Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 9 Sentuhan bag ke dua belas.


__ADS_3

Kemudian Chandala Gati mendekati Sruni dengan membawa mangkok yg telah berisi darah itu.


Ia juga membawa sebuah pisau kecil, guna melukai tangan Sruni agar darah nya dapat diambil.


" Bagaimana apakah aku yg akan melakukan nya atau diri mu sendiri, silahkan," kata Chandala Gati.


Sambil memandangi guru nya berkata,


" Bagaimana guru, siapa yg akan melakukan nya,?" tanya nya pada Nyi Ronce guru nya itu.


" Biar aku yg akan melakukan nya," ucap Nyi Ronce.


Dengan cepat ia meraih pisau itu dari tangan Chandala Gati, kemudian ia segera menggores ujung jari murid nya itu, sebentar kemudian telah keluar darah dari luka akibat goresan pisau itu.


Setelah agak lama dan merasa cukup, berkata lah Resi Yaramala itu.


" Cukup Chandala chota, Bawa kemari mangkok itu," perintah nya kepada Si Setan pemetik kembang itu.


Langsung saja Chandala Gati menyerahkan mangkok berisi darah itu kepada Resi Yaramala.


Dengan sigap Resi Yaramala meletakkan mangkok itu diatas batu. Kemudian ia menambahkan lagi kemenyan ke dalam pedupaan nya, bau dari kemenyan itu terasa kuat, menyebar di tempat itu.


Ia mengarahkan asap dupa itu ke arah mangkok yg berisi darah itu.


" Baik, kita akan memulai nya, dan aku berharap ,saat aku telah melakukan nya jangan ada yg akan mengganggu ku, agar semua dapat berjalan lancar," ucap Resi Yaramala.


Ia kemudian berkata lagi,


" Brangah, mendekat lah kemari, bantu aku jika kuperingatkan nanti kepadamu, dan untuk mu , Chandala chota, jaga jangan sampai ada orang yg akan menggangguku," perintah Resi Yaramala.


Setelah Resi Brangah mendekat , berada di sebelah nya, maka Resi Yaramala itu mulai melakukan aksi nya yg akan mengangkat benda Pusaka Kyai Sepanjang, senjata yg berupa tombak itu, merupakan milik dari Syaikh Subakir yg dahulu telah menaklukan alam jin dengan tombak pemberian dari Sultan Turki itu.


Sesaat kemudian , mulut Resi Yaramala itu mulai komat -kamit membaca mantera, tangan kiri nya di letakkan di depan dada sedangkan tangan kanan nya berada diatas lutut dengan posisi ibu jari dan jari telunjuk bersatu seperti lingkaran.


Perlahan namun pasti asap dupa pun semakin membanyak. Dan di arahkan ke dalam mangkok berisi darah itu.


Tempat itu perlahan -lahan mulai bergerak -gerak seperti sedang di landa gempa bumi.


Pepohonan yg berada di puncak Gunung Tidar seperti terkena angin ****** beliung, seakan-akan hendak tumbang.


Tanah yg berada tepat di hadapan Resi Yaramala itu, membuka perlahan,


" Kraak,krakak, kraaaaak,"


Dan tiba -tiba terdengar letusan,


" Thummmbhh,"


Sebuah benda melesat terbang mengangkasa dengan warna ke emasan.


Cukup lama benda itu melesat dan kemudian , jatuh kembali ke tempat semula.


Terlihat lah benda itu , berupa sebuah tombak yg cukup panjang pamor nya memancarkan sinar keemasan.


Sehingga tempat di sekitar itu menjadi terang,


" Cepat Chandala chota, ambil tombak itu, ". terdengar kata kata dari Resi Yaramala.


Tidak menunggu untuk yg kedua kali nya di perintah, Si Setan pemetik kembang itu segera bergerak melesat hendak mencabut , Tombak Kyai Sepanjang itu yg tengah tertancap .


" Hiyyah,"


Ucapan dari Chandala Gati, namun begitu tubuh nya mendekati benda tersebut, tiba -tiba saja membuat nya terpental. Chandala Gati sangat penasaran, di coba nya untuk yg kedua kali,


" Heaahhh,"


Dengan segenap kemampuan yg dimiliki nya , kembali ia mendekati benda tersebut, tetapi kejadian yg serupa terulang bahkan kali ini ia lebih jauh terlontar nya.


