 Secercah Harapan. bag pertama.


__ADS_3

Karena pertandingan kedua tokoh sakti kini tampak tinggal kelebatan kelebatan nya saja.


Bahkan terkadang seperti nya mereka berdua itu tidak lagi menyentuh tanah,..karena tubuh lawan masing-masing lah yg menjadi alas mereka untuk tetap dapat melayang di atas tanah tanpa lagi menyentuh nya.


Keduanya terkadang membubung tinggi dan sesekali turun merendah seperti dua ekor burung sikatan yg sedang bercumbu.


Namun dua manusia ini tidak sedang bercumbu melainkan mempertaruhkan harga diri dan nyawa masing masing karena mereka akan saling menjatuhkan satu dengan yg lainnya.


Dalam pada itu agak ke timur dari Rumah ki Bekel ada sebuah pohon yg cukup besar berada disana dengan daun dan batang yg cukup banyak serta rimbun,..sesosok tubuh nampak duduk dengan tenang di atas dedaunan pohon tersebut seolah duduk diatas sebuah lincak.


Itu pertanda betapa tinggi nya ilmu peringan tubuh orang tersebut.


Ia memperhatikan jalan nya pertandingan kedua tokoh sakti itu dengan cermatnya,..seolah tidak mengedipkan matanya.


Sungguh hebat angger Senggani ini,..ia mampu menahan semua serangan dari Ki Gedangan itu,..ucapnya dalam hati sambil terus melihat ke halaman rumah Ki Bekel desa Kenanga tersebut.


Sementara dari arah sebelah barat,.ada dua orang yg juga sedang mengamati jalan nya pertarungan antara kedua orang anak manusia yg jauh selisih perbedaan umurnya.


Sedangkan di pertarungan antara dua tokoh sakti itu sendiri telah memasuki jurus ke dua puluh ketika Sang Senopati dengan telak menyarangkan pukulan tangan kirinya masuk ke dada dari Ki Gedangan.


Namun keanehan terjadi,..yg dirasakan oleh Senopati kepercayaan Kanjeng Adipati Pajang itu.


Hehh,..aku seperti sedang menghantam sekumpulan kapuk yg sangat lunak,..ilmu apa yg di miliki oleh orang tua ini,..bertanya dalam hati dari Senopati Brastha Abipraya.


Ia merasakan bahwa pukulannya tersebut tidak menimbulkan sesuatu apa pun terhadap lawannya ,.padahal ia telah mengerahakan tenaga dalam nya cukup besar dalam hantmaanan nya itu.


Tetapi ia tidak dapat terlalu lama memikirkannya karena sebuah tendangan dengan berkekuatan tenaga dalam yg besar pula menghantam perutnya,..tubuh dari Senopati Pajang itu tampak memcelat menjauh dari sang lawan.


Namun dengan seperti tidak di rasakan pula oleh Raka Senggani,..ia kembali melesat memberikan jawaban atas serangan itu .


Tangan kiri dari Senopati Pajang itu hendak memukul kepala Ki Gedangan,..akan tetapi,..belum pun sampai tangan tersebut ,..tokoh dari kulon itu telah melesat dengan membubung tinggi ke atas sambil berusaha menghindar.


Akan tetapi serangan itu hanya tipuan saja,..dengan cepat pula sang Senopati mengejar sambil berusaha menghajar kaki dari Ki Gedangan.


Orang tua itu tidak menyangka bahwa lawannya itu dapat menyusul dengan sangat cepat ,.ia terlambat menghindar.


Pangkal pahanya berhasil di pukul dengan keras oleh Raka Senggani,..tetapi memang pukulan kali ini ternyata dirasakan oleh Ki Gedangan,..


" Aakhh,.."


Suara keluhan nya tertahan yg keluar dari mulut orang tua itu merasakan kesakitan yg luar biasa.


Aneh,..ia tahu kelemahan ilmuku ini,..bathin ki Gedangan berkata.


Merasa telah diketahui salah satu ilmunya,.orang tua itu kemudian ganti menyerang Senopati Pajang kembali,..bahkan kali ini lebih cepat lagi,..Raka Senggani yg tidak berusaha menghindar ketika sebuah tendangan mendatar berusaha masuk ke arah dada nya,..akan tetapi anehnya,..


" Dhieghh,.."


Ternyata tendangan itu mampu masuk dengan telak ke dada sang Senopati Pajang,.. kembali tubuhnya terlempar cukup jauh,..akan tetapi tidak sampai terjatuh.


