
Para Prajurit Sandi Demak yg belarian mendekati tubuh Senopati Bima Sakti yg sedang tertelungkup diam tidak bergerak.
Dan pertama kali memdapatinua adalah Ki lintang Gubuk Penceng. Segeralah Lurah prajurit sandi ini membalikkan tubuh dari Senopati Bima Sakti.
Ia segera memeriksa denyut nadi sang Senopati.
" Apakah ia masih hidup ,..?" tanya Ki Lintang Sapi Gumarang.
Pertanyaan yg serupa yg ada di benak para prajurit sandi Demak lainnya termasuk Gajah Arak.
Selain ia pernah bertarung dengan Tumenggung Waturangga,. ia pun juga pernah menghadapi Senopati Bima Sakti ini.
Jika harus membandingkan, Gajah Arak merasa bahwa ilmu sang Senopati masih diatas dari Tumenggung Waturangga itu.
Akan tetapi pada saat pertarungan terjadi , kelihatannya Senopati Bima Sakti ini berada di bawah dari Tumenggung Waturangga. Jadi merupakan pertanyaan besar jika ia masih mampu selamat.
Adalah Ki Lintang Pedati suwung yg mmerintahkan seorang prajurit sandi Demak yg ada di situ untuk melihat keadaan dari Tumenggung Waturangga sendiri.
Dengan cepat prajurit sandi Demak ini bergerak menuju tempat dimana Tumennggung Waturangga terjatuh.
Sedangkan Ki Lintang Gubuk Penceng tampak bernafas lega ketika ia sudah dapat merasakand detak jantung dari Senopati Bima Sakti yg telah bergerak perlahan dan belum teratur.
Bersamaan itu pula dari dada nya terlihat turun naik mengikuti irama nafasnya.
" Tampaknya ia hanya sekedarr pingsan,. mari kita bawa ke tempat yg lebih aman ,.." ujar Ki Lintang Gubuk Penceng.
Dua prajurit sandi Demak segera mengangkat tubuh pingsan dari Senopati Bima Sakti dan membawanya turun dari atas gumuk tersebut.
Ketika sampai di suatu tempat yg terlihat agak lebih lapang maka mereka menghentikan langkahnya dan menurunkan tubuh dari Senopati Bima Sakti.
" Cepat ambilkan air,.."
Terdengar perintah dari Ki Lintang Sapi Gumarang kepada salah seorang prajurit sandi Demak.
Orang tersebut pun segera meninggalkan tempat tersebut guna mencari air.
Dari atas Gumuk, turunlah seorang prajurit sandi Demak yg di tugaskan untuk melihat keadaan dari Tumenggung Waturangga.
Begitu ia sampai di tempat itu langsung mendapatkan pertanyaan dari Gajah Arak..
" Bagaimana Ki, apakah Tumenggung Waturangga itu telah tewas,..?" tanyanya penuh selidik.
" Sayang ,..tadi Ki Gajah Arak tidak ikur bersama ku, " jawab orang tersebut.
" Memang nya kenapa,..?" tanya Gajah Arak lagi.
Prajurit sandi Demak yg bertubuh laksana gajah ini memang ingin mengetahui apa yg telah terjadi atas diri Tumenggung Waturangga itu.
" Tubuhnya hancur menjadi debu,.." sahut prajurit sandi Demak itu.
" Hehhhh,..."
Terdengar seluruh orang yg berada di tempat itu kaget setengah mati mendengarnya.
" Jika kalian semua tidak percaya , dapat melihatnya, akan tetapi tadi serasa ada orang yg mendekati tubuh Tumenggung Waturangga itu, jadi aku segera kembali kemari,.." terang prajurit sandi Demak ini lagi.
" Baiklah , aku dan Kakang Lintang Sapi Gumarang akan kesana, apakah dirimu mau ikut Gajah Arak,..?" tanya Ki Lintang Pedati Suwung.
" Baik , aku ikut,.." sahut Gajah Arak.
" Kakang Gubuk Penceng, kami akan ke atas lagi,.." ucap Ki Lintang Pedati suwung.
" Silahkan,.." sahut Ki Lintang Gubuk Penceng.
Ia masih duduk di dekat tubuh dari Senopati Bima Sakti, kedua tangannya berada di atas dada pemuda tersebut.
Ki Lintang Gubuk Penceng sedang menyalurkan hawa murni pada tubuh sang Senopati yg masih dalam keadaan pingsan.
