Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps 180 Felly sakit.


__ADS_3

Aditya berada di dalam kamar tamu dengan duduk di lantai yang menyadarkan tubuhnya di pinggir ranjang dengan satu kakinya lurus dan satunya di tekuknya.


Aditya memijat kepalanya yang tampak sterss mungkin masalah yang sangat banyak membuat Pria tampan itu terlihat frustasi dan di tambah terlihat jelas sangat galau.


..." Aku melakukannya karena aku cemburu,"...


..." Aku sangat cemburu, melihat kamu dan Laura. Aku seakan ingin menonjol di depanmu dan kamu lebih berbagi dan melibatkan ku di bandingkan Laura,"...


..." Aku jatuh cinta. Karena kamu yang terlebih dahulu jatuh cinta padaku," sahut Felly....


Kata-kata Felly terus melintas di dalam pikirannya. Bahkan Aditya terus membuang napasnya kasar kedepan. Aditya terlihat mengacak rambutnya frustasi dan melihat arloji di tangannya yang menunjukkan pukul 11 malam.


Aditya berdiri dari tempatnya dan langsung keluar dari kamar. Aditya melangkahkan kakinya untuk keluar rumah. Saat melewati kamarnya yang di mana ada Felly.


" Achim," terdengar suara barsim yang membuat langkah Aditya terhenti Aditya menuju kamar Felly. Dan pintu yang terbuka sedikit memperlihatkan Felly yang di atas tempat tidur dengan pakaian yang sudah di gantinya barsim-barsim.


" Achim, achim," hidung Felly terlihat gatal. Makanya Felly sampai barsim-barsim yang pasti itu dari efek main hujan-hujanan. Aditya masih berdiri di depan pintu dan hanya melihat Felly yang barsim-barsim.


Aditya ingin melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar itu. Tetapi langkahnya terhenti tiba-tiba.


..." Kalau kau tidak peduli. Kau tidak mungkin menyusulku ke kolam dan membawaku kemari,"...


Kata-kata Felly yang baru beberapa jam di ucapkan Felly yang harus menghentikan langkah Aditya. Ada pertahanan di dalam dirinya yang tidak ingin menunjukkan kepeduliannya kepada wanita itu. Walau pasti di dalam hati kecilnya dia memang langsung cemas dan langsung ingin bertindak saat melihat Felly yang tampak sakit.


Aditya menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan dan hanya melihat Felly yang barsim-barsim tanpa masuk kedalam kamar itu untuk menyakannya apa yang terjadi, atau mengecek kesehatan Felly dan mungkin harus memberi Felly obat.


Aditya tidak melakukan hal itu dan memilih pergi untuk melawan semua perasaannya pada istrinya yang mungkin sudah semakin membesar.


Sementara Felly terus barsim-barsim dan belum lagi tubuhnya yang menggigil dan pasti akibat terkena hujan yang akhirnya membuat tubuhnya tidak sehat.


Aditya berpapasan dengan pelayan saat ingin menuruti anak tangga membuat pelayan menundukkan kepalanya di depan Aditya.


" Berikan dia obat, flu dan juga pastikan dia baik-baik saja dan beri dia makan," ucap Aditya memberi perintah.

__ADS_1


" Baik tuan!" sahut pelayan dan langsung pergi.


Aditya pun melanjutkan langkahnya. Sekeras apapun hatinya. Dia tetap peduli pada Felly.


**********


Pagi hari kembali tiba. Aditya dan Elia sarapan bersama tanpa adanya Felly di meja makan.


" Di mana Felly?" tanya Elia yang sudah menunggu lama. Tetapi Felly tidak turun juga. Aditya diam dan tidak menjawab dia juga tidak tau kenapa Felly tidak juga turun untuk sarapan.


" Aditya!" tegur Elia yang tidak mendapat respon dari adiknya.


" Iya kak kenapa?" tanya Aditya.


" Kakak bertanya di mana Felly? kenapa dia belum turun juga? Bukannya dia harus sarapan?" tanya Elia lagi.


" Aku tidak tau," jawab Aditya tampak ketus dan Elia mengkerutkan dahinya mendengar jawaban sang adik.


Tiba-tiba Bi Warmi lewat dengan membawa makanan yang di susun di dalam nampan.


" Dari kamar non Felly nona. Makanan tadi malam yang tidak di makan sama non Felly," jawab Bi Warmi membuat Aditya berhenti makan sejenak.