" Ada apa , Chandala chota, mengapa kau tidak mampu untuk mengambil nya,?" tanya Resi Yaramala heran.


" Entahlah, seperti ada pagar gaib yg melindungi benda itu," jawab Chandala Gati.


Melihat hal itu, Resi Brangah kemudian mengajukan diri untuk mencoba mengambil nya.


" Biar kucoba untuk mencabut benda itu, Yaramala," tukas nya.


" Silahkan , Brangah,". jawab Resi Yaramala.


" Heaaahhh,"


Resi dari Blambangan itu melesat cepat menuju kearah benda Pusaka yg sedang tertancap itu.

__ADS_1


Namun kembali kejadian serupa pun terulang kembali, Resi Brangah harus terlempar setelah mendekati tombak Kyai Sepanjang itu.


" Apa yg kau rasakan , Brangah,?" tanya Resi Yaramala.


" Ada sesuatu kekuatan yg mendorong ku sangat keras,". jawab Resi Brangah.


" Baik , biar aku coba untuk, mencabutnya," seru Resi Yaramala.


Namun sebelum Resi dari Tanah Hindustan itu bergerak, kembali tanah di tempat itu bergerak -gerak,


" Krak, krakak, kraaak,"


Kemudian di susuli dengan letusan kembali seperti saat keluarnya tombak pusaka Kyai Sepanjang itu.


" Dhummmbbh,"


Bersamaan kemudian muncul sesosok makhluk dengan tubuh yg cukup besar, berkepala gundul dan perut nya yg gendut.


" Huaa, hhaaa, haaa, haa, "


Terdengar tertawa makhluk tersebut, dengan sebuah gada di tangan nya, ia terlihat memandangi orang -orang yg berada di tempat itu.


Namun makhluk itu terlihat tidak berani mendekati Kyai Sepanjang itu.


" Hua,haaa, haa, waa, siapakah kiranya orang yg telah membebaskan ku dari benda terkutuk itu," ucap nya.


Sambil mengarahkan gada nya ke arah tombak Kyai Sepanjang yg sedang tertancap itu.


" Akuuuu, ". seru Resi Yaramala.


" Huwa,waa, haa, haa, haa,"


Terdengar kembali tertawa nya sampai perutnya yg tambun itu terguncang -guncang.


" Bagus, bagus, kau telah berhasil membebaskan ku dari benda terkutuk itu," ucap nya.


" Hehh, siapakah kau sebenar nya,?" tanya Resi Yaramala dengan keras .


" Hua, haaa, haaa, aku adalah penguasa tempat ini, dan aku juga merupakan Raja para jin disini, mereka semua berada di bawah perintahku," ucap Makhluk itu.


" Bagus kalau begitu , apakah kau dapat membantu ku,?" tanya Resi Yaramala lagi.


" Huaaa, ha, ha, ha, karena kau telah membebaskan aku , maka apapun permintaan mu itu pasti akan Aku kabulkan," ucap nya lagi.


" Huaa, ha, haa, haah,. sebuah pekerjaan yg sangat mudah, dahulu pun itu telah Aku lakukan, sayang ada Makhluk yg sangat sakti dari jenis mu yg mampu mengalahkan aku setelah kami bertarung empat puluh hari,, empat puluh malam, namun kini karena kau telah berhasil membebaskan ku, maka mulai saat ini, akan ku buat kacau penduduk tanah ini dengan para prajurit ku," ucap nya lagi.


Sementara itu , berpuluh bahkan beratus pasang mata menyaksikan kejadian itu, termasuk diantara nya adalah Biksu Maha Gelang, Biksu Mandrayana , Ki Gede Mantyasih, Ki Jagabaya , Raka Senggani , Lintang Sandika, Tumenggung Wangsa Rana,Rasala, dan yg lain nya.


Karena mereka telah mengepung tempat itu, dan sedari tadi melihat kejadian yg tengah berlangsung.


" Bagaimana ini, Wiku Maha Gelang, apa yg harus kita lakukan , tombak Kyai Sepanjang itu telah berhasil mereka cabut, dan Jin penguasa tanah ini pun telah terbebas, ". ucap Ki Gede Mantyasih.


" Hahh, aku terlambat, seharusnya tadi setelah menyelamatkan gadis itu, aku pun harus mengambil perempuan itu," ucap Biksu Maha Gelang.


