
Laura memberhentikan mobilnya di depan rumah yang mana Damar di rawat di sana. Laura yang berada di dalam mobilnya heran dengan melihat-lihat ke luar.
" Apa aku tidak salah lihat. Sepertinya polisi semakin banyak," batin Laura yang merasa ada yang tidak beres. Perbedaan tempat itu memang sangat jauh dari 2 hari lalu di tinggalnya di mana penjagaan tidak sebanyak ini. Namun sekarang penjagaan begitu ketat.
Laura yang tidak ingin memikirkan apa-apa. Akhirnya langsung keluar dari mobilnya. Laura melihat di sekitarnya dengan keresahan hatinya dan pasti penasaran.
" Nona Laura," tegur salah satu Polisi yang berada di depan Laura yang membuat Laura menghentikan langkahnya.
" Iya pak, ada apa ya?" tanya Laura dengan gugup.
" Ikut kami kekantor Polisi," ucap Polisi tiba-tiba membuat Laura kaget mendengarnya, matanya langsung melotot.
" Kantor Polisi, maksud bapak apa ya?" tanya Laura bingung kenapa dia tiba-tiba di suruh kekantor Polisi.
" Anda harus di periksa oleh penyidik," sahut Polisi tersebut membuat Laura semakin kaget.
" Tunggu-tunggu maksudnya ini apa. Memang saya salah apa, kenapa harus kekantor Polisi dan sekarang mau di periksa," sahut Laura semakin bingung.
" Banyak dugaan, jika anda terlibat atas kaburnya tahanan saudara Damar," ucap Polisi tersebut membuat Laura kaget mendengarnya sampai matanya melotot dengan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang.
" Apa, Damar kabur," sahut Laura dengan napasnya yang sesak dan kata-kata itu sulit di keluarkan.
" Ya, saudara Damar kabur. Kami membutuhkan keterangan nona Laura. Nona Laura harus ikut kami. Apakah nona Laura terlibat dalam hal itu atau tidak. Karena hanya anda satu-satunya orang asing yang masuk ketempat ini," jelas Polisi dengan detail.
" Tidak mungkin. Tidak mungkin Damar kabur. Dia tau dia sedang dalam masa tahanan. Damar bertanggung jawab dalam hukuman yang di dapatkannya. Tidak mungkin tiba-tiba dia kabur. Itu tidak mungkin," batin Laura yang tidak percaya dengan apa yang di katakan Polisi.
" Nona, mari silahkan ikut kami," tegur polisi dengan mempersilahkan Laura berjalan terlebih dahulu.
" Tapi Pak, saya tidak ada kaitannya dengan kaburnya Damar. Bahkan saya juga kaget mendengar ini dari Bapak. Saya juga sudah 2 hari tidak kemari dan saya tidak mungkin berkaitan dengan hal itu," ucap Laura membela dirinya.
" Nanti bisa di jelaskan di kantor polisi. Jadi ayo ikut kami," ucap Pak polisi yang kembali mempersilahkan Laura.
" Bagaimana ini, kemana Damar dan aku sekarang di curigai Polisi karena perginya Damar. Kenapa bisa seperti ini. Apa yang terjadi," batin Laura yang kebingungan sendiri.
Laura pun tidak punya pilihan lain dan Laura harus mengikuti Polisi walau dia tidak tau menau masalah kaburnya Damar. Dia jelas sangat panik dan khawatir.
************
Lusi, Elia, Felly, Bion, dan Aditya berada di rumah yang di mana Elia tinggal.
" Apa Rebecca kabur bersama Damar," tanya Elia dengan wajahnya yang masih panik.
" Tidak tau kak, tapi kemungkinan iya. Damar memang sangat mudah kabur. Apa lagi tempatnya sudah sangat baik," sahut Aditya.
" Bukannya Damar sakit jiwa dan bukannya dia berada di rumah sakit jiwa dan kenapa tiba-tiba kamu mengatakan. Jika Damar mudah kabur," sahut Lusi heran.
" Laura mengajukan untuk pemindahan tempat Damar. Dia sudah tidak di rumah sakit jiwa lagi," sahut Aditya dengan cepat membuat Lusi tampaknya begitu terkejut. Felly yang menyadari sesuatu menyikukan suaminya yang sepertinya kelepasan bicara.
__ADS_1
" Laura. Apa maksud kamu Aditya. Kenapa Laura mengajukan pemindahan Damar. Kenapa dia sepeduli itu?" tanya Lusi dengan wajahnya yang penasaran.
" Hah, itu..." sahut Aditya yang menyadari dia keceplosan dan sekarang jadi kebingungan harus menjawab apa. Aditya melihat istrinya dan Felly menggedikkan bahunya tampak pasrah.
" Kalian menyembunyikan sesuatu?" tanya Lusi mencurigai pasangan suami istri itu.
" Memang ada apa Aditya?" tanya Elia yang juga kelihatan bingung.
" Aditya, ada apa sebenarnya. Ada sesuatu kan yang Tante tidak katahui dari kalian," sahut Lusi, " katakan ada apa!" desak Lusi.
" Maaf Tante, mungkin seharunya Laura yang bicara masalah ini. Tapi jika seperti ini. Aku sama Felly tidak bisa menyembunyikannya lagi," ucap Aditya.
" Ya, sudah katakan ada apa!" desak Lusi yang tampaknya sudah mulai emosi.
" Damar dan Laura mempunyai hubungan yang special," sahut Aditya yang berkata jujur yang membuat Lusi kaget.
" Apa maksud kamu hubungan special. Special seperti apa?" tanya Lusi yang masih dengan wajah terkejutnya.