Aneh,..ini gila,.. berkata dalam hati sang Senopati.


Ia melihat bahwa pukulan dari lawannya itu masih sangat jauh dari tubuhnya namun mengapa tiba -tiba saja telah mampu mengahntamnya,..aneh ,..itulah yg ada dalam benak nya.


Kemudian ia berusaha menjauhi lawannya dengan melesat dan kembali turun ke atas tanah.


Demikian pula hal nya ki Gedangan,.ia tidak langsung menyusul dan menyerang Raka Senggani.


Kembali mereka saling berhadap-hadapan.


" Apakah dirimu akan menyerah dan mau memberikan tongkat itu kepada ku,..?" tanya Orang tua itu.


Raka Senggani yg mendengar ucapan dari Ki Gedangan kemudian meraba pinggang nya dan mencabut tongkat Ki Suganpara itu,.setelah di tatap dengan baik, perlahan ia berkata,..


" Sayang nya tidak Ki,.jika memang dirimu mampu ambillah,.." jawab Raka Senggani.


Sambil mengangkat tinggi tinggi Tongkat berkepala ular tersebut.


Ki Gedangan menjadi murka ia berteriak dengan keras,..


" Itu artinya dirimu memang mencari mati,.. sayang dslam usia yg semuda ini engkau akan segera tewas,.." seru Ki Gedangan.


Orang tua itu kemudian memutar tangan nya ,.dan..


" Dhumbbh, ."


Tanpa disangka sangka ia langsung menyerang Raka Senggani dengan pukulan jarak jauhnya.


Namun sayang lontaran ajian nya itu hanya menemui tempat kosong di sebabkan sang Senopati sudah tidak berada lagi di tempat nya.

__ADS_1


Ki Gedangan terlihat mencari cari dimana gerangan kiranya pemuda itu .


Namun ia tidak mampu menemukan nya sampai terdengar seruan dari belakangnya,..


" Aku berada disini,..Ki,.."


Yang ternyata adalah Senopati Pajang itu telah berada tepat di belakang dari Ki Gedangan.


Orang tua itu sangat terkejut mendengar nya dan belum sempat ia membalikkan tubuhnya sebuah hantaman telak mengenai punggungnya.


Orang tua sampai terjatuh ke atas tanah. Tubuhnya penuh debu dan iapun berusaha bangkit.


Sambil mengibas -ibaskan debu yg ada di pakaian nya itu.


" *******,. tampaknya dirimu memang memiliki ilmu iblis,..aku akan mengadu kesaktian dengamu,.." ucap Orang tua itu.


Sebenarnyalah Ki Gedangan ini adalah tokoh persilatan yg berhati baik,.akan tetapi ia cenderung kasar dan suka menjajal kesaktian dari orang yg dianggapnya memiliki ilmu yg melebihinya.


Sehingga pada masa muda nya ia sudah beberapa kali bertarung dengan Panembahan Lawu.


Sikap nya suka meledak -ledak itu sebenarnya sudah berusaha untuk di pendamnya dengan menyerahkaan pusakanya kepada murid utamanya Ki Suganpara,..ia lebih suka memyendiri.


Namun kali ini rasa harga dirinya terusik oleh Raka Senggani yg menurutnya telah melecehkan perguruannya itu dengan mengambil pusakanya tanpa mau mengembalikannya.


Sayangnya kali ini ia bertemu lawan yg sulit untuk di tundukkannya.


Disaat Ki Gedangan bersiap untuk mengeluarkan ajian nya sambil merapal mantera ,..dua orang yg ada di bawah pohon yg sedang melihat pertarungan kedua tokoh sakti Itu segera mengatakan,..


" Kang ,..tampaknya Senopati Pajang itu memang sangat tinggi ilmu nya,..kita tidak akan mungkin mmapu mengalahkannya.," ucap orang yg memakai ikat kepala hitam.


" Benar adi Ndawa,.beruntung kita belum bertemu dengan nya kalau tidak entah apa jadinya ,.." sahut orang yg berpeakian serba merah .


Keduanya adalah Ki Kebo Watang dan Ki Cakil Ndawa yg mengikuti Ki Gedangan balik ke desa Kenanga.


Dan mereka berdua melihat sendiri bahwa kemampuan dari Senopati Brastha Abipraya itu di luar nalar mereka.