" Lo, kenapa. Jadi Felly tidak makan tadi malam," sahut Elia yang langsung panik.


" Benar. Non Elia dan bibi juga menyuruh untuk sarapan. Tetapi non Felly tidak mau," jawab bibi lagi pelan. Bukan hanya Elia yang panik. Aditya yang terlihat tidak peduli. Tetapi wajahnya tidak bisa bohong. Jika dia mencemaskan Felly.


" Kok, bisa gitu. Memang ada apa dengan Felly?" tanya Elia yang langsung gelisah.


" Tadi bibi cek, non Felly, sedang tidak enak badan dan tubuhnya juga panas," jawab Bi Warmi. Jelas Aditya semakin panik mendengar hal itu. Elia melihat ke arah Aditya yang tampak diam tanpa merespon apa-apa.


" Kenapa istri kamu Aditya?" tanya Elia.


" Bukannya bibi sudah menjawab. Kenapa bertanya kepadaku," sahut Aditya yang membuat Elia benar-benar pusing dengan adiknya.

__ADS_1


" Ya lalu kenapa kamu di sini. Istri kamu sedang sakit. Kamu kok malah sarapan di sini dan bukan melihat keadaannya," ucap Elia yang tampak kesal.


" Jika dia sakit telpon Dokter," ucap Aditya melihat ke arah bibi.


" Baik tuan!" sahut Bi Warmi yang langsung pergi.


" Lalu kamu hanya di sini saja gitu," sahut Elia tampak kesal.


" Aku sibuk. Aku harus kekantor," sahut Aditya berdiri lalu langsung pergi yang tampaknya tidak mempedulikan ucapan kakaknya dan apa lagi Felly yang jelas di dengarnya jika Felly sedang sakit.


Aditya berusaha membantah perasaannya. Dia benar-benar tetap keras dengan hatinya yang tidak ingin berdamai dengan perasaannya yang walau tau apa yang di lakukannya sungguh sangat menyakiti dirinya sendiri.


**********


Felly berada di dalam kamarnya yang sangat lemah dan bahkan tidak bisa melakukan apa-apa. Suhu tubuhnya yang panas dan di tambah perutnya yang kosong membuatnya benar-benar tidak berdaya.


Felly mencoba untuk duduk dan menyibakkan selimut penghangat tubuhnya itu. Felly perlahan turun dari ranjang dan dengan sekuat tenaganya, melangkah mendekati jendela.


Membuka tirai jendela dan matanya langsung melihat ke bawah di mana ada Aditya yang berbicara serius dengan Laura. Laura yang memang kapan saja akan ada di rumahnya.


" Kenapa Laura, kenapa bukan aku," ucap Felly yang tampaknya sakit melihat Aditya harus bicara dengan Laura dan dia sama sekali tidak di pedulikan.


" Tidak, tidak mungkin Aditya. Kamu tidak mungkin mengacuhkanku. Mungkin kamu sibuk makanya tidak mendatangiku. Aku tau kamu tidak akan bisa melihatku sensara. Aku tau itu," batin Felly yang berusaha menguatkan dirinya.


Dia sedang berusaha untuk memperbaiki semuanya. Jadi dia harus sabar dengan Aditya yang sangat dingin kepadanya.


" Uhuk, uhuk, uhuk," Felly terbatuk-batuk dengan menutup mulutnya dengan satu tangannya dan wajahnya yang benar-benar sangat pucat.


" Baiklah, kalau begitu, aku rasa sudah cukup, masuklah!" ucap Aditya pada Laura. Laura mengangguk dan masuk kedalam mobil. Ternyata Aditya melihat Felly yang sedang mengawasinya dari kaca mobil yang memperlihatkan bayangan Felly.


" Hentikan semuanya Felly. Jangan mencoba menggoyahkan ku. Cinta tidak mungkin di dalam hidupku. Kau hanya akan semakin menderita jika perasaanmu semakin dalam," batin Aditya memasuki mobil menyusul Laura.


Aditya tampaknya tidak ingin Felly memiliki perasaan itu terlalu besar padanya. Karena situasi yang Aditya hadapi begitu berat dan pasti akan mencelakai Felly. Tetapi Felly hanya ingin situasi berat itu di hadapi bersama-sama. Masih ada benteng yang membuat cinta mereka belum bisa bersatu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2