
Raka Senggani sangat penasaran dengan orang yg baru datang itu ,..ia segera mengetrapkan aji Ashka Pandulu nya untuk mengetahui siapa sebenarnya orang itu.
Setelah berhasil melihatnya,.hatinya cukup terkejut,..karena orang itu adalah Ki Tanu dan tidak jauh dari tempat nya berada.
Memang orang ini sangat tinggi ilmunya, bahkan ia dapat menyerap bunyi,.padahal jarak nya denganku tidak terlalu jauh,..tetapi langkah nya nyaris tidak terdengar,..memang di negeri ini terlalu banyak orang yg memiliki ilmu yg sangat tinggi,.. sebenarnya jika di kumpulkan akan menjadi suatu kekuatan yg besar,.. sayang sebahagian dari mereka hanya mementingkan diri sendiri,..tidak untuk orang banyak,..yah,.. itulah yg namanya manusia,..terlalu serakah akan keindahan dunia ini,..berkata dalam hati Senopati Pajang itu.
Ia kemudian melesat menuju ke arah dimana Japra Witangsa dan Dewi Dwarani bersembunyi.
Setibanya disana Dewi Dwarani langsung bertanya,
" Bagaimana kakang,..siapakah orang nya yg telah bersama Ki Garengpati itu,..?"
Sebelum menjawab pertanyaan dari Dewi Dwarani,.. Raka Senggani menanyakan apakah Ki Garengpati itu telah pergi meninggalkan tempat itu,..dan oleh putri Ki Bekel itu dijawab sudah,..bahkan sudah agak lama,.karena tampaknya orang itu terburu-buru sekali.
Setelah mengetahui hal itu,.Raka Senggani segera menjawab,
" Rani,..orang yg bersama dengan Ki Garengpati itu adalah seorang yg bernama Ki Rinting,..dan tampaknya orang itulah yg telah menjadi biang masalahnya dj Boyolangu ini,.dan mulai saat ini,..kita harus berhati-hati ,.. terutamanya untukmu Rani,..karena mereka telah menargetkan dirimu untuk menjadi korban selanjutnya,.." jelas Raka Senggani.
Putri Ki Bekel itu agak terkejut mendengar hal itu,..tetapi ia pun maklum,.karena sebagai orang baru di tanah perdikan Boyolangu itu,..memang tentunya mereka akan melakukan hal itu.
Jangankan diriku yg tidak mereka kenal,.. sedangkan orang yg mereka ketahui dan sudah lama bersama mereka masih saja mereka korban kan,..yg menjadi pertanyaan,..mengapa ilmu seperti itu masih dituntut,.. Ilmu yg memerlukan sebuah tumbal,..apa tidak ada lagi ilmu yg lain,..pikir Dewi Dwarani .
Melihat putri Ki Bekel itu terdiam dan seolah termenung,..Raka Senggani langsung menegur nya,
" Apakah dirimu takut,. Rani,..?"
" Ahh,..tidak kakang Senggani,..hanya yg ada di dalam pikiran ku,.. mengapa ada orang yg mampu dan bisa berbuat tega dengan menumbalkan orang lain hanya untuk sebuah ilmu kadigjayaan,..apakah tidak ada lagi ilmu yg tidak harus menumbalkan orang,..misalkan hanya menjalani laku saja,.?" tanya Dewi Dwarani.
" Rani,..dan Kakang Witangsa,..di dunia ini hanya ada dua yg pokok dalam menuntut ilmu kdigjayaan,..yg pertama adalah ilmu yg beraliran putih,..ilmu ini didasarkan pada ketundukkan kita kepada sang Maha pencipta,..dan ini dapat di peroleh dengan menjalani berbagai laku,..misalkan puasa,..patigeni atau yg lain nya,. dan yg kedua adalah ilmu yg beraliran hitam alias sesat ,..dan ilmu ini adalah didasarkan ketundukkan seseorang kepada jin,..setan,..atau sebangsa lelembut,..dan biasanya mereka meminta semacam upeti atau tumbal kepada orang yg menginginkan ilmu tersebut,..dan biasanya ini bertingkat,..dari yg awalnya hanya jenis binatang,..bahkan untuk pada tataran yg tertinggi adalah manusia, itu sendiri..sehingga akhirnya orang tersebut dapat bersekutu dengan makhluk halus tersebut,..termasuk di dalamnya mungkin Ki Rinting ini,.." jelas Raka Senggani.
