
Malam hari tiba ternyata Felly baru selesai memasak. Dari tadi sore dia memasak dan sekarang sudah sudah selai memasak banyak menu makanan.
Sepertinya masakannya akan enak. Tapi ini mungkin akan lebih enak lagi. Karena saat memasak dia senyum-senyum sendiri. Karena suasana hatinya yang memang sedang baik.
" Hmmmm, akhirnya selesai juga," ucapnya sembari meletakkan piring terakhir lauk di atas meja.
" Semuanya sudah selesai. Jam berapa sekarang," ucap nya melihat arloji di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8.
" Aditya sebentar lagi akan pulang. Sebaiknya aku mandi dulu, badanku sudah lengket dan lumayan bau," ucapnya sambil mengendus-endus badannya.
" Jadi ketika aku selesai mandi dia sudah pulang dan akan makan malam," ucap Felly dengan wajah cerianya. Lalu dia pergi langsung menuju kamarnya.
Felly memang agak aneh hari ini tidak tau kenapa dia memang sangat bahagia dan begitu ceria. Tetapi seakan ke cerianya ini lebih bertujuan pada Aditya. Buktinya sekarang dia rela memasak sebanyak mungkin hanya untuk di makan Aditya.
Padahal sebelumnya dia juga sudah lelah membuatkan Aditya sarapan dan juga pernah membuatkan makan malam. Tetapi tidak di sentuh Aditya sama sekali. Bukannya jera Felly malah membuatnya lagi.
Dia membuat dengan senang hati. Mungkin itu juga karena bawaan dari bayinya yang mungkin ingin terus bersama papanya. Jadi harus mengorbankan sang mama.
Aditya pulang bekerja setelah Felly baru masuk kekamarnya untuk membersihkan dirinya yang katanya sangat lengket dan bau.
Aditya langsung berhadapan dengan Bi Warmi memberikan tasnya. Lalu tanpa ada pembicaraan langsung menaiki anak tangga.
" Tuan tidak makan malam?" tanya Bi Warmi membuat langkah Aditya terhenti.
" Aku sudah makan tadi?" jawab Aditya tampak ketus.
" Tapi nona Felly sudah menyiapkannya makan malam tuan," ucap Bibi. Aditya membalikkan tubuhnya melihat bibi sambil membuka kancing lengan bajunya.
" Di mana dia?" tanya Aditya.
" Di kamar nya," jawab Bi Warmi.
" Sekali lagi jangan biarkan di memasak. Mau sarapan atau makan malam. Jangan biarkan dia memegang pekerjaan itu," ucap Aditya memberi pesan.
" Baik Tuan," jawab Bi Warmi menundukkan kepalannya dan Aditya langsung menaiki anak tangga dan benar-benar tidak ingin makan.
Sementara Felly baru keluar dari kamar mandi dengan kimono silver selututnya. Felly langsung berjalan mendekati cermin dengan buru-buru mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.
Karena memang merasa lepek jadi dia harus keramas agar lebih segar. Hanya mengeringkan rambut saja tanpa memakai bedak dan lainnya. Felly langsung ke luar dari kamar dengan tergesa-gesa.
Dia bahkan seperti lupa kalau dia sedang hamil sehingga dengan entengnya dia berlari menuju are dapur.
" Aditya sudah pulang?" tanya Felly ketika bertemu Bi Warmi.
" Sudah nona," jawab Warmi.
" Lalu dia sudah makan?" tanya Felly dengan cepat.
__ADS_1
" Kata tuan, dia sudah makan tadi," jawab bibi pelan.
" Jadi apa itu artinya dia tidak makan lagi masakan ku," batin Felly yang sangat kecewa.
" Kalau begitu saya permisi nona," ucap Bi Warmi langsung pergi. Membiarkan Felly yang kecewa.
" Semenjak aku keluar dari rumah sakit dia sangat dingin kepadaku. Walau memang dulu juga seperti itu. Tetapi dulu dia masih suka marah-marah dan suka memberiku peringatan. Tetapi sekarang dia malah begitu dingin. Bahkan seakan tidak peduli," batin Felly yang sudah bisa merasakan perbedaan Aditya yang dulu dan sekarang.
