Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 8 Pendadaran bagian ke empat.


__ADS_3

" Apakah Ki Bekel akan memberikan kuda kepada mereka , guna dapat pergi ke Pajang,?" tanya Ki Jagabaya.


" Yah, mereka harus menggunakan kuda, nanti setelah nya, baru terserah mereka, karena kali ini pun mereka akan baru akan memulai perjalanannya, " jawab Ki Bekel.


" Baiklah kalau begitu, Aku akan menyuruh mereka untuk mempergunakan kuda ,!'' ucap Ki Jagabaya.


" Dan bagaimana dengan para pemuda desa kenanga ini selanjutnya Ki Bekel, apakah mereka juga akan dapat di berangkatkan juga,?" tanya Ki Jagabaya.


" Kita melihat hasil dari Putra putri , Ki Jagabaya, jika memang keadaan memungkingkan nanti secara bertahap kita akan mengirim mereka, saat -,saat seperti ini sangat sulit untuk mendapatkan waktu bagi Angger Senggani, tampaknya Demak sudah akan memulai peperangan lagi,!" jelas Ki Bekel.


" Artinya tugas Angger Senggani tentu akan sangat banyak, jadi akan sangat sulit membagi waktu antara tugas negara dengan memberikan pelatihan kepada para pemuda desa kenanga ini, dan mudah mudahan , Angger Witangsa dan Andara serta Kemuning dan Rani dapat bertemu dengan nya , !" kata Ki Bekel itu.


" Mudah -mudahan Ki Bekel, jadi perjalanan mereka tidak akan sia -sia,!" seru Ki Jagabaya.


Cukup lama Ki Jagabaya dan Bekel desa kenanga itu berbicara masalah anak -anak mereka itu, sampai menjelang sore baru Ki Jagabaya kembali.


Jati Andara sendiri dengan ditemani oleh Japra Witangsa nampak tengah membersihkan kudanya .


Kuda mereka itu baru saja di beli guna keperluan untuk berangkat ke Pajang.


" Witangsa , apakah Sari Kemuning akan jadi ikut,?" tanya Jati Andara.


" Seperti nya demikian Andara, karena Romo telah membicarakan nya dengan Romomu Andara, dan setelah kembali dari rumah mu, nampak wajah Kemuning berseri -seri,!". jawab Japra Witangsa.


" Apakah mereka akan menggunakan kuda juga, atau kita akan berbagi dengan mereka,?" tanya Jati Andara.


" Mungkin mereka akan bersama kita ,". jawab Japra Witangsa.


Setelah mentari telah beranjak ke peraduannya, kedua orang itu segera meninggalkan kali tempat mereka memandikan kuda tersebut.


Malam harinya mereka berkumpul di rumah Ki Bekel dan hadir pula di situ Ki Lamiran, pande besi desa Kenanga itu.


" Apakah angger berempat akan berangkat besok ke pajang,,?" tanya Ki Lamiran.


" Lusa ,Ki, Karena ada beberapa hal yg harus kami selesaikan besok,!" jawab Japra Witangsa.


" Aki akan memberikan pesan kepada angger Senggani ," ucap Ki Lamiran.


" Pesan apa Ki, ?". tanya Jati Andara.


" Nanti setelah kalian akan berangkat,". jawab Ki Lamiran.


" Apakah lusa kalian akan berangkat pagi -pagi sekali ,?". tanya pande besi itu lagi.


" Mungkin demikian , Ki, jadi selepas subuh kami akan berangkat,!" jawab Japra Witangsa.


" Berarti besok malam akan ku berikan suratku itu, dan mohon jangan di buka, kecuali Angger Senggani yg memintanya,!". seru Ki Lamiran.


" Baik, Ki, apakah memang sangat rahasia,?". tanya Jati Andara.


" Demikianlah, Ngger," jawab Ki Lamiran.


Pendopo rumah Ki Bekel itu sangat ramai, bahkan di banjaran desa Kenanga pun tampak para pemuda desa yg masih berlatih sendiri, setelah kepergian dari Raka Senggani.


" Memang Kenanga ini memerlukan sentuhan tangan Angger Senggani, sayang ia saat ini masih sangat di butuhkan tenaga nya oleh Pajang dan Demak," gumam Bekel desa Kenanga itu.


