Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps 100. Menatap dalam tidur.


__ADS_3

Setelah kepergian Aditya. Felly melihat tumpukan berkas itu. Sudah mulai pusing. Mending dia menyelesaikan tumpukan piring kotor. Dari pada harus mengerjakan pekerjaan yang diberikan Aditya.


" Dia memang selalu mau suka-suka. Ya sudahlah di kerjain saja. Dari pada aku di rumah," gumam Felly yang langsung mulai mengerjakan apa yang di berikan suaminya.


Dia juga memang alangkah baiknya tidak di rumah. Dia memang harus punya aktivitas di luar. Agar tidak jenuh. Mengingat dulu sebelum menikah. Dia gadis yang penuh dengan pekerjaan.


Setelah menikah. Dia menjadi ratu kamar dan pasti badannya pada rontok. Karena berdiam terus. Jadi memang baik. Kalau dia harus mengeluarkan tenaga dan pikiran untuk bekerja. Agar dia berkeringat.


*********


Sementara sang suami juga sedang melakukan meeting penting. Kali ini Aditya melakukan meeting di lapangan. Di mana lokasi yang sudah di inginkannya selama ini. Pabrik yang terbengkalai yang sudah di berikan kakeknya pada istrinya.


Aditya dan beberapa orang-orang penting berbicara dengan serius. Sepertinya Aditya memang tidak main-main. Dia memang akan mengelola pabrik itu untuk mendirikan rumah sakit dan apa lagi jika tidak untuk menambah pundi-pundi kekayaannya.


" Proyek ini harus cepat selesai," ucap Aditya pada salah seorang Pria yang berkacamata.


" Pasti Pak. Mungkin target kita 5 bulan," jawab Pria itu.


" Aku sudah mengatakan cepat. Waktu yang kau katakan. Seperti setengah semester itu sangat lama," sahut Aditya langsung memprotes.


" Maaf pak," Pria itu langsung menunduk.


" Jangan sampai 5 bulan. Aku membayar mahal. Untuk semua pekerja. Di tempat ini. Jadi gunakan tenaga dan otak kalian kalau bekerja. Jika orang-orangnya masih kurang. Kau bisa tambah. Jadi tidak ada alasan untuk memperlambat proyek ini," ucap Aditya.


" Iya Pak," pria itu hanya bisa menjawab iya sambil menolak.


" Baiklah, saya rasa semuanya sudah jelas. Kalian boleh melanjutkan pekerjaan kalian," ucap Aditya membubarkan meeting. Beberapa orang itu mengangguk dan mulai berpergian dengan arah yang berbeda.


Aditya menatap bangunan yang sekarang sedang di runtuhnya. Dengan berkacak pinggang kepala kepala melihat ke atas. Melihat proses pekerjaan bangunan itu.


" Akhirnya. Aku bisa juga membangun rumah sakit di tempat ini. Aditya akan mendirikan rumah sakit ma," batin Aditya yang memang punya keinginan untuk membangun rumah sakit.


Alasan utamanya pasti karena mendiang mamanya. Mamanya yang dulu kesulitan ekonomi dan tidak mendapatkan keringanan dari rumah sakit. Yang akhirnya mamanya hanya bisa pasrah menunggu ajal saja.


Membuat Aditya bersih keras. Untuk membangun rumah sakit yang terbaik. Dengan para Dokter yang terbaik. Agar orang-orang tidak mengalami apa yang di alami mamanya. Soal seorang ibu hati Aditya sangat mudah tergerak.


Makanya sewaktu ibunya Felly yang juga sedang berperang dengan nyawa dia langsung membantunya. Walaupun dia dan Felly harus banyak pertikaian dan drama sana-sini.


Tetapi ujung-ujungnya. Dia membantu pengobatan itu sampai sang mama. Akhirnya benar-benar sembuh.


" Tuan Aditya," tegur Bion membuat Aditya kaget dan langsung berbalik arah.


" Ada apa?" tanya Aditya.

__ADS_1


" Tuan Mark dan Andre. Kakak dari nona Felly. Sudah bertemu," jawab Bion melaporkan informasi penting.