" Jadi sebaiknya apa yg harus kita perbuat,?" tanya Biksu Mandrayana.


" Aku pun tidak tahu, karena , ... siapa yg akan melawan Raja jin itu," ucap Biksu Maha Gelang.


" Dan satu hal lagi yg perlu kalian perhatikan, ketika sang raja itu telah memerintahkan para prajurit untuk menyerang kita , habislah kita, kejadian yg telah terjadi pada Tumenggung ini, hanya sebahagian kecil dari para prajurit nya,". jelas Biksu Maha Gelang.


" Kalau kita serang saja mereka, bagaimana,?" tanya Rasala, putra Ki Gede Mantyasih itu.


" Sangat sulit, namun memang perlu di lakukan selama tombak itu belum berhasil mereka kuasai, masih ada kesempatan untuk kita," kata Biksu Maha Gelang.


Ki Gede Mantyasih kemudian memerintahkan para pengawal tanah Perdikan Mantyasih untuk berjaga, agar orang -orang yg ada di tempat itu tidak dapat lolos.


Demikian pula , Tumennggung Wangsa Rana, para prajurit Pajang telah bersiap dengan segala kemungkinan yg dapat terjadi .


Biksu Maha Gelang sendiri berujar,


" Siapa diantara kita ini yg akan menghadapi Raja jin itu, ?"


Semua yg hadir terdiam, Biksu Mandrayana lah yg menyahutinya,


" Kita keroyok saja , Penguasa alam lelembut itu, Aku dan Ki Gede serta angger Senopati ini," ucap Biksu Mandrayana.


Biksu Maha Gelang kemudian teringat dengan nama yg terakhir yg di sebutkan oleh Biksu Mandrayana itu.


" Bagaimana kalau anak Senopati saja yg berhadapan dengan Raja Jin itu,?" tanya nya kepada Raka Senggani.


" Senggani, Wiku,!!??, tanya Raka Senggani seolah tidak percaya.

__ADS_1


" Ya , anak Senggani saja yg akan berhadapan dengan penguasa alam lelembut itu," tegas Biksu Maha Gelang lagi.


" Mengapa harus saya Wiku, usul dari Wiku Mandrayana itu pun dapat di laksanakan , kita keroyok saja Jin penguasa Gunung Tidar itu," ungkap Raka Senggani.


" Tidak anakmuda, Chandala Gati dan Resi Brangah itu harus ada yg menghadapi nya, jika kalian bertiga mengeroyok Raja jin itu, siapa yg akan menghadapi kedua orang tersebut,?" tanya Wiku Maha Gelang.


Raka Senggani tidak menjawab, ia hanya menatap ke arah penguasa Puncak gunung Tidar itu, ada rasa jeri kalau harus berhadapan dengan bangsa jin, karena memang ia belum pernah bertarung dengan makhluk halus, apalagi yg ini sudah sangat kesohor kehebatan nya, guru nya saja berhari -hari baru dapat melakukan nya, apalagi ia, itulah yg ada di pikiran nya.


" Sudahlah anakmuda, jangan terlalu khawatir , apa pun itu , Raja Jin penguasa alam lelembut itu telah pernah kalah, dan ingat , salah satu benda yg di takutinya ada disini, apabila anak Senopati mampu mengambil Senjata itu ,tentu akan lebih mudah untuk menundukkan nya," jelas Biksu Maha Gelang.


" Baiklah, Wiku," jawab Raka Senggani.


Meski dengan berat hati ia menerima nya. Karena ia memang merasa belum atau tidak akan sanggup melawan nya, Jin penguasa Gunung Tidar itu.


" Sudahlah , segera kita serang mereka selagi ia belum mengerahkan para prajurit nya," seru Biksu Mandrayana .


" Baik, mari kita mulai," balas Ki Gede Mantyasih.


Para tokoh yg berpihak kepada tanah perdikan Mantyasih itu segera keluar dari persembunyian nya.


" Hentikan , semua perbuatanmu itu Yaramala,!!" teriak Biksu Maha Gelang.


Dilambari tenaga dalam yg tinggi teriakan itu mengguncang tempat itu, tokoh -tokoh dari Resi Yaramala itu ada juga yg terpengaruh dengan ucapan dari Biksu Maha Gelang tersebut.


Murid dari Chandala Gati sampai terduduk sambil memegangi dadanya yg terasa nyeri.


