
Acara peresmian rumah sakit itu berjalan dengan lancar dan sekarang Aditya sedang menemani istrinya berjalan-jalan melihat kamar-kamar di rumah sakit itu dengan tangannya yang terus berada di pundak istrinya.
" Sangat luas berapa lama kamu membangunnya?" tanya Felly.
" Beberapa bulan. Kamu hitung saja sendiri," jawab Aditya singkat. Felly menatapnya kesal.
" Apa susahnya mengatakannya. Kenapa kamu suka sekali membuatku kesal," jawab Felly.
" Apa salahnya kamu berpikir," sahut Aditya. Hanya membuat Felly semakin kesal.
" Ayo aku tunjukkan ruangan mu," ucap Aditya. Felly mengangguk dan menunjukkan ruangan. Aditya membuka pintu ruangan itu dan mereka bersamaan memasukinya dan melihat luasnya ruangan itu. Lengkap dengan tempat duduk Felly dengan meja yang tertulis Dokter Felly.
" Aku belum jadi Dokter, kenapa langsung di tulis," ucap Felly.
" Itu menandakan kamu harus cepat-cepat menjadi Dokter," ucap Aditya.
" Iya deh terserah kamu," sahut Felly yang kembali melanjutkan langkahnya dengan melihat-lihat ruangan itu dan Rendy hanya diam berdiri membiarkan istrinya menjelajahi ruangan itu. Felly membuka pintu kamar mandi, kamar mandinya juga sangat luas dan begitu lengkap.
Felly juga heran melihat satu lagi pintu dan akhirnya membukanya penasaran dan malah melihat kamar lengkap dengan tempat tidur dan terlihat sangat nyaman.
" Kenapa ada kamar di sini?" tanya Felly heran. Aditya melangkah mendekati istrinya berdiri di depan istrinya.
" Ini untuk kamu istirahat dan sekalian untuk kita berdua. Kalau kita sudah pengen dan tidak sempat untuk pulang," ucap Aditya santai. Felly mengkerutkan dahinya mendengarnya.
" Isshh, otak kamu itu ya benar-benar kotor," sahut Felly kesal.
" Kenapa kotor, apa ada yang salah dengan hal itu. Bukannya hal intim seperti itu harus sering kita lakukan," ucap Aditya dengan menyunggingkan senyumnya.
" Ishhh, kamu ini, aku tidak mau," sahut Rania langsung menolak. Dan Aditya langsung mendekati Felly, membuat Felly panik dengan suaminya yang sudah berada di depannya dengan tangannya membelai-belai rambut Felly.
" Istriku yang cantik kenapa terus seperti ini. Kamu terus menolak. Tapi kalau sudah di atas ranjang pasti kamu tidak mau lepas dan ingin menguasai," ucap Aditya dengan seriangi nakal di wajahnya menggoda Felly.
" Kapan aku seperti itu," geram Felly yang masih mengelak.
" Sudahlah Felly jangan terus jual mahal bukannya kita sedang membuat program untuk junior di dalam sana," ucap Aditya melihat perut istrinya.
" Kamu tidak mau mengandung anakku?" tanya Aditya memastikan dengan menaikkan 1 alisnya.
" Aku mau, tapi kamu jangan sering-sering meminta hal itu," sahut Felly dengan pelan yang tidak berani lihat Aditya. Dan Aditya pasti tersenyum mendengar kata-kata Felly.
" Kalau begitu katakan. 1 hari berapa kali, 2,3 atau berapa," ucap Aditya menyondongkan wajahnya kehadapan Felly membuat Felly semakin kesal.
__ADS_1
" Tidak setiap hari," geram Felly dengan kesal.
" Lalu Seminggu berapa kali?" tanya Aditya yang terus menggoda Felly.
" Itu terserahku," jawab Felly ketus.
" Jadi kamu yang menentukannya?" tanya Aditya. Felly mengangguk.
" Lalu bagaimana aku, jika aku menginginkannya dan kamu tidak?" tanya Aditya.
" Bukannya kamu selalu menginginkan setiap hari aku mana bisa mengimbangi hal itu," ucap Felly dengan wajah cemberutnya. Pasangan itu memang sedang membahas masalah ranjang.
" Hmmm, baiklah kalau begitu. Kita cari jalan tengahnya saja," sahut Aditya.
" Sudahlah, Aditya, jangan membahas masalah itu lagi. Terserah kamu deh maunya kapan. Tapi tidak sekarang. Tidak setiap hari juga," tegas Felly yang membuat peraturan dengan tegas.
" Oke, aku setuju," sahut Aditya merasa menang dari Felly dengan wajahnya yang tersenyum puas.
" Ishhh, menyebalkan," geram Felly yang memang terpaksa mengatakan hal itu. Agar Adita Diam. Adita mendengus tersenyum dan menarik Felly kedalam pelukannya.
