
Aditya jadi kepikiran tentang apa yang di katakan Felly barusan, bahkan tangannya tidak menyuapi Felly lagi. Felly melihat heran suaminya yang tiba-tiba bengong.
" Sayang," lirih Felly menegur suaminya itu. Aditya tersentak sedikit lalu melihat kembali kearah Felly.
" Kok berhenti nyuapi," ucap Felly heran.
" Maaf sayang," sahut Aditya mencoba tenang dan kembali menyuapi istrinya.
" Kamu sedang mikirin sesuatu?" tanya Felly merasa ada yang aneh.
" Tidak sayang, aku tidak memikirkan apapun," jawab Aditya bohong. Aditya tersenyum tipis dan kembali menyuapi Felly.
Ceklek, tiba-tiba pintu kamar terbuka yang ternyata Andre dan Elia yang datang.
" Kak Andre, kak Elia," sahut Felly. Andre dan Elia langsung menghampiri Felly dan Aditya.
Aditya langsung melihat ke arah Andre dan Elia. Seolah Aditya mengamati wajah Andre apa benar yang di katakan istrinya. Jika Andre sedang menyukai kakaknya.
" Felly, tadi kakak ketemu Dokter, dan Dokter bilang besok kamu sudah boleh pulang," ucap Andre.
" Benarkah!" sahut Felly yang terlihat begitu bahagia.
" Benar sayang," sahut Andre.
" Ya, akhirnya bisa pulang juga dan bisa bawa Askar kerumah kita dan bisa beristirahat di kamar bayi yang sudah kita siapkan," sahut Felly dengan wajah penuh bahagianya yabg begitu semangat.
" Aku harus menemui Bion," batin Elia yang dalam pikirannya hanya kepikiran dengan Bion.
" Ehemm, kakak mau keluar sebentar ya," sahut Elia.
" Mau kemana baru juga masuk kemari?" tanya Elia heran.
" Sebentar aja Felly, mau membeli vitamin, mumpung sekalian di rumah sakit. Jadi kakak mau membelinya," ucap Elia yang mencari alasan supaya bisa menemui Bion.
" Biar aku temani ya," sahut Andre. Aditya langsung melihat kearah Andre yang mana Andre memang tidak bisa bohong kalau dia menyukai Elia.
" Jangan-jangan," sahut Elia yang langsung menolak untuk di temani.
__ADS_1
" Udahlah kak, di temani kak Ander aja," sahut Felly yang mendukung kakaknya 100% untuk Elia kakak iparnya.
" Tidak usah, hanya sebentar saja kok," sahut Elia yang benar-benar menolak.
" Ya sudah biarkan saja kak Elia pergi. Lagian tidak kemana-mana juga tetap di rumah sakit ini," sahut Aditya yang berpihak pada kakaknya. Sebagai adik Aditya bisa melihat sebenarnya kakaknya sangat tidak nyaman dengan Andre.
" Ya sudah aku keluar sebentar," sahut Felly tersenyum dan langsung pergi yang tidak ingin membuang waktu banyak.
" Kakak itu sih kurang gercep sama kak Elia," sahut Felly. Andre tersenyum malu dengan menggaguruk- garuk kepalanya.
" Benar kan sayang," sahut Felly pada suaminya yang tampak begitu datar.
" Iya," sahut Aditya dengan dinginnya.
Aditya menjadi lebih diam dan banyak tidak menanggapi ketika mengetahui. Andre menyukai kakaknya dan berusaha untuk mendekati kakaknya.
*********
Elia yang terlihat tidak tenang berusaha mencari-cari di mana keberadaan Bion. Dia memang tidak punya waktu banyak. Dia harus menemui Bion di rumah sakit itu. Karena jika tidak Elia sudah tidak tau lagi harus menemui Bion di mana lagi. Karena Elia tidak memilih kontak Bion lagi.
" Aku sudah mencari-carinya kemana-mana. Tapi aku tidak menemukan. Bahkan di ruangan Gina, aku sama sekali tidak menemukan Bion," batin Elia yang berjalan cepat dengan kepalanya yang berkeliling mencari keberadaan Bion.
Sementara Elia tidak begitu fokus berjalan melihat kedepan. Dia sibuk mencari-cari di mana keberadaan Bion. Sampai akhirnya anak yang lari di depannya itu semakin dekat dan langsung menabraknya.