" Apa maksudmu , Gelang, urusan apa kau dengan tanah ini, sehingga harus menghalangi maksudku,". balas Resi Yaramala itu.


Sama -sama mengerahkan tenaga dalam yg tinggi yg juga berakibat kepada para pengawal tanah Perdikan Mantyasih itu harus menerima akibat nya, sebahagian besar mereka tidak mampu menerima serangan dari suara Resi Yaramala itu.


" Aku , atas nama penguasa tanah memerintahkan kalian semua untuk menghentikan kegiatan gila ini, kalau masih membantah terpaksa harus kami tangkap dan adili menurut paugeran," ucap Ki Gede Mantyasih.


" Huwaaa, haaa, haa, ha, ha,ha,... siapa kau yg mengaku sebagai penguasa di sini, ... Akulah penguasa disini, tidak ada yg lain, ha, ha, ha,". ucap Jin Penguasa alam lelembut itu.


Tertawa nya memekakkan telinga dan sangat berpengaruh kepada yg telah mendengarkan nya.


Meski mereka yg berada di tempat itu memiliki ilmu yg lumayan tinggi, mendapati suara tertawa dari penguasa puncak Gunung Tidar itu tak urung juga mereka merasakan sakit di dada nya, termasuk Biksu Maha Gelang dan Biksu Mandrayana.


" Sudah , segera kita serang mereka," teriak Ki Gede Mantyasih itu.


Dan itu adalah pertanda pertarungan tingkat tinggi akan segera di mulai.


Dan pertama kali yg berhadapan adalah Chandala Gati dengan Biksu Mandrayana , karena Chandala Gati pernah di kalahkan oleh sang Resi.


" ****** kau, Mandrayana,". teriak Chandala Gati.


Si Setan pemetik kembang itu langsung tancap gas memberikan serangan terhadap Biksu Mandrayana, yg kemudian diikuti oleh Ki Gede Mantyasih yg langsung berhadapan dengan Resi Brangah dari Blambangan.


Kemudian selanjutnya , ada Resi Yaramala yg harus berhadapan dengan Biksu Maha Gelang.


Macan Baleman dan Ki Rajungan berhadapan dengan Rasala putra Ki Gede Mantyasih dan Tumenggung Wangsa Rana, meski sebelum nya sang Tumenggung sempat terluka oleh prajurit nya sendiri, namun tampak nya ia telah agak mendingan.


Sedangkan tiga orang murid dari Chandala Gati harus berhadapan dengan empat orang murid dari Biksu Mandrayana.


Yang tidak mempunyai lawan adalah Nyi Romce dan murid nya, terpaksa Anggono, Wirya, dan beberapa Lurah prajurit Pajang yg menghadapi kedua setan betina itu.


Sedangkan Penguasa Gunung Tidar itu melihat pertarungan itu itu sambil tertawa -tawa.


" Huaaa, ha, ha, ha, hahhh,"


Sebuah sinar merah keluar dari kedua matanya menerjang Biksu Maha Gelang yg sedang bertarung dengan Resi Yaramala itu.


Beruntung Biksu dari Tibet mampu untuk menghindari serangan itu, seraya ia berteriak,


" Anak Senopati, segera hadapi makhluk jelek itu,"


" Hraaaagghhh, "


Ternyata Raja Jin penguasa Gunung Tidar itu marah setelah di sebut jelek oleh Biksu Maha Gelang tadi, kembali ia melakukan serangan.


"_ Dhummmbhh,"


Serangan nya masih meleset tidak mengenai sasarannya, karena dengan cepat Biksu Maha Gelang melesat menghindari nya.


Setelah melihat kejadian itu maka Raka Senggani pun langsung melesat menuju tempat penguasa alam lelembut itu, seraya melepaskan ajian Wajra geni miliknya.


" Aji Wajra Geni, heaaahh,"


Sebuah cahaya merah segera menyasar kedua mata penguasa alam jin itu,


" Aaarrgghhh,"

__ADS_1


Terdengar teriakan dsri makhluk halus yg bertubuh besar itu , ternyata ia tidak menghindari serangan itu sehingga meskipun serangan dari Senopati Pajang itu tidak terlalu keras namun ternyata ada juga pengaruh nya sehingga ia harus menggoyangkan kepala nya.


" Hahhh, siapa kau manusia kecil, beraninya kau menyerangku,, Hhraahgh," teriak nya


__ADS_2