" Lalu bagaimana selanjutnya. Apa dia setuju. Kasus papanya akan di buka kembali?" tanya Aditya.


" Saya belum mendapat informasi dari tuan Mark. Tetapi banyak kemungkinan. Andre akan setuju," jawab Bion.


" Baiklah kalau begitu. Kamu terus selidiki Wiliam dan juga Rebecca!" ucap Aditya memeberi perintah.


" Baik Tuan," jawab Bion.


" Oh iya bagaimana dengan Leon. Apa kamu sudah mendapat kabarnya?" tanya Aditya.


" Belum tuan. Dia memang satu-satunya dari 3 pria itu yang belum mendapatkan informasinya. Sepertinya dia menetap di Luar Negri," jawab Bion.


" Baiklah. Yang jelas selidiki terus Wiliam," ucap Aditya.


" Baik tuan. Kalau begitu saya permisi dulu tuan," ucap Bion pamit.


" Hmmmm," jawab Aditya dengan deheman.


" Aku berharap masalah ini akan cepat selesai. Dengan kembalinya kasus Anderson. Itu akan menjatuhkan Damar dan Rebecca. Kakek benar-benar akan tau. Siapa menantu dan cucunya yang selalu membuat resah itu,"


" Dan Wiliam dia akan mendapatkan ganjaran dari perbuatannya. Kau akan menyusul temanmu. Heriyawan dan Kau Leon akan segara di temukan. Kalian ber-3 akan pergi sama-sama ke neraka setelah meredakan kekejaman di dunia," ucap Aditya di dalam hatinya tersenyum miring dengan tangannya yang mengepal.


********


" Kenapa bisa seperti itu?" tanya Rebecca dengan emosinya yang naik berdiri di depan Damar yang kembali membuatnya naik pitam.


" Kenapa menanyakan aku. Aku mana tau. Kalau kakek akan memberikan pabrik itu untuk Felly," ucap Damar menaikkan Volume suaranya tidak terima dengan mamanya yang memarahinya. Karena Felly mendapatkan tanah luas dan sekarang Aditya sudah mulai membangun di atas tanah itu.


Bagaimana tidak Rebecca kepanasan. Aditya semakin di depan dan dia semakin di belakang.


" Itu karena kamu yang bodoh. Mama sudah mengatakan berkali-kali. Jangan terus seperti orang gila. Karena di tinggalkan wanita itu. Sekarang lihat akibatnya. Saham semakin menurun dan kamu dan Aditya semakin kaya. Kamu dengar Damar. Aditya bukan pria sembarangan. Otaknya sangat berkembang. Pelan-pelan dia akan menguasai semua milik kakek kamu dan termasuk perusahaan ini," teriak Rebecca menunjuk-nunjuk Damar.


" Selama bertahun-tahun kamu di perusahaan ini. Kamu hanya menjadi wakil CEO dengan saham yang itu-itu aja. Sementara Aditya. Meski tidak bekerja di perusaan ini. Dia sudah memiliki saham banyak di bandingkan kamu," bentak Rebecca.


" Kenapa mama jadi Banding-bandingkan aku dengan Aditya," sahut Damar kesal.


" Itu supaya kamu sadar. Kamu gunakan otak kamu dalam segala hal. Dia sengaja menikah dengan Felly. Agar kamu menderita dan tidak fokus dalam bekerja. Sementara dia memanfaatkan kesempatan yang sedikit itu. Makanya kamu jangan bodoh. Mama sudah memperingatkan kamu dari awal. Tapi apa. Kamu tidak pernah mendengar mama," ucap Rebecca.


" Ma. Kalau Damar juga menikah dengan Felly. Tanah itu akan milik Damar. Jadi mama jangan terus menyalahkanku," ucap Damar.


" Bagaimana tidak disalahkan. Kalau kamu tidak pernah bejus," teriak Rebecca. Damar mengusap wajahnya kasar. Dia selalu menjadi sasaran sang mama.

__ADS_1


" Kamu harus menikah!" ucap Rebecca tiba-tiba. Membuat Damar kaget.


" Apa maksud mama yang tiba-tiba ada menyuruh menikah?" sahut Damar yang pasti tidak akan setuju.


