Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps 216 antara hidup dan mati.


__ADS_3

" Kak Elia," lirih Aditya yang masih bisa menyebutkan nama itu.


Aditya kembali meneteskan air mata saat tangan gemetar sang kakak yang menembak Leon. Mungkin Aditya semakin hancur Karena membiarkan kakaknya kembali melihat orang yang menghancurkan hidup sang kakak.


Felly pun langsung melepas pelukan itu dan melihat kebelakang dan Felly kaget saat melihat Leon sudah mati dengan berlumur darah dan lebih kaget lagi saat melihat Elia yang ternyata menembakkan Leon.


" Kak Elia!" lirih Felly.


Tidak sampai di situ ternyata Elia mengarahkan peluru pada Wiliam yang masih berdiri dengan wajah kagetnya. Yang melihat temannya mati.


" Seharusnya aku yang membunuh kalian ber-2. Aku yang seharusnya melakukannya," sahut Elia penuh dengan kebencian menatap William dengan arah pistol tepat di dada Wiliam.


" kurangi ajar," sahut Wiliam.


" Turunkan senjatamu," tiba-tiba terdengar suara teriakan yang keras. Dan terdengar kembali suara langkah kaki yang cepat seperti gerak jalan dan tempat itu dan dalam sekejap tempat itu langsung di kerumuni orang-orang yang dengan tubuh-tubuh tegap dengan kembali mengeluarkan senjata yang mungkin itu adalah sisa dari anak buah Wiliam dan Leon.


Orang-orang tersebut kembali mengepung tempat itu dan Elia seketika menjadi takut. Dengan mereka yang sudah di kepung. Dengan pistol yang mengarah pada Elia, Felly, dan juga Aditya.


" Memang kalian harus mati, secara bersamaan di tempat ini," sahut Wiliam merasa menang melihat anak buahnya yang berdatangan.


" Ya Allah, bagaimana ini, apa yang akan terjadi setelah ini. Aditya sudah terluka parah. Aku mohon ya Allah berikan kami pertolongan," batin Felly yang ketakutan melihat situasi yang di hadapinya.


" Cepat turunkan senjatamu. Jika tidak peluru ini akan masuk ke tubuhmu," sahut salah satu Pria yang memberikan ancaman.


" Paling tidak sebelum aku mati, aku bisa melihatnya mati di depanku," sahut Elia yang tampaknya tidak peduli.


" Kau benar-benar keras kepala, sama sepertinya. Kau sungguh berani," sahut Wiliam


Aditya yang sangat kesulitan membuka matanya lebar. Sangat takut jika terjadi sesuatu pada kakaknya. Tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.

__ADS_1


Pria yang menodongkan senjata kepada Elia tampaknya akan bertindak. Dia sudah ingin menarik pelatuk pistol dan Aditya dapat melihat itu. Tetapi Elia tidak dan hanya fokus melihat Wiliam.


Aditya tampaknya ingin berteriak. Tetapi tidak sanggup sama sekali. Dan hanya bisa pasrah. Saat sang kakak pun akan mati di hadapannya. Di tengah-tengah aksi Pria itu. Tiba-tiba banyak terdapat asap di ruangan itu. Seperti semprotan alat pemadam api.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.


Mereka terbatuk-batuk dan tidak bisa melihat apa-apa. Felly mengipas-ngipas wajahnya dan kaget melihat tempat itu yang sudah berubah.


Tiba-tiba ada seorang Pria yang menghampiri Felly dan Aditya. Walau terkena asap dan dan tidak melihat apa-apa. Tetapi Felly bisa mengenali orang itu.


" Kak Andre," ucap Felly.


" Ayo cepat, bawa Aditya," sahut Andre dengan buru-buru dan Felly dengan wajah kagetnya mengangguk dan langsung membantu Aditya berdiri bersama dengan Andre sang kakak.


" Kurang ajar, siapa yang membuat seperti ini!" teriak Wiliam. Yang terus mengipas-ngipas wajahnya sampai asap berkurang dan mereka melihat tempat itu sudah tidak terlihat Aditya, Felly dan Elia.


Felly dan Andre membawa Aditya masuk ke mobil dan Elia bersama Bion membantu Elia juga masuk ke mobil.