Sebentar kemudian datanglah prajurit sandi Demak yg bertugas mencari air.
Ia membawa air dalam daun dan menyerahkan nya pada Ki Lintang Gubuk Penceng.
Oleh Lurah prajurit sandi Demak ini air tersebut kemudian ia percikan ke wajah dari senopati Bima Sakti yg masih pingsan.
Berulang kali ini di lakukannya supaya Senopati Bima Sakti sadar dari pingsannya, setelah cukup lama, perlahan tubuh dari sang Senopati bergeliat dan bergerak.
Dan dengan perlahan ia membuka matanya.
Dilihatnya untuk yg pertama kali adalah rembulan yg hampir tenggelam bersamaan terbitnya fajar di ufuk timur.
__ADS_1
Ketika ia menoleh nampaklah Ki Lintang Gubuk Penceng yg sedang tersenyum berada di sampingnya.
" Syukurlah Senopati Bima Sakti telah sadar,..ini,..minumlah ,..". kata Ki Lintang Gubuk Penceng.
Sambil menuangkan air yg ada di tangannya ke mulut dari Senopati Bima Sakti.
Perlahan kemudian kesadaran dari Raka senggani pun mulai pulih, ia pun dapat bangkit dan duduk di sebelah Ki Lintang Gubuk Penceng.
Dan sang surya pun telah menyapa bumi timur dari pulau tersebut.
Tidak terlalu lama, rombongan dari Ki Lintang Sapi Gumarang dan Pedati Suwung pun telah kembali.
" Sebaiknya, kita segera meninggalkan tempat ini kakang Gubuk Penceng,.." seru Ki Lintang Pedati Suwung.
Tidak biasanya , salah seorang Lurah Prajurit sandi Demak ini nampak tergesa -gesa bersikap, apalagi saat ini kemenangan berada di pihak Demak.
" Memangnya ada apa, adi pedati suwung,..?" tanya Ki Lintang Gubuk Penceng penasaran.
" Sepertinya Adipati surabaya telah mengetahui telah tewasnya Tumenggung Waturangga ini, ia mengirmkan pasukan segelar sepapan nya datang kemari,..!" jelas Ki Lintang Pedati Suwung.
" Baiklah kalau begitu, kita tidak usah mencari ribut dengan Adipati Surabaya ini,. karena tugas kita kali ini hanya untuk melenyapkan Tumenggung Waturangga dan itu berhasil, segera kita tinggalkan tempat ini, kau Gajah Arak segera gendong Senopati Bima Sakti ini, kita tidak boleh terlambat,."
Terdengar perintah dari Ki Lintang Gubuk Penceng kepada Gajah Arak.
Dan orang yg di perintah pun segera melaksanakan nya, ia menggendong Senopati Bima Sakti dan keluar dari tempat itu.
Tujuan mereka kali ini adalah tempat Ki Lintang Gubuk Penceng yg ada di Trowulan.
Memang tidak terlalu lama ketika mereka meninggalkan gumuk tersebut, dari arah utara terdengar derap langkah kaki kuda yg sangat banyak.
Nampak debu mengepul ke angkasa.Kelihatan memang cukup banyak yg datang prajurit dari kadipaten Surabaya.
" Cepat, kita harus segera menjauhi tempat ini,.." seru Ki Lintang Gubuk Penceng.
Sekira delapan orang para prajurit sandi Demak itu terlihat mempercepat langkahnya, bahkan mereka mengetrapkan lari cepat nya.
Termasuk Gajah Arak sendiri, walaupun ia menggendong Senopati Bima Sakti, tetapi dengan ringannya ia tetap dapat berlari menjauhi gumuk kecil itu.
Dan di gumuk kecil itu sendiri pasukan dari kadipaten Surabaya ini telah tiba , dengan di pimpin dua orang Senopati yg berpangkat Tumenggung yaitu Tumenggung Jaya laksana dan Tumenggung Kundara.
" Bagaimana kakang Kundara , dimana prajurit sandi Demak itu,..?" tanya Tumennggung Jaya laksana.
" Entahlah adi Jaya Laksana, seperti nya mereka telah meninggalkan tempat ini,.." jawab Tumenggung Kundara.
Tiga orang Lurah prajurit dari Surabaya ini dengan cepat memeriksa keadaan, mereka melihat bekas -bekas pertarungan dan masih menemukan jasad dari Tumenggung Waturangga.
Ketiganya segera turun dan melaporkan kejadian yg telah terjadi di sekitar gumuk tersebut.