" Benar Ki Bekel, sangat besar pengaruh nya angger Senggani di Kenanga ini dan mudah -mudahan , anak -anak kita dan menyerap segala ilmunya serta kerendahan hatinya, !". ujar Ki Jagabaya.


" Bila di ingat -ingat sewaktu ia dapat musibah waktu dahulu , kita tidak ada yg mau membantu nya, hanya angger Kemuning sajalah yg bersedia membagi makanan nya saat bocah itu kelaparan,!" ungkap Bekel desa Kenanga.


" Kita semua pada waktu masih takut dengan pengaruh dari Ki Raka Jang dan Juragan Tarya, yg melarang memberi bantuan kepada bocah itu, sungguh kita cukup kejam terhadap nya,!" kata Ki Jagabaya .


" Akan tetapi saat ini, ia lah yg telah menolong Kenanga dari gerombolan para rampok dan mengangkat nama desa ini di mata Kotaraja Demak terlebih Pajang, memang sulit menebak takdir dan rezeki seseorang jika yg Maha Kuasa telah menentukan apapun bisa terjadi,!" ujar Ki Bekel lagi.


" Dan cuma si Mbok rondo sajalah yg pada waktu itu bersedia menerima dan membantu nya, sehingga sampai saat ini anak itu masih merasa berhutang budi terhadap nya, sewaktu ke Demak ia menyempatkan berziarah ke makam orangtua itu,!". jelas Ki Lamiran.


" Jadi Mbok rondo telah meninggal dunia,?" tanya Ki Bekel.


" Ya, dan aki tahu dari Angger Senggani, bahwa Si mbok rondo telah meninggal dunia," jawab Ki Lamiran.

__ADS_1


" Sungguh seorang yg berhati mulia Si Mbok rondo itu, hampir seluruh perempuan yg melahirkan di Kenanga ini ia lah yg telah membantu persalinan nya," seru Ki Jagabaya.


Setelah malam telah semakin larut, burung -burung malam pun telah memperdengarkan suaranya, beberapa orang yg ada di rumah dan banjar desa Kenanga itu perlahan kembali ke rumah masing-masing.


Termasuk Ki Lamiran, orangtua itu melangkahkan kakinya menuju rumah nya.


Di dalam hatinya masih ada yg mengganjal dengan sikap dari Raka Senggani itu.


" Yah, aku harus memperingatkan nya, agar ia dapat memutuskan nya," berkata dalam hati nya Ki Lamiran itu.


Malam itu pande besi desa Kenanga tersebut sangat sulit untuk memejamkan mata nya ada sesuatu yg sedang mengganjal di dalam hati nya.


Keesokan harinya, Ki Lamiran kemudian menulis sebuah surat diatas daun lontar, tampak singkat ia menulis nya, kemudian daun lontar itu ia gulung dengan rapi dan di masuk kan ke dalam bumbung bambu.


Setelahnya barulah ia menuju pategalan si mbok rondo, orang tua itu tampak tidak terlalu bersemangat seperti biasanya , ia duduk saja di dalam gubuk itu sedang cangkul tetap dalam keadaan bersih terletak di samping nya.


Saat matahari telah tepat di atas kepala , ia pun segera kembali pulang.


Barulah ia beristrahat karena hampir semalaman suntuk ia tidak tertidur.


Sesuai dengan pesan nya akhir nya, Ki Lamiran datang lagi ke rumah Ki Bekel, untuk memberikan sepucuk surat untuk Raka Senggani, pada malam itu.


" Ini Surat nya , angger Andara, semoga dapat di maklumi oleh Angger Senggani isi nya itu,!". ucap Ki Lamiran.


Ia pun menyerahkan bumbung bambu yg berisi surat itu.


Jati Andara pun segera menerima nya dan menyimpan nya dengan baik di balik baju nya.


" Ada pesan yg lain lagi Ki,?" tanya putra Ki Bekel itu.


" Ah, tidak , semoga Angger semua selamat sampai di Pajang,,". kata Ki Lamiran.