" Astaga Felly apa yang kau pikirkan," ucap Felly menepuk jidatnya. Seakan menyadari sesuatu.
" Kau tau ini pernikahan sementara. Jadi apa yang kau harapkan dari pernikahan itu. Apa yang kau harapkan. Apa kau gila mengharapkan lebih," Felly mengoceh sendirian. Lalu tangannya tiba-tiba meraba perutnya.
" Tetapi aku merasa ingin dekat dengannya. Aku tidak tau apa yang aku pikirkan. Tetapi belakangan ini aku seperti ingin ada di dekatnya," batin Felly yang sepertinya ingin mendapat perhatian lebih dari Aditya.
Yang mungkin saja dia ingin bermanja. Karena kebanyakan wanita hamil itu suka bermanja-manja dan dia mungkin ingin mendapatkan perlakuan itu.
" Ahhhh, sudahlah, biarkan saja," ucap Felly yang langsung menaiki anak tangga.
Dia juga tidak bisa membicarakan hal itu dengan Aditya. Jadi dia terima saja jika mengalami perang batin yang diam-diam merindukan Aditya. Walau mungkin itu bawaan bayinya. Tapi pastilah untuk ibunya sendiri juga merasakan itu 50-50 lah dengan anak yang di kandungnya.
************
Nyatanya Felly memang selama tinggal di rumah Aditya justru mendapat banyak kegalauan. Dia bahkan terkadang lebih memilih enakan tinggal di rumah Harison yang mungkin bisa 1 kamar dengan Aditya tidak seperti sekarang.
Seolah-olah dia begitu kesepian dan bahkan malam ini di kamarnya dia terlihat takut karena kuatnya suara petir dengan hujan deras yang turun.
Felly berdiri di depan jendela berusaha untuk menutup jendela. Karena cahaya petir membuatnya ketakutan dan belum lagi angin yang kencang dan sehingga Felly begitu ketakutan.
" Aaaaaaa," teriak Felly yang kaget dengan suara sambaran petir sampai dia berjongkok dengan menutup ke-2 kupingnya.
Ceklek.
Aditya yang mendengar teriakan Felly langsung kekamar Felly dan melihat Felly yang berjongkok ketakutan dan membuat Aditya langsung menghampiri Felly.
" Ada apa Felly?" tanya Aditya yang sudah berada di depannya memegang lengan Felly yang tampak bergetar. Wajahnya juga seketika menjadi panik takut sesuatu terjadi pada Felly.
" Aku takut, jendelanya tidak bisa tertutup," ucap Felly dengan suaranya yang bergetar.
Bunyi petir kembali terdengar kuat dan membuat Felly refleks kembali menjerit. Aditya langsung berdiri dan menutup jendela agar Felly tidak berteriak-teriak lagi. Lalu Aditya kembali berjongkok dan membantu Felly berdiri.
" Sudah, aku sudah menetupnya, kamu istirahatlah petirnya di luar dan tidak akan masuk kedalam," ucap Aditya. Felly yang sudah berdiri masih ragu dan jelas wajahnya masih sangat takut.
" Aku keluar dulu," ucap Aditya pamit. Tetapi Felly menahan tangannya. Dan Aditya menghentikan langkahnya.
" Bukan aku yang meminta tapi anak yang ada di dalam perutku. Aku tersiksa jika tidak menuruti apa katanya. Aku tidak bisa tidur jika tidak menurutinya," ucap Felly membuat Aditya bingung dengan maksud perkataan Felly yang tidak jelas.
" Maksud kamu apa?" tanya Aditya.
__ADS_1
" 1 malam saja tidurlah di sini. Atau pergilah jika aku sudah tidur," jawab Felly dengan pelan dan pasti ragu juga malu mengatakan hal itu. Karena memang itu sama saja menurunkan harga dirinya. Aditya mendengarnya cukup kaget.
" Bukannya kau akan histeris jika aku dekat-dekat denganmu," ucap Aditya dengan sindiran dengan menaikkan 1 alisnya.
