
Hair Dryer itu terlepas dari tangan Aditya. Memegang ke-2 bahu Felly dan tatapan mata Aditya semakin dalam kepada Felly. Tangan Felly masih memegang pipi Aditya dengan mengusap-usap pipi itu lembut. Yang mungkin hanya di lakukannya saat Aditya tertidur. Tetapi sekarang dia sangat berani melakukannya.
Felly yang akan sadar dengan apa yang di lakukannya langsung melepas tangannya dari Aditya dengan cepat.
" Maaf," ucap Felly semakin gugup dan mengalihkan pandanganya dengan tangannya yang kembali saling bertautan erat di atas pahanya.
Aditya tersenyum tipis melihat kecanggungan Felly dan wajah Felly yang sudah memerah. Karena ulahnya sendiri. Bukan Aditya namanya yang di pancing dan tidak mungkin membiarkan begitu saja.
Aditya memegang dagu lancip Felly sehingga wajah Felly kembali sejajar dengannya, tetapi pandangan mata Felly masih menunduk. Aditya mengecup bibi Felly yang menjadi candu untuknya itu. Saat kecupan hangat itu hinggap di bibirnya, membuat mata Felly terpejam dengan getaran hati semakin tidak bisa di kendalikan.
Tidak hanya mengecup bibi Felly, Aditya juga mencium kelopak mata indah yang tertutup itu. Felly semakin meremas tangannya saat sentuhan itu benar-benar membuatnya melayang dan napasnya sudah terdengar naik turun.
" Kamu harus tenang Felly, tidak ada yang salah dalam hal ini," batin Felly.
Felly membuka matanya perlahan dan melihat Aditya yang mata Aditya menatapnya kembali dengan Aditya kembali memegang pipinya.
" Aku menginginkanmu malam ini," ucap Aditya dengan suara seraknya. Suara yang lebih tepat di katakan begitu menggoda dan membuat Felly merinding.
Felly terdiam tanpa bicara, mengiyakan atau menolak. Tetapi Aditya mencium keningnya. Aditya memulai semua dengan manis. Yang tidak membuat Felly takut justru menginginkan hal yang lebih.
Aditya memegang tangan Felly yang berada di atas paha Felly, ikut menggenggam erat
sementara wajah Aditya semakin di dekatkan dengan Felly.
" Aku benar-benar ingin menghabiskan malam bersamamu," bisik Aditya di telinga Felly, membuat Felly semakin merinding, bahkan Aditya mencium lembut telinga Felly dan tidak hanya sampai di situ. Aditya bahkan mencium leher jenjang Felly.
Tidak ada penolakan dari Felly. Justru genggaman tangan Felly yang di genggam Aditya. Sudah menjelaskan segalanya. Jika karya Aditya di lehernya membuatnya menikmatinya dan tidak menolak sama sekali.
Pikiran Felly Benar-benar melayang bahkan terdengar suara napas Felly yang naik turun dan hal itu membuat Aditya tersenyum miring dan semakin semangat menciptakan karya baru di leher itu.
Aditya juga perpindah mencium bibir Felly, ******* lembut dengan permainan yang kembali dia jadi pemimpin, karena dia sangat ahli dalam hal itu.
__ADS_1
Tidak ada penolakan dari Felly membuat Aditya semakin memperdalam ciuman itu. Ingin menelusuri isi di dalam mulut istrinya bahkan menghantarkan Felly yang sudah berbaring di bawahnya dan tubuh kecil Felly yang sudah di tindihnya.
Dia sudah menguasai Felly. Felly berada di bawah kungkungannya. Tangan Aditya di bawah sana telah memberikan sensasi pada Felly yang membuat Felly semakin menggila. Jika biasanya hatinya mengatakan tidak dan tubuhnya menginginkannya.
Tetapi tidak kali ini hati dan tubuhnya menginginkan semua itu. Tanpa ada ada penolakan.
Gairah Aditya semakin tinggi ketika Felly, merespon dengan baik, dan tidak munafik jika Felly juga bergairah panas seperti Aditya.
Dratttt, Dratttt, Dratttt. Ponsel Aditya yang berdering harus membuat Aditya yang sibuk memberikan tanda di leher istrinya. Harus mengangkat kepalanya.
Terlepas dari sentuhan Aditya, membuat Felly merasa kehilangan. Napas keduanya terlihat naik turun, seperti sangat lelah atau sedang di kejar-kejar. Sangat tidak stabil.
Aditya melihat mata Felly yang sudah sayu. Felly menoleh kesamping tempat ponsel itu terus berdering dia melihat panggilan masuk dari Laura dan Aditya juga melihat panggilan masuk itu.
Aditya dan Felly saling melihat dengan gairah mereka yang semakin tinggi dengan deru napas yang naik turun. Tangan Aditya ingin mengembil ponsel yang berdering.