" Demikianlah , tidak ada lagi orang orang dari Demak , hanya jasad dari Tumenggung Waturangga yg masih ada, Kanjeng Tumenggung,.." jelas salah seorang lurah prajurit.
" Baiklah, segera bawa mayat Tumennggung Waturangga itu,.."
Terdengar perintah dari Tumenggung Kundara.
Namun ketiga lurah prajurit kadipaten Surabaya itu nampak bingung.
" Kenapa,..ada masalah,..?" tanya Tumennggung Kundara.
" Benar Kanjeng Tumenggung, mayat Tumennggung Waturangga telah hancur,..bagaikan tepung,.." jawab salah seorang lurah prajurit itu.
" Hahhh,.."
Seruan yg sangat keras keluar dari mulut Tumenggung Kundara,..ia sungguh tidak mmepercayai apa yg telah di dengarnya itu.
" Cepat kumpulkan, walaupun mayat nya telah berubah jadi abu, agar Kanjeng Adipati dapat melihatnya sendiri, dan periksa semua tempat ini, siapa tahu para pembantu terdekat dari Tumenggung Waturangga masih ada disini,.." perintah Tumenggung Kundara lagi.
Maka para prajurit Surabaya ini bergerak memeriksa kembali tempat itu, guna mencari orang orang yg ada di sekitar gumuk kecil itu, dan sebahagian lagi mengumpulkan jasad dari Tumenggung Waturangga yg telah menjadi abu walau pun bentuk nya masih cukup jelas bahwa memang dia itu adalah Tumenggung Waturangga.
Beberapa orang prajurit kadipaten Surabaya ini cukup terkejut, karena mendapatkan beberapa mayat yg lainnya lagi dan mereka itu adalah pembantu terdekat dari Tumenggung Waturangga.
Ternyata seluruh pembantu terdekat dari Tumenggung Waturangga itu telah tewas hampir sepuluh orang mayat mereka dan dikumpulkan menjadi satu oleh para prajurit.surabaya.
Setelah selesai barulah mereka kembali pulang menuju Surabaya.
Dan disana mereka langsung di sambut oleh Kanjeng Adipati sendiri.
Ia melihat langsung mayat dari Tumenggung Waturangga itu, dan juga para pembantunya.
" Ternyata Demak memang menginginkan perang dengan Surabaya,..ini tidak dapat di biarkan, segera periksa seluruh wilayah Surabaya sampai daerah perbatasan, tangkap para prajurit Demak itu, hidup atau mati,.." seru Kanjeng Adipati Surabaya dengan geramnya.
__ADS_1
Dengan titah dari Kanjeng Adipati ini , segeralah dua orang Tumenggung itu berangkat, membawa para prajurit yg tadi datang ke gumuk kecil tersebut.
Sementara itu di hutan perbatasan antara kadipaten Surabaya dengan Mojokerto, nampaklah para prajurit sandi Demak yg tengah beristrahat sejenak setelah hampir seharian mereka berjalan.
" Bagaimana Kakang Lintang Gubuk Penceng, apakah malam ini kita menginap di hutan ini,..?" Ki Lintang Sapi Gumarang.
Ki Lintang Gubuk Penceng kemudian memperhatikan ke arah kota surabaya, dan dari arah yg sangat jauh terlihat debu membumbung tinggi ke atas.
" Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan menuju trowulan, karena tampaknya mereka terus mengejar kita,.." ucap Ki Lintang Gubuk Penceng.
" Hahhhh,.."
Semua orang yg berada di situ sangat terkejut mendengarnya .Termasuk Senopati Bima Sakti yg masih terlihat lemah.
" Lihat ke sana,..!". seru Ki Lintang Gubuk Penceng.
Ia menunjuk ke arah timur,.dan segeralah orang orang yg ada disitu memandang ke arah yg telah di tunjukkan oleh Ki Lintang Gubuk Penceng.
Memang nampak debu debu mengepul ke udara walau masih sangat jauh.
Tanpa di perintah lagi seluruh prajurit sandi Demak itu berkemas dan akan meninggalkan tempat itu.
Gajah Arak pun segera menggendong lagi tubuh Senopati Bima Sakti.Memang terlihat tubuhnya masih sangat lemah.
Meskipun suasana sudah menjelang maghrib , tetapi para prajurit Sandi Demak melanjutkan perjalanan nya lagi menuju ke trowulan.
Sampai tengah malam , barulah mereka sampai di tempat Ki Gubuk Penceng yg berada di sebuah pategalan, di luar kota trowulan.