" Terima kasih, Ki, mudah -mudahan tidak ada aral yg menghalangi jalan kami ke Pajang,," jawab Jati Andara.


Seperti biasa nya mereka mengobrol sampai larut malam.


Dan malam itu , ke empat orang yg akan berangkat ke Pajang itu tampak lebih cepat beristrahat, hanya orang -orang tuanya saja yg masih mengobrol dengan di temani oleh wedang jahe hangat.


Ke empatnya segera memacu kudanya menuju ke arah Barat. Mereka adalah Jati Andara dengan adiknya Dewi Dwarani dan Japra Witangsa dengan Sari Kemuning.


" Apakah kita akan terus berjalan jika malam telah tiba ,?" tanya Dewi Dwarani kepada kakak nya.


" Sebaik nya tidak Rani, karena kita berboncengan tentu kuda kita ini akan terasa berat menanggung beban nya, kita harus memberikan nya istrahat, ". jawab Jati Andara.


Menjelang sore ke empat nya melintasi ara -ara yg berada di dekat sebuah hutan jalan menuju Pajang itu.


" Apakah kita akan berhenti di hutan itu, Witangsa,?". tanya Jati Andara.


" Mungkin sebaiknya demikian , selain memberikan makan kuda -kuda kita, kita pun dapat sekedar melepaskan lelah setelah seharian berkuda,!" jawab Japra Witangsa.


" Kalau begitu kita harus mencari tempat yg ada air nya, atau setidaknya tidak jauh dari sebuah umbul,!" seru Jati Andara.


" Baik , mari kita percepat, mumpung cahaya mentari masih ada, nanti kalau sudah gelap tentu sulit mencari tempat yg baik untuk beristrahat malam ini,!". seru Japra Witangsa.


Kedua orang itu memacu kudanya agak lebih cepat , dan sesampainya di tepi hutan itu memang cahaya mentari telah meredup. Ke empatnya langsung melompat turun dan berpencar guna mencari tempat yg cocok untuk beristrahat.


Hampir gelap barulah mereka menentukan dimana mereka beristrahat.


Di tepi sebuah blumbang ke empatnya segera membuka bekal yg mereka bawa dari Kenanga.


" Ternyata berpetualang itu sangat menyenangkan,,!" ucap Japra Witangsa.


Putra Ki Jagabaya itu menyuapi mulutnya dengan makanan.


" Benar ucapanmu itu Witangsa, ternyata hidup di luaran ini amat menyenangkan, eh dimana Dwarani dan Kemuning,?" tanya Jati Andara.


" Biasalah kalau perempuan, kalau melihat air, tentu hati mereka akan segera masuk ke dalam nya untuk mandi, " jawab Japra Witangsa.


" Apakah mereka tidak lapar, setelah seharian berkuda ,?" tanya Jati Andara.

__ADS_1


" Biar saja, nanti setelah selesai mandi tentu mereka akan merasa lapar dan akan makan, apa peduli kita,," ucap Japra Witangsa.


" Sebenarnya aku lebih suka jika mereka tidak ikut, kita berdua saja ke Pajang nya, jadi jalan kita bisa lebih cepat,!" ungkap Japra Witangsa lagi.


" Ahh, kita tidak bisa mementingkan diri sendiri, mereka tentunya akan tetap berniat untuk melanjutkan latihan yg telah di berikan oleh Raka Senggani itu, dan memang kemampuan mereka pun tidak terpaut terlalu jauh dengan kita, ". jelas Jati Andara.


" Nanti setelah makan, kau csri ranting- ranting kayu , kita akan membuat api unggun,!" kata Jati Andara.


Bersamaan dengan selesai mandi dari dua orang gadis itu, Japra Witangsa segera mencari ranting-ranting kayu yang ada di tempat itu.


" Kakang Witangsa mau kemana,,?" tanya Sari Kemuning.


" Kakang akan mencari kayu untuk membuat api unggun,!" jawab Japra Witangsa.


Pemuda itu dengan cepat mengumpulkan ranting -ranting kayu dan selanjutnya oleh Jati Andara di nyalakan, sedangkan Sari Kemuning dan Dewi Dwarani segera menyantap makanan nya.