" Yg Rani tidak habis pikir,..mengapa kok tega seseorang mengorbankan orang lain demi hanya sebuah ilmu," ucap Dewi Dwarani dengan pelan.
" Serakah,..itulah jawaban nya,..nafsu serakah dan di barengi dengan dendam dapat membuat seseorang berbuat di luar nalar manusia,..apa pun itu sing penting adalah aku dapat ini dan itu tidak perduli mengorbankan orang lain,.." kembali Senopati Pajang itu menjelaskan.
" Sudahlah ,..mari kita tinggalkan tempat ini,..karena sebentar lagi matahari akan terbit,.." ucap Raka Senggani.
Akhirnya ketiganya pun kembali, dengan menuruni Gunung yg sebenarnya tidak terlalu tinggi,..kali ini Raka Senggani sengaja memberi tantangan kepada keduanya agar dapat sampai ke rumah dengan berlomba.
Japra Witangsa yg mendengar nya sangat senang sekali,. ketiganya segera bergerak melesat dengan cepat menuruni Gunung itu,.saling berloncatan dengan ringan nya seolah tidak menjejak tanah lagi.
Akhirnya ketiga orang itu sampai di rumah itu ketika matahari telah terang tanah.
Dan yg paling lebih dahulu sampai adalah Dewi Dwarani kemudian Japra Witangsa baru yg terakhir adalah Raka Senggani.
" Adi Senggani hanya memberi kami berdua menang dengan sengaja,..padahal jika adi mau tentu kami telah tertinggal sangat jauh,.." ucap Japra Witangsa.
Memang putra Ki Jagabaya itu merasa bahwa temannya itu hanya mengekori saja dari belakang,..jika ia melihat kejadian malam tadi di puncak Gunung itu,..tentu dalam beberapa kali lesatan saja ia telah sampai.
" Kakang Witangsa,.. Senggani memang masih perlu melihat kemampuan kalian dalam pengerahan ilmu peringan tubuh dan ilmu lari cepatnya atas kalian berdua,..agar dapat menilai telah sampai di mana kemampuan kalian berdua,.." jelas Raka Senggani.
" Semakin seringlah kalian melakukan nya agar semakin meningkat kecepatan kalian dan semakin bertambah tenaga dalam yg kalian miliki itu,.." katanya lagi.
Sementara itu Dewi Dwarani langsung menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga dengan merebus beberapa buah singkong dengan legen nira kelapa.
Hari berlalu dengan cepat hampir sepekan sudah ketiga orang desa Kenanga itu berada di Boyolangu.
Dan mereka tetap mengawasi Ki Garengpati dan Ki Tanu.
Karena menurut mereka kedua orang itu memang patut untuk di awasi.
Dalam pada itu Ki Rinting pun tengah bersiap untuk kembali melakukan aksi nya.
Dan malam ini ia pun bergerak cepat menuju ke rumah Ki Garengpati.
Dirinya memang menargetkan akan mengambil salah satu calon korban nya dari induk pedukuhan dari tanah Perdikan Boyolangu tersebut.
Seperti terbang saja orang itu melayang turun dari puncak Gunung Budheg itu menuju ke rumah Ki Garengpati .
Saat wayah sepi uwong,.Ki Rinting telah sampai di rumah Ki Garengpati.
__ADS_1
Tanpa menimbulkan suara orang itu masuk ke halaman rumah Ki Garengpati dari belakang. Ia memanggil Ki Garengpati dengan ajian pameling.
" Garengpati,..keluarlah,..diriku telah berada di belakang rumahmu,.." ucapnya.
Meski ia tidak bersuara ,..tetapi suara itu di dengar oleh Ki Garengpati.
" Baiklah,..aku akan keluar,..tunggulah sebentar,.." jawab Ki Garengpati.
Lelaki paruh baya itupun langsung keluar dari dalam rumahnya dan segera menemui orang itu.
" Ada apa,.. Ki Rinting,..mengapa dirimu datang malam ini,..?" tanya Ki Garengpati.
" Malam ini diriku harus mendapatkan seorang gadis yg akan dapat dijadikan tumbal,.." ucapnya lagi.
" Baiklah,..seperti yg telah aku katakan,..bahwa orang yg akan dapat di jadikan tumbal itu adalah perempuan yg ada di rumah Ki Ageng Boyolangu itu,." jelas Ki Garengpati.