" Auhhh," lirih Elia yang saking kagetnya langsung berputar dengan wajahnya yang schock dan matanya yang melotot.
Elia yang berputar-putar itu hampir terjatuh yang kehilangan keseimbangannya. Saat ingin terjatuh sebuah tangan menarik tangan Elia dan membawa Elia kedalam pelukannya.
Jantung Elia langsung berdetak kencang saat tubuhnya sudah menempel di pelukan seseorang dengan tangan tangan Elia yang meremas erat baju Pria bagian belakang itu. Napas Elia naik turun saat berada di pelukan itu. Belum melihat siapa yang memeluknya. Tetapi dia sudah sangat begitu nyaman.
Perlahan Elia melepas pelukan itu dan melihat siapa yang sudah memeluknya. Elia di kagetkan dengan Bion yang ternyata memeluknya. Tangan Bion masih memegang ke-2 lengannya dengan mata mereka yang saling bertemu.
Bukan hanya Elia yang kesulitan bernapas. Bion sendiri juga kesulitan bernapas dengan debaran yang sama yang di rasakan Elia di dalam sana.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Bion dengan suara seraknya. Elia menggeleng yang merasa lega. Jika akhirnya bertemu dengan Bion dan pelukan tadi seakan melepas kerinduan yang mana seharusnya tadi Elia tidak melepas pelukan itu.
Perlahan tangan Bion melepas tangan Elia. Dan Elia pun mencoba untuk menyadarkan dirinya sendiri.
__ADS_1
" Lain kali hati-hati lah," ucap Bion. Elia mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Aku pergi dulu," ucap Bion yang tampak tidak ingin mengganggu Elia.
" Tunggu Bion," sahut Elia menahan tangan Bion.
" Ada apa?" tanya Bion heran. Elia menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.
" Aku minta maaf," ucap Elia. Mendengar kata maaf Bion langsung kaget seakan merasa dia salah dengar.
" Soal apa?" tanya Bion heran.
" Soal kemarin, aku minta maaf karena kemarin sudah marah-marah tidak jelas dan bahkan menamparmu. Aku kelewatan, maafkan aku Bion," ucap Elia yang penuh merasa bersalah kepada Bion.
" Elia apa kamu memberiku waktu 5 menit saja untuk bicara kepadamu, beri aku waktu menjelaskan semuanya," sahut Bion dengan wajah sendu yang ingin di harapkan ke sembuhan oleh Bion.
" Ya bicaralah," sahut Elia yang memberi waktu. Meski sudah tau apa yang di bicarakan Bion. Tetapi Elia tetao ingin mendengarnya.
" Terimakasih Elia," sahut Bion. Elia mengangguk.
" Elia apa yang kamu ketahui bukanlah yang sebenarnya. Gina bukan istriku. Gina adalah sepupuku. Ya kamu pasti heran, jika bukan istriku kenapa bicaranya dan tingkah lakunya layaknya seorang istri. Itu semua karena Gina mengalami sakit mental di mana suaminya pergi meninggalkannya saat dia hamil. Maka saat itulah dia menganggap aku adalah suaminya," jelas Bion dengan singkat.
" Elia aku tidak menikah sama sekali. Tidak dengan Gina tidak dengan siapapun. Aku hanya tidak punya pilihan Elia untuk semua ini. Aku terpaksa melakukan semua ini. Maafkan aku Elia yang harus melibatkan kamu atas apa yang terjadi," sahut Bion yang bicara begitu lembut kepada Elia.
Elia mendengarnya merasa lega dengan penjelasan Bion. Dia justru kasihan dengan Bion yang harus menanggung semuanya.
" Elia kamu percayakan kepadaku?" tanya Bion memastikan.
Elia tersenyum mengangguk, jika dia memang begitu bahagia dengan penjelasan Bion.
" Aku mempercayaimu Bion. Makanya aku mencarimu untuk meminta maaf," sahut Elia.
" Kamu mencariku?" tanya Elia heran.
" Hmmmm, aku mencarimu khusus minta maaf kepadamu," sahut Elia. Bion tersenyum mendengarnya yang mana dia jauh lebih lega di bandingkan Elia.
" Terima kasih Elia," sahut Bion. Elia mengangguk lagi.
__ADS_1
Bersambung