" Kamu harus menikah dan harus punya anak. Karena jika kamu memiliki anak. Perusahan ini akan jadi milik kamu," ucap Rebecca.


" Aku tau. Tapi mama tidak perlu menyuruhku untuk melakukan itu. Aku akan menikah tapi tidak perlu di suruh-suruh," sahut Damar yang pasti akan memberontak ala yang di katakan mamanya.


" Kamu ini benar-benar ya," ucap Rebecca.


" Sudahlah. Aku pusing dengan mama yang terus saja mengaturku. Aku mau pergi dulu. Kepala ku sakit mendengar ocehan mama," ucap Damar yang langsung pergi.


" Damar!" panggil Rebecca. Damar tidak menggubris dan tetap melanjutkan langkahnya.


" Anak ini benar-benar, selalu saja membantah. Dia tidak tau apa. Jika semua yang aku katakan itu hanya untuk kebaikannya. Selalu tidak pernah mengerti. Lihat akibatnya. Lama-lama dia bisa jadi tersingkirkan," ucap Rebecca kesal dengan Damar yang terus membantahnya.


***********


Malam hari tiba. Setelah melakukan semua pekerjaannya Aditya kembali ke Restaurant miliknya. Aditya turun dari mobil. Restaurant miliknya sudah sepi karena memang sudah waktunya untuk tutup. Tetapi Aditya harus kesana untuk menjemput istrinya.


" Apa dia menyelesaikan semua pekerjaannya," batin Aditya yang terus berjalan menuju ruangannya.


Di dalam Restaurant sudah kosong. Hanya ada orang-orang yang membersihkan Restaurant. Aditya menaiki anak tangga dan langsung menuju ruangannya.


Aditya membuka pintu ruangannya dan melihat istrinya sudah tertidur dengan pipinya yang di tempelkan di meja. Tidurnya bahkan sangat lelap sampai tidak menyadari pintu yang di buka lumayan keras.


" Bukannya bekerja. Malah tidur," ucap Aditya kesal dengan istrinya yang tertidur. Aditya menutup pintu pelan dan melangkah masuk dengan perlahan.


Aditya melihat di atas meja. Tumpukan berkas yang tadi di berikannya sudah rapi. Aditya mengambil 1 dokumen yang mungkin adalah hasil pekerjaan istrinya. Aditya membolak-balikkan dokumen itu. Dan melihat ke arah Felly yang masih tertidur.


" Aku tidak menyangka. Jika otaknya encer juga," batin Aditya yang takjub melihat hasil pekerjaan istrinya yang harus di akuinya sangat baik.


Aditya juga harus mengacungi jempol. Karena belum tentu manager di Restaurant miliknya. Mampu menyelesaikan itu dalam waktu yang singkat.


" Jika otakmu bisa berfungsi. Lalu kenapa. Kau lebih memilih untuk menjadi pencuci piring. Ya memang itulah dirimu. Untuk hal seperti itu otak mu tidak kau gunakan memilih pekerjaan yang baik. Kau memang tidak tau bagaimana cara mengelola keahlian," Aditya malah bergerutu seperti mengomeli istrinya yang asyik tertidur.


Aditya menutup dokument itu. Lalu berjongkok tepat di didepan wajah Felly. Yang terlihat sangat cantik saat tertidur. Aditya menatap wajah itu. Tangannya Menyinggirkan anak rambut Felly dari wajah yang cantik itu. Aditya tersenyum tipis. Tidak tau apa arti dari senyum itu.


Aditya kembali berdiri dan membuka jasnya. Lalu menutupkan pada Felly. Tidak menunggu lama. Aditya langsung menggendong Felly ala bridal style.


Felly yang masih tertidur. Refleks mengalungkan tangannya ke leher Aditya dengan wajahnya yang benar-benar menempel di dada Aditya seakan sangat nyama. Aditya yang masih berdiri tegak. Melihat wajah yang semakin lama semakin menggemaskan itu.


" Kau sangat berat," ucap Aditya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Jelaslah dia sangat berat. Yang di gendong Aditya. Bukan hanya 1 orang tetapi sudah 2 karena Felly yang sudah mengandung.

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2