Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps 78 Peringatan untuk Rebecca.


__ADS_3

" Apa yang tidak mungkin Felly?" tanya Harison.


" Ya semua ini," jawab Felly. Memang tidak akan percaya dengan apa yang di terimanya.


Dia menikah dengan Aditya bukan untuk mengambil keuntungan di tengah-tengah Aditya memanfaatkannya. Jadi jika Harison memberikan dia tanah itu. Sama saja Felly tidak ada bedanya dengan Aditya.


" Felly itu adalah hadiah pernikahan dari ku untukmu," ucap Harison.


" Mana mungkin hadiah pernikahan seperti ini," sahut Felly heran.


" Tidak ada yang tidak mungkin. Ini sudah kusiapkan dari jauh-jauh hari. Itu adalah salah satu pabrik yang sudah terbengkalai selama 5 tahun. Kau bisa menggunakan tanahnya untuk kau kelolah. Karena tempatnya sangat strategis dan sangat bagus," ucap Harison menerangkan sejelas-jelasnya.


" Ini berlebihan kek. Felly tidak bisa menerimanya," ucap Felly yang benar-benar menolak.


" Jangan seperti itu adalah hak kamu. Aku sudah menyiapkan itu untuk menantu pertama di rumah ini. Bahkan aku bertengkar dengan Aditya karena tanah itu," ucap Harison.


" Kakek bertengkar dengan Aditya?" tanya Felly mengkerutkan dahinya. Harison mengangguk.


" Kenapa?" tanya Felly bingung.


" Karena dia menginginkan tanah itu. Aku sudah mengatakan tanah itu hanya untuk menantuku. Tapi dia ngotot dan tetap menginginkannya," jawab Harison.


" Dia mengatakan akan membuat rumah sakit di atas tanah itu. Apapun itu. Tetapi aku sudah menyiapkan untuk menantu pertama. Jadi tidak bisa di berikan pada Aditya. Jadi jangan menolaknya. Itu adalah milikmu dan kau berhak melakukan apapun untuk tanah itu. Mau di jual atau mau di kelolah," lanjut Harison lagi menjelaskan dengan detail pada Felly.


" Tapi kek," sahut Felly masih tetap menolak.


" Jangan menolak terus. Aku sudah mengatakan itu adalah milikmu. Hadiah pernikahan dari ku. Jadi terimalah," tegas Harison sekali lagi.


" Felly tidak baik menolak pemberian. Mungkin aku akan tersinggung jika kamu menolaknya," lanjut Harison lagi dengan wajahnya yang mulai kecewa.


Felly semakin bingung mendengar kata-kata itu. Jelas dia tidak ingin Harison marah kepadanya.


" Apa iya aku harus menerimanya. Bukannya ini sangat berlebihan," batin Felly benar-benar bingung. Jika tidak menerima Harison mungkin akan tersinggung.


" Ayo Felly tanda tangani," desak Harison lagi.


Felly menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan dengan keraguan dia kembali membuka map itu dan mengambil pulpen langsung menandatangani. Harison tersenyum melihatnya.


" Terima kasih, sudah menerima hadiah dariku," ucap Harison.

__ADS_1


" Felly yang makasih kek. Felly tidak tau bagaimana cara membalasnya. Kakek sudah sangat baik sama Felly. Menerima Felly apa adanya dan sekarang malah memberikan Felly hadiah yang Felly tidak tau harus berbuat apa pada tanah itu," ucap Felly yang tidak mampu berkata-kata.


" Felly seperti yang aku katakan. Tanah itu sudah menjadi milikmu dan kau punyak hak atas apapun untuk tanah itu. Aku tidak ikut campur lagi atas tanah itu. Jadi simpanlah suratnya baik-baik," tegas Harison lagi.


" Iya kek," sahut Felly. Mau tidak mau dia memang harus menerima hadiah dari Harison.


**********


Aditya menuruni anak tangga sambil memegang ponselnya.


" Kenapa kakek memanggilnya. Apa kakek ingin mempertanyakan kejadian kemarin. Jangan-jangan dia mengatakan lagi. Jika aku menembak orang," gerutu Aditya terus berjalan sampai anak tangga terakhir.


Aditya memang sangat gelisah. Tidak tau apa yang di bicarakan Felly dengan kakeknya membuatnya sangat penasaran. Aditya yang berjalan terus sampai harus berpapasan dengan Rebecca.


Aditya menghentikan langkahnya ketika melihat wanita itu. Sementara Rebecca melanjutkan langkahnya.


" Jika kau melakukan itu lagi!" ucap Aditya menghentikan langkah Rebecca.


Aditya mundur selangkah tanpa berbalik badan. Berdiri di samping Rebecca dengan arah yang berlawanan.


" Aku mengampuni mu kali ini. Tetapi jika kau berani menganggu istriku. Aku tidak hanya akan mengirim pesan gambar. Tetapi aku mengirim Vidio. Bagaimana aku memutilasi tubuh anak kesayangannya," bisik Aditya penuh ancaman.