" Apakah dirimu dapat mengamankan keadaan jika para warga mengetahui keberadaanku,..?!" tanya Ki Rinting.
" Tentu,..tentu,..aku akan tetap membuat mereka tidak akan dapat mengejarmu,.. karena aku akan mengalihkan perhatian mereka ke tempat yg salah,.." jawab Ki Garengpati lagi.
" Kalau begitu ,.aku akan segera ke rumah orang itu,..mereka berada di rumah Bayu Dhono ,..bukan..,?" tanya nya lagi.
" Mereka memang berada di rumah Ki Ageng Boyolangu tetapi di rumahnya yg di dekat persawahan itu bukan di kediaman nya selama ini,.." jawab Ki Garengpati lagi.
" Hahh,..kalau begitu tentu akan lebih mudah,..kupikir mereka berada di rumah si Bayu Dhono itu," kata Ki Rinting.
Selepas ia mengucapkan kata -katanya itu Ki Rinting langsung melesat meninggalkan rumah Ki Garengpati itu.
" Selamat tinggal Garengpati,.."
Masih terdengar suara dari Ki Rinting itu di telinga Ki Garengpati,. sedangkan orang nya telah pergi jauh meninggalkan dirinya seorang diri.
Namun ternyata di rumah Ki Garengpati itu, mereka tidak hanya berdua saja ,.. rupanya ada orang ketiga yg ada di tempat itu,..ia pun melesat mengejar Ki Rinting yg telah cukup jauh meninggalkannya.
Tetapi Ki Garengpati tidak menyadari kehadiran orang ketiga tersebut ,..ia langsung masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah itu,..Raka Senggani telah menyuruh kedua temannya untuk bersiap , menurutnya akan ada tamu yg tidak di undang yg akan datang ke rumah itu.
Sesaat mendekati tengah malam ,.. dimana malam semakin pekat,..perlahan namun pasti orangtua itu mendekati tempat itu.
Ia berdiri sejenak di dekat rumah itu,.. mulutnya komat kamit membaca mantera,..dari balik bajunya ia mengambil sesuatu dan melemparkan nya ke arah rumah itu.
Sepertinya ia tengah menyiapkan sirep agar penghuni rumah itu tertidur.
Dan didalam rumah itu,.. terlihat lah,.Japra Witangsa dan Dewi Dwarani ,..menguap,.. sepertinya mereka memang sepertinya terkena sirep dari Ki Rinting itu.
Hanya Raka Senggani saja yg tidak terkena pengaruh ajian tersebut.
Hehh,.. sepertinya orang itu telah memulai usaha nya.,kata Raka Senggani dalam hati.
Ia kemudian mengatakan kepada kedua orang temannya itu untuk meningkatkan tenaga dalam nya, agar dapat melawan rasa kantuk itu.
Karena tampaknya orang itu telah datang ke tempat tersebut.
Ucapan dari Raka Senggani seperti suatu isyarat bagi keduanya,..sehingga mereka seperti tersadar dari mimpi mereka yg sudah akan tertidur itu.
Dengan cepat Japra Witangsa,..dan Dewi Dwarani ,..meningkatkan tenaga dalam nya dan melawan rasa kantuk nya yg teramat sangat.
Dengan keras keduanya melawan rasa kantuk itu dan akhirnya berhasil.
Mereka dapat terbebas dari ajian Sirep itu .
Sementara itu Ki Rinting telah meyakini bahwa orang yg ada di dalam rumah itu telah tertidur semua.
Perlahan ia membuka jendela rumah itu ,..karena ia tengah merasakan bahwa yg perempuan berada di bilik itu.
" Kreeeeeiikk,.."
Derit jendela rumah itu terbuka perlahan. Orang itu pun masuk dan berusaha mengangkat sesosok tubuh yg tengah tertidur diatas amben bambu itu.
__ADS_1
" Hufffhh,.."
Ia mengangkat tubuh itu dan kemudian memanggul nya,
" Mengapa tubuh perempuan ini cukup berat," berkata dalam hati Ki Rinting.
Namun ia tidak memperdulikan nya,.ia segera melesat meninggalkan tempat itu.
" Hiyyyah,.."
Ia bergerak sangat cepat menuju ke atas gunung itu.Namun tanpa sepengetahuan nya,..sesosok tubuh tetap mengikuti nya.