" Kau Tadikan sudah mendengar apa yang aku katakan di awal. Jika ini permintaan bayinya bukan aku," jawab Felly yang terus menekankan jika bayinya yang menginginkannya. Aditya mendengus namun ada senyum tipis yang terlihat di sembunyikannya.
" Baiklah, tidurlah!" saat Aditya menyetujuinya, Felly terlihat bahagia mendengarnya.
" Apa bayinya juga meminta aku untuk menggendong mu," ucap Aditya menggoda Felly.
" Tidak," sahut Felly dengan cepat dan langsung menaiki tempat tidur. Aditya terlihat geleng-geleng kepala lalu menyusul Felly yang sudah berbaring di atas ranjang.
Begitu Aditya naik Felly yang paling ujung dan Aditya di paling ujung juga. Aditya tampak berbaring lurus. Sementara Felly masih berbaring miring membelakangi Aditya.
Tidak ada pembicaraan lagi setelah sama-sama berada di atas tempat tidur hening dan hanya suara hujan deras yang terdengar dan beberapa kali suara petir.
Aditya langsung memejamkan matanya dan tidak tau dengan Felly yang tampak gelisah dan bahkan matanya tidak mau tertidur.
Sepertinya sudah hampir satu jam mereka berada di atas ranjang bersama. Tetapi Felly malah gelisah terus.
" Ishhhh, kenapa sampai seperti ini, sayang ini berlebihan," batin Felly yang merasa gundah meraba-raba perutnya. Entah apa yang membuatnya gelisah dan tidak bisa tidur yang jelas. Dia merasakan tidak tenang. Padahal Aditya sudah ada di sampingnya.
Felly menengok kebelakang dan melihat Aditya yang sudah tertidur. Felly terlihat seperti menginginkan sesuatu.
Felly pun menggeser tubuhnya dengan perlahan mendekati Aditya dan mengangkat sedikit kepalanya lalu melambaikan tangannya di depan wajah Aditya. Memastikan Aditya sudah sudah tidur atau tidak.
Setelah memastikan Aditya tertidur. Felly yang sudah sangat dekat dengan Aditya mengambil dengan pelan tangan Aditya dan meletakkan di perutnya.
Felly menarik napasnya panjang setelah berhasil melakukan apa yang diinginkannya. Dia juga merasakan tangan Aditya di perutnya seakan membuatnya tenang.
Hanya beberapa helus saja.
Felly mengembalikan tangan Aditya lagi ketempatnya. Lalu dia berbaring miring tanpa menggeser tubuhnya lagi ke ujung.
Beberapa kali Felly membuang napas perlahan. Setelah perutnya di pegang Aditya. Seakan dia merasa lega dan tenang.
Setelah Felly berbaring membelakangi Aditya. Aditya membuka matanya perlahan. Ternyata dia tidak tidur dan pasti tau apa yang di lakukan Felly.
Aditya menoleh kearah Felly, Aditya mendengus lalu memeringkan tubuhnya menghadap punggung Felly. Aditya memasukkan 1 lengannya ke bawah kepala Felly dan langsung memeluk memeluk Felly dari belakang.
Hal itu membuat Felly kaget sampai matanya terbuka lebar. Jantungnya berdebar begitu kencang. Bukan hanya itu Aditya juga mengelus-elus perutnya dengan lembut.
Felly yang ingin menoleh kebelakang tidak berani dan membiarkan saja. Apa yang di lakukan Aditya. Bahkan dia tersenyum tipis saat mendapat perlakuan itu dan perlahan memejamkan matanya.
Aditya juga yang memang bangun tersenyum saat ternyata apa yang di lakukannya tidak membuat Felly heboh seperti biasanya. Felly tampak nyaman dan bahkan terlihat tenang. Karena memang itu yang diinginkan Felly.
Dia ingin mendapat pelukan dari ayah bayinya. Dia merasa nyaman dan tenang bahkan sudah tertidur hanya karena mendapat perlakuan seperti itu.
__ADS_1
Memang itu yang membuatnya gelisah. Dia gelisah karena bayinya yang memaksanya untuk dekat dengan papanya.
Bersambung.....