" Mereka saling mencintai dan mereka berhubungan dan selama ini Laura yang merawat Damar," sahut Felly menambahi yang membuat Lusi spot jantung dan Elia yang juga tidak tau apa-apa kaget mendengarnya.
" Jadi itu alasan anak itu berubah beberapa hari ini. Ternyata ada Pria yang sedang dekat dengannya," sahut Lusi yang tampak geram dengan Laura yang tidak jujur padanya.
Aditya dan Felly saling melihat, jujur mereka juga takut ketika menyampaikan berita yang seharusnya Laura yang menyampaikannya.
" Lalu apa Laura tau Damar kabur?" tanya Elia.
Dratt-dratt-drattt.
Tiba-tiba handphone Lusi berdering dan Lusi langsung mengangkatnya.
" Hallo ini siapa?" tanya Lusi pada sang penelpon.
" Apa, Laura di kantor Polisi," pekik Lusi kaget. Orang-orang yang ada di sana juga sama kagetnya mendengar ucapan Lusi.
" Ya sudah saya akan segera ke sana," sahut Lusi yang langsung menutup telponnya.
" Ada apa Tante. Ada apa dengan Laura?" tanya Felly panik.
" Laura, di kantor Polisi. Dia dituduh atas kaburnya Damar," jawab Lusi panik.
" Apa," sahut Aditya yang begitu terkejut.
" Sudahlah sebaiknya sekarang kita pergi kekantor Polisi," sahut Lusi dengan mendesak . Aditya langsung menganggu begitu juga dengan Felly.
Dan dengan terburu-buru akhirnya mereka semua pergi ke kantor Polisi. Elia dan Bion juga ikut.
***********
__ADS_1
Tidak lama akhirnya mereka sampai di kantor Polisi dan di sana sudah ada Laura yang duduk menunggu dengan wajahnya yang gelisah.
Laura yang melihat kehadiran mamanya langsung berdiri dan menghampiri mamanya.
" Mama," lirih Laura memegang tangan Lusi dan Lusi langsung menepis kasar.
" Ini yang kamu maksud lebih penting iya. Dua saat semua masalah banyak. Di semua heboh. Kamu punya masalah sendiri dengan Pria itu dan ini akibatnya bisa-bisanya kamu berada di sini," ucap Lusi yang langsung marah-marah dengan Laura.
Laura melihat ke arah Aditya dan juga Felly. Aditya dan Felly hanya menjawab mengangguk dan Laura sekarang pasrah yang mamanya sudah tau, jika dia dan Damar berhubungan di belakang mamanya selama ini.
" Kamu benar-benar keterlaluan ya Laura. Dalama masalah genting kamu masih bisa-bisanya mengurusi pria itu!" gertak Lusi dengan penuh emosi.
" Maaf ma, Laura bisa jelaskan," sahut Laura merasa bersalah.
" Apa lagi yang ingin kamu jelaskan hah! perubahan dalam diri kamu sudah terlihat jelas. Semua karena Damar. Kamu di belakang mama diam- menjalin hubungan. Kamu sudah membohongi mama, apa lagi yang ingin kamu jelaskan," ucap Lusi dengan penuh marah-marah yang sudah begitu kecewa dengan Laura.
" Laura tidak bermaksud menutupi apapun dari mama. Laura ingin memberitahukan mama. Tapi waktunya belum tepat," ucap Laura merasa bersalah.
" Lalu kapan tepatnya. Sudah sampai mama akhirnya tau. Iya itu yang tepat," sahut Lusi.
" Mah," lirih Laura memegang tangan Lusi. Namun Lusi kembali menepisnya.
" Lalu apa ini. Apa kamu juga membantunya kabur," ucap Lusi yang langsung menuduh Laura.
" Tidak mah, sumpah Laura tidak melakukannya. Saat Rebecca kabur. Laura buru-buru menemui Damar supaya Rebecca tidak mempengaruhinya. Tapi saat sampai di sana Damar sudah kabur. Damar kabur 2 hari sebelumnya. Sebelum Rebecca kabur dan Polisi menuduh Laura terlibat," jelas Laura apa adanya.
" Damar kabur terlebih dahulu di bandingkan Rebecca," sahut Elia.
" Iya," sahut Laura.
" Apa itu artinya. Damar yang membebaskan Rebecca," tebak Elia. Yang membuat yang lainnya saling melihat yang apa di katakan Elia masuk akal.
" Itu tidak mungkin. Aku sangat mengenal Damar, dia tidak mungkin membebaskan Rebecca," ucap Laura.
" Kamu masih membelanya. Lihat akibat kaburnya dia. Kamu jadi di sini," sahut Lusi yang tampak semakin kesal melihat anaknya itu.
" Maaf ma, tapi sungguh aku memang tidak tau apa-apa mengenai kaburnya Damar dan aku tidak membelanya, aku hanya merasa tidak mungkin," sahut Laura.
" Sudahlah, kita jangan membahas masalah ini lagi. Ini nggak akan ada habisnya jika di bahas terus," sahut Aditya, " Bion kamu urus kepulangan Laura!" perintah Aditya yang tidak ingin basa-basi.
" Baik tuan!" sahut Bion yang langsung menjalankan perintah untuk menyelesaikan masalah Laura. Agar di bebaskan.
" Sebaiknya kita pulang, ayo bicara di rumah," ucap Aditya mengambil keputusan.
" Iya ayo," sahut Felly.
Akhirnya semuanya pun memutuskan untuk pergi dari kantor Polisi dan menyelesaikan permasalahannya di rumah.
__ADS_1
Bersambung