Sedangkan di dalam rumah itu dua orang yg tinggal pun segera bergerak meninggalkan tempat itu.
Mereka berdua berpisah, yg satu mengikuti orang itu dan yg seorang lagi menuju rumah Ki Ageng Boyolangu.
Sementara di tanah perdikan Boyolangu itu keadaan teramat sepi,. tidak ada seorang pun yg mengetahui kejadian yg menimpa rumah tempat menginap Raka Senggani dan kedua temannya.
Sebentar saja Ki Rinting telah sampai ke atas puncak gunung itu,..ia pun segera menurunkan tubuh yg telah di pondongnya itu.
Akhirnya malam purnama ini,.. aku memiliki syarat untuk mendapatkan ajian Rawa Rontek ini,..ucap Ki Rinting.
Namun sampai saat itu,..ia belum tahu siapa sebenarnya yg telah di bawanya itu.
Dan ketika ia memeriksa nya ternyata,...
" Hahhhh,"
Alangkah terkejutnya Ki Rinting itu,.. ternyata orang yg telah di bawanya itu adalah seorang lelaki,..bahkan ia pun langsung dapat berdiri.
" Apakah kisanak ,. terkejut,.." ucap orang itu.
Hehh,. bukankah tadi dirinya telah aku totok,..mengapa ia dapat melepaskn totokan itu,..berarti,..ia,..,ucap Ki Rinting dalam hati.
Ia sampai tidak mendengar ucapan itu.
" Hehh,..kisanak...apakah dirimu sudah tuli,..sehingga tidak mendengar ucapan ku tadi,.." seru orang itu lagi.
" Siapa sebenarnya dirimu ini,.. bocah,..mengapa dirimu berani mempermainkan diriku,..?" tanya Ki Rinting tidak kalah keras nya.
" Memang dirimu pantas untuk di permainkan kisanak,..karena engkau terlalu merasa amat tinggi ilmu nya,..dan menganggap orang lain,. terlalu rendah di matamu,..kisanak ,.." ucap Orang itu lagi.
" Ahh,..dirimu memang mau mencsri mampus,..bocah ,..dirimu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa,.." teriak Ki Rinting.
" Aku tahu,..sedang berhadapan dengan Ki Rinting, seorang pemilik ajian Rawa Rontek yg tidak akan mempan dengan senjata tajam,..dan akan hidup abadi selamanya,.ha,.ha,ha,.sebuah mimpi di siang bolong,.." seru orang itu yg tiada lain adalah Senopati Pajang,..Raka Senggani.
" Dirimu terlalu banyak mulut bocah,..terima serangan,.. heahhhh,.." Teriak Ki Rinting.
Ia menggerakkan tangan nya ke arah Raka Senggani,..sebuah angin pukulan yg sangat keras menerpa tubuh dari Sang Senopati.
Namun anehnya,.. tubuh itu tidak bergeming dari tempat nya.
Hal ini membuat terkejut Ki Rinting ,.ia tidak menyangka bahwa serangan itu masih mampu ditahan oleh seorang pemuda yg masih berusia sangat muda itu.
Hehh,..ia mampu menahan serangan ku,..siapa sesungguhnya anak ini,..berkata dalam hati Ki Rinting.
" Bagaimana Ki Rinting,.. apakah dirimu hanya sekedar ini kemampuan mu,..yg terkenal memiliki Ajian Rawa Rontek Itu,..hehh,.." sergah Raka Senggani.
" Jangan terlalu senang dahulu,..bocah terima ini,.. Hiyyah,.." teriak Ki Rinting lagi.
Dan kali ini Ki Rinting melesat dan segera menebaskan sebuah golok yg ada di tangannya itu ke tubuh Sang Senopati Pajang itu.
" Traaakkk,."
Golok itu memang mampir di tubuh dari Raka Senggani,..tetapi untuk kedua kalinya Ki Rinting di buatnya terkejut karena golok nya itu tidak berhasil melukai tubuh sang Senopati. Malah goloknya yg gompal , ia terpelongo melihat goloknya itu.
Tampaknya Raka Senggani sengaja menunjukkan kemampuan nya agar membuka mata dari Ki Rinting itu.
Bahwa.setinggi apapun ilmu seseorang itu pasti masih ada lagi yg lebih tinggi.
__ADS_1