" Jangan cemberut. Kamu sangat jelek jika cemberut," ucap Aditya.
" Siapa cemberut," sahut Felly yang tidak membalas pelukan suaminya.
Ternyata hanya dengan ucapan cinta bisa merubah suasana hati Felly. Bahkan wajahnya begitu indah dengan senyumannya.
" Ayo kita makan di luar," ajak Aditya.
" Makan di mana?" tanya Felly yang masih berpelukan dengan suaminya.
" Di mana saja, yang kamu mau," jawab Aditya.
" Baiklah, aku mau," sahut Felly melihat suaminya dengan kepalanya mendongak.
" Tapi kita sekalian jalan-jalan," ucap Felly yang ingin jalan-jalan.
" Baiklah tuan putri," sahut Aditya. Felly tersenyum lebar lalu berjinjit mencium pipi Aditya membuat Aditya mendengus dan memeluk erat Felly.
Memang benar kata Aditya. Semua hanya kemauan Felly saja. Lihatlah sesukanya mencium Aditya dan kalau Aditya melakukan itu duluan pasti Felly banyak protes dan akan ada ngambek-ngambekkan. Ya Felly memang penguasanya. Tubuh Aditya pun dia yang menguasainya.
***********
__ADS_1
Pasangan itu menikmati makan siang bersifat outher yang duduk bersebelahan di bangku memanjang yang langsung mengarah kepantai menikmati suasana pantai dari teras atas Restaurant.
Tiupan angin yang membuat rambut Felly menari-nari. Aditya yang duduk di sampingnya beberapa kali menyelipkan rambut istrinya itu ke belakang daun telinganya.
Sesekali mereka juga saling menyuapi bahkan mereka memesan air kelapa hanya 1 dengan sedotan 2 agar bisa romantis-romantisan dalam makan siang mereka.
" Sayang tolong kamu bisa pesan kan aku lagi," tiba-tiba Felly membalikkan tubuhnya melihat pasangan yang tidak jauh dari mereka yang juga tidak kalah romantisnya bahkan memanggil dengan sebutan sayang membuat Felly menoleh ke arah Aditya.
" Ehem," Felly berdehem membuat Aditya menoleh ke arahnya.
" Kamu butuh sesuatu?" tanya Aditya.
" Tidak sih," jawab Felly.
" Lalu?" tanya Aditya heran. Felly menoleh kebelakang dan Aditya melihat apa yang di lihat istrinya. Yang mana pasangan itu masih tetap berbicara dengan panggilan sayang.
" Mereka berbicara terlihat sangat romantis. Kita sudah menikah, tapi kita tidak ada panggilan khusus," ucap Felly dengan mengaduk-aduk air kelapanya dengan sedotannya. Membuat Aditya mendengus yang mengerti maksud istrinya.
" Kamu ingin kita punya panggilan khusus?" tanya Aditya. Felly mengangguk-angguk.
" Kamu mau panggilan apa, sayang?" tanya Aditya.
" Itu sudah biasa. Aku tidak mau sama dengan orang lain," sahut Felly yang tampaknya pilih-pilih.
" Lalu apa, honey, sweeti baby, yayang atau apa yang kamu inginkan?" tanya Aditya memberikan Felly pilihan dan Felly berpikir dengan mengetuk-ngetuk jarinya di bibirnya.
" Aku mau kamu memanggilku dengan sebutan Bee," sahut Felly membuat Aditya menyerngitkan dahinya.
" Artinya?" tanya Aditya.
" Ya tidak ada artinya. Aku hanya ingin kamu memanggil ku bee aku juga akan memanggilmu bee," ucap Felly. Aditya merasa aneh dengan panggilan itu. Jelas itu bukan dirinya. Tetapi menuruti Felly adalah keharusan dalam hidupnya.
" Bagiamana?" tanya Felly.
" Baiklah, Bee," sahut Aditya membuat Felly tertawa geli sendiri dia yang mau tapi dia yang kegelian memang Felly sangat aneh.
" Tapi satu syarat," sahut Felly lagi tiba-tiba memberikan suara.
" Syarat apa lagi?" tanya Aditya heran.
" Kalau kita sedang di tempat ramai-ramai jangan memanggilku sebutan itu. Panggil dengan nama saja. Nama biasa. Kalau kita berdua saja baru memanggilku dengan bee," ucap Felly. Aditya mendengus mendengarnya yang dia tau Felly juga sebenarnya malu dengan panggilan yang di buatnya sendiri.
__ADS_1
" Setuju?" tanya Felly. Aditya mengangguk membuat Felly tersenyum lebar dan Aditya mengusap pucuk kepala Felly dengan acak. Kebahagian mereka memang sangat simple.
Bersambung