" Peringatan hanya sekali saja. Aku berharap kau tidak lupa siapa aku," lanjut Aditya lagi yang membuat Rebecca semakin takut. Rebecca mencoba tenang dan menolehkan kepalanya ke arah Aditya yang menatapnya dengan tajam.


" Apa maksudmu?" tanya Rebecca. Pura-pura santai, pura-pura bego.


Padahal dia terlihat sangat jelas ketakutan. Bibirnya saja bergetar saat bicara. Mendengar pertanyaan itu membuat Aditya mendengus kasar.


" Apa aku harus menunjukkan kepadamu mayatnya lagi. Agar kau mengingat apa yang kau lakukan," sahut Aditya dengan sinis Rebecca terdiam dengan mengepal tangannya.


" Kau dengar. Aku tidak peduli siapa dirimu di rumah ini. Kau istri siapa dan menantu siapa. Tetapi siapapun yang berani-berani mengusik diriku yang termasuk itu juga Felly. Aku akan melenyapkannya jika itu sangat mengganggu. Jadi aku tekankan kepadamu jangan bermain-main denganku. Jika ingin menyerangku. Maka serang aku tanpa melibatkan Istriku. Jika kau sampai berani menyakitinya sedikit saja. Maka kematianmu akan lebih cepat dari pada yang di takdirkan," ucap Aditya dengan penuh penekanan dan penegasan.


Peringatan itu juga lebih dominan pada ancaman. Yang memang layak di berikan pada Rebecca.


" Anak kurang ajar. Jadi dia tau. Jika orang itu. Adalah suruhan ku. Jadi benar dia yang mengirim pesan itu. Seharusnya aku melenyapkannya terlebih dahulu," geram Rebecca di dalam hatinya.


Aditya dan Rebecca sama-sama saling menatap tajam. Seperti 2 orang yang akan bertarung merebut kekuasaan. Mata mereka juga sangat jelas menggambarkan kebencian yang sangat besar.


" Aditya, Rebecca," tegur Harison. Suara lantang Harison membuat Rebecca tersentak kaget.

__ADS_1


Aditya dan Rebecca sama-sama melihat ke arah suara tersebut. Harison dan Felly yang berdiri di ujung anak tangga dan sekarang sudah menuruni satu-per satu anak tangga.


" Apa yang kalian lakukan?" tanya Harison yang sudah berada di depan menantu dan cucunya itu. Dari wajah-wajahnya. Harison sudah bisa menebak jika 2 orang itu. Pasti sedang laga mulut.


" Aku hanya bertanya. Kepada menantu kakek kenapa dia tidak terlihat di acara pernikahanku," jawab Aditya tersenyum. Rebecca langsung terkejut dengan perkataan Aditya.


" Apa! Tante Rebecca tidak. Aku juga memang tidak melihatnya. Kemana dia. Apa dia sangat membenciku sampai tidak datang," batin Felly yang juga penasaran.


Harrison melihat ke arah Rebecca. Dia juga menyadari hal itu. Tidak melihat Rebecca di hari pernikahan Aditya dan memang seharusnya dia mengatakan masalah itu.


" Memang kamu kemana Rebecca?" tanya Harison.


" Sial. Kenapa aku harus di pojokan seperti ini. Papa bisa curiga. Jika aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan ini. Semua ini gara-gara. Anak laknat ini," batin Rebecca yang kepanikan.


" Sepertinya telinganya bermasalah kek. Sampai suara kakek tidak terdengar," sahut Aditya dengan senyum penuh kemenangan. Melihat Rebecca yang mati kutu seperti itu membuatnya sangat bahagia.


" Aditya memang terlihat sangat bermasalah dengan ibu tirinya," batin Felly yang terus memperhatikan exsperesi Aditya yang terlihat bahagia. Sementara Rebecca yang panik.


" Mama sedang sakit. Jadi aku melarangnya untuk datang," sahut Damar tiba-tiba yang datang.


Kedatangan Damar membuat mata mengarah padanya. Damar pun melangkahkan kakinya menghampiri orang-orang yang mengintimidasi mamanya.


" Untung saja Damar datang," batin Rebecca bernapas lega.


" Anak sama ibu. Memang sama. Sangat pintar mengatur situasi," batin Aditya.


" Apa jawabannya sudah dapat di dengar," ucap Damar.


" Benar pa, aku sedang sakit. Tubuhku sangat lemas dan sulit berjalan. Jadi aku tidak bisa datang ke acara itu," ucap Rebecca menambahi.


" Oh, begitu rupanya," sahut Harison menganggapi biasa.


" Kalau begitu cepatlah sembuh. Agar punya tenaga untuk berpikir apa lagi yang harus di lakukan," sahut Aditya penuh sindiran.


" Terima kasih atas sarannya. Mama akan secepatnya sembuh," sahut Rebecca tersenyum pada Aditya.


" Mama. Dia masih saja menyebut dirinya sebagai ibuku. Sangat tidak tau malu," kecam Aditya.


" Aku harus lebih hati-hati. Aku tidak akan membiarkan Aditya terus menang dan bahkan tau semua apa yang aku lakukan," batin Rebecca tetap terlihat santai agar tidak ada yang mencurigainya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2