" Ayo cepat!" perintah Andre dan Bion mengangguk lalu langsung memasuki kursi pengemudi. Setelah melihat yang lainnya sudah masuk dan Andre duduk di samping Bion. Elia Aditya dan Felly berada di belakang. Bion langsung menyetir dengan kecepatan tinggi.


Sementara Aditya sudah semakin sekarat dengan bajunya yang sudah berlumur darah dan Felly dan Elia begitu panik dengan Aditya.


" Bertahanlah Aditya. Aku mohon bertahanlah," ucap Felly yang terus menangis dan tangannya yang tidak lepas menggenggam tangan Aditya.


" Aditya, ini kakak. Kamu harus kuat. Semuanya belum selesai. Kakak tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jika kamu tidak ada. Jadi bertahanlah," sahut Elia yang sangat takut melihat kondisi adiknya yang tidak sadarkan diri.


" Kak, ayo kita bawa Aditya Kerumah sakit, ayo cepat kak," ucap Felly pada Andre.


" Kamu tenang ya Felly, kita akan membawanya. Kamu jangan panik," sahut Andre yang juga ikut menenangkan adiknya.

__ADS_1


" Kamu harus bangun Aditya. Kamu harus hidup. Aku mohon Aditya. Bangunlah dan jangan tinggalkan aku. Aku mohon Aditya," ucap Felly yang terus menangis. Felly dan Elia terus menangisi Pria yang tidak sadarkan diri itu.


*************


Tidak tidak di rumah sakit, entah di mana itu. Tetapi Aditya berada di sebuah kamar yang ditangani 3 Dokter Pria sekali gus. Itu terlihat di sebuah rumah dan di dalam kamar yang cukup mewah dengan kelengkapan alat medis di rumah sakit itu.


Di mana Aditya sudah bertelanjang dada dengan mesin yang menempel di sekitar dadanya yang tidak tau apa itu. Ada juga alat pernapasan dan lainnya yang benar-benar tubuh Aditya di penuhi alat mesin. Dan pasti ada monitor jantung untuk memastikan setang jantung Aditya.


Felly, Elia, dan Bion juga berada di dalam kamar itu dari kejauhan 5 meter dari tempat tidur mereka berdiri menyaksikan sendiri Dokter menolong Aditya.


Mengoperasi Aditya, mengeluarkan peluru dari dada Aditya. Felly yang berada di pelukan sang kakak terus menangis dengan tubuhnya yang bergetar saat melihat suaminya yang mempertaruhkan nyawa.


Elia juga menangis di samping Bion yang sebenarnya tidak sanggup melihat apa yang terjadi pada adiknya. Dia sangat takut jika sang adik akan pergi terlebih dari dia.


Luka yang di dapatkan Aditya memang begitu parah sampai Dokter yang pasti Bion yang menyiapkannya Dokter-Dokter hebat itu.


" Ya Allah, aku mohon, berikan Aditya keselamatan. Aku mohon selamatkan nyawanya. Aku ingin menghabiskan hidupku bersamanya. Aku mohon ya Allah, jangan biarkan dia pergi. Jangan ambil dia dari ku ya Allah," batin Felly yang terus berdoa.


Felly seakan melupakan sakit hatinya. Melihat Aditya yang bertaruh dengan nyawa membuatnya ingin merasakan sakit di tubuh Aditya.


Luka Aditya pasti semakin parah karena tadi Aditya melindunginya. Dalam keadaan sekarat. Aditya masih bisa melindunginya dan membuatnya juga merasa bersalah.


Andre terus memeluk adiknya untuk memberi ketengan pada adiknya. Dia sebenarnya ingin membawa Felly keluar dari tempat itu. Dia tidak sanggup melihat Felly yang harus menyaksikan sendiri suaminya sekarat.


Tetapi Felly tetap kekeh dan ingin berada di sisi Aditya. Walau dia sebenarnya tidak akan siap jika Aditya benar-benar akan meninggalkannya.


" Aditya bertahanlah, aku mohon. Kamu harus tetap hidup. Aku mencintai mu Aditya. Aku mohon hiduplah untuk cintaku," batin Felly yang mengungkap perasaannya. Dia berharap suara hatinya sampai ke telinga suaminya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2