Hati Senopati Bima Sakti amat terkejut setelah tiba di gubuk tempat dari Ki Lintang Gubuk Penceng ia melihat telah ada disana Ki Tambi.
Mengapa orang ini masih disini, berkata dalam hati Raka Senggani.
Ia merasa sangat aneh dengan kejadian yg telah dilihatnya dengan mata kepala nya sendiri.
Dengan setengah berbisik ia berkata kepada Ki Lintang Gubuk Penceng.
" Ki Lintang Gubuk Penceng, mengapa Ki Tambi berada disini,..?"
" Sabarlah , Senopati Bima Sakti, ada cerita di belakang kejadian ini,.." jawab Ki Lintang Gubuk Penceng.
Setelah menempatkan Senopati Bima Sakti di dalam gubuk, kemudian Ki Lintang Gubuk Penceng menarik tubuh Ki Tambi agak menjauh dari tempat itu.
Ia segera mengatakan kepada prajurit sandi Demak yg telah berkhianat itu.
Bahwa akibat ulahnya, Senopati Bima Sakti terluka dalam yg agak parah, sehingga ia di tuntut untuk menyembuhkan nya.
" Dirimu tidak dapat mungkir , Ki Tambi, cepatlah kau sembuhkan Senopati Bima Sakti itu,.." ucap Ki Lintang Gubuk Penceng.
" Baiklah, Ki Lintang Gubuk Penceng,.." jawab Ki Tambi pelan.
Sementara itu para prajurit sandi Demak yg lain tengah menyiapkan makanan dengan membakar apa saja yg ada di tanah pategalan itu termasuk, singkong dan jagung.
Di dalam gubuk itu, Ki Tambi tengah menghadapi tubuh dari Senopati Bima Sakti yg terlentang .
" Mau apa kau kemari,..!" seru Raka Senggani.
Ia merasa muak dengan wajah orang tua . Karena ia merasa bahwa orang itu telah berkhianat kepada Kerajaan Demak.
" Maafkan aku , Senopati Bima Sakti,..diriku memang memiliki banyak kesalahan terhadap mu secara pribadi,.." ucap nya pelan.
Adalah Ki Lintang Gubuk Penceng yg kemudian menjelaskan bahwa saat ini dirinya telah terkena pengaruh ajian pelumpuh syaraf.
Mendengar hal tersebut Senopati Bima Sakti amat terkejut.
" Dimana aku terkena ajian itu,..?" tanya Raka Senggani.
Ki Tambi lah yg kemudian menjawabnya, bahwa saat dirinya tiba di rumahnya , air yg telah di minum oleh Senopati Bima Sakti itu berisi ajian pelumpuh syaraf. Dan itu semua atas perintah dari Tumenggung Waturangga.
Dan tidak lupa ia mengatakan pada saat malam pertarungan itu ia menahan Senopati Bima Sakti agar tidak terlalu cepat untuk berangkat , agar ia dapat memberikan lagi ramuan tersebut lagi.
Karena gagal, akhirnya pengaruh nya tidak terlalu kentara, karena Senopati Bima Sakti berhasil membunuh Tumenggung Waturangga.
Namun di dalam hati Raka Senggani segera berujar, pantaslah diriku sangat sulit mengeluarkan tenaga dalam saat bertarung dengan Tumennggung Waturangga. Terlebih ketika Tumenggung itu mengeluarkan ajian Natradahana.
Rupanya akibat pengaruh dari aji pelumpuh syaraf., katanya dalam hati.
" Oleh sebab itulah , Senopati Bima Sakti harus menerima tawaran dari Ki Tambi ini agar dirimu cepat pulih, akibat dari ajian tersebut , nanti dirimu akan kesulitan menegrahkan tenaga dalam, mungkin dalam waktu setahun belum tentu dirimu akan pulih seperti sedia kala,..!" jelas Ki Lintang Gubuk Penceng.
Raka Senggani terdiam mendengar penuturan dari Ki Lintang Gubuk Penceng ini,..ia memang terasa sulit untuk mengerahkan tenaga nya , bahkan untuk menegakkan tubuhnya amat sulit.
__ADS_1
" Baiklah Ki Lintang Gubuk Penceng, asalkan jangan Ki tambi ini memperparah, rasa sakit ini,.." ucap Raka Senggani.
Senopati Bima Sakti ini memang merasa bahwa ia ingin segera cepat pulih dan segera kembali ke desa Kenanga.