Setelah bertarung beberapa lama dengan Ki Gedangan ,..meski belum nampak ada yg lebih unggul tetapi tampaknya pemuda itu akan mampu keluar jadi pemenangnya.


Keduanya tetap saja melihat jalannya perang tanding itu.


Terlihat ketika ,..K Gedangan melepaskan ilmunya yg ngegrisi berbenturan dengan ilmu Senopati Brastha Abipraya.


Kedua orang tersebut masing -masing mundur tiga langkah ke belakang setelah beradu nya ke dua ajian tersebut.


Namun Ki Gedangan yg masih penasaran segera kembali melancarkan serangan nya, dan di sambut pula oleh Raka Senggani.


Dalam adu ajian kali ini,..nampak keduanya berimbang.


" Ki sebaiknya kita sudahi saja pertarungan ini,.." ucap Raka Senggani.


Dan dijawab oleh Ki Gedangan,..


" Asal dirimu mau menyerahakan tongkat itu kepadaku,..dirimu setuju,..?"


" Maafkan , Ki,..Senjata ini akan Ku serahkan kepada Ki Suganpara,..itu sudah jelas ,..Ki,.." jawab Raka Senggani.


" Baik ,..kita lanjutkan pertarungannya kalau begitu,..,bersiaplah,.." seru Ki Gedangan.


Ia merasa bahwa dirinya mempunyai satu keunggulan yg tidak di miliki oleh lawan nya.


Yaitu ia mampu memukul tanpa harus dekat dengan lawannya itu.


Maka kali ini Ki Gedangan bersiap akan melancarkan ajian nya sambil berusaha mendekati tubuh Raka Senggani.


Akan tetapi itulah manusia,..hanya kelebihan nya saja yg di ingatnya ,..sementara kelebihan orang lain ia lupakan.


Sekelas Ki Gedangan melupakan bahwa lawannya kali ini bukan lawan yg biasa meskipun ia telah merasakan nya tadi ia lupa akan hal itu.


Sesaat sambil berteriak dengan keras sambil melompat dengan cepat nya ia melepaskan ajiannya setelah cukup dekat dengan Raka Senggani.


" Heaaahhhh,.."


" Dhunmbbhh,.


" Hehhh,.."..


Ki Gedangan merasa bahwa serangan dengan menggunakan ilmunya itu dalam jarak yg sangat dekat tentu akan dapat mengalahkan dari lawan nya yg masih muda tersebut.


Tetapi ia kecewa setelah melihat tidak ada sesosok tubuh yg tergeletak akibat serangan itu.

__ADS_1


Dan membuat nya terkejut karenanya. Namun rasa keterkrjutan nya itu tidak terlalu lama karena dari belakang nya sebuah hantaman keras menerpanya dan menjungkalkan tubuhnya.


Yah,..dalam waktu yg sangat singkat itu sang Senopati mampu melenyapkan tubuhnya dan kembalj menyerang lawannya dari belakang dengan cepat tanpa di sadari oleh Ki Gedangan.


Senopati Pajang itu mengetahui kelebihan dari Guru Suganpara itu yg mampu mendahului pukulan nya sebelum tangan atau kakinya mendekat.


Oleh karena itulah ia segera mengtrapkan aji panglimunan nya untuk mengatasi ajian guru Ki Suganpara tersebut.


Dan hasil nya cukup mendebarkan,.karena setelah terhantam ajian Wajra Geni nya meski tidak pada tingkat tertingginya tubuh dari Ki Gedangan itu jatuh terkapar dan tidak mampu bangkit lagi.


Itu di sebabkan karena Ki Gedangan mendaptakan pukulan tersebut dengan sangat telak tanpa mampu melindungi tubuhnya lagi.


Akibatnya cukup fatal ia sampai pingsan.


Apakah orang ini ,..mati,..pikir Raka Senggani dalam hati.


Senopati Pajang itu meraba denyut nadinya dan mmebalikkan tubuh Ki Gedangan .


Hehh,..ternyata ia masih bernafas,..katanya lagi.


Raka Senggani langsung memnaggil Jati Andara dan Japra Witangsa.


Setelah sebelumnya ia menotok beberapa urat syaraf dari Ki Gedangan.


" Kakang Andara dan kakang Witangsa,..tolong angkat Ki Gedangan ini,..bawa ke pendopo,." seru Raka Senggani.


" Baik adi Senggani ,.." jawab keduanya.


Putra Ki Bekel dan Putra Ki Jagabaya segera mengangkat tubuh pingsan dari Ki Gedangan itu.