Belum sempat Aditya mengambilnya. Felly dengan suara napas yang naik turun itu sedikit memajukan wajahnya menaikkan kepalanya sedikit dan mengecup bibir Aditya.
Dan Aditya yang kembali di pancing langsung membalas ciuman itu dan benar-benar melupakan panggilan telpon itu.
Ternyata kecemburuan membuat Felly, bisa menjadi wanita liar. Liar di atas ranjang maksudnya. Yang memang dia juga tidak tau belajar dari mana bisa melakukan hal senekat itu. Tetapi dia yang menginginkan Aditya bersamanya dan melanjutkan apa yang harus di lanjutkan Aditya dan menghilangkan pengganggu untuk malam mereka.
Tangan Aditya bahkan mampu melepas pakaian yang melekat di tubuh Felly, melempar kesembarang tempat dan mereka yang benar-benar polos dan hanya di tutupi di dalam selimut putih.
Sampai pemanasan dan sentuhan yang di berikan Aditya cukup lama dan membuat Felly semakin terhanyut. Sampai akhirnya Aditya melakukan penyatuan dan hal itu masih sama sakitnya saat Aditya melakukan dulu kepadanya.
Remasan tangan Felly di seprai membuktikan betapa sakitnya itu dan bahkan air matanya keluar dari kelopak mata itu.
Ingin memberikan Felly kenyamanan Aditya menautkan tangannya ke-5 jari Felly dan kembali memberikan ciuman di bibir Felly. Agar Felly benar-benar merasa nyaman dan tidak merasakan sakit dan hanya kenikmatan yang di rasakannya.
Tidak ada satupun tubuh Felly yang terlewatkan. Gairah membawanya tidak ingin melewatkan satu sentuhan di tubuh indah itu.
__ADS_1
Hujan deras di luar sana menjadi saksi suami istri itu yang melakukan hubungan panas. Terdengar suara-suara indah dari ke-2nya yang mengalah suara hujan yang deras. Rasa sakit yang sudah berubah menjadi kenikmatan.
Aditya juga melakukan semuanya dengan penuh kelembutan dan terlebih lagi sangat hati-hati, karena dia tau ada bayi di dalam sana. Meski terbakar gairah. Tetapi tidak ingin sang bayi kenapa-kenapa.
Akhirnya Felly mengalah dalam pegangannya selama ini. Persetan dengan perjanjian. Dia memberikan tubuhnya dengan ikhlas. Tanpa di paksa. Dan semua itu di lakukannya. Setelah memastikan perasaannya dan menikmati semua sentuhan itu.
**********
Tetes hujan terakhir yang berasal dari genteng. Pagi hari yang cerah telah tiba. Meski hujan semalam. Tetapi paginya masih sangat cerah.
Kamar yang di pesankan Bion untuk atasannya dan istri sang atasan terlihat berantakan. Bukan hanya kelopak mawar yang berserakan di lantai yang pasti sudah tidak seindah tadi malam.
Tetapi pakaian juga berserakan di lantai dan Aditya dan Felly masih berada di atas ranjang dengan Aditya yang memeluk Felly. Ternyata Aditya sudah terbangun dan tangannya mengusap-usap lembut rambut Felly. Menyingkirkan anak rambut Felly dari wajah cantik yang sangat teduh saat tidur itu.
Wajah Aditya begitu berseri. Layaknya pria yang mendapat pelayanan dari istrinya. Wajah yang tidak bisa berbohong jika dia benar-benar sangat bahagia.
Banyak wanita yang pasti pernah tidur bersamanya. Tetapi tidak pernah merasakan bahagia saat percintaan itu berakhir.
Dia mengakui jika dia hanya berhasrat dengan Felly. Tetapi tidak tau kenapa perasaannya ikut bermain saat dia dan Felly melakukan hubungan itu.
Felly yang menerima dan merespon dengan baik membuatnya benar-benar sangat bahagia. Seakan adalah pria yang beruntung. Dulu saat Aditya melakukan pertama kali dengan Felly mungkin berakhir dengan penyesalan. Karena meski menikmati tetapi tangisan Felly yang di dengarnya di kamar mandi membuat hatinya paling dalam harus mengakui menyesal.
Dan sekarang bukan paksaan. Tapi hubungan yang bercampur dengan perasaan yang ternyata berakhir sangat bahagia. Aditya mencium lembut kening Felly.
" Terima kasih untuk malam ini," ucap Aditya dengan suara seraknya tersenyum pada Felly yang masih tertidur dan mengecup kening Felly dengan lembut.
Pasti ucapan terima kasih tidak pernah di keluarkannya untuk wanita mana pun yang melakukan percintaan dengannya tetapi kali ini Felly istrinya yang pertama mendapatkan ucapan terima kasih yang begitu tulus itu.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa mampir kemari ya. Di tunggu like, comen dan Vote nya. Terima kasih.