" Sungguh nikmat, sambil dihangati oleh api unggun ini, kita dapat menyantap makanan ini meski telah dingin,," ucap Sari Kemuning.


" Ditambah lagi di dekat kita ada blumbang yg cukup besar, sayang malam ini tampaknya bulan tidak akan keluar ,!" kata Dewi Dwarani.


" Yah , jika ada cahaya purnama tentu tempat ini akan lebih indah,!" ujar Sari Kemuning.


Keempat orang itu tengah asyik nya menikmati pertama kali nya bermalam di hutan. Bagi mereka suatu pengalaman yg sangat menyenangkan.


Tidak jauh dari tempat itu dibalik gerumbul semak belukar, dua pasang mata tengah mengintai keberadaan para pemuda desa Kenanga itu.


" Bagaimana, apakah kita sudah bisa mulai,?". tanya orang yg berperawakan tinggi besar.


Wajah orang itu terlihat sangar dan keras. Sedangkan teman bicaranya adalah seorang yg berperawakan sedang dan wajah yg bersih.


" Ku kira sebaiknya kita tunggu agar mereka lengah , karena kita tidak tahu kemampuan mereka,!" ucap orang yg berwajah bersih itu.


" Aku sudah tidak sabar lagi, kedua lelaki itu, biar aku yg menanganinya, dan kedua gadis itu silahkan raden yg menangani nya,!" kata orang yg berwajah sangar itu.


" Kalau masalah perempuan biar aku yg menanganinya, kau jangan khawatir Gerang, semua pasti beres," jawab orang yg di panggil Raden itu.


" Memang kalau lagi untung, di tengah hutan pun kita mendapatkan mangsa yg sangat cantik,!" kata orang yg bernama Gerang itu.


" Ayolah raden , kita harus segera bergerak , mumpung belum terlalu malam,!" ucap nya lagi.


" Ahh, kau tidak sabaran, Gerang, saat ini belum saat nya,!" ucap orang yg bernama raden itu.


Sedangkan Jati Andara, Japra Witangsa, Sari Kemuning dan Dewi Dwarani, tampak mulai mengantuk, terlihat sudah berkali -kali mulut mereka menguap.


" Uaaaahh, sebaiknya kami tidur terlebih dahulu kakang Witangsa, nanti setelah lewat tengah malam, biar kami akan berjaga,,!" ucap Sari Kemuning.


Sambil menutup mulutnya dengan tangan nya.


" Silahkant kalau kalian memang sudah mengantuk , tidur lah terlebih dahulu,,". ujar Jati Andara.


" Nanti kalau kami bangunkan jangan membantah, karena kami berdua pun cukup lelah,!". kata Japra Witangsa.


" Iya kakang," jawab Sari Kemuning.


Kedua gadis itu pun segera merebahkan tubuh nya untuk tidur, di dekat api unggun itu mereka berusaha untuk istrahat.


Sedangkan Japra Witangsa dan Jati Andara masih berjaga dengan terus menerus menambahi kayu pada api unggun itu.


Ketika kedua nya sedang asyik mengobrol, tiba -tiba terdengar suara tertawa yg cukup keras.


" hHua ha, ha, ha, ternyata ada kelinci yg telah masuk perangkap kami, dua kelinci jantan dan dua kelinci betina, sungguh merupakan rezeki yg sangat baik untuk di makan malam ini,,". teriak orang itu.


Sesàat setelah suara tawa itu menghilang, tampak sesosok tubuh yg tinggi besar dengan wajah yg sangar dan keras.


Ia melangkahkan kakinya mendekati ke empat orang itu. Dengan sebilah golok yg cukup besar di tangan nya.


" Cepat serahkan barang bawaan kalian itu, jangan ada yg tersisa termasuk kedua kuda itu,!". ucap orang itu.


" Hehhh, siapakah kau, apa hak mu memerintah kami,,?". tanya Jati Andara.

__ADS_1


Putra Ki Bekel itu langsung berdiri berhadapan dengan orang itu.


" Aku adalah penguasa alas ini, jika kalian ingin selamat segera turuti perintahku kalau tidak jangan salahkan aku kalian akan pulang tinggal nama saja,!" kata orang itu lagi.


__ADS_2