Keadaan tempat itu kembali hening setelah kalah nya Ki Gedangan.


Sementara itu orang yg ada di atas pohon Itu segera bergumam dalam hatinya,..


Memang sungguh luar biasa kemampuan dari Angger Senggani ini,..dengan mudahnya ia mampu mengalahkan Ki Gedangan itu,. jika diri ku yg menghadapinya belum tentu aku mampu melakukan nya.


Hehh,..dan orang itu pun langsung melesat pergi meninggalkan tempat itu tanpa seorang pun yg tahu .


Sedangkan dua orang yg ada di belakang pohon segera juga meninggalkan tempat itu.


" Kang ,..lebih baik kita tinggalkan tempat ini sebelum mereka mengetahui keberadaan kita,.." kata Ki Cakil Ndawa.


" Baik adi Ndawa .. pertarungan pun sudah terhenti karena kekalahan yg di derita oleh Ki Gedangan itu,..memang sebaiknya kita tinggalkan tempat ini,..daripada kita berdua jadi pengewan -ewan di sini,.." jawab Ki Kebo Watang.


Keduanya pun langsung bergerak meninggalkan tempat itu. Mereka berusaha agar tidak di ketahui oleh para warga desa Kenanga.Mereka cukup ketakutan jika ada yg tahu.


Di pendopo rumah Ki Bekel sendiri,. tubuh dari Ki Gedangan tengah nampak terbaring pingsan.


Raka Senggani segera meminta air putih untuk kemudian ia memasukkan cincin nya ,.baru setelah nya ia berusaha meminumkan nya ke mulut Ki Gedangan.


Nampaknya luka dalam yg d alaminya cukup parah,..karena walaupun berhasil di minumkan secara sedikit demi sedikit tetapi belum memiliki reaksi apa pun.


Tubuh itu masih diam saja,..tanpa ada tanda -tanda kehidupan nya.


Sebentar kemudian rumah Ki Bekel menjadi ramai,..Ki Lamiran..Ki Raka Jang yg turut hadir melihat perang tanding tadi kemudian naik ke atas pendopo rumah tersebut.


Bahkan para pengawal dan beberapa pemuda yg lain pun turut ke atas pendopo itu dan akhirnya tubuh Ki Gedangan di pindahkan ke dalam.


Sambil menunggu seorang tua yg memiliki kemampuan dalam hal pengobatan dari desa Kenanga itu,..para warga desa yg lainnya pun langsung menceritakan tentang pertarungan yg terjadi tadi.


Sari Kemuning yg sedari awal amat ragu akan keputusan dari sang kekasih untuk mengadakan perang tanding tadi,.akhiranya merasa lega.


" Kang,..tadi sebenarnya Kemuning ingin meminta kepadamu agar menuruti saja atas permintaan Ki Gedangan itu,.." ucapnya.


" Memang nya kenapa,..Kemuning,.kamu ragu akan keselamatan ku,..?" tanya Raka Senggani.


Sambil mengangguk,.Sari Kemuning berkata,..


" Iya kakang,..jika dirimu sampai kalah atau terluka apalagi sampai tewas,.diriku akan menyesal seumur hidup,.." jelasnya.


" Sudahlah,.. jangan terlalu di pikirkan,..memang tongkat ini akan segera Ku serahkan,..tetapi hanya ke tangan Ki Suganpara,..tidak pada yg lain,.meski itu adalah gurunya,.." ucap Raka Senggani.


" Mengapa begitu,..kakang,..?" tanya Sari Kemuning heran.


" Kemuning,..senjata ini sebenarnya adalah amanah yg telah kakang ambil dari tangan Ki Suganpara itu jadi harus kembali lagi ke tangan nya,..jika tiba -tiba saja ada orang lain yg mengaku -aku sebagai gurunya dan meminta nya kemudian kakang berikan ,..ternyata itu adalah tidak benar ,.. bagaimana kakang akan mempertanggungjawabkan nya kepada Ki Suganpara itu,.." jelas Raka Senggani .


Sari Kemuning baru tahu mengapa kekasihnya itu bersikukuh tidak memberikan tongkat kayu itu kepada yg mengaku adalah guru dari Suganpara tersebut.


Adalah ia memegang teguh satu amanah yg telah di pegang nya. Alasan yg sangar sederhana tetapi mengandung bahaya yg mengancam jiwa.

__ADS_1


__ADS_2